Napas Rakyat Kembali Hidup

Putu Fajar Arcana, Khaerul Anwar
Kompas, 16 Des 2012

PADA masyarakat ”tradisional”, seni selalu menjadi bagian integral dalam kehidupan. Bahkan tak jarang seni lahir sebagai momentum peringatan sebuah pencapaian peradaban di masa lalu. Oleh sebab itulah, seni selalu merupakan perayaan rasa syukur dan keberlimpahan berkah Semesta.
Dalam bingkai itulah Gelar Tari Nusantara digelar, 7-9 Desember 2012 di Mataram, Lombok. Dalam perhelatan yang melibatkan 369 seniman dari 14 provinsi, itu kurator Dedy D Luthan memanggungkan setiap kelompok kesenian dalam dua kali pertunjukan. Setiap kelompok tampil di panggung Taman Budaya Mataram dan kemudian di tengah-tengah lapangan Taman Sangkareang, Kota Mataram.

Cara ini mencoba mengakomodasi seni kerakyatan, yang pada umumnya digelar tanpa panggung. Selain itu tidak pula abai pada tuntutan penonton modern, di mana seni pertunjukan selalu membutuhkan panggung. Kedua situs pentas itu memang kemudian membutuhkan respons yang berbeda-beda di antara para seniman.

Pada Sabtu (8/12) malam sejumlah penari asal Maluku bersiap menarikan Cakalele Bulu Ayam di lapangan Sangkareang. Sesaat setelah mereka menggelar ritual api di sisi lapangan, hujan turun. Tetapi puluhan penari yang menggenggam parang, panah, dan tameng, itu tak gentar. Mereka tetap memasuki lapangan dan menari. Aba-aba dari koreografer Elly D Luthan, yang menjadi pengatur artistik pementasan, untuk menghentikan tarian, justru membuat para seniman Maluku makin bersemangat. Di sudut barat lapangan, penanggung jawab artistik penyanyi Iga Mawarni, juga tampak gagah berani menantang hujan. Sementara para penonton tercerai-berai mencari tempat berteduh.

”Saya malu. Para seniman begitu semangat menari dalam hujan, sedangkan aku kan cuma diam dalam hujan saja,” tutur Iga. Beruntung memang, hujan turun tak lama. Kira-kira 15 menit situasi kembali normal.

Peristiwa itu memperlihatkan, betapa kesenian rakyat seolah menemukan jati dirinya. Alam adalah habitat hidup aslinya dan kepada alamlah mereka berserah. Seni ibarat intisari dari segala gerak hidup manusia dan alam. Oleh sebab itulah tarian selalu diperlakukan sebagai persembahan, semacam tanda bakti yang melambangkan rasa syukur.

Persembahan

Tarian persembahan lainnya muncul dari masyarakat Sikka, Maumere, NTT, berjudul Tua Reta Lou. Tarian ini memperlihatkan ketangkasan kaum muda memanjat sebatang bambu. Dari atas bambu kemudian mereka mengamati musuh. Keperkasaan itu makin terlihat ketika seorang penari terbaring di atas tiang sebatang bambu sambil menarikan tangannya. Pada akhirnya, tari ini dipersembahkan kepada Bapa Langit dan Ibu Bumi, sebagai wujud rasa syukur telah memberkati mereka dengan ketangkasan.

Tari Pakarena Bura’ne Kasuwiang dari Sulawesi Selatan, baru dua kali ditarikan dalam beberapa tahun terakhir. ”Ini tarian sakral, yang dulu hanya ditarikan saat-saat ada kegagalan panen di Kerajaan Gowa,” ujar maestro pakarena, Daeng Manda (79). Daeng Manda menjadi sumber utama bersama anaknya, Nurlia Ruddin, dan koreografer Wiwiek Sipala melakukan rekonstruksi Pakarena Bura’ne Kasuwiang pada periode 1994-2010.

”Di Mataram ini pentas kedua kami,” ujar Daeng Manda. Karena usianya yang uzur, Daeng Manda sudah sulit berjalan. Tetapi pada Jumat (7/12) malam di hadapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh yang sebelumnya membuka Gelar Tari Nusantara, Daeng Manda, bukan hanya berjalan, bahkan ia turut menari.

Pakarena Bura’ne Kasuwiang, kata Daeng Manda, lahir di masa Kerajaan Gowa, sekitar tahun 1663. ”Ini dulu tarian sakral yang hanya ditarikan apabila terjadi hama tanaman. Biasanya dalam 3 tahun sekali,” katanya.

Di luar tarian-tarian tadi masih ada tari Cakepung (Bali), Gendang Beleq (Lombok), Reog Ponorogo (Jawa Timur), Faluaya (Nias), Topeng Jipai (Papua), Tortor Cawan (Sumatera Utara), Hudoq (Kalimantan), Belian Dayak (Kalimantan Timur), Raego (Sulawesi Tengah), Gotong Singa (Jawa Barat), Piriang Togok dan Balanse Madam (Sumatera Barat), serta Topeng Ireng (Jawa Tengah).

Seluruh tarian ini berangkat dari kesenian rakyat. Menurut koreografer Sardono W Kusumo, tari dalam pandangan kerakyatan selalu merupakan upaya eksplorasi di mana tubuh menemukan daya survive-nya. ”Tubuh akan selalu menemukan dirinya. Pada seni rakyat, justru itulah cara mereka untuk tetap survive dalam menjalani kehidupan,” katanya.

Pergelaran di lapangan Sangkareang memang kemudian berubah menjadi pesta rakyat, di mana para seniman dari berbagai pulau berbaur dengan para penonton Mataram. Mungkin di situ juga kita sedang menemukan Indonesia kembali….

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2012/12/napas-rakyat-kembali-hidup.html

Komentar