Langsung ke konten utama

Mistik Pesantren dalam Puisi dan Cerpen II

Bagian terakhir dari dua tulisan
Binhad Nurrohmat
http://www.infoanda.com/Republika

Kisah-kisah mistik dalam dunia pesantren menjadi bagian yang dominan dan menarik dalam cerpen-cerpen Gus Mus. Kisah-kisah dalam cerpen Gus Mus penuh kejutan surealistik dengan cara bercerita Gus Mus datar-datar saja. Tanpa teknik bercerita yang canggih. Misalnya, cerpen Gus Jakfar.

Cerpen Gus Jakfar mengisahkan putra almarhum Kiai Saleh bernama Jakfar yang dipercaya punya kemampuan mistik atau supranatural. Jakfar bisa melihat pikiran atau yang akan terjadi pada diri seseorang (ilmu kasyaf). Dalam mimpinya, Jakfar bertemu almarhum ayahnya yang berpesan agar Jakfar menemui Kiai Tawakkal. Jakfar memenuhi pesan ayahnya itu.

Penampilan Kiai Tawakkal alim, tapi dengan ilmu kasyaf-nya Jakfar melihat tulisan Ahli Neraka di kening kiai itu. Dalam sebuah pengintaian Jakfar memergoki kiai itu mampir ke warung yang bersuasana mesum dan kiai itu menangkap basah pengintaian Jakfar. Tapi, dalam sebuah perbincangan dengan Kiai Tawakkal yang mampu berjalan di atas itu, Jakfar mendapatkan pencerahan spiritual tentang ilmu kasyaf yang sering dipraktikkannya. Jakfar sadar dan tak lagi mempraktikkannya.

Kisah-kisah mistik yang lain dari dunia pesantren juga muncul dalam cerpen-cerpen Gus Mus yang lain, misalnya cerpen Kang Kasanun yang menceritakan tokoh Kasanun yang punya ilmu yang membuatnya bisa tak tampak oleh penglihatan orang lain, cerpen Ndara Mat Amit yang berkisah tentang orang yang bisa melihat kehadiran Nabi Muhammad dan kiai yang menyembunyikan kelebihan ilmunya agar tak terlihat di mata orang atau penguasa (ilmu mastur), maupun cerpen Mbah Sidiq yang bercerita tentang tokoh Mbah Sidiq yang dipercaya dalam waktu yang sama berada di beberapa tempat yang berbeda, sehingga ketika tubuhnya ada di Jawa, saat itu juga dia bisa shalat Jumat di Mekkah.

Realitas-realitas mistik dalam cerpen-cerpen Gus Mus itu bisa diambil langsung dari kisah-kisah yang akrab dalam pengetahuan kolektif masyarakat pesantren. Penggambaran realitas-realitas mistik dalam cerpen-cerpen itu pun mengambil pola yang persis seperti yang sangat lazim dikenal dalam masyarakat pesantren. Cerpen-cerpen itu tak ubahnya transkripsi realitas yang sering dilisankan masyarakat pesantren dan direproduksi dalam tulisan berbentuk cerpen.

Realitas-realitas mistik dalam cerpen itu hidup sebagai bagian tak terpisahkan dalam masyarakat pesantren. Cerpen-cerpen itu berperan sebagai dokumenter pesantren yang bersumberkan dari pengetahuan tradisi kolektif masyarakat pesantren melalui pendekatan antropologis, yaitu menggambarkan perilaku para tokoh cerita yang alim dan juga memiliki kemampuan mistik, punya ilmu kesaktian atau ilmu supranatural. Tokoh-tokoh cerita Gus Mus itu merupakan para santri “priyayi”, yaitu para kiai pesantren dan para putranya.

Selain Gus Mus, ada sejumlah cerpen yang ditulis para pengarang muda yang berlatar kultur dan tradisi pesantren yang memiliki kecenderungan yang mirip dengan cerpen-cerpen Gus Mus. Misalnya, cerpen-cerpen yang dihimpun dalam buku Antologi Cerpen Pesantren Ludah Surga (2006). Cerpen-cerpen dalam Ludah Surga secara spesifik menjadikan kehidupan masyarakat pesantren sebagai bahan penciptaan. Melalui cerpen-cerpen dalam buku ini terungkap gambaran dunia santri dan pesantren dalam konteks masa kini dan juga kecenderungan mistiknya.

Misalnya, cerpen NON GOEs-Gus karya Ahmad Musthofa Haroen. Cerpen berlatar kehidupan pesantren ini mengisahkan putra Kiai Abdul Mukhattit yang bernama Ahmad Lazim Mukhattit (Gus Kotot).

Sebagai calon pewaris pesantren, sejak lulus SD Gus Kotot dikirim ke pesantren di luar desa untuk belajar sampai dia lulus SMA. Selama di pesantren, Gus Kotot badung dan malas belajar, tapi karena dia putra kiai besar, pengasuh pesantrennya membiarkannya. Selepas SMA Gus Kotot tinggal di kos dan menjadi makin liar. Dia bahkan mendirikan grup musik dan jauh dari kehidupan agamis.

Tapi setelah ayahnya wafat, secara tiba-tiba Gus Kotot yang biasanya berpenampilan sebagai anak band, berganti kostum sebagaimana para kiai dan secara ajaib dia punya kemampuan keilmuan selayaknya kiai. Dan, Gus Kotot menggantikan peran ayahnya sebagai kiai pesantren.

Dalam buku antologi cerpen itu juga ada cerpen berjudul Ludah Surga karya Moh. Nur Ali Muslim. Cerpen ini yang juga berlatar kehidupan pesantren menceritakan seorang bernama Jhony.

Jhony adalah pecandu narkoba yang setamat SMA ingin sembuh dan masuk pesantren di Lasem asuhan Kiai Bakhrun Al Hanif. Kiai ini tahu Jhony pecandu narkoba. Untuk terapi, Kiai Bakhrun mempekerjakan Jhony sebagai penjaga sawah. Ketika kiai Bakhrun akan menunaikan haji, Jhony memesan minyak za’faron yang dijual oleh pedagang bernama Harits Ibnu Ash di sebelah selatan Masjid Nabawi.

Kiai Bakhrun bertemu pedagang itu dan pedagang itu tahu kiai itu dari Lasem. Pedagang itu bercerita bahwa dia punya teman bernama Jhony santri pesantren asuhan Kiai Bakhrun, Jhony adalah temannya yang selalu shalat lima waktu di Masjid Nabawi, dan Jhony adalah putra ulama besar di Sumatera. Kiai Bakhrun jadi mengerti kenapa selama di pesantren teman-teman Jhony tak pernah melihat Jhony mendirikan shalat.

Dalam perjalanan pulang haji, Kiai Haji Bakhrun bermimpi bertengkar dengan Jhony. Jhony menagih minyak za’faron yang dipesannya. Tapi kiai Bakhrun malah meludahi Jhony. Jhony pun bermimpi yang sama.

Setiba di Lasem, Kiai Haji Bakhrun memergoki Jhony yang mau kabur dari pesantren dan kiai itu menanyai Jhony tentang siapa dirinya sesungguhnya. Jhony tak mengaku. Kiai Haji Bakhrun marah dan meludahi mulut Jhony.

Dua tahun kemudian, Jhony dikenal sebagai ulama besar di Sumatera dengan menyandang nama Farits Zaini Mubarok Al Khanif. Watak dan kealiman Farits Zaini Mubarok Al Khanif alias Jhony setara dengan gurunya, yaitu Kiai Haji Bakhrun Al Khanif.

Seperti ciri cerpen-cerpen Gus Mus, dua cerpen itu juga menjadi -meminjam sinyalemen kritikus Faruk — dokumentasi dunia pesantren yang bersumber dari pengetahuan kolektif masyarakat pesantren melalui pendekatan antropologis, yaitu menggambarkan perilaku para tokoh santri priyayi (putra-putra kiai) yang memiliki kemampuan mistik atau supranatural.

Kecenderungan mistik dalam cerpen-cerpen yang menggali bahan penciptaan dari kultur dan tradisi pesantren itu memukau atau mengejutkan masih sebatas dilantari oleh realitas yang ditampilkannya bukan realitas yang lazim dalam kenyataan umum, sehingga cerpen-cerpen itu menjadi dongeng atau mitos kehidupan pesantren yang terasa ‘antik’ dan magis. Realitas-realitas semacam itu akan mengalami penjenuhan karena pengulangan-pengulangan.

Kehidupan pesantren yang masih pinggiran dalam bahan cerita percerpenan Indonesia itu kemungkinan besar akan kehilangan pukau bila tak menggali realitas-realitas yang lain dunia pesantren yang masih tersembunyi atau mengembangkan kemungkinan-kemungkinan teknik bercerita yang bisa menghadirkan kehidupan pesantren melalui cara yang berbeda, sehingga cerpen-cerpen itu bukan hanya menyuguhkan mutu dokumentasi, tapi juga memberikan mutu kesusastraan.

*) Penyair, mantan sastri Krapyak

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…