Langsung ke konten utama

Rekam Jejak Sastra Indonesia

Judul Buku: Seratus Buku Sastra Indonesia Yang Perlu Dibaca Sebelum Dikuburkan
Penulis: An. Ismanto, Anna Elfira, AR Fiana, As’adi Muhammad, Burhan Fanani, FF Armadita, Fairuzul Mumtaz, Lukmanul Hakim, Minan Nuri Rahman, Mindiptono Akbar, M. Fahmi Amrulloh, Mujibur Rohman, Rhoma Dwi Aria Yuliantri, Ridwan Munawwar, Wahmuji.
Editor: An. Ismanto
Penerbit: I:BOEKOE
Tahun: 2009
Tebal: 1001 hlm
Peresensi: Fuad Anshori*
http://www.surabayapost.co.id/

Kita mengenal banyak karya sastra. Ada banyak karya sastra melegenda di dunia. Kita kenal karya Williams Shakespeare, Leo Tolstoy, Virginia Woolf, dan lain sebagainya. Akan tetapi seringkali kita sangat mengenal siapa para sastrawan Barat, dan kita sendiri terkadang mengabaikan tentang perkembangan karya sastra Indonesia sendiri.

Dunia sastra Indonesia telah menghasilkan beragam karya yang nyaris tak terhitung jumlahnya, baik karya sastra yang termasuk dalam kategori bermutu hingga yang terkesan picisan. Penerbit Indonesia Buku (I:BOEKOE), mencoba memetakan karya-karya sastra hasil cipta anak negeri yang dianggap layak harus dibaca, dengan meluncurkan buku tebal berjudul Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan.

Buku ini pada dasarnya tak bermaksud mengajukan suatu daftar ”buku-buku terbaik” ataupun ”buku-buku terpenting”. Akan tetapi, buku ini bertujuan untuk menemui buku-buku karya sastra yang punya pengaruh besar dalam membangun pilar-pilar utama Pax Literaria Indonesia. Dalam dunia sastra sendiri, pengaruh semacam itu bukan hanya akan terasa di lapangan bahasa dan sastra belaka.

Seratus buku pilihan dalam buku ini merupakan pilihan dari ratusan buku sastra Indonesia yang pernah terbit sejak awal abad ke- 20 hingga kini. Dengan ketebalan 1001 halaman, kiranya bisa menjadi rujukan sudah sejauh mana perjalanan karya sastra Indonesia dalam rentang seratus tahun. Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan ditulis oleh 10 orang dari Tim Sastra Indonesia Buku dan membutuhkan waktu selama 2 tahun untuk riset dan penulisan.

Keseratus buku sastra dalam buku ini disajikan secara urut berdasarkan tahun, mulai dari yang tertua (1919) sampai yang paling muda (2005). Dan ditulis oleh para penulis muda yang rata-rata berumur 25 tahun. Buku ini merangkum semua gejala sastra Indonesia yang pernah ada dan terdokumentasikan dalam bentuk buku.

Keseratus buku yang terpilih disajikan secara urut berdasarkan tahun, mulai dari yang tertua, yakni dengan patokan Student Hijo karya Mas Marco Kartodikromo (1919), hingga yang termuda yaitu karya fenomenal Andrea Hirata, Laskar Pelangi (2005).

Memang tak melulu novel, roman atau pun kumpulan cerpen. Ada juga kumpulan puisi, esai, catatan perjalanan, naskah drama, dan karya sastra lainnya yang berhasil dihimpun oleh tim dari Indonesia Buku atau Iboekoe. Iboekoe merupakan lembaga riset dan kini bergerak juga di bidang penerbitan dan toko buku yang bermarkas di Yogyakarta, mencatat seratus karya sastra nusantara yang paling berpengaruh dari tahun 1919-2005.

Tentu saja tak asal pilih atau atas titipan penerbit lain, namun lewat penelitian yang dilakukan oleh sejumlah budayawan serta sastrawan. Buku berjudul Seratus Buku Sastra yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan sudah diluncurkan sejak enam bulan lalu dan dicetak dalam jumlah terbatas.

Kendati penyusunan review-review buku itu berdasar kesepakatan dengan para budayawan dan sastrawan, toh diakui Nurul masih ada juga unsur subjektifitas penulis di dalamnya. Yang pasti, penerbitan buku tersebut bertujuan untuk menemukan buku-buku karya sastra yang punya pengaruh besar dalam membangun pilar-pilar utama literasi Indonesia.

Kendati demikian, buku-buku tersebut dipilih tanpa begitu mementingkan periodisasi yang telah “baku” maupun “siapa pengarang” yang telah menciptakan karya. Nmaun memang tidak ada cara membicarakan sastra yang `ilmiah` namun paling tidak dengan cara ini telah dibuka suatu ruang dialog untuk bertegur sapa dengan sang karya dan juga dengan penilaian yang beragam atasnya.

Meski demikian, tentunya buku juga tak bisa lepas dari kritik, terutama sekali diikutkannya sekitar 10 buku yang bergenre seperti Cintapucino, cerita-cerita silat, Karmila, dan komik. Mestinya ada buku sendiri untuk mengungkap fenomena itu. Namun, esais yang juga menyuntuki lakon sebagai penyair muda ini menganggap buku yang serupa taman bunga-bunga ini bisa menjadi rujukan bagi mereka yang ingin melihat secara utuh perkembangan karya sastra di Indonesia.

Ada juga beberapa buku yang berpengaruh untuk kalangan tertentu, itu saja tanpa diketahui khalayak yang lebih luas. Namun kita ketahui sebenarnya lebih banyak lagi buku yang pengaruhnya meloncati batas kalangan. Terkadang sebuah buku ditolak masyarakat karna karya sastra karena itu tidak ”menggoncang” kesusastraan Indonesia. ”Goncangan” itu dapat timbul akibat daya yang kokoh yang dimilikinya sebagai karya sastra.

Sebuah karya bagaimanapun sastra memang mililiki strukturnya sendiri sehingga ia dapat berdiri sendirian dan menjumpai pembaca, lantas membikin ”goncangan nurani” si pembaca. Buku itu sendiriharus mampu bertahan di hadapan pisau ananlisis kritikus sastra dan pakar kesusatraan yang kredibeol. Selain itu ia juga harus mampu memancing pembicaraan atau perdebatan yang luas di kalangan kesusastraan dan boleh jadi juga di kalangan masyarakat yang lebih luas.

Selain itu, buku tersebut juga tidak disisihkan bila memberikan pengaruh juga terhadap situasi masyarakat secara umum, baik secara langsung maupun tidak. Setidaknya memberi pengaruh kepada masyarakat ketika buku itu masuk dalam sejarah sastra ”resmi”, artinya masuk ke dalam kurikulum pengajaran bahasa dan sastra Indonesia yang diajarkan di sekolah.

Tetapi, akan diutamakan buku-buku yang memiliki ”alamat” dalam kehidupan sehari-hari, seperti misalnya Siti Nurbaya yang sering dirujuk orang ketika berbicara tentang kawin paksa. Selain itu, sebuah buku akan awet jika punya pengaruh yang nyata terhadap atau dalam kehidupan masyarakat walaupun tidak ”diakui” oleh kurikulum resmi, misalnya diminati masyarakat sehingga laris dalam penjualan atau membuka perspektif ”yang lain” dalam memandang isi ceritanya.

Sebelumnya, I:Boekoe telah menerbitkan buku Seabad Pers Kebangsaan, berdasarkan riset pada 300 koran yang terbit sejak 1908. Juga kronik yang baru disusun menjadi dua buku, berdasarkan periode 1908-1913 dan 1913-1917.

*) Pecinta Buku Sastra tinggal di Nganjuk.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan