Langsung ke konten utama

Renungan Cerpen dari Sungai Martapura

Raudal Tanjung Banua
http://jurnalnasional.com/

Selesai mengikuti Kongres Cerpen V di Banjarmasin beberapa waktu lalu, saya menyempal ke tepian Sungai Martapura dan mencoba merunut-runut lagi “Pengantar Redaksi” yang saya tulis di Jurnal Cerpen edisi 8. Apakah yang saya tulis tentang fenomena cerpen “gumam” tidak berlebihan, atau memang semacam potret kecil yang tak terhindarkan?

Namun sejujurnya, apa yang saya tulis, itulah yang saya rasakan. Sebab memang, semenjak maraknya kata eksprimentasi dan eksplorasi dalam wacana per-cerpen-an tanah air, setidaknya sejak tahun 2000-an, seiring maraknya penerbitan buku kumpulan cerpen dari banyak penulis, serta terbukanya ruang-ruang publikasi cerpen di suratkabar, majalah atau jurnal, termasuk penyelenggaraan Kongres Cerpen segala, kehidupan cerpen seperti menemukan gairah baru yang seolah belum pernah didapatkan. Meski sebetulnya, terkait eksprimentasi, sekitar tahun 70-an hal yang sama pernah terayakan, ketika Danarto dan Putu Wijaya melahirkan karya-karya eksprimental yang kemudian menjadi fenomenal.

Ketika fenomena yang sama terulang pada kurun 2000-an, seolah-olah itu hal baru, padahal sudah ada sebelumnya dengan hasil yang dapat kita petakan sampai hari ini. Setidaknya satu kenyataan, betapa cerpen-cerpen realis yang pada zaman di mana Danarto dan Putu Wijaya berkiprah di jagad cerpen eksprimental mungkin dianggap ketinggalan, ternyata tetap bertahan, sebutlah cerpen-cerpen A.A. Navis, Budi Darma, Wildan Yatim, Umar Kayam, Kuntowijoyo atau Pramoedya Ananta Toer. Sebaliknya, cerpen-cerpen eksprimen Putu atau Danarto toh tak semuanya lekang.

Sejarah terulang. Munculnya hasrat untuk menggubah karya-karya eksprimental dan eksploratif, telah mendorong banyak penulis berlomba-lomba mewujudkan sekaligus menafsirkan eksprimentasi-eksplorasinya sendiri. Tidak dapat diabaikan, kerinduan ini bukan tanpa sebab. Maraknya cerpen-cerpen realis (dan beberapa dibuat surealis bahkan absurd) namun dari latar kelahiran yang sama, yakni secara ruang (kebanyakan di surat kabar Minggu) dan secara konseptual (cerpen-cerpen “fakta-fiksi”), tampaknya menimbulkan rasa jenuh atau tidak puas bagi sebagian kalangan.

Mereka mencoba mendedah kemungkinan, jika bukan alternatif, menggubah karya eksprimentasi, apakah secara bentuk, persfektif tematik, plot, atau penokohan. Sebagian kemungkinan itu terlihat pada pengolahan bahasa yang sangat detail tapi dibuat indah, metaforik dan berirama dalam ranah “tamasya bahasa”; tema yang berkelindan pada hal-hal kecil tapi mendetail dan sangat dikenal yang memberi efek dimensional pada keseluruhan cerita; plot yang dibuat berlapis dengan tokoh-tokoh yang memiliki ruang tutur masing-masing, dan seterusnya. Lihatlah, cerpen-cerpen yang mengatasnamakan teknik eksprimentasi dan muatan eksploratif itu ramai bermunculan‘”meski dalam perkembangannya kemudian juga mulai dibuat-buat, jika tidak jenuh.

Tapi tak dapat pula diabaikan, bahwa fenomena ini pada awalnya sangat menggembirakan dan menyegarkan di tengah merajalelanya cerpen-cerpen “fakta-fiksi”. Bagaimanapun, masa ini, disadari atau tidak, telah jadi momentum bagi lahirnya karya-karya terbaik para cerpenis semacam Triyanto Triwikromo, A.S. Laksana, Gus tf Sakai, Joni Ariadinata, Martin Aleida, Zen Hae, dan yang lebih muda Eka Kurniawan, Azhari, Puthut EA, Sunlie Thomas Alexander, Gunawan Maryanto, Dina Oktaviani, Yetti A.KA, atau Ugoran Prasad. Meski sebagian di antara mereka jauh sebelum fenomena itu tiba telah melahirkan karya yang dianggap eksprimental, misal Joni Ariadinata dengan “Lampor”-nya yang menaturalisasikan bahasa pinggiran, maupun Martin Aleida yang sejak awal menjelajah realitas-ideologis atau Triyanto Triwikromo dengan tokoh dan bahasa mencekam. Namun beberapa di antaranya mendapat ruang lebih luas pada kurun ini, sebutlah Triyanto yang terus-menerus mengasah kepekaan bahasanya menjadi kian liar sekaligus puitik dan tokoh-tokohnya kian unik saja.

Hilangnya Hal Dasar
Tersebab gencarnya wacana eksprimentasi, diiringi ramainya upaya di luar teks yang secara eksplisit mengklaim telah lahir “mazhab” baru penulisan sastra, ditandai bahasa metaforik serta tema tentang tabu dan tubuh‘”secara konkrit terepresentasikan oleh novel Saman Ayu Utami dan novel Cala Ibi atau kumpulan cerpen Laluba Nukila Amal‘”kian populerlah eksprimentasi dalam dunia penulisan sastra.

Tentu harus dilihat bahwa pengarang hakikatnya bersifat jamak, di mana satu sama lain punya bahasa ungkap dan minat tema berbeda. Namun, ketika banyak penulis mengacu pada model penulisan Ayu atau Nukila, di sinilah sesungguhnya eksprimentasi mengalami titik jenuh, stagnan dan latah. Tidak saja membenarkan istilah Triyanto Triwikromo tentang perayaan “klise massal” dan “duplikasi diri”, tetapi lebih dari itu, eksprimentasi seolah-olah tujuan yang mesti dicapai, sebab besarnya hasrat untuk tampil beda atau “mengubah dunia”.

Di sisi lain, gaya penulisan “cerpen koran” yang mula-mula berangkat dari “pembocoran fakta” seperti dikembangkan antara lain oleh Seno Gumira Ajidarma atau Agus Noor, lama-kelamaan semakin romantis saja, enjoy, sehingga terasa kian jauh dari cerpen “fakta-fiksi” awal SGA yang termaktub dalam kumpulan Saksi Mata. Juga cerpen-cerpen satire Agus Noor dalam kumpulan Bapak Presiden yang Terhormat mendapat porsi yang kian sedikit. Dan yang berkembang kemudian‘”dan sekaligus beroleh banyak jemaah‘”justru cerpen-cerpen romantisisme metropolis kalau bukan urban, semacam dalam kumpulan Dilarang Menyanyi Di Kamar Mandi-nya SGA atau Selingkuh Itu Indah-nya Agus Noor yang betul-betul “indah” tanpa gejolak kecuali mungkin sekadar gelora.

Bersamaan dengan itu, cerpen-cerpen realis gubahan Kuntowojoyo, Hamsad Rangkuti, Ahmad Tohari, S. Prasetyo Utomo, Yusrizal KW atau Indra Tranggono, tidak cukup membuat para penulis muda takjub. Terlepas dari hasil cerpen-cerpen realis para penulis tersebut, ketidaktertarikan terkesan lebih karena godaan fase eksprimentasi. Realisme, dianggap udik, konvensional, apalagi jika dikaitkan dengan hal ideologis semacam “realisme sosial”, tidak saja membuat tengkuk bergidik, ora enjoy, sekaligus dianggap bakal menjadi beban cerita bertendens.

Akibatnya, hal-hal mendasar dalam penulisan cerpen kerap disepelekan kalau bukan dianggap ketinggalan. Apa yang muncul kemudian adalah sejumlah tindakan yang saya kira terlalu dibuat-buat untuk memposisikan perubahan-perubahan itu, dari hal teknis saja misalnya penamaan atas genre cerpen (short-story) menjadi “cerita”, “kisah” atau “petilan dari cerita yang lebih luas”, di mana penulisnya seolah tak cukup kuat disebut “cerpenis” dan mesti diganti dengan “prosais”, yang maknanya paralel dengan bandingan antara “sastrawan” dan “budayawan”. Terkadang, upaya itu hanya untuk membuatnya tampak beda dengan apa-apa yang sudah ada, tetapi esensinya tetap sama, bahkan beberapa terkesan dipaksakan.

Ya, realisme kadung dianggap udik tanpa melihat ada korelasi penting dari teknik dasar mengarang. Akibatnya, menjamurlah cerpen-cerpen yang “tipis tokoh”, bahasa yang mendayu dan tidak artikulatif, plot yang menghindar dari konflik dan anatomi cerita tak lebih sebagai fragmen, serta latar yang dibuat detail meski sebenarnya tidak memiliki relevansi langsung dengan struktur cerita. Tidak heran, membaca cerpen-cerpen semacam ini, saya selalu ingat komentar seorang pengamat di back-cover sebuah buku, yang tak jelas benar apakah serius atau berseloroh,”Bagus, meski kita tidak mengerti isi ceritanya.” Cerpen gumam, itulah yang tampaknya yang memang sedang dirayakan!
Jadi, apakah saya berlebihan? Saya arahkan pandangan ke sepanjang Sungai Martapura: jalan-raya kapal-kapal yang kian sepi, rumah-rumah kayu yang merana, anak-anak telanjang berloncatan dari tepian‘¦ Sungguh kurindu melahirkan kisah-kisah baru yang tidak sekadar gumam sahaja, namun menghanyutkan tanpa kehilangan bau, warna dan suara-suara.

Komentar

Sastra-Indonesia.com