Langsung ke konten utama

Satu Dekade Pesta Sastra di Ubud

Anata Siregar
Media Indonesia, 20 Okt 2013

ANGIN semilir di pertengahan Oktober itu berhembus sepanjang Jalan Sanggingan, Ubud, Bali. Meski siang terik, langkah-langkah para pengunjung Ubud Writers & Readers Festival (UWRF) mantap menapaki jalan menurun-menanjak. Mereka menuju museum, kafe, atau taman tempat pesta sastra dirayakan.

Satu dekade sudah festival sastra internasional ini digelar. Kurang lebih 2.000 pengunjung yang kebanyakan penikmat sastra mendatangi sekitar 50 lokasi agenda (venue) yang tersebar di Jalan Sanggingan dan Jalan Raya Ubud.


Sebanyak 180 seniman berpartisipasi dalam festival tersebut, di antaranya 150 penulis sastra baik yang sudah memiliki nama besar maupun para penulis pendatang baru (emerging writer). Lebih dari 220 agenda digelar sepanjang perhelatan akbar itu. Pesta sastra dimulai pada 12 Oktober 2013.

Sejak itu hingga tiga hari berikutnya, sebanyak 18 hingga 20 program utama digelar dari pagi sampai petang. Pada panel-panel diskusi tersebut tampak penulis Indonesia bersanding dengan penulis internasional bertindak sebagai pembicara.

“Kami mau memperkenalkan mereka secara langsung supaya tidak ada kesalahpahaman. Kalau kita bicara tentang fundamentalis Islam di luar sana, selalu dianggap seluruh orang Indonesia ini fundamentalis. Ternyata ketika bertemu mereka baru mengerti, tidak begitu. Terjadi pertukaran ide ideologis antarmereka,” tutur Manajer Program Indonesia UWRF I Wayan Juniartha.

Sepuluh tahun lalu, festival ini digelar pertama kali sebagai usaha bangkit dari keterpurukan pascabom Bali, dengan tajuk Habis Gelap Terbitlah Terang. Dengan diprakarsai Janet DeNeefe dan Ketut Suardana dari Yayasan Saraswati yang merancang sebuah perhelatan sastra sebagai penyambung lidah ke dunia internasional, festival ini mengabarkan Ubud aman dikunjungi.

Memasuki tahun kelima, penyelenggara sudah harus bergerak dari tujuan tadi. UWRF menjadi sebuah wadah atau jembatan bagi penulis Indonesia dan internasional untuk berinteraksi, bertukar pikiran, serta merajut jejaring.

Kini pada tahun kesepuluh penyelenggaraan, panitia ingin mengulang tema yang sama dengan berpijak pada kepercayaan masyarakat Bali yang merayakan siklus sepuluh tahun sebagai Panca Bali Krama, yaitu disucikan dengan kembali ke titik nol. Namun, tajuk Habis Gelap Terbitlah Terang (Through Darkness to Light) kali ini lebih dimaknai sebagai judul karya RA Kartini, sebagai penanda program mereka yang bercorak perempuan.

Malam sebelum hari pembukaan festival, digelar Tribute Night for RA Kartini. Begitu pula sebagian besar agenda pada hari pertama diwarnai tema perempuan seperti Kartini’s Letter, Women in Ancient Text, Ibu, dan Looking at Women.

Nama-nama yang sudah tak asing di dunia sastra Indonesia pun hadir, di antaranya Leila S Chudori, Goenawan Mohamad, Dewi Lestari, Laksmi Pamuntjak, Agustinus Wibowo, dan Ayu Utami.

Tak sebatas nama besar

Tak hanya mereka yang sudah punya nama, para penulis muda atau pendatang baru punya tempat khusus di UWRF.

Wayan mengatakan UWRF merupakan satu-satunya festival sastra di Indonesia yang secara kontinu memberi ruang kepada emerging writer. Tujuannya agar penulis dari berbagai negara bisa melihat sastra Indonesia bukan hanya dari karya penulis besar saja. “Kita selalu mengundang penulis emerging agar ada regenerasi, ada nama-nama baru yang dikenal,” terang Kadek.

Harus diakui, potensi-potensi baru dalam dunia sastra ternyata masih bertebaran di luar sana. Tahun ini peminat program submisi emerging writer mencapai puncaknya. Penyelenggara menerima karya dari 649 penulis sastra dengan rentang umur 19 hingga 40 tahun.

Masing-masing dari mereka harus mengirimkan 30 karya untuk kategori puisi, 5 untuk esai, 4 drama, dan 8 cerpen. Karya-karya tersebut kemudian diseleksi melalui dua tahap, prekurasi dan kurasi oleh dewan kurator. Panitia sama sekali tidak campur tangan dalam proses tersebut.

Tahun ini, anggota dewan kurator yang terdiri dari Sapardi Djoko Damono, Dewi Lestari, dan I Nyoman Darma Putra mengeluarkan 16 nama emerging writer yang terpilih.

Karya 16 penulis tersebut kemudian dibukukan sebagai antologi dengan judul sesuai tajuk festival, Through Darkness to Light. Di antara mereka, ada Dea Anugrah. Penyair, penulis cerpen, dan esais kelahiran 1991 itu cukup dikenal di Tanah Air karena sejumlah karyanya dimuat di media massa.

Festival ini pun mencatatkan tulisan jurnalistik karya Bayu Maitra sebagai karya sastra. Bayu, editor Reader’s Digest Indonesia, masuk sebagai emerging writer melalui tulisan Uluran Tangan di Pinggir Jalan. “Harus kita akui karya jurnalis sekarang sudah banyak yang menganut jurnalisme sastrawi sehingga kita akui sebagai karya sastra,” kata Wayan.

Selain itu, faktor asal daerah atau kenusantaraan pun menjadi penting. Tahun ini karya yang diterima panitia berasal dari 70 kota. Biasanya ciri penulis lokal ialah bicara tentang kearifan lokal sehingga tema yang ditulis pun lebih kaya.

“Indonesia bukan hanya masalah urban dan korupsi. Masih banyak tema lain seperti mitologi, folklore, mitos penciptaan, dan sistem matrilineal,” kata Wayan.

miweekend@mediaindonesia.com
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/10/jendela-buku-satu-dekade-pesta-sastra.html 

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan