Langsung ke konten utama

Membaurkan Gradasi Sejarah

Beni Setia
Lampung Post, 25 Nov 2012

BANYAK mata acara di Borobudur Writers and Cultural Festival (BWCF) 2012, meskipun fokus utamanya mengarah pada? Musyawarah Agung Penulis Cerita Silat dan Sejarah Nusantara?, yang diselenggarakan di Awadana Manohara Hotel, Borobudur, Magelang, 28?31 Oktober. Acara di mana para penulis bertemu. Kreator–menurut Yoke Darmawan–tak habis-habisnya mengeksplor berbagai kenyataan dengan mengaktifkan imajinasi. Si yang mengamati, mengumpulkan bahan-bahan dengan riset dan melihat dunia?baik hari ini, di masa silam, bahkan yang dibayangkan mungkin ada di masa depan?bersua. Namun, apa terjadi silaturahmi di antara para kreator itu?
Ternyata kekayaan imajinasi yang mengolah hal yang serba memungkinkan itu terkendala kendali yang dirumuskan sebagai tema Musyawarah. Aspek (cerita) silat itu membatasi sehingga fakta sejarah jadi seberapa jauh itu bisa dijadikan seting lokasi dan postulat tokoh yang senang berkelahi.

Selain itu, mengekslusifkan penerbit yang mau terlibat dalam acara?setidaknya di launching buku. Yang menyebabkan adanya pembicara berlatar belakang ilmu sejarah atau pelaku penelitian pada situs, dokumen, dan cerita (lisan) sejarah secara ilmiah dengan acuan akademik ketat, pun ada penafsir sejarah pengobral imajinasi yang memainkan fantasi ketimbang validasi fakta sejarah.

Pendekatan yang berbeda melahirkan asumsi serta hipotesa kebenaran sejarah yang bergradasi dan melahirkan teks yang sangat lain, yang terkait apa itu buku fiksi dan sejauh mana fiksi membiaskan fakta sejarah, dan apa itu buku fakta dan seberapa kuat fakta itu didukung referensi sahih.

Namun, gradasi itu tidak digarisbawahi, sehingga?selain inflasi kualitas narasumber?terjadi inflasi kualitas buku yang didiskusikan, serta (akhirnya) merontokkan minat peserta akan diskusi yang berlangsung. Minimal ada gap antara yang didiskusikan di ruang seminar, yang merujuk ke karya jadi?Api di Bukit Manoreh, karya S.H. Mintardja, peraih Sang Hyang Kamahayanikan Award 2012, atau Bende Mataram karya Herman Pratikta?,atau karya baru dan sedang diuji pembaca?terutama di forum launching buku dan merujuk ke penulis baru.

Ada semacam kehausan akan pengakuan yang dieksplisitkan. Ada kecemburuan terhadap apresiasi yang telah termanifestasikan jadi kuatnya pengakuan (masyarakat) pembaca atas karya yang dipublikasikan. Semacamn kemarahan, yang berangkat dari asumsi ego kreator yang merasa sama-sama cuma mengolah imajinasi meskipun memakai postulat seting sejarah berbeda, yang merasa bahwa apa pun yang ditulis S.H. Mintardja dan Herman Pratikta tidak jauh berbeda dengan apa yang ditulisnya?bahkan imajinasi dirinya lebih liar. Sekaligus lupa, bahwa menulis itu?sesuai hukum story telling yang merujuk pada seni meyakinkan orang lain yang kini banyak dieksplor salesman?cara untuk meyakinkan pembaca, yang amat tergantung dari apa kualitas dari pembaca.

Pembaca buku silat terlatih, misalnya, sesuai acuan resepsi dari Jauss, terbiasa menjadikan Sin Tiauw Hiap Lu, To Liong To, Soh Sih Kiam, Pendekar Super Sakti, Bende Mataram, atau Nagasastra Sabukinten sebagai standar. Pencinta sejarah akan bersikukuh dengan fakta sejarah dan menolak penafsiran fiksionalistik liar bersidasar superiorias etnik. Dan pengejar sensasi akan puas dengan kelebatan nonsens?terlebih bila dibumbu seksualitas. Lantas di mana tempat pengobral sensasi bertemu dengan si pencari validitas fakta dan dokumen sejarah? Di mana ruang temu dari pengapresiasi kemasifan fakta atau dokumen sejarah dengan penyesap imajinasi liar? Di mana ruang kompromi apresiator akademik fakta sejarah dengan penceracau fantasi?

Ada kecenderungan yang berawal dari toleransi yang bermuara dalam simpati, seperti yang terjadi pada pembicara tertentu di sesi terakhir musyawarah yang betema Napak tilas nusantara. Dan terkadang bermuara pada sikap antipati ekstrem karena merasa ada kekeliruan mendasar dalam pemanfaatan sumber referensi dari penulisan silsilah, atau terhadap sikap arogan bahwa imajinasi pengarang adalah segala-galanya?lupa kalau Roland Barthes sudah menghilangkan pengarang dari teks, sehingga sang pembaca jadi raja atas teks dan bisa semena-mena memperlakukannya. Gradasi itu tak terseberangi, meskipun telah ketat dirumuskan oleh steering committee.

Gagal disipadupadankan dalam seminar serta diskusi selama launching buku di Dunia Tera, padahal hal itu yang sebenarnya ingin dijembatani sehingga terlahir genre cerita silat dan sejarah Nusantara yang berkualitas?seperti diharapkan panitia dengan istilah sastra silat dan sastra sejarah Nusantara itu. Meskipun?ini yang penting?langkah telah dimulai, dan jejak pun tertera?minimalnya sebagian makalah terdokumentasi di buku Memori dan Imajinasi Nusantara: Musyawarah Agung Penulis Cerita Silat & Sejarah Nusantara, Samana Foundation. Magelang, 2012. Dan di tahun depan panitia menjanjikan tema Spices and maritime, yang lebih besar serta siap menayangkan aura trauma kolonial di Nusantara.

Beni Setia, pengarang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…