Langsung ke konten utama

Ihwal Regenerasi Sastra Riau (I)

Marhalim Zaini
http://www.riaupos.com/

(Bagian Pertama)

Bahwa Riau memiliki sejarah kesusastraan yang cukup panjang dan monumental, adalah sebuah fakta yang tak dapat dinafikan. Entah itu tersebab soal bahasa Melayu yang potensial sekaligus strategis posisinya dalam pembentukan arus komunikasi sosio-kultural maupun politik bangsa ini, ataukah memang karena kekuatan tradisi lisan sebagai sumber alami yang merangkai serta mengungkai narasi-narasi dalam berbagai hikayat dan syair, yang lahir dan tumbuh bersamaan dengan lahir dan tumbuhnya kebudayaan Melayu itu sendiri, ataukah sebab-sebab yang lain. Yang pasti, berbagai nama dari berbagai tingkatan generasi sejak abad ke 16 dan 17, terus saja lahir. Sebut saja nama-nama macam Raja Haji Ahmad, Raja Ali Haji, Raja Zaleha, Raja Haji Hasan, dan sejumlah nama lain, yang banyak menulis syair dalam lingkungan kerajaan. Ada pula sebuah “komunitas” yang bergerak dalam koridor “perlawanan” kebudayaan bernama Rusydiah Klub di penghujung abad ke-19 dan awal abad ke-20 yang melahirkan Raja Ali Kelana, Hitam Khalid, dkk. Hasan Junus, saya kira benar, bahwa para penulis tersebut, dari generasi ke generasi, seolah-olah hendak menegaskan bahwa “segala sesuatu bertolak dari bahasa, semua tercermin dalam bahasa; kesetiaan dan pembangkangan, begitu juga rindu dan benci terungkap di dalamnya. Pada bahasalah martabat dipertahankan sekuat dapat” (2002).

Sampailah pula pada masa-masa berikutnya. Masa-masa di mana apa yang populer disebut sebagai “sastra modern” mulai tumbuh dan berkembang. Penulis/pegarang Riau terus membuka peta-peta baru dalam wilayah kesusastraan (di) Nusantara dengan segala dinamikanya. Soeman Hs (1904), tonggak yang ditancapkan demikian jelas dan tegas, genre cerita pendek (bahkan mini), dengan gaya detektif, humor, dan kental lokalitas ke-Melayuannya. Meski, seturut dengan catatan UU Hamidy (1994), ada masa tenggang di mana dari tahun 1940-an sampai 1960-an (sekitar 30 tahun) Riau tidak mencatat munculnya para penulis (khususnya penyair), walau kegiatan sastra tak serta merta menjadi tiada. Tahun 1970-an, sederet nama pun kemudian menandaskan kiprahnya yang lebih luas. Sosok Sutardji Calzoum Bachri (SCB—meski telah bergerak aktif menulis sejak masih mahasiswa Universitas Padjadjaran Bandung di tahun 1960-an, dengan menjadi redaktur Indonesia Ekspress dan Duta Masyarakat) mencuat terutama ketika kredo kepenyairannya (1973) yang menghadirkan “pembongkaran” dan inkonvensionalisasi di bidang puisi (dapat ditengok dalam buku kumpulan sajak O Amuk Kapak). Sosok lain adalah Hasan Junus (HJ), yang juga di tahun 1960 kuliah di universitas yang sama dengan Sutardji, yang giat menggali dan memperdalam berbagai bahasa Eropa. Sehingga karya-karya Hasan Junus, seperti bergerak eksploratif dalam “wilayah sunyi” kebudayaan Melayu dan keluar dengan semangat “kontemporer” yang “liar”. Bacaannya yang luas terhadap karya-karya asing, membuat esai-esainya dapat membuka bilik-bilik baru bagi pemahaman kita terhadap universalitas sekaligus kompleksitas dunia sastra. Dua sosok ini (SCB dan HJ) hemat saya, telah menegakkan tonggak-tonggak generasi sastra Riau yang kokoh.

Nama-nama lain, dengan kecenderungan dan kekuatan yang berbeda, ada Ibrahim Sattah, Idrus Tintin, Ediruslan Pe Amanriza, BM Syam, Iskandar Leo (Rida K Liamsi), Rustam S Abrus, Sudarno Mahyudin, Syamsul Bahri Judin, Tien Marni dan Taufik Efefndi Aria (sekedar menyebut sejumlah nama). Generasi berikutnya muncul Dasry Al Mubary, Al Azhar, Taufik Ikram Jamil, Fakhrunnas MA Jabbar, Husnu Abadi, A Aris Abeba, Mostamir Thalib, Eddy Akhmad RM, Sutrianto, Kazzaini Ks, Abel Tasman, Syaukani Al Karim, Gde Agung Lontar, Nyoto, dan sejumlah nama lain.

Dalam perjalanan kerja kreatifnya, para penulis tersebut di atas, sebagaimana juga dalam dinamika kreativitas berkesenian di mana pun, tentu mengalami pasang surut. Ada sejumlah nama yang masih tetap mencoba untuk bertahan dengan terus melahirkan karya-karya kreatif, dan ada juga sebagian besar yang perlahan-lahan menjauh dari gerak konstelasi sastra di Riau. Ada banyak sebab tentunya, bagi yang memilih untuk “menjauh” selain faktor “seleksi alam.” Dan bagi penulis yang tetap bertahan, pasti juga punya berbagai motivasi, juga berbagai alasan. Kalau kita tarik dari generasi 1970-an, nama SCB dan HJ, masih terus bergaung. SCB dengan karya-karyanya (yang meski tak cukup banyak) tapi monumental. Buku kumpulan esainya yang ditulis sejak tahun 1980-an berjudul Isyarat, terbit di tahun 2007. Buku ini, bagi saya, adalah semacam penegasan tentang ‘pergolakan’ dimanika pemikiran sastra SCB dari dulu sampai kini, serta membuktikan bahwa dia memang sangat tunak di dunianya, bahkan dalam pilihan-pilihan hidupnya sekalipun. Tak ada ambisi dalam hidupnya untuk memilih yang lain, selain menjadi penulis, menjadi sastrawan. Demikian pula HJ, selain karya kreatif, sampai hari ini pun dapat terus kita baca pemikiran-pemikirannya baik dalam kolom “Rampai” setiap Ahad di Harian Riau Pos, maupun dalam kerja pengabdiannya mengelola Majalah Budaya Sagang. Sebuah pengabdian yang panjang, yang tak gampang untuk dapat bertahan, jika kita bandingkan dengan generasi-generasi setelahnya.

Generasi berikutnya yang masih dapat kita nikmati karya-karyanya dan turut menyempal dalam gairah penciptaan generasi terkini, adalah Rida K Liamsi, selain Sudarno Mahyudin. Rida, setelah buku kumpulan puisi Tempuling-nya terbit di tahun 2005, semangatnya untuk terus melahirkan karya dibuktikan dengan kembali menerbitkan sebuh novel berjudul Bulang Cahaya (2007). Menjadi pengusaha, agaknya cukup memberi pengaruh terhadap produktivitas Rida dalam berkarya, meski kemudian dapat tergantikan dengan perhatian besarnya terhadap kehidupan dan perkembangan kebudayaan (terutama sastra) di Riau. Sementara Sudarno Mahyudin, tampak cukup kuat bertahan dengan menghasilkan sejumlah karya berupa skenario film dan novel. Cinta dalam Sekam adalah roman sejarahnya yang terbit tahun 2005. Selain itu, ada nama Husnu Abadi yang sempat menerbitkan buku di tahun 2000-an, di antaranya adalah Lautan Zikir (kumpulan puisi). Di antara itu pula, sesungguhnya Riau punya satu nama yang buku cerpennya terakhir diterbitkan oleh Yayasan Sagang berjudul Sebuah Perjalanan, yakni Syamsul Bahri Judin.

Ditarik lebih dekat, ada Taufik Ikram Jamil dengan karyanya terakhir adalah Hikayat Batu-batu (kumpulan cerpen). Belakangan karya-karyanya sulit ditemukan. Saya kira, publik sastra, rasa-rasanya masih terus merindukan karya-karya Taufik, yang cukup menonjol dalam konstelasi sastra Indonesia. Namanya kerap dicatat dalam berbagai pembahasan tentang karya-karya sastra yang bernafaskan lokalitas. Selain karya-karyanya memang banyak meraih penghargaan, juga karena di masa awal kepenulisannya, Taufik sangat aktif menyerang media massa. Selain Taufik, yang masih tampak mengayuh dan berupaya membongkar semangat lama adalah Fakhrunnas MA Jabbar. Kumpulan cerpennya Sebatang Ceri di Serambi, sempat masuk nominasi Khatulistiwa Literary Award 2007. Karya sebelumnya ada kumpulan sajak Airmata Barzanji (2005) dan Jazirah Layeela (kumpulan cerpen). Artinya, Fakhrunnas masih terus menulis, meski dengan kadar produktivitas yang menurun, dengan sekali dua dimuat di sejumlah media nasional, macam Kompas, Media Indonesia, dan Jawa Pos. Hemat saya, kedua sosok ini, Taufik Ikram Jamil dan Fakhrunnas MA Jabbar, adalah wakil dari generasi mereka yang gaung namanya masih cukup “mengganggu” signal gerak penciptaan sastra generasi terkini. Pergaulan sastra mereka cukup luas, terutama (sekali lagi) karena mereka dulu memang tekun menyerang media massa, yang kemudian membuat nama mereka dapat tempat dalam konstelasi sastra Indonesia. Soal kualitas, agaknya kita serahkan saja pada yang “berwajib”, alias kritikus sastra.

Sementara itu, saya kira, sastra Riau juga cukup banyak berterima kasih kepada Abel Tasman, misalnya, karya-karyanya yang unik (seperti dalam Republik Jangkrik), juga (pernah) cukup dapat tempat dalam dunia sastra di Riau maupun di Indonesia. Cerpen-cerpennya kerap menghiasi rubrik budaya Kompas beberapa waktu lampau. Khusus dalam genre cerita anak, hemat saya, Abel Tasman telah menancapkan prestasinya dengan baik di tingkat nasional. Selain Abel, ada Gde Agung Lontar, yang sampai kini karya-karyanya sesekali nampak masih terus mengisi ruang budaya di Riau Pos. Ada pula sebuah nama penulis perempuan kita, Herlela Ningsih, yang di awal tahun 2000-an cukup bersemangat untuk menerbitkan sejumlah buku antologi bersama, berjudul Musim Berganti, Musim Bermula, Kemilau Musim, dan Pesona Gemilang Musim. Hemat saya, penting bagi kita untuk mencatat perjuangan Herlela ini. Penting karena, selain buku-buku ini akan jadi salah satu referensi dunia sastra kita, juga penting untuk menengok perkembangan para penulis perempuan kita (meski belum cukup representatif), terutama di Riau yang sangat sedikit jumlahnya. Sayangnya, kenapa karya-karya Herlela kini sulit ditemukan, juga karya-karya sebagian besar penulis perempuan yang terangkum dalam antologi tersebut. Entahlah.

Saya kira, publik sastra Riau juga agaknya merindukan kiprah para sastrawan angkatan 1980-an, yang kini stagnan, dan pernah melahirkan karya-karya terbaiknya di masa lalu, seperti A Aris Abeba dalam Ombak Karimun, Syaukani Al Karim dalam Hikayat Perjalanan Lumpur, atau kembali mengayuh karya antologi bersama dalam Blak Blak Duka (1983), Rerama (1987), Jalan Bersama (1992), Menggantang Warta Nasib (1992), Teh Hangat Sumirah (1992), dll.

Generasi Sastra Riau Mutakhir

Menderetkan kembali nama-nama di atas, bagi generasi sastra Riau terkini, termasuk saya sendiri (terutama angkatan 1990-2000-an), adalah untuk membaca dengan cermat, membuat catatan-catatan, membolak balik hasil karya kerja kreatif para sastrawan generasi terdahulu, terutama dalam konteks mempelajari fenomena pasang surut dinamikanya. Dengan begitu, akan dapat dengan sedikit mudah untuk mengira-ngira di mana posisi generasi sastra Riau terkini, terutama dalam hal capaian-capaian prestasi karya, baik dalam pergaulan sastra maupun soal capaian estetika.

Dalam pengamatan dan catatan saya, generasi sastra Riau kini masih terus bergairah. Meski tentu saja akan berbeda kadarnya serta paradigmanya dengan gairah yang terjadi pada generasi angkatan sebelumnya. Gairah itu dapat ditengok dari bagaimana karya sastra terus saja diciptakan dan terus saja bermunculan, terutama di media massa, dan juga dalam bentuk penerbitan buku-buku sastra. Fokus saya dalam tulisan ini adalah melihat perkembangan produktivitas para penulis Riau terkini, lewat karya-karya yang muncul tersebut. Selain juga hendak memaparkan sejumlah analisa tentang problematika yang dihadapi, dan dinamika konstelasinya secara umum.

Kita harus memulai menyebut beberapa nama penulis Riau yang karya-karyanya hadir lebih awal, meski tak dapat pula diketahui secara pasti kapan mereka mulai memublikasikan karya-karyanya. Ada nama Hang Kafrawi, Murparsaulian, Griven H Putra, Hary B Kori’un, Olyrinson, Musa Ismail, Saidul Tombang, dan Fitrimayani (untuk menyebut sejumlah nama). Nama saya sendiri, sesungguhnya masuk dalam deretan nama tersebut. Namun untuk lebih menjaga obyektivitas, dan agar tak bias pembacaan saya, dan tak terkesan narsis, maka saya memilih untuk tidak menyebutnya dan memasukkannya dalam tulisan ini. Sejumlah nama di atas, hemat saya, sampai kini masih dapat kita baca pergerakan gairah kreatif menulisnya, meski tentu dengan kadar potensi yang berbeda-beda dan jangkauan keterbacaan yang berbeda-beda pula. Rata-rata mereka juga memilih media massa cetak (koran dan majalah) sebagai media publikasi karya-karyanya.

Hang Kafrawi, karya-karyanya berupa puisi, cerpen, dan naskah drama dapat kita apresiasi dalam sejumlah buku, baik tunggal maupun antologi bersama. Di antaranya ada Orang-orang Kalah (2002), dan terakhir buku kumpulan sajak Membaca Riau (2003). Kegelisahan besar yang dimiliki oleh Kafrawi untuk terus menulis (sebagaimana yang kerap ia ceritakan pada saya), sesungguhnya dapat membawanya ke dalam pergaulan sastra yang lebih luas, terutama jika dilihat dari proses kreatif menulisnya yang telah cukup lama, dengan sejumlah fase perkembangan yang telah dilampauinya. Sehingga bisa sangat mungkin karya-karyanya juga dapat tersebar ke berbagai media. Teriakan-teriakan kepediahan, pun hentakan-hentakan kemarahan yang berkejaran dalam narasi-narasi tentang Riau, yang dibangun Kafrawi dalam sajak-sajaknya, adalah kekuatan sekaligus kelemahan yang kerap tak bisa ia bendung pelepasan emosionalnya. Tapi bahwa ia pernah menyusun sebuah buku kecil yang berisi cerita-cerita khayal Yong Dolah, dengan semangat dekonstruksi, dan Melayu yang panjang akal, adalah sebuah “jalan lempang” menuju eksistensi. Tinggal bagaimana kemudian menetapkan dan memantapkan diri.

Pada Murparsaulian, saya justru melihat ada semangat yang terpendam, yang tak padam. Mur masih menulis puisi dan cerpen, juga mencoba merangkai novel (sebagaimana juga yang pernah ia perlihatkan pada saya), di tengah kesibukannya bekerja di dunia jurnalisme televisi (kalau ini bisa dijadikan sebuah alasan). Bahwa buku tunggalnya belum juga lahir, saya kira itu soal kesempatan saja. Akan tetapi, bahwa karya-karyanya (yang tersimpan di laptop) itu harus tersebar dan dibaca penikmat sastra, itu menjadi penting. Ketika cerpennya sempat dimuat di Majalah Sastra Horison beberapa waktu lalu, saya menaruh harapan besar bahwa ia akan bangkit untuk terus menyerang media dengan karya-karya terbarunya. Namun, agaknya Riau menawarkan godaan-godaan yang lain, dengan berbagai pilihan yang menyibukkan. Selain Murparsaulian, nama Griven H Putra sesungguhnya telah lebih dulu hadir dengan cerpen-cerpennya. Terutama ketika dulu cerpennya sempat dimuat di media Jakarta. Selain terangkum dalam sejumlah antologi bersama, cerpen-cerpen Griven dapat dibaca dalam buku tunggalnya berjudul Tenggelam (Telindo, 2005). Agaknya, di buku ini dapatlah kita telusuri perjalanan kreatifnya dalam penciptaan dunia cerpen sejak awal. Kekuatan bertuturnya, dengan mengusung tema-tema lokal (Melayu), membuat cerpen-cerpen Griven berkarakter. Bahwa kini, cukup sulit menemukan cerpen-cerpen terbaru Griven dalam berbagai media publikasi sastra (selain sebuah cerpen dalam antologi bersama Loktong), adalah satu soal yang patut dipertanyakan. Tapi, bahwa Griven masih terus menyimpan risau untuk tetap terus berkarya (sebagaimana juga yang pernah ia katakan langsung pada saya), adalah satu soal yang patut kita sokong. (Bersambung)

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com