Langsung ke konten utama

Mistik Pesantren dalam Puisi dan Cerpen I

Bagian pertama dari dua tulisan
Binhad Nurrohmat
http://www.infoanda.com/Republika

Keberadaan pesantren selama ratusan tahun di negeri ini telah menjadikannya sebagai satuan ranah subkultur dengan corak tradisi yang khas dan hidup di antara kultur-kultur yang lain. Pesantren mempertahankan dan mengembangkan keberadaannya dalam jangka waktu panjang dengan mentransformasi secara eklektik kondisi masyarakat sekitarnya tanpa melenyapkan jati dirinya.

Kultur dan tradisi pesantren dalam kehidupan nyata sehari-hari mendasarkan diri pada hadits dan Alquran, kitab kuning (fiqih klasik), dan mewarisi sebagian watak kultur dan tradisi lokal (mistik, misalnya) tempat pesantren berada. Dalam sejarahnya, kultur dan tradisi pesantren menghargai kultur dan tradisi lokal secara halus dan kreatif sehingga terhindar dari konflik.

Kiprah Wali Sembilan yang menyebarkan ajaran Islam di tanah Jawa menjadi model eklektik kultur dan tradisi pesantren. Tradisi sastra yang diciptakan para penyebar Islam awal di Nusantara itu memakai Bahasa Jawa, bukan bahasa primer sumber ajaran Islam, yaitu Bahasa Arab.

Tembang dan syair berbahasa Jawa kreasi sastra para wali itu hidup hingga kini di surau, langgar, dan masjid di berbagai pelosok (khususnya) tanah Jawa. Strategi kebudayaan eklektik para wali itu menjadi prestasi legendaris dalam sejarah kebudayaan Islam di negeri ini dan menjadi watak kultur dan tradisi pesantren hingga kini.

Tradisi sastra itu lumrah terselenggara karena masyarakat pesantren punya tradisi baca yang kuat atau kental tradisi literaturnya. Pesantren, sejak awal hingga kini, menjadikan kitab-kitab klasik (bahasa Arab, filsafat, fiqih, logika, dan ilmu-ilmu lainnya) sebagai sumber ilmu dan pengetahuan yang menjaga tiang-tiang utama eksistensinya.

Dalam perkembangannya, pesantren juga mengadopsi model pendidikan sekolah yang mengajarkan ilmu dan pengetahuan yang telah mengalami perkembangan pesat dalam peradaban masyarakat Barat (bahasa Inggris dan ilmu-ilmu lainnya).

Banyak intelektual dan budayawan Muslim terpenting di negeri ini adalah pribadi yang dekat dengan kultur dan tradisi pesantren. Mereka memiliki kemampuan kosmopolit yang menggali atau mempelajari berbagai ilmu pengetahuan dari sumber-sumber asli berbahasa Arab maupun berbahasa Inggris. Abdurrahman Wahid, Emha Ainun Najib, dan Nurcholish Madjid merupakan sedikit contoh tokoh intelektual dan budayawan terkemuka yang memiliki basis kultur dan tradisi pesantren itu.

Sebagai satuan ranah subkultur yang khas, maka corak maupun pernik sosial, antropologis, maupun religiusitas dunia pesantren menyata dalam keseharian masyarakatnya dan muncul dalam karya sastra yang dihasilkan oleh pengarang yang tumbuh dalam ranah subkultur itu.

Setelah Jamil Suherman yang pada dekade 1970-an menulis cerpen-cerpen yang digali dari kehidupan kultur dan tradisi pesantren, pada dekade 2000-an hingga sekarang muncul cerpen-cerpen yang menjadikan kehidupan pesantren sebagai sumber penciptaan karya sastra secara spesifik dan dengan kecenderungan perspektif mistik Islam (Sufisme).

Kecenderungan itu memiliki perspektif yang senafas dengan puisi-puisi yang ditulis para penyair Indonesia (dekade 1980-an hingga sekarang) yang punya kedekatan dengan kultur dan tradisi pesantren. D Zawawi Imron, Emha Ainun Najib, Acep Zamzam Noor, Jamal D Rahman, Kuswaidi Syafii, Mathori A Elwa, Amien Wangsitalaja, Ahmad Syubbanuddin Alwy, Abidah el Khaliqy, Ulfatin Ch adalah para penyair yang dekat dengan kultur dan tradisi pesantren yang puisinya punya kecenderungan mistik Islam. Nama-nama itu merupakan garda depan puisi mistik Islam Indonesia yang berlatarkan kultur dan tradisi pesantren.

Puisi berperspektif mistik Islam tak hanya ditulis penyair yang dekat dengan kultur dan tradisi pesantren. Banyak penyair Muslim di negeri ini yang tanpa pengalaman hidup dalam kultur dan tradisi pesantren juga menulis puisi bernafaskan mistik Islam yang menonjol, misalnya Abdul Hadi WM, Ahmadun Yosi Herfanda, Abdul Wahid BS, Isbedy Stiawan ZS, Edy A Effendi, dan Sutardji Calzoum Bachri. Nama-nama ini merupakan garda depan puisi mistik Islam di negeri ini. Kemusliman membuat kepekaan mistik Islam mereka sekuat penyair Muslim yang memiliki kedekatan dengan kultur dan tradisi pesantren.

Gejala mistik Islam menjadi kecenderungan yang kuat dalam perpuisian penyair Indonesia — yang punya kedekatan dengan kultur dan tradisi pesantren atau tidak — hingga hari ini dan menjadi gelombang utama yang kuat dalam perpuisian Indonesia pada dekade 1980-an dan berlanjut hingga kini meski tak lagi menjadi gelombang utama.

Kultur agamis masyarakat di negeri ini, setidaknya lingkungan tempat asal bertumbuhnya para penyair itu, membuat puisi mistik Islam itu memiliki latar yang kukuh untuk tetap terus bisa bertahan. Gelombang sekularitas tak mampu menggerus habis arus mistik Islam itu, justru membuat puisi mistik Islam punya tantangan untuk bertahan, dengan sebuah kecenderungan: mistik Islam dalam puisi Indonesia bukan menjadi wilayah yang ‘tenang’ seperti mistik Islam dalam puisi tradisional, melainkan mengalami ‘ketegangan’ yang luka dan perih karena serangan sekularitas dari berbagai arah.

Begitulah gambaran puisi mistik Islam Indonesia yang muncul sebagai gelombang utama di suatu masa dan menghadapi tantangan sekularitas tanpa pernah takluk.

Bagaimana dengan perkembangan cerpen di negeri ini? Bersamaan dengan munculnya cerpen-cerpen agamis yang menyeruak dari komunitas Forum Lingkar Pena (FLP) yang menggali sumber penciptaan dari kehidupan agamis kaum Muslim, kini cerpen-cerpen agamis yang perspektif mistik Islam bermunculan dan menjadikan kehidupan pesantren sebagai bahan penciptaan secara spesifik.

Para pengarang cerpen yang menjadikan kehidupan pesantren sebagai bahan penciptaan secara spesifik dan dengan perspektif mistik Islam itu adalah mereka yang memiliki kedekatan dengan kultur dan tradisi pesantren. Dengan kata lain, cerpen yang menyuarakan dunia pesantren ditulis oleh orang dari dunia pesantren. Gejala ini terjadi karena pengarang yang memiliki pengalaman hidup secara dekat dengan dunia pesantren yang cenderung lebih punya penguasaan bahan dan penghayatan yang kuat tentang dunia pesantren.

KHA Mustofa Bisri (Gus Mus) menulis dan memublikasikan sejumlah cerpen pada awal dekade 2000-an yang dikumpulkan dalam buku Lukisan Kaligrafi (2003). Cerpen-cerpen dalam buku ini terilhami kisah-kisah yang khas dalam kultur dan tradisi pesantren.

Gus Mus merupakan contoh pengarang yang juga ‘orang dalam’ dunia pesantren. Gus Mus lahir dan tubuh di dalam dunia pesantren. Ayah dan kakeknya adalah kiai pengasuh pesantren yang berpengaruh dan mendidik banyak santri. Kini Gus Mus pun menjadi kiai pengasuh pesantren dan mendidik banyak santri.

*) Penyair, mantan santri Krapyak

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan