Selasa, 03 Februari 2009

Sang Tahanan

Zaim Rofiqi
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

AKHIRNYA, saat yang paling ia takutkan itu pun tiba: pada 6 Juni 2006, ia harus ke luar dari penjara itu. Ia bebas. Tempat yang sudah begitu lama ia huni dan mulai bisa ia cintai itu kini harus ia tinggalkan.

Harus. Ia tak bisa menawar. Tak ada pilihan lain. Ia tidak punya pilihan lain. Masa penahanannya di dalam penjara itu telah habis. Dan sebagaimana tahanan-tahanan lain yang telah habis masa penahanannya, ia tidak lagi boleh berada di dalam bangunan itu, betapapun besar keinginannya untuk terus tinggal di situ.

”Jika boleh, jika Anda mengizinkan, aku ingin terus berada di sini. Mungkin untuk selamanya. Tak apa. Aku rela,” demikian ucapnya kali terakhir saat sang penjaga penjara itu datang memberitahukan pembebasannya.

”Tidak mungkin, itu sama sekali tidak mungkin. Itu mustahil. Itu menyalahi aturan. Lagi pula, semua ini di luar kewenanganku. Aku hanya menjalankan perintah,” ujar sang penjaga penjara itu datar.

Sorot matanya tajam menghunjam ke wajahnya.

”Setelah ke luar dari sini, segeralah pulang. Segeralah kembali ke tempat asalmu. Jangan kau mampir di suatu tempat lantas mabuk di sana,” ujar sang penjaga penjara itu setelah melaksanakan tugasnya.

Untuk kali pertama setelah berpuluh tahun, ia tak menjawab apa-apa. Ia hanya berjalan gontai meninggalkan kamar penjara, dan terus berjalan ke luar melewati gerbang penjara itu.

Dari luar gerbang penjara, ia lihat musim panas meng-garang. Warna-warni. Langit abu-abu, awan-awan biru, pepohonan ungu, jalan-jalan kuning. Ia melihat kekasihnya meratap-ratap di samping tempat tidurnya. Ia melihat para wanita, lelaki, anak-anak aneka warna. Burung-burung aneka rupa, melesat-lesat, seperti mengukur angkasa. Segala sesuatu dan setiap orang dipandang dengan sedih. Ia merasa semua itu terlihat begitu indah.

Beberapa saat kemudian, di bawah sebuah pohon besar, sekitar 200 meter dari pintu gerbang penjara itu, ia berhenti. Ia merasa gamang: ke mana? Ia menatap sekeliling, dan yang dilihat adalah jejalan dan rupa-rupa yang tak ia kenal.

Ke mana? Segera pulang? Segera kembali ke tempat asal sebagaimana yang disarankan oleh sang penjaga penjara itu? Tapi di mana tempat asalnya? Tapi mengapa harus kembali ke tempat asalnya? Setelah mendekam begitu lama dalam penjara itu, setelah mengalami berbagai macam peristiwa di dalam penjara itu, setelah muncul rasa cintanya pada tempat terkutuk itu, ia merasa ia telah melupakan tempat asalnya dulu. Dan jikapun samar-samar masih diingat tempat asalnya, ia merasa sama sekali tidak punya keinginan untuk kembali ke sana.

Apa yang sangat diinginkan sekarang ini adalah kembali berada di dalam kamar penjara. Melentangkan badan di atas tempat tidur, bangun tidur pada waktu pagi, merasakan hangat sinar matahari pertama yang masuk melalui jendela kamar, mendengarkan lagu-lagu kesukaan, membaca kembali kisah-kisah yang telah berulang kali ia baca, minum kopi, bercanda dengan kekasih, makan sup buatan kekasih, mabuk dan berkelahi dengan tetangga-tetangga penjara, membaca buku-buku puisi saat malam tiba, bercinta dengan kekasih, dan seterusnya, dan seterusnya.

Kini, setelah ia dibebaskan, setelah ia berada di luar penjara, di mana bisa ia dapatkan semua itu? Berpuluh tahun ia berada dalam penjara itu. Dan selama berpuluh tahun itu pula ia belajar untuk mengerti dan mencintai tempat terkutuk itu. Dan setelah ia merasa berhasil mengerti dan mencintai tempat itu, mengapa sekarang ia dipaksa untuk meninggalkannya?

Ia ingat, dulu, saat ia masih remaja, para tetua yang ada di dalam penjara itu sering kali bercerita kepadanya —dan juga kepada teman-teman seusianya—tentang betapa indah segala sesuatu yang ada di luar penjara. Mereka berkata bahwa di luar penjara kau tidak lagi akan merasakan kesedihan, di luar penjara kau tidak lagi pernah merasa kesepian, di luar penjara kau tidak lagi merasa cemas dan ketakutan, di luar penjara semuanya tenang dan menyenangkan.

Ia ingat beberapa di antara mereka, para tetua itu, bahkan ada yang menambahkan bahwa di luar penjara ada sebuah taman besar yang ”bersungai susu, bertabur bidadari seribu.” ”Di sanalah tempat asalmu, Nak. Tempat asal kita semua. Ke sanalah kita menuju, semua orang yang ada di dalam penjara ini.” Betapa indahnya! Dan ia ingat ia pernah mempercayai semua itu. Ia ingat betapa ia dan teman-temannya dulu pernah sangat percaya dan suka pada cerita-cerita para tetua itu.

Tapi saat ia menginjak dewasa, saat ia mulai berani bertanya, saat ia menanyakan apa buktinya, mereka, para tetua itu, tidak bisa menjawab apa-apa. Mereka hanya bisa bilang, ”Percayalah, percayalah. Jika kau percaya, hidupmu akan semakin bermakna.” Dan ia pun merasa kecewa. Sejak saat itu, ia tak pernah bisa menghilangkan keraguan pada semua cerita para tetua itu. Sejak saat itu, ia berkata kepada dirinya sendiri bahwa sebelum ia bisa membuktikannya sendiri, ia tak akan percaya sepenuhnya pada cerita-cerita para tetua itu. Tapi bagaimana membuktikannya? Selama ia berada dalam penjara itu, ia tidak pernah berhasil membuktikan apakah yang dikisahkan oleh para tetua itu benar atau mereka hanya membual.

Kini, setelah ia berada di luar penjara, setelah ia punya kesempatan untuk membuktikan apa yang dulu dikisahkan oleh para tetua itu, apa yang ia lihat dan alami hanyalah hamparan luas yang tak ia kenal. Ia merasa gamang. Ia merasa sendirian. Ia merasa sangat kesepian. Ia teringat teman-teman, saudara-saudari, serta kenalan-kenalannya yang telah lebih dulu ke luar dari penjara itu: Di mana mereka? Apa yang sekarang mereka lakukan? Apakah mereka telah berhasil menemukan taman besar yang diceritakan oleh para tetua itu? Apakah mereka sekarang telah berada di taman besar yang ëbersungai susu dan bertabur bidadari seribuí itu dan bersenang-senang di sana? Ke mana ia harus mencari mereka? Seperti saat masih dalam penjara dulu, ia selalu merindukan mereka. Ia ingin kembali bisa bercengkerama dengan mereka. Tapi bahkan hingga saat ia sudah berada di luar penjara seperti sekarang ini, ia masih juga tidak bisa bertemu dengan mereka. Mereka seperti menghilang begitu saja dan melupakan dirinya.

Ia terus mematung di bawah pohon besar itu. Silih berganti ditatapnya jalanan asing yang ada di depannya dan bangunan penjara di belakangnya yang sudah begitu ia kenal.

Ke mana? Pertanyaan itu kembali menyergap dirinya. Ke tempat asal? Ke kampung halaman? Tapi jalan mana yang harus diambilnya untuk kembali ke tempat asal? Ia mengambil napas dalam-dalam lalu mengembuskan dalam satu sentakan. Tanpa disadari, ia menggelengkan kepala. Ke mana? Ia tak tahu. Tapi ia harus pergi, meninggalkan tempat itu. Ia tak tahu, apakah suatu saat nanti ia akan kembali lagi ke dalam penjara itu.

Jakarta, 2008-2009

Catatan:
Cerita di atas adalah variasi atas cerpen ”Pulang” karya Arpad Goncz, dalam Arpad Goncz, Pulang dan Beberapa Cerita Lainnya, Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1994, hlm. 25-26.

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar