Langsung ke konten utama

”Rumah Prosa” Indonesia

Asarpin
Sastra-indonesia.com

Pramoedya Ananta Toer, prosais terbesar yang pernah dimiliki Indonesia, cukup sering bicara soal rumah dan pulang dalam karya prosanya. Pram menempatkan rumah sebagai sejarah, rumah sejarah, sebagaimana ia menempatkan novelnya sebagai bagian dari ”novel sejarah” sekaligus ”filsafat sejarah”.

Dalam karya klasiknya, Bukan Pasarmalam, Pram dengan liris bicara soal rumah, kampung halaman, di samping tempat seorang anak di zaman revolusi. Sekeras-keras hati si tokoh Aku untuk bertahan menjadi manausia rantau di kota Jakarta, tetap saja perasaannya luluh-larut ketika harus dihadapkan pada kenyataan orang tuanya jatuh sakit dan dibayangkan tak akan sembuh lagi. Akhirnya ia memutuskan pulang menengok orang tuanya yang sedang terbujur di rumah sakit karena TBC. Tapi bukan hanya sosok orang tua yang ditengoknya, tapi juga rumahnya dulu, kampung halamannya, saudaranya, orang-orang kampung yang telah lama ditingalkannya.

Si Aku memang kembali lagi ke Jakarta setelah ayahnya dimakamkan karena ia telah bertekad dan memutuskan di Jakarta itulah tempatnya yang baru, sekaligus pertaruhan hidup-matinya di masa depan.

Dalam novel tetralogi, Pram memang begitu keras menanamkan semangat modernitas, menjajakan manusia modern tanpa ampun kepada pembaca, walau kemudian sikap itu akhirnya sedikit lunak pada bagian akhir serial terkenal itu. Dalam Jejak Langkah dikatakan dengan sangat keras, dan nyaris menjadi semacam ”pemujaan”, ketika Minke baru saja tiba di Batavia:

Akhirnya Bumi Betawi terhampar di bawah kaki, kuhirup udara darat dalam-dalam. Selamat tinggal, kau kapal. Selamat tinggal, kau, laut. Selamat tinggal semua yang telah terlewati. Pengalaman-pengalaman masa silam, kau pun tak terkecuali, selamat tinggal.

Memasuki alam Betawi—memasuki abad dua puluh. Juga kau, sembilan belas! selamat tinggal!
Aku datang untuk jaya, besar dan sukses. Menyingkir kalian, semua penghalang!….orang bilang: hanya orang modern yang maju di jaman ini, pada tangannya nasib umat manusia tergantung. Tidak mau jadi modern? Orang akan jadi taklukan semua kekuatan yang bekerja di luar dirinya di dunia ini. Aku manusia modern. Telah kubebaskan semua dekorasi dari tubuh, dari pandangan.

Dan modern adalah kesunyian manusia yatim-piatu, dikutuk untuk membebaskan diri dari segala ikatan yang tidak diperlukan: adat, darah, bahkan juga bumi, kalau perlu juga sesamanya.

Itulah Pram. Nada bicaranya amat lantang. Semangatnya gigih. Keberaniannya layak dipuji, walau ia sendiri tak butuh pujian. Ajakannya untuk jadi modern, meneladani manusia modern, bukan yang pertama dan mula-mula, memang. Sebelumnya, kita telah mengenal Takdir Alisjahbana yang berapi-api. Sjahrir yang begitu percaya diri. Bahkan sebagian besar aktivis pergerakan, angkatan 1928, terbakar oleh fajarbudi dan semangat kemajuan, semangat modern, semangat yang dibawakan abad ke-20.

Baik mereka yang berlatar agama, politik, sastra, atau berlatar apa saja, ikut ambil bagian dari kampanye tentang kemajuan itu. Ada yang malu-malu, ada yang mencoba memberi catatan kritis, ada yang munafik, ada yang mencoba mencari jalan tengah, ada yang terlampau berani dan gagah.

Tema rumah tak hanya terdapat dalam novel yang pernah ditulis Pram. Bahkan dalam sejumlah cerpennya, tematik rumah begitu dominan. Satu di antaranya tergambar dalam buku kumpulan Cerita dari Jakarta. Ada satu cerita dengan tema sangat sederhana, yaitu tentang kecapi. Lewat kecapi Pram meletakkan desa dan rumah bukan merupakan entitas yang lebih luhur, apalagi lebih mulia dari kota. Rumah dan desa tidak selalu tempat untuk pulang. Bahkan dalam kumpulan cerita pendek itu, kesucian dan pulang bukanlah persoalan yang utama. Tokohnya yang hidup murung di Jakarta tahu bahwa di dusun asalnya di Lembah dan Gunung, kecapi bisa terdengar tiap saat, tapi di sana tanahnya terlampau sempit dan ia teramat miskin, dan sebab itu desa tak memberinya dasar untuk kembali.

Bahkan justru di kota, di mana seseorang bisa mengikuti imajinasinya sendiri dan mau mengerjakan sesuatu yang baru, meskipun ditertawakan oleh orang banyak di sekitarnya, tokoh Maman yang kere tidak terhanyut oleh perasaan nostalgis, bahkan ia mampu berdiri tegak.

Kampung halaman yang oleh Sutan Takdir Alisjahbana disebut ”tasik yang tenang” yang selalu dirindukan banyak orang kota, tak membuatnya merasa rindu. Ia tak melakukan mudik. Ia tetap tinggal di kamar petak berukuran 4×4 meter. Bahkan kampung halaman yang oleh Albert Einstein disebut ”kerinduan orang kota untuk selalu lari ke lingkungan yang bising ke lingkungan yang damai, masuk ke dalam keheningan perbukitan—dimana pandangan bebas menembus udara murni dan tenang, yang seolah-olah diciptakan untuk selamanya”—tidak membuat tokoh-tokoh Pram tergiur untuk pulang.

Tapi pada cerita lain sikap Pram berubah. Akhirnya ia juga mesti kompromi. Dalam cerpen Jakarta, misalnya, Pram justru melukiskan tokoh Ridwan yang kalah dalam perjuangannya, yang cuma sekadar untuk tinggal di Jakarta saja untuk beberapa hari tak betah. Ridwan akhirnya harus hengkang, mencari kedamaian hati di tempat kelahiran. Rencana tinggal di Jakarta selama-lamanya dibuyarkannya dan ia kemudian pulang mencari kedalaman yang baru di desa.

Dalam melukiskan konflik perjalanan Ridwan pulang ke kampung halaman di desanya, Pram dengan gamblang menyatakan bahwa, apa yang dimiliki sang tokohnya hanyalah sebuah arca yang ditatahnya dalam hati gadis pujaannya. ”Selamat tinggal, Jakarta!” Demikian ucap Ridwan di bagian akhir cerita itu.

Sementara dalam cerita berjudul Sunyi Senyap Di Siang Hidup, Pram menarasikan niat tokohnya yang mendekati cerita autobiografis yang sangat kuat. Sang tokoh pergi meninggalkan kota praja yang telah menghidupkan aneka cerita tentang kegagalan. Pergulatan dalam perjalanan tokohnya dalam revolusi mengingatkan dirinya untuk kembali. Dan rumah dibayangkan sebagai pusat eksistensi. Pusat dari kehidupan penghuninya.

Pulang berarti kembali ke akar, kembali dalam ikhwal yang dialami sebagai milik kita sendiri. Apa yang dinamakan milik ialah tempat-diam: tempat di mana kita berakar; di mana di rumah kita merasakan jiwa yang tenang.

Rumah tak akan pernah bisa kita lupakan karena ia tertanam jauh dalam memori. Maka, barangsiapa ingkar pada rumah, lupa pada kampung halaman, dengan sendirinya ia akan dicap sebagai Malin Kundang. Dan cap ini begitu dominan dalam sejarah sastra Indonesia.

Bagi sebagian penyair, rumah telah menjadi bagian darah dan daging. Rumah merupakan cerminan dari sebuah kosmos. Tempat berlangsungnya kehidupan. Karena itu sering bersifat suci. Rumah menjadi sesuatu yang sakral atau disucikan, yang sering ditempel hiasan untuk menunjukkan keberkatan. Agar yang pergi ingat kembali. Agar yang tinggal merasa nyaman dan aman. Agar tak menjadi pendurhaka seperti si Malin Kundang dalam legenda lama.
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/
Dijumput dari:  http://sastra-indonesia.com/2011/04/%E2%80%9Drumah-prosa%E2%80%9D-indonesia/

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan