Langsung ke konten utama

Kursi Legislatif Penulis

Sabrank Suparno
http://www.sastra-indonesia.com/

Penulis adalah jiwa yang merdeka. Dengan menulis, kegelisahan jiwanya tak terbelenggu. Semua dapat di nukilkan dalam tulisan. Demikian juga hasil karya sebuah tulisan, kontruksi model kepenulisannya tidak jauh dari biografi penulisnya: teknik penulisan, pilihsn diksi, penuangan alur ketika menghanyutkan karya pada sebuah arus tertentu.

Novelis MD. Atmaja menyundulkan novel terbarunya kepermukaan belantara sastra. Buku setebal 355 halaman dan 53 seri ini, 70% lebih digarap dengan asosiasi politik. Adapun romantisme percintaan diperankan tokoh-tokohnya dalam tingkat kewajaran.

Kelebihan novel ini justru terbangun pada dialek sepasang kekasih Rina dan Agung. Ceplas-ceplos sepasang kekasih itu bersifat surrealis, ambiguitas, yang tak gampang di telan sebagai sosok kenyamanan makna.

Aroma kental Yogyakarta terasa menyengat. Bantul sebagai pusat kerajaan Imogiri zaman dulu merupakan kantung terkuat sentral agama jawa masih diwariskan antar tokoh dalam beberapa celetuk dialek novel ini. Pada kalimat “memangku wahyu keprabon,(hal:245), ajining rogo soko busono//ajining diri soko ing lati//(hal:202). Tak ubahnya dengan Umar Kayam yang happy anjoy dengan dialektika Jawanya dalam cerpen Sri Sumarah.

Wilayah sastra yang luas juga terjadi peperangan. Penulis senior, masih kerap mengasah gobang argumennya untuk menumbangkan musuh sebidang. Ironi memang, sedewasa ini dengan fasilitas facebook ataupun Even Organiser (EO) acara sastra difungsikan para senior untuk menyusun kubu. Kubu-kubu sastrawan kini mulai kentara. Musuh bebuyutan antara Lekra dan Manikebu masih berlangsung sengit. Perseteruan antar komunitas kian ricuh dengan lahirnya poros tengah difihak independen. Peseteruan inilah yang menugaskan MD. Atmaja selaku penulis muda mengibarkan warna bendera baru.

Pemicu utama perseteruan adalah backing ideologi. Tanpa sadar, ideologi yang sesungguhnya fatamorga itu dihadirkan secara hina untuk menjebak diri sendiri atas dalih “mendudukan perkara pada tempatnya”. Kebebasan berekspresi dalam berkarya, diartifisialkan atas nama kebebasan itu sendiri. Dan bukannya mengangkat nilai dalam kebebasan tersebut.

Novel Pembunuh di Istana Negara, dihadirkan MD. Atmaja atas sensibilitasnya. Bahwa ideologi layaknya diterapkan 20% saja dalam hidup. Selebihnya adalah lentur dan tidak mekongkong terhadap refleksi alam.

Beranjak dari pemikiran demikian, novel ini berperan secara utuh melibatkan dirinya dalam kancah politik praktis. Berbeda dengan Ciuman di Bawah Hujan karya terbaru Lang Fang. Keterlibatan novel Lang Fang hanya menyentil sisi kritisdalam berpolitik dengan bermetafora sesosok tikus yang rakus bagi aparat birokratif.

Sosok Agung yang ditampilkan sebagai tokoh dalam novel ini, melakukan tindakan riel untuk mengingatkan kesembronoan Presiden. “Dor.…!Dor….!” Tembakan dua kali itu sengaja dilepaskan Agung tepat pada lengan kiri Presiden. Adegan penembakan itu diawali dengan penyergapan terlebih dahulu dihadapan puluhan wartawan yang meliput konfrensi pers. Paspampres tidak menyangka, tiba-tiba kaptennya menodong Presiden. Peristiwa penodongan yang dilakukan kapten paspampres sesaat setelah Presiden berkomentar panjang lebar mengenai keadilan yang merata bagi seluruh rakyat (hal:246-246). Ketersinggungan Agung memuncak sejak cuti beberapa minggu sebelumnya. Agung meluangkan waktu untuk mengunjungi pacarnya (Rina) di kampung. Kesusahan hidup Rina dan keluarganya sebagai petani, disebabkan kebijakan Presiden yang tidak memihak rakyat, Dan Agung sudah mengingatkan Presiden, namun tak digubaris.

Novel beralur politik ini sarat dengan muatan ilmiah. Meskipun teknik penuangannya dikontruks dengan penalaran imajinasi, konsep ilmiah dibentangkan penulis saat tokoh bergelut serius mencari rumusan tentang filosofi dasar dasar demokrasi. Pemahaman tentang wacana demokrasi dimaksudkan utuk memperkuat arus cerita. Diagram segitiga serta titik-titik kordinat disertakan. Dengan harapan imajinasi pembaca dapat mudah memahami rentetan cerita. Tidak banyak kita jumpai novelis yang penggarapannya sedemikian detail dengan menyertakan bagan diagram. Inilah kuwalitas intelektual MD. Atmaja saat menyusun gagasan. Teori dasar pemahaman demokrasi yang meletakkan Tuhan pada posisi utama, Rakyat pada posisi kedua, dan Negara pada tingkat kepentingan terendah (hal:296) disertakan juga.

MD. Atmaja patut diperhitungkan sebagai pendatang baru dibelantara kesusastraan. Pilihan yang diambil merupakan rapatan radikalisme tersendiri. Ditengah alam politik negara yang gersang keadilan dan kejujuran, tidak lantas menjadikan dirinya sebagai teroris yang ingin merubah tatanan pemerintah dengan jihat dan korban bergelimpangan. Kekuatan intelektualitas MD. Atmaja memungkinkan ide dalam karyanya memasuki banyak pintu untuk merubah ketimpangan dalam pemerintahan. Yang lebih efektif ialah tidak mengorbankan banyak orang. Novel ini merupakan bom sastra yang diledakkan MD. Atmaja dari dalam dadanya. Dengan harapan demo aspirasinya tepat menuju sasaran. Meskipun tanpa duduk di kursi legislatif, para penulis lainpun getol menjadikan karyanya sebagai kursi untuk mewakili aspirasinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…