Langsung ke konten utama

Sastra di Aceh Sedang Sakit

Thayeb Loh Angen
 http://blog.harian-aceh.com/

“Jadilah perubahan yang anda ingin saksikan di dunia.” Mohandas K Ghandi.
Terlepas dari semua khayalan tentang masa silam, tentang Hamzah Fansuri yang agung, simpanlah ephoria jaya itu. Kini pikirkanlah yang sedang terjadi dan menuju ke arah manakah sastra di Aceh. Menuju puluralisme keacehan atau menuju pada kejumudan yang picik.

Dapat dibanggakan, munculnya lembaga menulis lepas seperti Sekolah Menulis DOKARIM, Forum Lingkar Pena (FLP) Aceh, yang melahirkan beberapa penulis muda yang berbakat. Mereka menulis berdasarkan bimbingan yang akhirnya bisa mencari karakter tulisannya sendiri walau tidak mudah sehingga belum ada yang menemukannya.

Hadirnya media masa yang sediakan rubrik sastra membuat sebagian teman-teman muda ini kian bersemangat, berlomba-lomba mengirim karyanya untuk dimuat. dan setiap karya yang dimuat adalah kebanggaan bagi setiap penulisnya. Namun belum tentu yang dimuat itu adalah karya terbaik.

Sebagian besar karya fiksi, seperti cerpen dan puisi yang bertebaran di halaman media masa di Aceh belum berkualitas, bahkan sebagian belum layak disebut karya sastra, namun apa boleh buat hanya itu yang ada di antara kita, maka kini perkuatkanlah mutu karya anda wahai teman, jangan hanya menulis kisah cinta muram yang pesimis, mengapa tak menulis yang bikin orang lain bersemangat. Untuk apa berkarya kalau hanya menumpahkan airmata.

Setiap karya tentu berpengaruh, baik sedikit atau besar, tergantung kekutan si penulis sendiri. Kata Kahlil Gibran, “Anda tak bisa menyentuh kelopak bunga tanpa menyebabkan bintang bergetar.” Makanya penulis harus berhati hati melahirkan karya, karena ia bertanggungjawab terhadap isi tulisannya.

Namun di balik keprihatinan para pencinta sastra pada kekusastraan di Aceh, kalangan akademisi malah mengesampingkan sastra. Sebagian akademisi, bahkan di FKIP Bahasa dan Sastra sendiri mengklaim bahwa mereka hanya memproduksi para guru bukan sastrawan. Nah Pardigma yang jumud dan kuno ini membuat kesusastraan jadi hal tak penting, yang pada kenyataan dunia, sastra adalah cermin budaya sebuah bangsa.

Sebagai bangsa yang mengagungkan Hamzah Fansuri sebagai Bapak Kesusastraan Dunia Melayu, seharusnya di setiap Universitas di Aceh punya fakultas sastra. Dengan bahasa sederhana, para pelaku pendidikan dan kaum intelektual di Aceh telah lama durhaka kepada endatunya. Untuk mengatasi ini yang perlu dilakukan hanya mencari solusi agar fakultas sastra ada di setiap universitas di Aceh.

Inilah tugas para guru besar dan para master, yakni mewujudkan fakultas sastra di setiap universitas di Aceh, sebagai penghargaan pada endatu sekaligus melahirkan para sastrawan berkualitas. Kalau selama ini tuan-tuan tidur, maka kini bangunlah dari mimpi panjang yang indah itu, ini telah kami bangunkan, dan lihatlah kenyataaan bahwa kesusastraan di Aceh sedang sakit.

Sembuhkanlah dunia kesusastraan kita, lahirkanlah karya yang bermutu dan berguna bagi pencerahan generasi, jangan hanya mendongeng tentang cinta yang siapa saja pernah merasakannya, tapi buktikanlah pada bangsa bahwa mereka punya cerita yang bisa dibanggakan. Kata Mohandas K Ghandi, “Jadilah perubahan yang anda ingin saksikan di dunia.”

DPRA, MPD, Gubernur, Wakil Gubernur, Kadisdik Aceh, para rektor dan dekan, bertanggungjawab penuh untuk mengadakan fakultas sastra di Aceh. Kalau tidak, maka jangan sebut-sebut Aceh pernah gemilang, jangan sebut-sebut Hikayat prang Sabi sebagai puisi panjang yang berkualitas dunia. Kalau tuan-tuan tidak mau melakukannya, maka berikan kewenangan itu pada kami, dan lihatlah kami bisa melakukannya lebih cepat dari yang tuan-tuan bayangkan.

Lihatlah, Taman Budaya dan Dewan Kesenian yang telah ada itu jadi barang pajangan. Taman Budaya hanya jadi tempat seremoni yang sering sepi. Bagaimana kalau Taman Budaya di Banda Aceh kita jadikan pasar seni tradisional saja agar ia ramai dan lebih menarik para pengunjung walau di malam-malam yang listriknya mati. Mari menghidupkan taman yang telah kita bangun dan rehap dengan uang jenazah.

Maka, lahirkanlah karya yang bermutu dan berguna bagi bangsa. Kepada tuan-tuan yang berwewenang, adakanlah fakultas sastra di setiap universitas di Aceh agar kembali ruh kejayaan sastra di ujung utara Sumatra ini seperti Endatu kita, Hamzah Fansuri telah melakukannya. Jadilah cucu yang beguna.[]

Thayeb Loh Angen, penulis Novel TEUNTRA ATOM /25 October 2009

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…