Kotak Hitam Sejarah vs Sastra

Jones Gultom
Harian Analisa, 3 Des 2012

PASCA digelarnya Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) 2012 akhir Oktober 2012 di Yogyakarta lalu, muncul diskursus menarik di kalangan sastrawan, sejarawan dan juga budayawan. Temanya memang bukan sesuatu yang baru, tetapi masih tetap menarik untuk didiskusikan. Bagaimana sejarah yang kemudian disebut Binhad Nurrohmat dan maupun Ahda Imran (Kompas 11 dan 18 November 2012) sebagai “kotak hitam”, dijadikan modal karya sastra.
BWCF berhasil memancing perbincangan menarik, karena menganggap sastrawan Indonesia belum melirik sejarah sebagai amunisi kreativitasnya. Kelompok sastrawan memiliki argumentasi sendiri yang patut dipertimbangkan.

Sastra jenis ini, bukanlah sesuatu yang baru di Tanah Air. Saya lebih suka menyebutnya sebagai sastra berlatarbelakang sejarah. Kehadiran genre ini sejak awal-awal perkembangan sastra di Tanah Air, ikut meramaikan perkembangan sastra. Malah sebagian di antaranya memelopori gagasan sastra pada fase berikutnya. Melongok ke belakang, sastra yang berlatarbelakang sejarah sudah diawali dengan bentuk kitab maupun babad. Contohnya Kitab Negarakertagama oleh Mpu Prapanca dan Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular pada masa Kerajaan Majapahit awal abad ke-14. Juga ada pula karya sastra Pujangga Ronggowasito dan Jayabaya.

Selain itu ada juga Babad Serat Chentini dan Babad Tanah Jawa. Begitupula dengan catatan sejarah berbagai kerajaan Nusantara yang biasanya menuliskan dinamika kerajaan, titah raja maupun hal-hal yang berkaitan dengan dunia spiritual. Sumber-sumber tertulis ini, dianggap sebagai karya sastra, karena corak penulisannya. Di sisi lain, berdasarkan substansinya, dia adalah dokumen sejarah.

Pada era modern, novel sejarah terus bermunculan. Di antaranya; Rara Mandut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri karya Mangunwijaya. Juga karya-karya Pram, seperti Anak Semua Bangsa, Rumah Kaca, Jejak Langkah. Adapula karya-karya Suparto Brata yang menulis novel November Merah, Gadis Tangsi dan Surabaya Tumpah Darahku. Selain itu sejarah Bali juga dituliskan dalam Trilogi sastra, Puputan Badung, masing-masing Biyar-Biyur ring Pesisi Sanur, Kulkul Bulus dan Tyaga Wani Mati karya Nyoman Manda, menceritakan perang antara rakyat yang dipimpin rajanya melawan penjajah Belanda.

Termasuk pula novel yang berlatarbelakang sejarah Sumatera Utara. Sebagian besar novel ini mengulas tentang kehidupan di perkebunan Deli, Sumatera Timur pada masa kolonial. Di antaranya, Rubber (1931) dan Koeli (1932) karya Madelon Hermina Szekely-Lulofs. Novel ini menjadi penting, karena Lulofs tak hanya menggunakan teknik bersastra. Lebih dari itu, dia memanfaatkan data-data sejarah dalam novelnya. Tercatat novel Koelie (Kuli) menggunakan sejumlah refrensi di antaranya, Toean Keboen dan Petani: Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria, karangan Karl J. Pelzer (1985), Perjuangan Rakyat: Revolusi dan Hancurnya Kerajaan di Sumatera buah pena Anthony Reid (1987). Kapitalisme dan Konfrontasi di Sabuk Perkebunan Sumatera karangan Ann Laura Stoler (1870-1979). Data-data ini kemudian dikembangkan lagi oleh Emil W Aulia dalam novelnya yang berjudul, Berjuta-juta dari Deli (2006).

Terlepas dari kebenaran data-faktanya, penulis asal Sumatera Utara turut menyumbangkan novel sejarah daerahnya, antara lain; Penakluk Ujung Dunia (1964) karya Bokor Hutasuhut. Tuanku Rao (1964 dan terbit kembali 2006) karya Onggang Parlindungan Siregar. Acek Botak (2009) dan Pincalang (2012) karya Idris Pasaribu. Minimnya novel sejarah di daerah ini, boleh jadi dikarenakan penulis di Sumatera Utara masih lebih tertarik menulis buku sejarah atau sekedar medokumentasikan peristiwa-peristiwa sejarah lokal. Nama-nama seperti Z Pangaduan Lubis, Muhammad TWHM, As Atmadi, S. Satya Dharma, WB Sijabat, Bungaran Simanjuntak termasuk cukup populer di bidang itu.

Sastrawan Sejarah

Hal klasik yang sering muncul ketika seorang sastrawan mengambil peristiwa sejarah sebagai bahan kreasinya, adalah soal keakuratan data-fakta serta peran imajinatif sastrawannya. Apalagi sumber-sumber tertulis, semisal buku-buku sejarah pada bangsa ini, masih banyak yang dipertanyakan kebenarannya. Contoh klasik adalah buku Tuanku Rao karya Onggang Parlindungan Siregar. Buku ini sempat menuai konflik, karena isinya dianggap sekedar imajinasi penulisnya yang diduga sarat kepentingan-kepentingan tertentu. Oleh sebagian besar, buku ini kemudian dikategorikan sebagai novel yang berlatarbelakang sejarah Batak pada abad 18.

Boleh jadi, karena buku ini dinilai kontradiksi dengan buku-buku sejarah Batak yang terlanjur dianggap mapan, misalnya, Ahu Sisingamangaraja karya WB Sijabat. Siapa yang paling tepat memberi penilaian akan hal itu? Menurut saya, secara akademis hal itu merupakan tanggungjawab sejarawan. Pertanggungjawaban moral ada pada sastrawannya.

Dalam sejarah, data-fakta merupakan bukti konkrit yang tak boleh dimain-mainkan. Sebagaimana sastra adalah media, seorang sastrawan boleh saja memanfaatkan data-fakta itu, tetapi untuk tujuan penulisan buku sejarah, bukan karya sastra. Selama ini latah sastrawan yang menyamakan diri sebagai pengarang, menjadikan pemakluman, bahwa ruang sastra memiliki batas yang tak terbatas. Padahal sastra itu hanyalah salah satu media komunikasi yang mestinya mengakui otoritas disiplin ilmu lainnya.

Dalam hubungannya dengan sejarah, Hans Robert Jauss menyebut, karya sastra membawa semangat zamannya. Semangat zaman ini sering memengaruhi faktualitas sejarah ketika dituangkan dalam bentuk karya sastra (novel). Inilah yang sering terjadi kemudian. Ketika sastra memasuki wilayah sejarah, seringkali menjadi bias dan tak terkendali. Pada peristiwa tertentu, dimana data-data sejarah itu masih kabur, seorang sastrawan boleh saja mengambil peran itu.

Untuk sejarah yang telah terbukti data-faktanya, karya itu menjadi semacam karya sejarah yang disastrakan, layaknya sebuah bibliografi. Celakanya, seperti disinggung di atas, banyak peristiwa sejarah yang masih diragukan termasuk oleh sejarawan sendiri yang kemudian semakin rancu manakala coba digarap seorang sastrawan.

Seperti dicontohnya Ahda Imran di Kompas 18 November 2012 lalu. Dia menukik Namun serial Gajah Mada (Langit Kresna Hariadi) dan Dyah Pitaloka: Senja di Langit Majapahit (Hermawan Aksan) yang sumber datanya masih sangat kabur. Sebagian sejarawan sendiri masih mempertanyakan kebenaran sosok Gajah Mada. Demikian juga Dyah Pitaloka yang disebut-sebut putri Kerajaan Padjajaran yang terzalimi. Dalam kasus ini, kotak hitam yang coba diterjemahkan sastrawan yang oleh Wolfgang Iser disebut “realitas ekstratekstual” (dengan tanda petik), justru merupakan tantangan tersendiri bagi sastrawan. Dalam konteks ini, dia bukan lagi menjadi pengarang, namun sejarawan.

Pengkultusan

Masyarakat Indonesia seringkali menjadi korban dari sejarah. Hal ini seringkali disebabkan karena campur tangan penguasa yang tak mau menerima takdir sejarahnya di masa lalu. Lebih dari itu, kelompok ini secara barbar biasa merubah masa lalu dengan harapan akan memperoleh keuntungan dari intervensi itu. Sebut saja sejarah 30 September 1965.

Dapat kita bayangkan bagaimana stigma buruk itu membudaya terhadap keluarga-keluarga yang diduga terlibat. Ada ketidakrelaan untuk mengakui sejarah masa lalu, karena dianggap sebagai ancaman. Segala akses dibumihanguskan. Sejarah sekedar hanya bersumber dari pengkultusan. Semakin parah, manakala masyarakat kita memang tidak bergairah membuktikan suatu fenomena. Alhasil masyarakat tidak terbiasa menggugat. Kemapanan pola pikir terjadi dimana-mana. Daya kritik tidak tumbuh. Sejarah pun menjadi kotam hitam yang tak pernah dibuka. Dia layaknya mirip harta karun dalam mimpi masyarakat.

Dalam konteks ini, terlepas dari pesanan pasar seperti yang ditengarai Ahda Imran, apa yang dilakukan Langit Kresna Hariadi dan Hermawan Aksan, merupakan pukulan bagi sejarawan sekaligus tantangan bagi sastrawan untuk memasuki wilayah lain dalam proses kreativitasnya, dengan tidak terjebak sekedar eforia semata.

Penulis penyair dan esais
Dijumput dari: http://www.analisadaily.com/news/read/2012/12/23/96059/kotak_hitam_sejarah_vs_sastra/#.UNeCKKx2Na8

Komentar