Langsung ke konten utama

Bukan Cinta Biasa: Sarongge Mengembara ke Negeri Suram

Hang Kafrawi *
Riau Pos, 20 Jan 2013

PERISTIWA dalam karya sastra merupakan peristiwa yang diunggah dari peristiwa yang terjadi di kehidupan manusia (realita). Walaupun demikian, peristiwa dalam karya sastra dirangkai dengan imajinasi pengarang; menambah, mengurang, sehingga karya sastra tersebut memunculkan keterkejutan; keasikan untuk terus menelusuri peristiwa-peristiwa yang dibentangkan di dalam karya sastra tersebut.
Memang pada mula munculnya teori mimesis yang diperakasai Plato, meletakkan karya sastra sebagai tiruan yang tidak bermanfaat. Plato menjelaskan bahwa karya sastra (karya seni) hanya menyajikan suatu ilusi (khayalan) tentang kenyataan dan tetap jauh dari kebenaran. Aristoteles mencoba meluruskan pendapat Plato dan mengatakan bahwa mimesis tidak semata-mata menjiplak kenyataan, melainkan merupakan sebuah proses kreatif menyuguhkan kenyataan lebih memiliki pandangan yang khas, sehingga menikmati karya seni (membaca karya sastra), manusia dapat mengenal dirinya lebih dekat lagi.

Karya sastra (karya seni) seperti cermin yang memperlihatkan wajah kita. Kita dapat mengamati seluruh wajah, sehingga kita benar-benar mengenalinya. Dalam proses mengenali diri inilah, kita mampu mengarifi wajah kita; mana yang harus didandan dan mana tidak perlu didandan. Pantulan dari cermin inilah menggugah rasa sekaligus membangkitkan semangat untuk berjuang mengarungi kehidupan.

Berangkat dari pandangan Aristoteles, saya mencoba melayari perasaan dan pikiran menelusuri novel Sarongge karya Tosca Santoso. Dengan membaca novel ini, ada banyak peristiwa yang saya tidak ketahui menyembul seperti ‘kobaran api’, membakar rasa keprihatinan terhadap bangsa ini, terutama tentang hutan dan perjuangan anak manusia untuk menyelamatkannya.

Hutan menjadi ‘bahan’ utama dalam novel Sarongge ini. Bicara tentang hutan, berbagai masalah menyurak bagaikan semburan air bah yang tertahan cukup lama. Deskriminasi, kesewenang-wenangan, kekerasan, intimidasi, kekuasaan, kasih-sayang, cinta, keharmonisan, kepedulian, perjuangan, menjadi perekat cerita novel Sarongge ini. Novel setebal 357 halaman ini, membawa kita ke pelosok-pelosok hutan yang ada di nusantara ini dengan berbagai permasalahannya, dan kita juga disuguhi dengan ‘melodi cinta’ sepasang anak manusia yang menggetarkan jiwa.

Paristiwa hutan dan permasalahannya, dibentang cukup lengkap. Tosca Santoso memahami betul masalah ini. Ini tidak terlepas dari profesi Tosca sebagai wartawan dan juga pencinta alam. Inilah yang menguntungkan bagi seorang sastrawan sekaligus wartawan, ia memiliki kepekaan terhadap kejadian sekitarnya dengan data yang lengkap, sehingga karya sastra yang diciptakannya pun memuat data-data yang lengkap dan penuh rasa.

Menelusuri (membaca) novel Sarongge dari awal sampai akhir, memang memplotannya biasa-biasa saja. Pembaca tidak dipusingkan dengan plot yang rumit. Plot novel ini mengalir seperti air, dari perjumpaan tokoh perempuan (Karen) dengan tokoh lelaki (Husin) sampai mereka berumah tangga dan dikaruniai dua anak. Sebagai pembaca yang berkehendak agar hubungan dua anak manusia ini normal, dikacaukan oleh pengarang dengan menciptakan jarak diantara keduanya. Karen sebagai aktivis pembela lingkungan hidup, sesuka hati meninggalkan Husin sendirian. Di sinilah kejelian Tosca membangun ketegangan emosi pembaca. ‘Kenormalan’ hubungan sepasang kekasih ‘ditabrak’ sehingga pembaca ingin mengikuti terus kelanjutan ceritanya.

Di tengah keinginan pembaca menyatukan sepasang kekasih inilah, permasalahan-permasalahan hutan yang tidak pernah ada ujungnya dibentangkan, sehingga pembaca pun ‘berkemah’ pada peristiwa perjuangan aktivis pembela alam. Perjuagan dengan keberanian membuka mata pembaca, bahwa hutan-hutan di negeri ini harus diselamatkan dari keserakahan pemilik modal. Di sinilah masalahnya, pemerintah kita tidak berpihak kepada rakyat.

Sarongge adalah suatu kampung yang terletak di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Di sinilah bermula kisah yang ditulis oleh Tosca Santoso. Pertemuan antara tokoh Karen dan Husin, teman sewaktu kuliah di IPB, membuka peristiwa-peristiwa yang menakjubkan. Peristiwa yang membuat pembaca menarik nafas panjang disebabkan pengorbanan dan perjuangan antara dua tokoh sentral ini.

Husin pemuda kampung Sarongge, setamat kuliah mengabdikan diri di kampungnya. Ia bertekat dengan ilmu dimilikinya membantu masyarakat yang hidup dalam kemiskinan, agar lebih baik lagi. Husin pun membuka kebun dan memberi contoh dengan mempraktikkan langsung ilmunya. Sesuatu yang jarang terjadi di zaman sekarang ini. Tokoh Husin memerlihatkan bahwa perjuangan bisa dilakukan dengan menjadi petani di kampung dan mampu membuka peluang-peluang bagi petani lainnya.

Karen, tokoh perempuan aktivis lingkungan hidup, tidak pernah lelah memperjuangkan keberadaan hutan yang semakin dikesampingkan. Menyelamatkan hutan dari keserakahan pemiliki modal merupakan jalan hidup Karen. Karen tidak pernah mengenal kata menyerah, ia terus mengembara dari satu daerah ke daerah lain di negeri ini untuk membela hak rakyat atas hutan mereka.

Pengembaraan Karen inilah membawa ia berjumpa kembali dengan Husin di Sarongge, kampung yang dijadikan program penanaman hutan kembali oleh kelompok Green Radio. Pertemuan ini memunculkan benih cinta dalam diri Husin. Rupanya Karen juga memiliki perasaan yang sama, tetapi sebagai aktivis lingkungan hidup, Karen harus membagi rasa cintanya kepada Husin dengan cinta terhadap hutan. Terjadilah percintaan jarak jauh, karena Karen tidak bisa menetap di suatu tempat. Dimana ada masalah mengenai hutan, disitulah Karen berada.

Percintaan ini manarik. Hal ini disebabkan di antara rasa rindu kedua anak manusia ini, terjalin pemikiran-pemikiran rasa cinta terhadap bumi ini. Karen dengan hutannya menjelaskan kepada Husin melalui pesan facebook atau SMS, mengenai keberadaan hutan di negeri ini yang terabaikan. Kepentingan ekonomi menjadi alasan pemerintah yang ditunggangi pemiliki modal menggarap hutan dengan sesuka hati. Kesewenang-wenangan ini melahirkan konflik antara pemerintah atau pemilik modal dengan rakyat. Peristiwa-peristiwa konflik inilah yang selalu dikabarkan oleh Karen kepada kekasihnya, Husin.

Husin sebagai pemuda kampung yang sudah bertekat menjadi petani di kampungnya, senantiasa mendukung apa yang dilakukan Karen. Walaupun memendam rindu yang paling dalam disebabkan jarak, namun Husin dengan tegar menyemangati Karen. Bagi Husin aktivitas yang dilakukan Karen merupakan perwujudan cinta mereka sebagai anak bangsa yang rela mengorbankan apa, termasuk cinta mereka.

Jalinan cinta antara Husin dan Karen, seperti hutan dan tanah; saling mengisi, saling membutuhkan. Kehendak cinta menjadi kekuatan mengarungi kehidupan ini. Karen dengan tegar melakukan perlawanan untuk menjaga kelestarian hutan, tersebab Husin selalu menyemangatinya. Sementara Husin semakin kokoh berdiri sebagai petani dengan penemuan-penemuan terbarunya untuk memanjakan Karen.

Husin menjadi ‘rumah’ bagi Karen, sementara Karen menjadi cahaya bagi Husin. Untuk itulah, Husin tidak pernah menghalangi apa yang dilakukan oleh Karen dengan aktivitas membela hutan, walau terkadang sepi menyelimutinya. Ditinggal pergi, menunggu kepulangan Karen dari suatu tempat, menjadi sesuatu yang biasa bagi Husin. Husin sadar bahwa di antara cinta mereka, ada cinta untuk negeri ini.

Kesabaran Husin ditinggal pergi dan menunggu Karen terus berlangsung disaat mereka berumah tangga dan dikaruniai 2 orang anak. Husin sudah terbiasa menunggu, sementara Karen tidak bisa tinggal diam melihat hutan di negeri ini terancam punah. Menyelamatkan hutan bagai Karen adalah menyelamatkan kehidupan di muka bumi ini, dan sama juga seperti menyelamatkan keluarganya.

Penantian Husin akhirnya terhempas, ketika mendapat kabar bahwa Karen pergi selama-lamanya. Karen meninggal dunia di hutan Papua setelah timah panas tentara bersarang di tubuhnya. Perih memang, namun Husin masih tetap tegar. Kematian Karen membela keberadaan hutan adalah demi keberlangsungan kehidupan dunia ini.

Pemerintah Tak Berpihak pada Rakyat
Hutan merupakan paru-paru dunia, namun paru-paru dunia ini diabaikan keberadaannya tersebab kerakusan yang merajalela. Novel Sarongge memperlihatkan bahwa bagaimana kerakusan manusia penyebab punahnya hutan di negeri ini. Berdalih menyejahterakan rakyat dengan ekonomi, rakyat yang dikorbankan.

Dari novel ini, pembaca akan memahami bagaimana kepentingan pengusaha yang disokong penguasa, membabat hutan yang ada di negeri ini. Hak rakyat, hukum-hukum adat mengenai hutan, selalu dikangkangi. Penguasa dalam hal ini pemerintah, tidak berpihak kepada rakyat. Pemerintah dengan semena-mena, tanpa ada berpikir panjang, mengeluarkan izin untuk penguasa mengelola hutan. Dengan konsep ekonomi, tentu saja pengusaha hutan tidak mau rugi, namun membabat hutan sesuka hati untuk keuntungan yang tiada peri.

Rupanya di negera kita cintai ini, hutan di masing-masing daerah, menjadi sumber kekayaan yang luar biasa. Untuk memperoleh kekayaan yang melimpah ruah, keberadaan masyarakat terabaikan. Demi ambisi penguasa, hutan selalu menjadi sasaran mewujudkan mimpi penguasa yang ditunggangi pengusaha. Terjadilah konflik-konflik yang mengiris hati di negeri yang kita cintai ini.

Dari tokoh Karen yang tergabung dalam Ksatria Pelangi, di novel Sarongge ini, pembaca dikabarkan permasalahan-permsalahan hutan yang tidak pernah selesai. Perjuangan rakyat yang mendapat halangan pihak keamanan, baik polisi maupun tentara yang mendapat perintah menjaga keamanan kepentingan pengusaha hutan oleh pemerintah, dan pada akhirnya rakyat selalu dikalahkan.

Novel ini menceritakan kepada kita, bahwa perjuangan untuk menjaga hutan di negeri ini selalu mendapat halangan yang berat. ‘’Mungkin orang serakah, karena takut miskin’’ tulis Husin melalu sms ke Karen. Keserakahanlah punca sehingga keberadaan hutan terancam, dan yang menjadikan, rakyat membela keberadaan hutan selalu dikorbankan oleh keserakahan. Novel ini juga menjelaskan bahwa perjuangan rakyat untuk membela hutan mereka, bukan ada kepentingan lain, selain kepentingan hidup mereka.

Karen memperlihatkan bahwa ia berjuang tanpa henti bukan untuk kepentingannya pribadi, tetapi untuk kepentingan orang banyak. Karen rela meninggalkan orang yang ia cintai, demi kehidupan di muka bumi ini. Namun pemerintah menganggap mereka yang membela kehidupan orang banyak ini, sebagai pengkhianat dan harus dimusnahkan. Kematian Karen menyiratkan bahwa untuk membela orang banyak, kematian tidak pernah ditakutkan.

Novel ini juga mengajak kita mengembara ke daerah-daerah konflik disebabkan hutan, antara pembela hutan dengan pemilik keserakahan. Rupanya negeri ini memang negeri suram dengan menelantarkan kepentingan orang banyak demi segelintar orang yang memiliki kantong tebal. Mereka bisa membeli apa saja, termasuk membeli hutan. Adakah Karen-karen lain yang akan muncul? Novel Sarongge ini membangkitkan semangat kita mencintai hutan, walaupun berhadapan dengan kekuasaan.

*) Hang Kafrawi, Ketua Jurusan Sastra Indoensia, Fakultas Ilmu Budaya, Unilak dan juga mengajar di STSR. Selain sastra, Hang Kafrawi juga berkecimpung di dunia teater, sekarang ia menjadi Ketua Teater MATAN.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com