Langsung ke konten utama

Sayembara Menulis Novel DKJ Tradisi “Pembaruan” Sastra yang Perlu Diteruskan

Doddy Hidayatullah
Suara Karya, 15 Des 2012

SAYEMBARA Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) merupakan salah satu program utama Komite Sastra yang diadakan dua tahun sekali. Dimulai sejak tahun 1974, program ini pernah mengalami masa vakum dan berganti nama menjadi Hadiah Buku Utama antara tahun 1983 sampai 1996.
Sejak itu pecinta novel berkualitas yang dihasilkan melalui Sayembara Menulis Novel DKJ selalu menanti kehadiran novel-novel baru dari Dewan Kesenian Jakarta. Namun yang banyak bermunculan di rak-rak buku pajangan novel di sejumlah toko buku di kota-kota besar adalah novel yang beredar tanpa saringan dari lembaga yang kompeten seperti Dewan Kesenian Jakarta. Kerinduan masyarakat agar DKJ kembali menggelar sayembara penulisan novel terus diteriakkan masyarakat di berbagai halaman surat pembaca media cetak lokal dan nasional.

Barulah pada 1997 Sayembara Menulis Novel DKJ diadakan lagi dan menghasilkan novel Saman karya Ayu Utami sebuah novel yang sangat fenomenal sebagai juara pertama. Sejak saat itu, novel-novel penting pun berlahiran kembali dari sayembara tersebut.

“Kini setiap novel keluaran panitia penyelenggara Sayembara Penulis Novel DKJ selalu laris dibeli masyarakat. Kami menilai sayembara itu penting, karena sayembara itu menghasilkan novel-novel yang mencerahkan terus dunia sastra Indonesia,” ujar beberapa penggiat seni sastra di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Karena itu pula banyak penggemar novel selalu berharap panitia pelaksana Sayembara Menulsi Novel DKJ selalu bekerja hati-hati agar novel yang dihasilkan tetap menjaga kualitas penulisan yang baik, tetap menampilkan warna dan karakter nobvel yang sehat.

Tujuan utama Sayembara Menulis Novel DKJ itu sendiri memang untuk mendorong kelahiran novel-novel baru yang segar dan menawarkan pembaruan.

Karena itu, menurut Ketua Komite Sastra Ahmadun Yosi Herfanda, sayembara ini penting untuk ditradisikan secara berkelanjutan untuk ikut merawat gairah penulisan novel di Indonesia, sekaligus membuka persaingan yang sehat dan terbuka bagi para novelis dalam memantik kreativitas dan ide-ide baru dalam penulisan novel.

Komite Sastra DKJ periode 2010-2012 mendapat kesempatan dua kali menyelenggarakan Sayembara Menulis Novel DKJ, yakni pada tahun 2010 dan tahun 2012.

“Hal ini kiranya patut disambut gembira, karena sayembara tersebut merupakan event sangat penting yang selalu ditunggu oleh para penulis novel Indonesia, dan telah banyak menyumbangkan karya besar untuk kesastraan Indonesia,” kata Ahmadun.

Cukup banyak novel-novel penting yang lahir dari tradisi Sayembara Menulis Novel DKJ, yang keunggulannya diakui oleh para kritikus sastra nasional dan pecinta sastra dari mancanegara, misalnya Saman karya Ayu Utami, Upacara karya Korrie Layun Rampan, Raumanen karya Marianne Katoppo, Geni Jora karya Abidah el Khalieqy, dan Dadaisme karya Dewi Sartika.

Karena peran pentingnya tersebut, tradisi sayembara ini perlu diteruskan oleh pengurus Komite Sastra DKJ periode-periode mendatang.

Pada tahun 2012 sayembara ini diikuti sekitar 300 peserta (naskah novel). Selama tiga bulan (September-November), Dewan Juri (Helvy Tiana Rosa, Manneke Budiman, dan AS Laksana) bekerja keras untuk memilih novel-novel terbaik yang pantas mendapatkan Penghargaan Novel DKJ 2012.

Hadiah bagi para pemenang satu novel terbaik dan empat novel unggulan akan diserahkan pekan ini pada Malam Penghargaan Novel DKJ, di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jl. Cikini Raya No. 73, Jakarta Pusat.

Sebelum penyerahan penghargaan bagi pemenang, acara akan dimeriahkan Pameran Sejarah Sayembara Novel DKJ, dan diskusi “Pengaruh Sayembara Menulis Novel DKJ terhadap Pertumbuhan Sastra Indonesia” di Loby Teater Kecil TIM pukul 15.00-17.00 WIB, dengan pembicara Anton Kurnia, A.S.Laksana, dan Abidah el Khalieqy.

Selain itu, Malam Anugerah Novel DKJ akan dimeriahkan pembacaan kutipan novel oleh Atiqah Hasiholan dan Madin Tyasawan, serta pentas musik Payung Teduh.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2012/12/sayembara-menulis-novel-dkj-tradisi.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…