Senin, 04 Mei 2009

In Memoriam: Si “Superhilang…” Kini Telah Tiada

Isbedy Stiawan Z.S.
http://www.lampungpost.com/

Dunia sastra Indonesia kembali kehilangan salah seorang sastrawan terbaiknya. Hamid Jabbar meninggal saat mengisi Pentas Orasi Seni dan Budaya di Universitas Islam Negeri (UIN–dulu IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Sabtu malam (29-5), bersama Jamal D. Rahman, Putu Wijaya, Frans Magnis Suseno, dan Frangky Sahilatua. Acara itu sendiri merupakan rangkaian Dies Natalis ke-2 UIN.

HJ sebenarnya sudah berorasi, setelah Frans dan Putu. Ia membacakan orasi berjudul “Assalamu’alaikum”. Entah mengapa, boleh jadi permintaan terakhirnya, HJ meminta waktu pada panitia untuk membacakan puisinya setelah orasi penyair Jamal D. Rahman. Bahkan, ia meminta pemain musik mengiringi pembacaannya. Ketika ia tampil untuk kedua kalinya di panggung UIN, menurut Jamal D. Rahman, waktu sudah hampir tengah malam.

Hamid memang selalu ingin berkesan di setiap penampilannya di atas panggung. Oleh sebab itu, segala sesuatu ia persiapkan sebelum membacakan puisi. Misalnya, ia pernah membawa gendang besar khas Minang ke panggung yang dimainkan sendiri demi mendapatkan suasana estetika. Tetapi, pembacaan puisi dengan diiringi musik di UIN Jakarta, merupakan yang terakhir baginya.

Redaktur senior majalah sastra Horison ini lebih dikenal sebagai penyair–tapi mungkin tidak banyak orang tahu, kecuali para pembaca sastra yang serius–dia juga menulis cerpen. Sebelum bergabung Horison, HJ pernah menjadi wartawan Indonesia Express, Singgalang, dan redaktur Balai Pustaka. Ia pernah menetap beberapa tahun di Bandung dan dari kota yang juga banyak melahirkan sastrawan, HJ makin dalam menancapkan langkahnya di ranah sastra Indonesia.

Sebelum memosisikan kepenyairannya bergaya parodi seperti dikatakan kritikus (alm.) Mursal Esten terutama dalam kumpulan Super Hilang, Segerobak Sajak (1998), HJ mulanya konsentrasi pencarian estetik dalam proses kreatif kepenyairannya pada bunyi dan kata-kata. Contoh pada puisi “Homo Homini Lupus” (1973) yang ditulisnya pada usia 24 tahun. Selain berkonsentrasi pada bunyi dan kata-kata, pada puisi itu juga menggambarkan tentang “kekalahan” manusia.

Sejumlah puisinya yang lain masuk kumpulan Paco-Paco (1974), Dua Warna (1975), dan Wajah Kita (1981) merupakan puisi-puisi awal kepenyairan HJ yang berkonsentrasi pada bunyi dan kata-kata. Pada puisi-puisi awalnya, perhatian HJ sangat besar pada nilai-nilai religiusitas Islam dan kontemplatif. Setelah itu, ia “mengubah perhatian” pada puisi-puisi parodi. Misalnya, puisi yang populer “Proklamasi 2″ yang ditulisnya pada 28 Maret 1992. Puisi ini pernah dicekal saat dia membacakannya di Solo.

HJ yang saya kenal adalah penyair yang periang dalam kehidupan sehari-harinya, bahkan terbuka kepada siapa pun. Ia juga bukan tipe orang yang temperamental, betapa pun yang mencandainya orang yang usianya jauh di bawahnya. Dengan perawakan tubuh yang kecil, terlihat ia amat lincah, cekatan, dan liat.

Saya katakan lincah dan cekatan, ada buktinya. Ketika rombongan sastrawan Indonesia yang didanai Horison meninggalkan Johorbahru menuju Singapura dengan bus, tiba-tiba kami teringat salah seorang penyair Jakarta masih tertinggal di hotel di Johor. Belum lagi kami panik, HJ sudah menghentikan bus dan lompat. Ia segera menyetop taksi untuk membawanya ke Johorbahru. Tak lama kami menunggu di Singapura, HJ dan salah penyair Jakarta yang tertinggal sudah kembali bergabung.

“Cepat sekali, Abang?” ucap seorang sastrawan.

“Kalau di negeri orang kita lambat, bisa dimakan orang. Jakarta mengajarkan aku bertindak cepat dan selalu sigap!” ujar HJ mantap. Itu sebabnya, HJ seperti menjadi “tangan kedua” dari Ibu Ati Taufiq Ismail.

Dalam perjalanan laut dari Tanjungpriok ke Batam bersama HJ pada Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) IX di Johorbahru, Malaysia, jika malam datang di bawah langit bertabur bintang dan kegelapan lautan, penyair ini termasuk paling kuat menahan kantuk. Dengan sukacita ia “meladeni” penyair di bawah usia dan angkatan dengannya, mengobrol dari masalah sastra hingga persoalan politik dan sosial. Masalah ini tampaknya berkelindan dalam banyak puisi-puisinya. Bahkan pada usia 25 tahun, HJ melahirkan puisi amat panjang yang membicarakan masalah sosial politik di Indonesia dalam puisi “Indonesiaku”. Selain itu, ia tak sungkan diajak joget teman-teman sastrawan muda di sebuah warung di atas kapal ataupun di Batam. Selalu saja ia berpasangan dengan cerpenis Joni Ariadinata saat berjoget diiringi musik dangdut.

Saya memaklumi HJ. Konon, menurut teman-teman di Horison, ia pekerja yang akan berhenti setelah selesai pekerjaannya. Ia juga supersibuk jika berada di Jakarta. Ketika menyelesaikan buku Horison Sastra Indonesia yang empat jilid itu, saya ikut membantunya memilih puisi-puisi penyair yang akan dimasukkan Kitab Puisi. HJ seperti tak mau dikatakan kalah adu cepat dengan saya dalam hal pekerjaan. Padahal, ia baru saja kembali keliling kota dan provinsi untuk program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB).

Sungguh, sekiranya saya pada posisi seperti HJ, sudah ambruk berkali-kali. Tetapi, HJ tetap kelihatan segar. Meskipun, sesungguhnya penyakit gula telah menggerogoti tubuhnya. Boleh jadi ia menampakkan diri selalu sehat, supaya yang melihat tidak bersedih. Seperti juga yang dilakukan almarhum Motinggo Busye semasa hidupnya, juga mengidap penyakit yang sama. Terakhir saya berjumpa HJ pada Kongres Bahasa, Oktober 2003, di Jakarta. Waktu itu ia masih kelihatan gagah, sigap, dan lincah. Kami sempat mengobrol di halaman kiri Hotel Indonesia saat rehat. Tawanya yang renyah dengan wajah dan postur serupa B.J. Habibie, betapa senang bercakap-cakap dengan paman sastrawan Fakhrunnas M.A. Jabbar ini.

Semangat inilah–semangat pada profesinya–menggodanya untuk meminta waktu lagi pada panitia Orasi Seni dan Budaya UIN Jakarta, demi membacakan puisinya sebelum kegiatan itu ditutup penampilan Frangky Sahilatua. Padahal, dengan penyakit gula yang dia idap cukup lama ditambah mungkin keletihan karena kesibukannya mengikuti program SBSB yang kini berlangsung di Indonesia Bagian Timur, pada pembacaan puisi keduanya ia ambruk di panggung.

Menyaksikan semangat HJ ini, mengingatkan saya pada sebuah esainya di homepage-nya. Ia mengatakan, berada di tengah-tengah tikungan yang menyesatkan dan bahaya yang menganga, rasanya diperlukan semacam kegesitan meloncat dan berkelit, meraba segala yang akan tiba. Bisakah? Untuk itu diperlukan suatu daya yang membersit dan mengalir dari sesuatu yang hakiki dari keberadaanku. Apakah itu?

“Iman! Iman yang menancap mantap di dalam dan mencahaya ke luar kedirianku dalam ‘laku’. Setimbang! Kesetimbangan tak akan tercapai jika tidak melalui pendalaman dan penyerahan atau pasrah. Pasrah yang aktif, bukan pasrah yang tanpa upaya,” kata HJ. Pada titik puncak pasrah, aku rasakan masalah “ada” dan “tiada” bukan menjadi masalah lagi. Yang menjadi masalah adalah “bermakna” atau “tak bermakna”. Puncak dari kesetimbangan: makna tumbuh, bangkit. Suatu kebangkitan. Pada titik ini semuanya mengental dan bergolak menggejolak. Mendorong bergerak, suatu daya yang memunyai semacam kemampuan merangkum masa silam dan kekinian menjadi masa datang. Dan menuliskannya, kurasa bukan hanya semacam kesaksian, tetapi suatu kebangkitan atau pembebasan.

HJ memang tumbuh dan (terus) bangkit di jalan berliku-liku/tanah-airku/penuh rambu-rambu/Indonesiaku sebagai seorang manusia, suami, ayah, masyakarat kebangsaan. Dengan (hanya) menjadi sastrawan, sebuah profesi yang boleh jadi tidak seksi sehingga tidak diminati. Dengan segala risiko, boleh jadi ditikam, disembelih, dipuji, disingkirikan, dicekal ataupun dicibir teman dan meraka yang tidak suka. Mungkin juga oleh keluarga sendiri. Mungkin juga….

Tetapi, lepas dari itu semua, sesungguhnya HJ memperoleh banyak simpatik. Terbukti HJ diterima semua “angkatan” (kalau itu ada) sastra Indonesia. Seperti ia kerap menerima, misalnya, candaan (kadang berlebih batas) dari sastrawan jauh usianya di bawahnya; Achmad Syubbanudin Alwy yang juga ikut dalam rombongan “sastrawan Horison” ke PSN IX ke Johorbahru, Malaysia, dinikmatinya dengan riang: tidak terpancing berang.

Keriangan itulah modal HJ melahirkan puisi-puisi parodi–antara main-main dan serius saling berkelindan–dalam kumpulan puisinya Super Hilang, Segerobak Sajak yang menuai dua penghargaan dari Yayasan Buku Utama (1998) dan penghargaan seni dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (1998).

Selain, seakan ia juga menyadari nama besar tidaklah mesti merasa diri superman, toh yang “super” (perkasa, gagah, hebat, dst.) pada masanya akan “hilang”: ketika kita tak berdaya di hadapan Yang Mahasuper! Sebagaimana digambarkan dalam puisi “Alang Kepalang tak Terduga” (hadiah HUT buat Bang Im): bel berbunyi dan lampu berkedipan, merah dan hijau. Alangkah/gawatnya perjalanan ini, hari menuju malam, waktu menuju/kelam; dan kita menuju juga: barangkali ke sana! Alangkah/beratnya tanggungan ini, bahagia terasa pedih, sengsara/telah mengupih; dan bahu bertanya juga: sampai ke mana?/Alangkah asingnya segala, setelah sedikit bahagia mengada,/setelah sedikit putus asa sirna; dan segala masih saja/kembali seperti semula: alang kepalang tak terduga!

Alangkah gawatnya perjalanan ini, kata HJ dalam puisi di atas, hari menuju malam, waktu menuju kelam; dan kita menuju juga: berangkat ke sana! Ya, HJ telah berangkat ke sana kini. Meninggalkan kita untuk selamanya. Selamat jalan Hamid Jabbar….

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar