Langsung ke konten utama

PELANGI POTRET PUASA DAN LEBARAN

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Antologi cerpen, baik karya perseorangan, maupun karya bersama, tentu dengan mudah dapat kita jumpai di sejumlah toko buku atau perpustakaan. Buku antologi cerpen semacam itu, biasanya tidak spesifik mengangkat tema tertentu, meskipun mungkin saja ada maksud dan harapan tertentu yang melatarbelakangi dan melatardepaninya. Tetapi, bagaimana dengan antologi cerpen yang sengaja mengusung tema tertentu, seperti yang dilakukan Kompas lewat Korma: Cerpen-Cerpen Puasa—Lebaran?

Sejauh pengamatan, usaha mengangkat satu tema tertentu dalam sebuah antologi cerpen bersama, boleh dibilang, masih langka. Dilihat dari sudut ini, niscaya langkah ini bakal menjadi penting, apalagi jika kita rajin mencermati cerpen-cerpen yang beredar di majalah, tabloid, jurnal cerpen atau koran hari Minggu. Begitu beragam tema-tema yang ditawarkannya dan sungguh kaya cara penyajiannya. Di balik keberagaman dan kekayaan itu, ada kecenderungan bahwa cerpen-cerpen itu lahir dari kegelisahan yang sama: jeritan atas keterpurukan negeri ini. Di sana, ada empati atas tragedi Mei, manipulasi atas nama agama, konflik antar-etnis, dan entah apa lagi. Jika tema-tema yang sama dihimpun, sangat mungkin ia menjadi sebuah potret sosial atas carut-marut yang terjadi di negeri ini.

Kompas telah memulai lewat Korma: Cerpen-Cerpen Puasa—Lebaran. Lalu adakah signifikansinya dalam kaitannya dengan potret sosial masyarakat kita? Sekadar mengumpulkan cerpen yang bertema sama, tanpa mempertimbangkan nilai estetiknya, tentu juga tidaklah elok. Namun mengingat hanya 10 cerpen yang termuat dalam antologi ini, padahal cerpen-cerpen yang bertema puasa dan lebaran yang pernah dimuat Kompas, jumlahnya jauh lebih banyak, maka pastilah ada pertimbangan lain dan alasan-alasan tertentu yang melandasinya. Oleh karena itu, patutlah kiranya kita mencermati lebih jauh: Adakah sesuatu yang penting yang dapat kita tangkap dari sana? Apakah antologi ini juga mengisyaratkan sebuah potret sosial masyarakat kita –khasnya umat Islam-Indonesia— berkenaan dengan ihwal puasa dan lebaran, atau tema itu sekadar tempelan belaka?
***

Antologi Korma: Cerpen-Cerpen Puasa—Lebaran, memuat 10 cerpen karya sembilan cerpenis yang posisinya tergolong berada di jajaran depan dalam peta cerpen Indonesia. Jadi, secara kualitatif, nama-nama penulisnya –secara apriori— dapatlah dianggap sebagai jaminan, meskipun kita berkewajiban untuk tetap bersikap kritis. Sebagaimana tersurat dalam judulnya, cerpen-cerpen dalam antologi ini semua berkisah tentang puasa dan lebaran. Dalam konteks perjalanan cerpen Indonesia, secara estetik, mesti diakui, kehadiran cerpen-cerpen dalam antologi ini, tidaklah menyodorkan sesuatu yang baru. Demikian juga, secara tematik cerpen-cerpen yang berkisah tentang puasa dan lebaran, sudah sejak zaman Pandji Poestaka menghiasai lembaran budaya media massa. Lalu, apanya yang penting dari antologi ini jika ia tidak menyodorkan sesuatu yang baru?

Puasa dan lebaran an sich bagi umat Islam, pasti juga bukan sesuatu yang baru. Meskipun begitu, mengingat di dalamnya ada dimensi sosio-kultural, maka pemaknaan dan penafsiran atas puasa dan lebaran, secara meyakinkan terus-menerus mengalami pergeseran sesuai dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi di dalam masyarakat bersangkutan. Sekadar contoh, periksa misalnya, cerpen Armijn Pane, “Jika Pohon Jati Berkembang” (Pandji Poestaka, No. 15, 1937) yang juga bercerita tentang lebaran. Dalam cerpen itu digambarkan, bagaimana orang-orang berkumpul dan terheran-heran mendengarkan suara gamelan atau khotbah lebaran cukup dari sebuah kotak yang bernama radio. Pada masa itu radio tentu saja masih dianggap sebagai benda ajaib. Dalam cerpen Muhammad Dimyati, “Lebaran di Kampung” (Madjalah Indonesia, 21 Juni 1952) dikisahkan bagaimana kedatangan seseorang di kampung halamannya –kini disebut mudik— disambut bagai pahlawan perang, meskipun ia tidak membawa barang apapun jua untuk dibagi-bagikan kepada sanak familinya. Cerpen Dimyati lainnya yang juga bercerita tentang puasa dan lebaran menunjukkan potret sosial pada zamannya yang tentu sudah sangat berbeda dengan keadaan puasa dan lebaran sekarang. Bahkan terkesan, puasa dan lebaran dalam cerpen-cerpen Dimyati, sekadar latar waktu yang tak punya nilai religius. Hal yang juga terjadi pada cerpen “Kartjis Lebaran …” karya Nur St. Iskandar (Pandji Poestaka, 1 Januari 1935) yang menempatkan lebaran sekadar latar waktu yang kurang memberi kontribusi bagi unsur intrinsik lainnya. Sementara Soeman Hs dalam Kasih tak Terlarai (1929), melihat lebaran sebagai momentum rekonsiliasi antara anak muda dan orang tua, meskipun di sana tidak ada acara halalbihalal dan maaf-memaafkan.

Demikianlah, makna puasa dan lebaran terus mengalami pergeseran ketika ia ditempatkan dalam konteks perkembangan sosio-kultural. Dalam hal itulah, antologi Korma: Cerpen-Cerpen Puasa—Lebaran, dapat juga dipandang sebagai representasi kultur masyarakat Islam—Indonesia masa kini yang dalam perjalanan waktu, pasti juga akan mengalami perubahan. Dengan demikian, antologi cerpen ini penting artinya sebagai usaha melihat, betapa sesungguhnya umat Islam di Indonesia sama sekali tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh lingkungan sosial-budaya yang melahirkan dan membesarkannya. Yang kemudian tampak ke permukaan adalah umat Islam-Indonesia yang lengkap dengan kulturnya yang tidak hitam-putih. Ada warna pelangi di sana yang sekaligus sebagai potret keindonesiaan yang pluralis dan heterogen.
***

Secara struktural, ke-10 cerpen dalam antologi ini dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar. Pertama, yang menempatkan puasa dan lebaran sebagai bulan yang penuh barokah atau yang menyimpan kisah-kisah gaib. Dalam kisah-kisah itu pula sengaja dihadirkan peristiwa supernatural ke dalam struktur cerita. Cerpen-cerpen yang termasuk kelompok ini adalah “Lailatul Qadar” (Danarto), “Korma” (Yanusa Nugroho), “Reuni” (Hamsad Rangkuti), “Tamu yang datang di Hari Lebaran” (A.A. Navis), dan “Gambar Bertulisan ‘Kereta Lebaran’” (Gus tf Sakai). Kedua, yang secara konvensional menempatkan puasa dan lebaran melalui kacamata sosio-kultural. Dengan begitu, dilihat dari dimensi itu, puasa dan lebaran selalu saja menghadirkan problem sosial yang dari tahun ke tahun sepertinya tak akan pernah berakhir. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah “Puasa Itu” (Senu Subawajid), “Tiga Butir Korma per Kepala” (Yusrizal KW), “Menjelang Lebaran” (Umar Kayam), “Malam Takbir” (Hamsad Rangkuti), dan “Jakarta Sunyi Sekali di Malam Hari” (Jujur Prananto).

Di dalam cerpen-cerpen kelompok pertama, kita dapat melihat betapa ramadhan senantiasa menyimpan misteri tentang kisah-kisah gaib yang mencekam, berbagai peristiwa ajaib yang menakjubkan, dan serangkaian cerita irasional yang tak masuk akal.

Sesungguhnya, kisah-kisah itu merepresentasikan potret sosial umat Islam—Indonesia yang tidak dapat meninggalkan keberimanannya pada dunia gaib. Bahkan, bagi mereka yang dekat dengan kehidupan pesantren, kisah-kisah seperti itu, diyakini sebagai sesuatu yang niscaya. Tidak jarang pula ia sengaja dihadirkan guna menambah nilai sakralitas suasana bulan suci itu. Pembacaan kitab kuning atau cerita tentang kehidupan para aulia dalam menjalankan peribadatannya di bulan ramadhan, hampir selalu menjadi rujukan penting dalam menerjemahkan dan memaknai kesucian ramadhan. Dalam kisah-kisah itulah, berbagai peristiwa yang terjadi dalam dunia yang kasat mata dan dunia gaib, dapat berjalin kelindan dan tumpang-tindih, tanpa jelas batas-batasnya. Maka, tidaklah menjadi soalan benar, jika kisah-kisah semacam itu dipandang sebagai dongeng yang tidak sejalan dengan tuntutan logika formal. Ia juga tak berpretensi memaksa pembaca atau pendengar memahaminya, lantaran memang bukan itu tujuannya.

Kisah-kisah dunia jungkir balik yang terjadi dalam kehidupan di negeri entah-berentah itu, tentu saja bukan cuma milik orang Islam. Cerita sejenis itu ternyata telah menjadi khazanah tradisional etnik yang berserakan di wilayah Nusantara ini. Ia justru telah menyatu sebagai bagian penting yang tumbuh subur dalam kehidupan keseharian masyarakat kita. Dalam kisah-kisah itu, label agama dan etnik sekadar sebagai ciri dominan, meskipun di dalamnya ada warna pelangi yang berasal dari pengaruh kepercayaan lain. Dengan demikian, kisah-kisah gaib macam apapun, bagi masyarakat kita sesungguhnya bukanlah hal baru, termasuk di dalamnya, berbagai peristiwa seputar ramadhan, takbir, dan lebaran. Ia merupakan representasi dari kultur keindonesiaan yang tidak hitam-putih itu. Dan itu sudah sejak lama mengejawantah dalam tradisi narasi masyarakat kita. Dalam konteks itulah, meskipun di sana ada baju Islam –ramadhan, takbir, dan iedul fitri (:lebaran)— mengingat ia sudah sejak lama menjadi warna pelangi Indonesia, maka sesungguhnya baju Islam itu telah melesap dalam kultur keindonesiaan.

Cerpen-cerpen dalam kelompok kedua memperlihatkan bahwa puasa dan lebaran, selain memunculkan berbagai kisah supernatural, juga nyaris selalu melahirkan problem sosial yang sama: mudik dan keterpurukan wong cilik. Mudik menjadi begitu penting dan menenggelamkan hakikat puasa dan makna iedul fitri, karena makna mudik ditafsirkan menyangkut status sosial dan martabat jati diri. Akibatnya, ia dianggap sebagai simbol keberhasilan mengeruk materi, sekaligus sebagai ajang dan kesempatan memamerkan kesuksesan (semu). Mudik pada akhirnya seperti telah menjelma menjadi sebuah ritual untuk melegitimasi keberhasilan perjuangan seseorang mencari kekayaan di kota. Dalam konteks kultur Islam—Indonesia, mudik seolah-olah sengaja ditempatkan sebagai puncak prosesi perjalanan ramadhan; puasa, tarawih, sahur, takbir, lebaran, dan mudik.

Sesungguhnya, mudik lahir lantaran pandangan keliru mengenai hubungan desa—kota. Itulah salah satu sisi gelap dampak terjadinya pemusatan sentra-sentra ekonomi di perkotaan. Dalam sistem pemerintahan yang sentralistik dengan Jakarta dan beberapa kota besar lainnya sebagai pusat segala kegiatan ekonomi dan pemerintahan, dunia pedesaan diperlakukan secara marjinal. Ia bagai wilayah yang secara de facto ada, tetapi dipandang sekadar bayang-bayang. Apapun yang terjadi di desa –kecuali musibah banjir dan tanah longsor— seperti tidak punya makna dan daya pikat sama sekali. Raja-raja kecil di desa, tetap saja kalah pamor oleh para punggawa kota. Akibatnya, kota dengan berbagai impiannya menjadi pusat segala orientasi masyarakat pedesaan. Itulah buah yang lahir dari pohon yang ditanam pemerintahan sentralistik.

Bahwa penduduk desa kemudian memilih mencari penghidupan di kota, soalnya lantaran desanya sendiri tak mampu menjanjikan apa-apa. Setidak-tidaknya, kehidupan di desa dipandang belum dapat menjamin warganya hidup layak sebagai manusia. Wajarlah jika penduduk desa berbondong-bondong pergi ke kota, sekadar hendak mewujudkan cita-citanya menjadi “manusia”. Dan lebaran lalu dianggap sebagai momentum untuk menunjukkan keberhasilannya mencari penghidupan di kota. Maka, mudiklah mereka, yang bagi masyarakat perkotaan, justru menimbulkan problem tersendiri. Itulah akar masalahnya! Mudik, di satu pihak sebagai sarana penduduk desa memamerkan jati dirinya, dan di lain pihak meninggalkan problem bagi penduduk kota.

Beberapa masalah itulah –kegaiban puasa, problem mudik, keterpurukan wong cilik— yang ditampilkan dalam antologi Korma: Cerpen-Cerpen Puasa—Lebaran. Untuk memberi gambaran mengenai potret keindonesiaannya, eloklah jika kita mencermatinya lebih menukik.
***

Danarto dalam “Lailatul Qadar” mewartakan perjalanan mudik keluarga Satoto. Sekeluarga dalam satu mobil. Mereka memilih jalur selatan, menghindar kemacetan. Nyatanya, di situ juga macet. Pada saat itulah, ia melihat sebuah jalan terbentang panjang dan longgar. Lewat jalan itu, terbanglah mobil keluarga Satoto hingga sampai tujuan.

Seperti kebanyakan cerpen Danarto, cahaya (:malaikat) acap kali dimanfaatkan sebagai alat membaurkan peristiwa surealis ke dalam peristiwa realis. Bagi umat Islam, peristiwa itu sangat mungkin terjadi dan dapat menimpa siapa saja. Ia menjadi bagian keajaiban ramadhan. Dengan begitu, hubungan antara peristiwa kasat mata dan peristiwa gaib, bisa leluasa bertumpang-tindih, bebas dari dimensi ruang dan waktu. Dalam kisah-kisah semacam itu tak diperlukan lagi penjelasan logis—rasional, mengingat ia telah menjadi bagian keberimanan yang suprarasional. Maka substansi dan pesan (message) yang disembunyikan cerita bukanlah pada peristiwa surealis itu, melainkan justru pada lanturannya (digression). Jadi, kelebat cahaya, jalan panjang dan longgar, dan alam musik yang mengejawantah, sesungguhnya merupakan siasat Danarto untuk mengecoh dan menyelimuti kritiknya atas perilaku para pemburu karcis, calo, lembaga pelayanan publik, dan para pemudik yang justru lebih tidak rasional dibandingkan dunia gaib yang hidup dalam kepercayaan masyarakat kita.

Untuk mengungkap hal itu, perhatikan struktur alur cerpen ini. Ada sejumlah peristiwa yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan perkembangan watak si tokoh. Apa maknanya peristiwa makan rujak, antrean panjang para pemburu karcis dan khotbah Kiai Zarkasi dengan perkembangan sikap tokoh Satoto, jika keluarga itu tetap saja mudik? Apakah peristiwa-peristiwa itu memojokkan si tokoh pada konflik yang memaksanya harus melakukan pilihan? Berdasarkan konsep alur konvensional yang menekankan pada hubungan kausalitas, cerpen ini tentu saja dapat dianggap berantakan. Tetapi, kisah-kisah model yang disampaikan Danarto memang tidak memerlukan logika. Dalam hal ini, Danarto bertindak macam dalang, meskipun ia memberi kebebasan pada tokoh-tokoh cerita bergerak menjalankan perannya. Jadi, ia sengaja mengembalikan hakikat cerita sebagai cerita dan bukan sebagai rangkaian peristiwa yang didasarkan pada hubungan sebab-akibat. Dengan cara itu, Danarto justru lebih leluasa menyampaikan pesannya. Ia bisa seenaknya menggugat selera arsitek yang doyan makan rujak atau menempatkan para pemburu karcis sebagai orang-orang yang tidak rasional. Dan di sisi lain, ia juga bisa berkhotbah melalui pesan kiai Zarkasi.

Jika cerpen (:sastra) diyakini sebagai refleksi evaluatif atas peri kehidupan, maka Danarto lewat cerpennya telah memainkan peran itu. Di balik lanturan yang dibangunnya, ia secara tajam menggugat politik transportasi dan lembaga pelayanan publik (:Perumka). Bagaimana mungkin problem yang sama, selalu berakhir dengan kesalahan yang sama. Kalaupun berbeda, kesalahannya jauh lebih parah lagi. “Hidup rasanya akan sengsara jika tak beroleh karcis mudik,” seperti telah menjadi sikap hidup para pemudik yang mau saja diperlakukan atau memperlakukan dirinya macam pepes ikan manakala mereka harus berhimpitan di dalam bus atau kereta api. Dalam kondisi seperti itu, martabat manusia entah berada di mana lagi, jika tidak di keranjang sampah. Jadilah, mudik dalam banyak kasus, justru menjadikan manusia tidak lagi manusia.

Agak berbeda dengan Danarto, Yanusa Nugroho menempatkan puasa sebagai sarana melayangkan konflik desa—kota atau anak—bapak. Nasihat-nasihat sang ayah tentang korma, puasa, dan kebersahajaan menjalani kehidupan menjadi seperti mubazir ketika si tokoh aku dililit kesibukan kota. “… Jakarta ini kota yang aneh sekali… Hubungan silaturahmi dengan sanak famili dan orang tua sudah sangat jarang dilakukan dengan ciuman punggung tangan dan canda ria segar seperti dulu. Telepon sudah menggantikan semuanya; entahlah, apakah ini sebuah karunia kemajuan zaman ataukah bencana….” Dan momentum puasa, juga sama sekali tidak mengurangi kesibukannya.

Maka, korma yang berdasarkan othak-athik mathuk orang Jawa bermakna “cukupkanlah apa yang kau makan di bulan romadon ini dan itu artinya ampunan bagimu,” seperti tak relevan lagi. Jadilah korma tak lagi penting karena sudah ada makanan lain yang menggantikannya. Dan pesan sang Bapak tentang korma diperlakukan sebagai sesuatu yang mengada-ada, bahkan teror. Di sinilah korma menjadi katalisator konflik desa—kota yang menempatkan desa sebagai wilayah yang secara de facto ada, tetapi dipandang sekadar bayang-bayang, sebagaimana sikap tokoh aku yang melalaikan pesan Bapaknya.

Yanusa Nugroho tentu saja tak mungkin menempatkan konflik itu secara hitam- putih. Ada kultur Islam—Jawa yang dilekatkan pada diri tokoh-tokohnya. Dengan memposisikan tokoh aku sebagai pusat penceritaan (focus of narration), ia seperti hendak menggugat dunia kota yang acapkali terbelenggu oleh kesibukan duniawi. Dan gugatan itu justru berasal dari subjeknya sendiri. Dengan begitu, korma yang secara lahiriah tidak berbeda dengan makanan lain, hadir tidak hanya sebagai simbol penghayatan puasa, tetapi juga sebagai sarana mendedahkan terjadinya perubahan hubungan ayah—anak.

Bahwa kemudian Yanusa mengakhiri konflik itu ketika si tokoh aku berada di puncak kesibukannya, dalam kesia-siaan berusaha menebus dosa kelalaiannya dengan mencari korma ke seantero toko, dan saat berencana buka puasa bersama sekaligus syukuran atas jabatan barunya, mengisyaratkan, bahwa pada saat-saat kritis, manusia (Indonesia) cenderung lari pada dunia irasional. Dengan begitu, pertemuan si tokoh aku dengan lelaki sederhana yang tak jelas asal-usulnya, yang kemudian memaksanya buka puasa dengan segelas air dingin dan tiga butir korma di gubuk lelaki itu, sesungguhnya merupakan bentuk pelarian pada dunia yang irasional itu. Di situlah ia menemukan penyadaran. Maka, saat ia sampai di rumahnya dan melihat makanan berlimpah, ia sama sekali tak bisa menikmati apapun dari kemewahan itu. Buka bersama dan syukuran jadinya tak punya nilai spiritual.

Pola seperti itu, tampak juga dalam cerpen Hamsad Rangkuti, “Reuni”. Dengan memulai peristiwa yang punya cantelan dengan peristiwa dalam cerpen Hamsad yang ditulis menjelang lebaran sebelumnya “Malam Takbir”, pembaca seperti sengaja digiring pada satu situasi menjelang malam takbir: pemilik warung, si tokoh aku, dan lelaki tukang kebun keliling. Kini pemilik warung tampak sudah semakin tua, tukang kebun keliling sudah punya pekerjaan tetap mengurus kebun orang tua si anak gadis yang dulu bola bulu ayamnya jatuh ke piring lelaki itu, dan mushola yang terang benderang. Kini, mereka juga hendak berbuka dengan hidangan-hidangan mewah. Serangkaian perubahan yang terjadi dalam waktu setahun itu tentu saja wajar dan alamiah, meskipun terasa terlalu cepat: tukang kebun keliling, anak gadis, dan ibunya, sudah tidak mengenal lagi tokoh aku. Rumah di depan warung telah berubah gedung besar. Sampai di situ, Hamsad berhasil “menipu” pembaca lewat peristiwa yang tampak realis, dan di balik itu sekaligus menunjukkan adanya beberapa kejanggalan sebagai sinyal.

Jika saja peristiwa itu benar-benar terjadi dan bukan di dalam konteks peristiwa gaib, maka beberapa kejanggalan itu dapat ditafsirkan sebagai kelalaian Hamsad. Tetapi soalnya menjadi lain manakala kesadaran si tokoh aku dikembalikan lagi pada apa yang sebenarnya terjadi. Tak ada warung. Tak ada mushola. “Aku terpaku… tak menemukan pekarangan …dan rumah itu. Aku berjalan di dalam gelap….” Keadaan di sekitar itu semua telah berubah dan hanya ada rentangan seng gelombang yang memagari kedua sisi jalan. Tempat itu telah digusur oleh tangan raksasa pemilik modal. Mungkin di tempat itu akan dibangun kompleks perumahan mewah, pertokoan modern, atau lapangan golf. Dengan demikian, kelinglungan si tokoh aku dapat dianggap sebagai representasi kelinglungan wong cilik yang selalu tak berdaya dan tak dapat mengikuti perubahan cepat atas nama pembangunan. Dalam banyak kasus, pembangunan itu pula yang selalu menafikan keberadaan rakyat, karena pembangunan di negeri ini, memang bukan untuk rakyat, melainkan untuk mempertahankan kekuasaan dan kekayaan.

A.A. Navis dalam “Tamu yang Datang di Hari Lebaran” juga menyinggung soal kekuasaan melalui gambaran perasaan hopeless mantan pejabat dan istrinya. Lebaran menjadi sebuah penyiksaan ketika ia tak lagi memegang kekuasaan dan anak-anaknya tak ada seorang pun yang datang. Saat ia masih menjadi gubernur, anak buahnya, para pejabat, dan anak-anaknya berdatangan, berkumpul merayakan lebaran. Kini, suami-istri itu seperti dicampakkan. Lebaran seperti tak bermakna.

Dalam keadaan hopeless seperti itulah, seorang tamu (:malaikat) datang mencabut nyawa istrinya dan membiarkan mantan pejabat itu tetap hidup. Tanpa kekuasaan, ia tak bakal merugikan orang banyak lagi. Dalam hal ini, kekuasaan menjadi alat yang justru bakal merugikan orang banyak Dan di hari lebaran, kekuasaan itu seolah-olah menjelma sebuah magnet: Di mana padi masak di sana pipit berbondong-bondong. “Setelah Idul Fitri jadi kebudayaan baru, bawahan dan orang miskin yang wajib datang ke penguasa untuk minta maaf. Penguasa akan merasa tidak pantas minta maaf kepada rakyat.” Itulah makna lebaran yang telah menjadi ritual dalam kebudayaan yang menempatkan kekuasaan dan kekayaan lebih penting dari segala-galanya. Itulah potret kekuasaan di zaman ini!

Meskipun kritik Navis atas mantan pejabat itu terasa tak begitu tajam, setidaknya, dengan membiarkannya tetap hidup, Navis seperti hendak berkata: biarlah kesepian dan ketercampakan terus menyiksa mantan pejabat itu; biarlah ia merasakan hidup tanpa kekuasaan; biarlah kesepian yang akan membunuhnya.

Berbeda dengan cerpen-cerpen sebelumnya yang menempatkan peristiwa gaib sebagai pengalaman spiritual, Gus tf Sakai dalam “Gambar Bertulisan ‘Kereta Lebaran’” justru melesapkannya ke dalam karakter tokoh utamanya, masinis kereta api. Dengan begitu, peristiwa gaib itu menyatu, berjalin kelindan dalam lakuan dan kegelisahan batin.
Di sana ada dua fokus yang dibidik Sakai: kegelisahan sosok seorang masinis dan harapan kandas si bocah kecil yang tertabrak kereta.

Mudik ke rumah nenek dan berlebaran di sana adalah harapan si bocah itu. Tetapi mudik memerlukan ongkos dan kekuatan untuk berdesak-desakan. Dua hal itu ternyata tak dimiliki oleh ibu si bocah. Maka, si bocah hidup dalam angan-angan itu sampai akhirnya sebuah kereta melumatnya. Bagi si masinis yang sudah diteror oleh tangis lirih, musibah yang menimpa si bocah makin menggenapkan kegelisahannya. Dalam kisahan yang memanfaatkan pola arus kesadaran (stream of consciousness) itu, pikiran, kegelisahan batin, dan lakuan bercampur aduk membangun peristiwa tragis si bocah, derita ibu, dan trauma masinis. Jangan-jangan, masinis itu yang menabrak anaknya sendiri hingga ia dibayang-bayangi kegelisahan yang tak tersembuhkan.

Kembali, di balik serangkaian peristiwa yang tumpang-tindih itu, orang kecillah yang jadi korban. Dengan demikian, lebaran yang mestinya menjadi kebahagiaan semua orang –kaya—miskin, pada akhirnya tetap saja milik orang-orang kaya.
***

Dalam cerpen-cerpen kelompok kedua, makna lebaran sebagai sebuah kemenangan selepas berpuasa 30 hari lamanya, juga tidak lagi relevan ketika kita berhadapan dengan problem sosial. Mengingat cara bertutur dalam cerpen-cerpen kelompok ini disajikan dalam bentuk konvensional, maka problem sosial yang diangkatnya terasa lebih dekat menggambarkan potret buram yang terjadi dalam masyarakat kita.

Cerpen “Puasa Itu” karya Senu Subawajid, misalnya, mengangkat problem keluarga yang pada hakikatnya menampilkan konflik kaya—miskin. Melalui keadaan ibu yang sakit, cerita berputar pada tokoh Burhan –dokter, Pri –pejabat, dan Has –guru. Si Ibu yang mula-mula dirawat di rumah sakit, kemudian dipindahkan ke rumah Burhan. Lalu, pindah lagi ke rumah Pri, dan terakhir dirawat di rumah Has yang secara ekonomi sebenarnya berada di bawah Burhan dan Pri. Tampaknya, Senu hendak menempatkan tokoh Has sebagai hero. Sebagai cerpen yang mengangkat problem keluarga, Senu cukup berhasil menempatkan tokoh ibu berada di pusat masalah. Tetapi, bagaimana kaitannya dengan puasa itu? Dalam hal ini, latar ramadhan cenderung sebagai tempelan belaka. Periksa misalnya, dialog tentang safari ramadhan, THR, dan buka bersama, justru terasa artifisial ketika semua itu tidak dilesapkan dalam lakuan tokoh-tokohnya.

Boleh saja Senu secara tersirat hendak menempatkan ramadhan sebagai bulan yang penuh rahmat bagi seorang guru yang ikhlas dan hidup pas-pasan. Tetapi, pesan itu tak cukup kuat lantaran ia terlalu banyak mengobral dialog yang beberapa di antaranya justru terkesan dipaksakan. Meski begitu, potret keluarga yang ditampilkannya cukup berhasil mengisyaratkan, betapa harta dan jabatan, dapat mengubah perilaku orang, termasuk sikap anak kepada ibunya sendiri.

Problem keluarga yang kemudian berkaitan dengan lebaran dan mudik, terasa lebih koheren dalam cerpen Umar Kayam, “Menjelang Lebaran”. Dikisahkan, rencana matang keluarga Kamil untuk mudik, berantakan ketika Kamil tiba-tiba di-PHK. Masalahnya tambah rumit karena harga-harga mendadak melambung tinggi. Dampaknya juga menimpa Nah, pembantunya yang sudah sekian tahun mengabdi pada keluarga itu. Dengan berat hati, akhirnya diputuskan: mudik batal dan Nah akan diberhentikan. Bagi Nah, keputusan itu tentu saja merupakan “kiamat”. Pada saat itulah, Kamil mengusulkan, bahwa selama Kamil belum memperoleh pekerjaan, Nah tetap tinggal pada keluarga itu, tanpa dibayar. Statusnya akan dikembalikan jika Kamil sudah bekerja lagi.

Dalam cerpen ini, mudik tidak diposisikan sebagai sumber masalah, melainkan sebagai pembuka menuju masalah yang sebenarnya: PHK. Dengan demikian, lebaran dan mudik sekadar katalisator belaka untuk mengungkap ketegaran seorang istri dan kesetiaan seorang pembantu. Jika Kamil yang kena PHK berani mempertahankan pembantunya, lalu mengapa perusahaan-perusahaan besar itu tidak melakukan hal sama. Tentu ada sesuatu yang tidak beres, dan ketidakberesan itu selalu membawa korban wong cilik. Barangkali memang sudah suratan takdir, bahwa dunia ini bukanlah milik orang-orang kecil.

Penggambaran suasana puasa dan lebaran sebagai alat mengungkapkan warna pelangi masyarakat kita, tampak kental pada cerpen Yusrizal KW, “Tiga Butir Korma per Kepala”. Di sana, ada orang yang hidup dalam keikhlasan, pengabdian, kepedulian, kesombongan, kemunafikan, dan entah perilaku apa lagi yang mengejawantah. Dengan menempatkan kampung sebagai objek para perantau (:masyarakat kota), Yusrizal lewat tokoh aku, dapat dengan tenang menjadi pengamat. Mudik bagi para perantau itu laksana pamer sedekah sekadar untuk menunjukkan kesuksesan atau memperoleh pujian. Jika ada pendatang yang tak disukai masyarakat kampung, seorang yang lebih tua akan berkata: “Ambil saja yang baik. Yang buruk buang, biar dimakan anjing.” Artinya, dalam diri masyarakat kampung, masih terpelihara kearifan, dan bukan sikap anarkis yang kini banyak terjadi dalam diri masyarakat kota.

Berbeda dengan para perantau lainnya, Pak Ayub, si Tuan Korma, di bulan puasa selalu mendatangi setiap rumah dan memberi tiga buah korma per kepala. Dan ia melakukan itu dengan keikhlasan, tanpa pilih kasih. Maka, ketika dalam dua ramadhan Pak Ayub tak mudik, orang kampung pun jadi bertanya-tanya. Di sinilah, pemberian apapun hanya akan bermakna jika dilakukan dengan ikhlas, sebagaimana yang diperlihatkan si Tuan Korma. Dengan begitu, makna mudik mestinya ditempatkan dalam konteks keikhlasan itu, dan bukan sebagai ajang pamer kesuksesan.

Tokoh aku sebagai pengamat hadir juga dalam cerpen “Malam Takbir” Hamsad Rangkuti. Kegetiran tukang kebun keliling yang tak beroleh pekerjaan sampai menjelang malam takbir itu, seperti sengaja dipertemukan dengan orang kaya melalui peristiwa ajaib malam takbir. Bola bulu ayam si anak perempuan yang sedang bermain badminton, tiba-tiba menclok di nasi yang akan dimakan lelaki itu. Hamsad menempatkan puasa dan malam takbir sebagai peristiwa yang acap kali menghadirkan keajaiban. Meski begitu, dengan memposisikan tokoh aku sebagai pengamat, keajaiban itu jadi terasa lebih netral.

Di balik itu, Hamsad seperti hendak menggugat tanggung jawab sosial para orang kaya. Dan malam takbir merupakan momentum untuk mengejawantahkan kepedulian antarsesama manusia, tanpa harus “dipaksa” melalui peristiwa bola bulu ayam. Dalam konteks itu, kembali wong cilik selalu berada dalam posisi yang tak berdaya.

Ketakberdayaan orang-orang kecil itu, juga menyembul sangat kuat dalam “Jakarta Sunyi Sekali di Malam Hari” Jujur Prananto. Keluguan Mudakir yang hendak menengok anaknya di Jakarta, harus berhadapan dengan dunia keras dan tipu daya. Tempat kontrakan anaknya yang sudah berubah, kamar penginapan yang kumuh, dan perempuan pemeras-pencuri pada akhirnya membawa Mudakir menggelandang di Jakarta sampai entah kapan.

Potret Jakarta (: Tanahabang) yang ditampilkan Jujur Prananto mengesankan, betapa kehidupan di sana seperti tak punya belas kasihan. Hubungan desa-kota, anak-ayah, menjadi sesuatu yang tak penting lagi ketika seseorang telah berhasil merenggut sukses. Dan itu diperlihatkan Wanti dan suaminya yang tidak pernah mengirim kabar apapun kepada ayahnya. Kembali, lebaran yang mestinya menjelma kemenangan, bagi wong cilik justru menjadi sebuah musibah.
***

Demikianlah, puasa dan lebaran sebagaimana yang digambarkan dalam antologi ini, seperti menciptakan dua dunia. Dilihat melalui sudut keberimanan, ia menghadirkan begitu banyak kisah-kisah gaib yang ajaib dan menakjubkan, dan dilihat dari perubahan sosio-kultural, puasa dan lebaran selalu saja menghadirkan problem sosial yang justru makin menegaskan kekalahan nasib orang-orang kecil. Lalu, apakah dengan begitu, antologi ini bermaksud hendak mengharu-biru makna puasa dan lebaran? Dalam konteks itulah, antologi cerpen ini justru penting sebagai sebuah cermin yang diharapkan dapat menggugah kita untuk melakukan pemaknaan kembali konsep puasa, lebaran, dan mudik, dalam kerangka solidaritas sosial.

Puasa yang dalam berbagai khotbah selalu digembar-gemborkan sebagai sarana meningkatkan kepedulian sosial, dalam kenyataannya justru melahirkan problem sosial, sebagaimana yang dapat kita cermati dalam banyak kasus mudik. Lebaran yang sering dimaknai sebagai kelahiran kembali dan kemenangan, makna itu hanya relevan dilekatkan pada orang-orang kaya, dan tidak pada wong cilik. Jika saja otonomi daerah sudah berjalan dengan baik, sangat mungkin masyarakat pedesaan tidak lagi perlu ke Jakarta dan mudik menjelang lebaran. Sebaliknya, selama kehidupan desa dipandang sebagai bayang-bayang, selama itu pula penduduk desa akan pergi ke kota-kota besar dan mudik, niscaya akan terus melahirkan problem sosial.

Begitu buramkah puasa dan lebaran sebagaimana yang tergambarkan dalam antologi ini? Di situlah sastra sesungguhnya hendak memainkan peranan sosialnya. Sisi gelap yang ditampilkannya, justru untuk memberi penyadaran, betapa masyarakat di sekeliling kita, memerlukan kepedulian kita. Dalam kondisi carut-marut kehidupan sosial di negeri ini, antologi cerpen ini patutlah menjadi salah satu bahan renungan. Sangat boleh jadi, dari antologi ini kita tidak hanya memperoleh penyadaran atas nilai-nilai solidaritas kemanusiaan kita, tetapi juga menyelusupkan secercah pencerahan agar bangsa ini segera bangun dan membenamkan keterpurukannya. Insya Allah!

Bojonggede, 23 Oktober 2002

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com