Langsung ke konten utama

Pram Muda Telah Lahir…

Hermawan Aksan
http://terpelanting.wordpress.com/

BACALAH buku tanpa membaca endorsement-nya terlebih dulu. Saya yakin ini nasihat yang cukup bijak sebab endorsement (berarti 1. pengesahan, pengabsahan, persetujuan, 2. dukungan, sokongan.) bisa saja menjebak —meskipun tidak bermaksud begitu. Endorsement pada buku Rahasia Meede, Misteri Harta Karun VOC karya E.S. Ito yang ditulis sastrawan dan aktivis M. Fadjroel Rachman berbunyi begini, “Novel yang dahsyat detail sejarahnya dan inspiring. Pram muda telah lahir…”.

Kalimat akhir yang singkat itu sangat menggoda sekaligus mengecoh. Saya tergoda maka saya membaca Rahasia Meede seraya mau tak mau membayangkan dan membandingkannya dengan karya-karya Pram seperti tetralogi Bumi Manusia, Arus Balik, dan Arok-Dedes. Saya menduga, seperti karya-karya Pram itu, Rahasia Meede adalah sebuah novel sejarah, sebuah novel yang bercerita dengan latar waktu zaman VOC, seraya berharap menikmati sebuah karya yang kualitas literernya setara —atau mendekati— Pram.

Ternyata saya terkecoh. Meskipun dibuka dengan prolog peristiwa pada November 1949, peristiwa bersejarah yang kita kenal dengan nama Konferensi Meja Bundar, bab-bab selanjutnya buku ini bercerita dengan latar waktu sekarang, lebih setengah abad kemudian. Dikisahkan, wartawan muda koran Indonesiaraya, Batu Noah Gultom, mencium jejak pembunuhan berantai dengan korban orang penting di Boven Digoel, Papua. Ini melengkapi tiga pembunuhan misterius sebelumnya di Bukittinggi, Brussel, dan Bangka, kota-kota yang berhuruf awal “B”, disertai pesan yang diterima keluarga korban, yakni dosa-dosa sosial sebagaimana pernah ditulis Mahatma Gandhi dalam majalah Young India.

Pada saat yang sama, tiga peneliti dari Belanda, Erick Marcellius de Noiijer, Rafael Alexander van de Horst, dan Robert Stephane Daucet, terjebak dalam gairah ilmu untuk menemukan de ondergrondse stad, kota bawah tanah di daerah kota tua Jakarta. Penelitian yang tekun menuntun mereka untuk mengungkap rahasia berusia ratusan tahun di dalam sebuah terowongan tua.

Sementara itu, datang juga Cathleen Zwinckel dari Belanda. Mahasiswi pascasarjana di Universitas Leiden itu mengaku tengah menyelesaikan tesis masternya tentang sejarah ekonomi kolonial. Akan tetapi, diam-diam gadis cantik itu memiliki agenda lain, yaitu memecahkan misteri Surat Kew yang dikeluarkan William V pada 1795. Surat ini menuntunnya pada misteri terbesar yang selama ini hanya menjadi bisik-bisik, Het Geheim van Meede (rahasia Meede), tetapi pekerjaan itu tidak semudah yang dia bayangkan. Dia diculik di Pelabuhan Sunda Kelapa dan terdampar di Banda Neira. Dan orang di balik penculikan itu bernama Kalek, buronan nomor satu karena dianggap dalang di balik peristiwa penyerbuan bersenjata pada 2002. Orang yang bertugas memburu Kalek adalah Lalat Merah, nama sandi untuk seorang perwira muda pasukan Sandhi Yudha Kopassus.

Ternyata, mereka berdua adalah teman karib ketika masih di SMA Taruna Nusantara, tetapi kemudian masa depan menyodorkan pilihan pahit dalam persahabatan mereka, satu memburu yang lainnya. Dalam perburuan, Kalek mengirimkan isyarat dalam bentuk dialog Musa dan Khidr. Perlahan Lalat Merah membongkar misteri ini sambil terus berusaha menyelamatkan Cathleen Zwinckel. Pertanyaan-pertanyaan mulai terjawab, tentang peristiwa di tahun 2002, 1949, 1722, hingga masa akhir pemerintahan Daendels di Batavia. Maka, pembunuhan berantai, kota bawah tanah, surat Kew, Monsterverbond, Erberveld, dan KMB berujung pada satu misteri besar, harta karun VOC.

**

RAHASIA Meede adalah novel kedua E.S. Ito setelah Negara Kelima. Seperti novel pertamanya, Rahasia Meede memang mengambil latar belakang sejarah negeri ini, dengan rentetan data sejarah yang lengkap. Dalam data sejarah itu terdapat misteri dan teka-teki, yang kemudian dirangkai dengan data-data sejarah lainnya sehingga terbentuk bangunan misteri besar, yaitu harta peninggalan VOC berupa batangan emas yang tak terbayangkan banyaknya.

Saya memang keliru kalau membandingkan Rahasia Meede dengan karya-karya Pram, tapi saya juga tidak bisa mengatakan novel ini buruk. Sebaliknya, dengan sekian banyak tokoh dan alur cerita yang terjalin secara memikat, Rahasia Meede merupakan karya yang istimewa di tengah karya-karya anak Indonesia yang sebagian besar tarafnya begitu-begitu saja. Dalam banyak hal, novel ini segera mengingatkan saya pada karya-karya Dan Brown seperti Da Vinci Code dan Malaikat dan Iblis, yakni jenis novel thriller dengan misteri pembunuhan dan latar belakang sejarah yang sangat kuat.

Rahasia Meede jelas tidak mungkin dibuat secara main-main. Menurut kabar, buku ini dikerjakan tak kurang dari dua tahun, dengan puluhan sumber informasi dan berbagai riset lokasi hingga Mentawai, Makassar, Banda Neira, dan Papua. Riset, kita tahu, merupakan faktor penting penciptaan sebuah karya kreatif yang baik. Bukan tak mungkin kita pun akan tercengang manakala tahu bahwa E.S. Ito baru berusia 26 tahun.

Ito, yang bernama asli Eddri Sumitra, lahir 21 Juni 1981. Ia menghabiskan masa kecilnya di Kamang, kampung kecil berjarak 12 km dari Bukittinggi, Sumatra Barat, lalu hijrah untuk sekolah di SMA Taruna Nusantara, Magelang, dan akhirnya berdiam di Jakarta. Ito sempat meneruskan studi di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Namun sejak dua tahun lalu ia meninggalkan bangku kuliahnya dan kini bekerja di sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang mengurusi persoalan sosial politik Papua. Kabarnya, ia memutuskan berhenti kuliah lantaran tidak bisa lagi mengerjakan hal-hal yang bukan menjadi minatnya. Minatnya memang adalah sejarah.

Dari minatnya yang kuat itulah lahir Negara Kelima dan Rahasia Meede, dua karya yang pantas dicatat dalam perjalanan sastra Indonesia.

Sayangnya, bangunan kisah yang memikat dalam Rahasia Meede ternoda oleh satu bab yang terkesan mengada-ada. Deskripsi tentang terowongan bawah tanah dari Pelabuhan Sunda Kelapa hingga Monumen Nasional memang meyakinkan meski ada kejanggalan juga.

Ito juga kurang mampu menggali karakter unik tiap tokohnya. Hampir semua tokoh penting dalam Rahasia Meede memiliki pengetahuan mendalam mengenai sejarah dan bisa bercerita dengan pola kalimat dan tingkat pengetahuan yang serupa.

Ito juga terus menggunakan penulisan Deandels, bukan Daendels seperti yang lebih banyak dikenal. Sementara itu, gambaran seorang wartawan juga stereotipe, membawa-bawa kamera dan buku notes.

Pram muda, tentu saja, tidaklah harus menjadi duplikat Pram. Jadi, meski sempat terkecoh, saya sepakat bahwa telah lahir pengarang yang, kita harap, kelak bisa setaraf dengan Pram.***

Hermawan Aksan, Penikmat buku.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan