Selasa, 03 Februari 2009

Kartu Pos dalam Cerita Pendek

Alex R. Nainggolan
http://www.suarakarya-online.com/

Sebuah kartu pos memang merupakan sebuah benda yang "klasik" saat-saat ini. Beragam berita bisa saja tertulis di sana. Jika dulu kartu pos merupakan alat yang efisien untuk mengabarkan suatu peristiwa, sekarang orang-orang justru lebih memilih alat komunikasi lainnya. Lewat ponsel, misalnya-yang langsung berkabar saat itu juga. Dengan media SMS, dengan cepat menuju pada tempatnya. Murah, cepat dan efisien. Lantas mengapa seorang Agus Noor, penulis cerita pendek yang lumayan produktif kembali mengangkat masalah kartu pos? Jika dulu Chairil Anwar bercakap masalah puisinya dengan H. B. Jassin dengan kartu pos, memang terasa aura kehangatan di sana. Sapaan kata, dengan pelbagai kegalauan hatinya dapat dirasakan yang kesemuanya disimpan dengan rapi di PDS H.B. Jassin.

Barangkali karena klasik itu tadi. Segala hal yang kuno menjadi antik. Penggunaan kartu pos sebagai pengantar kabar kembali dikuak. Dengan demikian, segala hal yang penuh dengan aroma nostalgia tercuat lagi. Kesan yang tumbuh di sana, ialah sebuah pesan yang penuh dengan canda meski tetap serius. Tulisan-tulisan tangan dari seorang sahabat yang dirindukan dengan pelbagai tanggapannya terhadap cerpen-cerpennya. Semuanya itu dapat disimak dalam kumpulan cerita pendek terbarunya, diterbitkan oleh Kompas pada bulan September 2006.

Setelah menerbitkan kumpulan monolog Matinya Toekang Kritik, Agus menghimpun sejumlah cerpennya yang tergabung dalam Potongan Cerita di Kartu Pos. melalui prosanya Agus berkisah banyak peristiwa. Terkadang ia hanya menyentil sebagian misteri kehidupan. Sejumlah cerita yang ditulisnya mengingatkan kita pada gaya kisah realis, dengan pelopornya semacam Hamsad Rangkuti, Seno Gumira Ajidarma, Putu Wijaya-meskipun imaji yang ditawarkan agus terasa lebih menyayat. Kebanyakan cerita yang ditulisnya lebih bersimbiosis pada kehidupan yang kejam, penuh dengan kekejian, dendam maupun petaka berbalut jadi satu.

Agus tidak serta mertya berkhotbah ihwal mana yang baik atau tidak. Ia dengan luwes memaparkan realita tersebut. Membalutnya dengan imaji yang terasa seperti puisi. Ia mengambil sikap untuk menjadi juru cerita saja, tida lebih. Membiarkan ceritanya untuk ditafsirkan secara luas. Dengan demikian, cerita-ceritanya dapat masuk ke dalam benak pembaca-katakanlah untuk mencerna kembali apa yang dimaksud pengarang.

Kumpulan ini terdiri dari sembilan cerita. Pun ada sebuah cerita yang terdiri dari tiga bagian. Lainnya juga terkadang merupa puzzle, acak-acakkan-sehingga jika ingin tahu keseluruhan cerita secara utuh pembaca harus membacanya dulu sampai habis. Kemudian menyusunnya kembali di kepala. Setelah itu baru terang, apa yang diumaksud pengarang. Alur cerita bisa dengan segera memadat, kemudian cair kembali. Ketegangan demi ketegangan bisa hadir berulangkali dalam cerpen-cerpennya. Agus dengan lihai menjungkirkan peristiwa, membuntingi realitas untuk kemudian menertawakannya.

Dalam Komposisi Sebuah Ilusi misalnya imajinasi tokoh dengan maneken. Maneken yang hadir bergantian dengan tokoh laki-laki sehingga lebih cocok sebagai dialog. Imajinasi yang liar-mungkin muncul dari bawah sadar kian menguatkan cerita ini. Setiap penuturan dibalas dengan paragraf lainnya. Kebinalan gairah untuk bersetubuh hadir bergantian. Dengan ketertarikan secara seksual. Meski pada akhirnya laki-laki dan boneka tersebut memang bercinta dan si lelaki mati. Mungkin oleh cinta? Agus mendeskripsikan aroma percintaan tersebut dengan diksi yang puitis: Kami saling pandang sama-sama terangsang. Kami segera bergegas ke sebalik rimbun pepohonan. Kami saling pagut saling regut. Peri dan mambang bermunculan dari dalam gelap, memandangi kami yang sama-sama menggelinjang telanjang. (halaman 12).

Keidentikan Agus ialah seringnya ia mengangkat masalah-masalah sosial dalam ceritanya. Kritik yang dilakukannya lebih diselimuti oleh aroma penindasan. Masalah gelandangan (kaum kere, meminjam istilah Seno Gumira Ajidarma) hadir dalam cerpen Pagi bening Seekor Kupu-kupu dan Mata Mungil yang Menyimpan Dunia. Meskipun Agus lebih menyamarkan semua idiom tersebut dengan kupu-kupu, atau sebuah mata. Kupu-kupu yang identik dengan metamorfosanya bertemu dengan bocah. Masalah ketimpangan antara si miskin dan kaya diangkat Agus dengan menyodorkan bentuk yang lain. Proses perubahan bocah menjadi kupu-kupu yang asyik mengintip perilaku hidup bocah lainnya.

Kecemburuan dengan pelbagai perbandingan sehingga muncul keinginan untuk bertukar tempat antara bocah dan kupu-kupu. Pada bagian II dengan bahasa polos yang kebocahan Agus menulis begini: pasti seneng. Enggak perlu ngamen. Enggak perlu kepanasan. Enggak perlu kerja di pabrik kalau malem, ngepakin kardus. Enggak pernah digebukin bapak. Kalau ajah ibu enggak mati, dan bapak enggak terus-terusan mabuk. Pasti aku bisa sekolah. Pasti aku kayak bocah-bocah itu. Nyanyi. Kejar-kejaran. Enggak perlu takut ketabrak mobil kayak Joned. Hiii, kepalanya remuk, kelindes truk waktu lari rebutan ngamen di perempatan. (halaman 45).

Tawaran bahasa yang dikembangkan Agus, barangkali teramat biasa. Namun bagaimana ia meraciknya, sehingga menelingkupi relung-relung batin pembacanya, merupakan sebuah keajaiban. Yang mengingatkan saya pada tawaran sejumlah cerita yang pernah ditulis Chekov, sebuah realitas yang dijabarkan, tanpa bermaksud menggurui pembacanya. Maka kita serasa diajak tamasya ke sebuah tempat, di mana kita dilepas dalam pengembaraan sendiri-sendiri saja.

Penjengukan terhadap upacara kehidupan manusia diramu dengan rumus yang sama: sederhana. Narasi yang mengisyaratkan bila kita mampu memeras inti dari hidup ini dengan tidak tergesa-gesa. Dan kita tidak diajak untuk menenggelamkan keterlarutan kita terhadap sebuah kesedihan, misalnya, dengan berlarat-larat. Dengan sigap Agus menawarkan keterpesonaan lain. Sehingga ia dapat dengan utuh merangkum sebuah kisah.

Pun dalam Mata Mungil yang Menyimpan Dunia, ia menyadap peristiwa kekaguman seseorang terhadap sebuah mata. Anehnya mata tersebut milik gelandangan yang kerap bermain-main di kolong jembatan. Barangkali kita yang setiap hari bertemu dengan gelandangan macam itu, jarang memerhatikannya. Barangkali kita terlalu angkuh untuk menatapnya, sebab kita terlanjur merasa jijik untuk melihatnya.

Namun Agus dengan sekejap mengisyaratkan bentangan peristiwa lain. Ia menulis begini dalam cerpen tersebut: Memandang mata itu, Gustaf seperti menjenguk sebuah dunia yang menyegarkan. Dunia yang tenang bening terbentang dalam mata mungil bocah itu. Dunia yang seolah-olah terus berpendaran dan perlahan membesar, hingga segala di sekeliling bocah itu perlahan-lahan berubah. Tiang listrik dan lampu jalan menjelma menjadi barisan pepohonan rindang. Tak ada keruwetan, karena jalanan telah menjadi sungai dengan gemericik air di sela batuan hitam. (halaman 167). Barangkali memang benar adanya jika dikatakan bahwa mata adalah jendela jiwa. Melalui mata seluruh rasa terpancar, dengan warna-warni kehidupan di dalamnya.

Kritik yang dilontarkan Agus juga tak hanya berada di lingkar kehidupan horisontal. Ia pun mencoba untuk "menegur" penguasa lewat cerpennya. Cerpen Cerita buat Bapak Presiden..., misalnya Agus mengambil seorang tokoh yang ingin bertemu dengan Presiden yang diibaratkan dapat mendengar semua keluhan rakyatnya. Semula memang mendengarkan. Namun lama kelamaan dengan terbatasnya waktu, Presiden itu sendiri yang mengatakan untuk hanya mendengarkan perkataannya. Ah, betapa sulitkah untuk menjadi pendengar yang baik? Cerpen yang mengingatkan saya pula pada kisah Seno Gumira Ajidarma tentang nasib pendengar yang baik.

Demikianlah. Cerpen memang merupakan dunia tersendiri, setidaknya yang dirasakan oleh penulisnya sendiri. Dengan cepat setiap kali membaca sebuah cerita, terlepas apakah cerita tersebut realis atau imajiner-setiap orang bisa menertawakan sendiri ketololannya, ataupun penyesalan yang dilakukan diam-diam. Sebagai bahan permenungan cerita dapat segera larut di pikiran pembaca. Sebab, bagaimanapun pembaca merupakan raja terbesar. Tanpa adanya pembaca sebuah karya sehebat apapun tidak akan pernah "berbunyi". Memang seluruh cerpen dalam buku ini telah dipublikasikan di media massa. Bahkan beberapa cerpen pernah diikutkan dalam antologi lain. Meskipun demikian sebagai kumpulan, cerita yang terjalin tetap menarik untuk disimak. Upaya Agus untuk membongkar seluruh sisi kehidupan, baik itu yang gelap maupun tidak layak diapresiasi. Sebagai pengamat kehidupan. Jika hidup tak melulu putih. Sebagai juru kisah Agus telah tampil dengan kisahnya. Seperti dongeng seribu satu malam. Namun Agus menyuguhkan hal-hal yang dekat dengan keseharian kita. Hidup yang malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, meminjam ungkapannya dalam cerpen Pesan Seorang Pembunuh. Barangkali kita dapat untung dengan membaca sejumlah cerita dari Agus. ***

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar