Langsung ke konten utama

MEMPERTANYAKAN PENTINGNYA MANUSKRIP ISLAM KEAGAMAAN

Agus Sulton
Radar Mojokerto, 25 Okt 2015

Manuskrip atau biasa disebut "naskah” adalah benda material berupa tulisan tangan nenek moyang kita yang berusia berpuluh-puluh tahun bahkan ratusan tahun dengan menggunakan bahasa daerah sebagai pengantar atau bahasa Arab. Menuskrip mengenalkan kita tentang adat istiadat, sejarah suatu daerah, pemikiran masa lampau termasuk berbagai bidang ilmu usuluddin, ilmu fiqh,
ilmu hadist, ilmu faraidh, ilmu teknik (handasah), ilmu astronomi (falakiyyah), astrologi (nujum) dan sebagainya. Pesantren adalah salah satu lembaga yang memiliki tradisi besar dalam penyalinan dan produksi naskah Islam keagamaan. Jejak manuskrip-manuskrip ini bisa kita nikmati dan dilihat sampai sekarang di beberapa museum, koleksi pribadi, di pesantren, dan beberapa masjid atau mushola yang disinyalir bekas skriptorium.

Manuskrip Islam keagamaan di pesantren mempunyai bentuk tersendiri, yakni penggunaan berbahasa Arab disertai makna jenggotan dan teks Islam keagamaan yang dikreasikan memakai bahasa daerah (pégon) berupa tetembangan. Prof. Oman Faturahman (2011: 18) menilai keislaman lokal yang dihasilkan itu pada hakikatnya merupakan buah dari upaya penafsiran para pengarangnya terhadap doktrin-doktrin Islam yang bersifat universal dan kosmopolitan, dan ditulis dalam rangka menyesuaikan doktrin-doktrin tersebut dengan konteks dan budaya lokal masyarakat setempat, karena meskipun benih Islamnya sama dengan di tempat asalnya, tanah tempat tersebut dinilai memiliki sejumlah keragaman sosiologis yang berbeda, sehingga kreatifitas para ahli agama sangat dibutuhkan untuk menemukan dan merumuskan identitas serta kekhasannya sendiri. Seperti halnya aksara pégon sebagai sarana pengembangan atau bentuk kristalisasi dari warna kelokalan oleh para ahli agama.

Pengertian manuskrip Islam keagamaan lebih diorientasikan pada manuskrip Islam yang berisi ajaran-ajaran agama berdasarkan Al Qur’an dan Hadist, sebab tidak sedikit manuskrip Islam aksara pégon menyoal mantra-mantra Jawa (azimat), pengobatan tradisional Nusantara, dan asal suatu wilayah. Teks manuskrip Islam keagamaan berisi ilmu Tawhid, Fiqh Akbar, ilmu kalam, dan sebagainya. Karya-karya berupa “sastra kitab” saat itu, misalnya manuskrip Bahjat al-Ulum fi Sharh Aqidat al-Usul karya Ibrahim as-Samarqandi, manuskrip Sittin atau As- Sittûn Mas’alah fî al-Fiqh karya Muhammad al-Zahid al-Mishri, manuskrip Talmisani karya Umar bin Ibrahim al-Tilmisani, manuskrip Fathu al-Mubin bi Syarh Ummi al-Barahin kitab karya Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf bin ‘Umar bin Syu’aib Al-Sanusi Al-Tilimsani Al-Hasani Al-Maliki, dan Bidayatul Hidayah karya Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali. Teks semacam ini sebagai bahan ajar yang berkembang pesat digunakan pada pesantren-pesantren awal abad ke-19 sampai pertengahan abad ke-20 di Kediri dan Jombang.

Jejak peradaban Islam di Kediri sendiri bisa dibilang cukup tua, dengan dibuktikan prasasti Islam huruf Arab ditemukan, ada seorang ulama bernama Syeh Wasil Syamsudin atau Mbah Wasil diperkirakan 920-929 Hijriah atau 1514-1523 M (dari pembacaan inskrpisi). Berdasarkan sedikit keterangan prasasti di Setono Gedong, bahwa “ini (batu) adalah makam dari seorang ulama Islam dan seorang ulama syekh yang saleh.” Dari sini sangat jelas kalau Islam masuk di Kediri sudah ada sejak dahulu kala.

Berabad-abad setelahnya, Islam semakin meluas, menyebar di pelosok-pelosok perkampungan bersamaan dengan berdirinya tempat-tempat pengajian bernafaskan ajaran Islam (pesantren). Karena berdasarkan tradisi lisan yang berkembang di masyarakat, setelah terjadi pemberontakan dan penangkapan Pangeran Diponegoro, para santrinya sebagian melarikan diri ke wilayah Jawa Timur kemudian mendirikan tempat-tempat syiar. Bermula dari sini tradisi pernaskahan, baik produksi maupun penyalinan naskah mengalami peningkatan. Jejak-jejak skriptorium banyak diketemukan, baik skriptorium berskala besar atau skriptorium berskala kecil, seperti pesantren di Banaran, pesantren di Nepen, pesantren di Karang Tenggah, pesantren Mahir Arriyadl, pesantren di Balongjeruk, pesantren di Tumbuk Kediri, bekas pesantren di Banyuarang Jombang, dan beberapa napak tilas bekas pesantren lain yang masih bisa kita temukan sekarang, baik berupa serpihan cerita atau bukti manuskrip yang sampai pada kita saat ini.

Keseluruhan manuskrip yang penulis temukan menggunakan bahan kertas daluwang, kertas merang, dan kertas Eropa sedangkan alat tulis yang dipakai di pesantren pada saat itu berupa sada atau lidi dari pohon aren, bambu ori yang diruncingkan, bulu angsa, dan runcingan besi (pena tutul). Bahan tinta hitam menggunakan blendok (getah) asem ranji atau sejenisnya dicampur dengan angus kemudian digodok, sedangkan warna merah memanfaatkan kulit cabai ditumbuk halus. Pada waktu itu orang yang memiliki manuskrip dianggap luar biasa karena bahan kertas harganya sangat mahal dan orang yang memegang manuskrip diagungkan di lingkungannya disebut orang berilmu.

Menuskrip pada masanya dianggap mempunyai kekuatan magis dan sebuah benda yang sangat diagungkan. Bahkan untuk memilikinya harus membeli dengan harga yang sangat mahal dan kalau hendak sebatas ingin menyalin manuskrip harus melakukan ritual puasa tiga hari dengan harapan dapat berkah dari pengarang teks manuskrip dan saat proses penyalinan di tengah perjalanan tidak mengalami hambatan.

Betapa luar biasa harapan pendahulu kita sebatas ingin memiliki manuskrip, dari manuskrip pula orang menjadi mengerti dan dihargai di masyarakat. Kita sebagai manusia yang “dianggap” modern dan terpelajar sadar budaya untuk menghormati, memanfaatkan, mempelajari, dan memelihara warisan manuskrip-manuskrip Islam keagamaan di pesantren. Manuskrip adalah identitas kultural kekuatan bangsa khususnya umat Islam. Dalam beberapa kasus yang penulis temukan di beberapa daerah, manuskrip dibiarkan begitu saja oleh pemiliknya sampai akhirnya dimakan rayap, lapuk kamudian dibakar. Alangkah lebih baik, kita sebagai orang yang sudah melek pengetahuan mari memberikan alternatif penyadaran untuk preservasi manuskrip-manuskrip Islam keagamaan. Dalam usaha ini, nilai-nilai Islam yang akan ditelaah secara intuitif mampu memberikan kontribusi perkembangan studi Islam dan kekuatan Islam terhadap ancaman global.
***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…