Langsung ke konten utama

Selamat, Saya Kira Anda Sudah Tiba di Gerbang Puisi!

TS Pinang
Kemudian.com/ http://www.facebook.com/ca.fes1

Saya kira, saya tidak perlu mendefinisikan apa itu puisi. Berbagai definisi tentang puisi banyak ditemukan dalam buku-buku teks sastra, juga dapat ditemukan dalam kamus atau ensiklopedi. Definisi bersifat membatasi dan klasifikatif. Saya kira, berbagai versi tentang apa itu puisi dapat Anda cari sendiri. Bagaimanapun, saya yakin semua peserta bengkel ini minimal memiliki bayangan atau pemahaman tentang puisi, walaupun mungkin kesulitan merumuskannya. Apapun konsep tentang apakah puisi itu, lambat laun akan kita uji dalam proses kepenyairan kita selanjutnya.

Penyair adalah orang yang menulis puisi. Selama Anda menulis puisi, Anda adalah penyair. Sepanjang Anda menganggap yang Anda tulis adalah puisi, maka Anda adalah penyair, minimal menurut versi Anda sendiri. Saya kira pemahaman ini cukup untuk memulai perjalanan kita yang, yakinlah, akan sangat panjang dan melelahkan.

Sebelum memutuskan untuk melakoni jalan panjang ini, sebaiknya kita mulai dengan pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri untuk meyakinkan apakah kita memang “terpanggil” ataukah sekadar keinginan temporer karena ikut-ikutan atau hanya ingin terkenal. Saini KM menyebutkan setidaknya empat syarat untuk menjalani laku kepenyairan: motivasi yang benar, kesediaan untuk bekerja keras, kesediaan untuk gagal, dan kesediaan untuk tidak dihargai (Saini KM, Puisi dan Beberapa Masalahnya, Penerbit ITB, 1993). Saya kira, keempat pilar tersebut dapat menjadi pegangan bagi seorang calon penyair untuk membantunya mengurangi keraguan dan kebingungan dalam berpuisi.

Berpuisi saya kira adalah perjalanan jelajah ke rimba pengalaman-pengalaman baru seorang diri. Pengalaman-pengalaman (batin) itu kita rekam dengan bahasa. Bahasa adalah alat atau medium dalam seni puisi ini, sebagaimana kanvas dan cat bagi pelukis. Seringkali, pengalaman-pengalaman itu begitu abstrak dan ‘asing’ sehingga sulit untuk dibahasakan. Di sinilah letak pergulatan seorang penyair: menggali kemungkinan-kemungkinan pengungkapan pengalaman-pengalaman ‘puitik’ itu melalui bahasa, atau meminjam istilah Saini KM “bergulat dan menundukkan bahasa”. Pergulatan ini tidak selalu berhasil, dan bahasa tidak selalu dapat mengungkapkan suatu pengalaman secara utuh.

Saya kira, penyair selalu berada atau dihadapkan pada situasi ambang, perbatasan, transisi, ambigu, antara dunia batin di dalam diri dan realitas di luar dirinya. Penyair bermain di wilayah ambang ini. Puisi lalu menjadi semacam terjemahan penyair dari dunia batin yang gaib itu ke dalam bahasa verbal. Akibatnya, bahasa puisi menjadi terkesan ‘aneh’ dan berbeda dari prosa yang menggunakan bahasa cakap biasa. Kata-kata seringkali tidak mampu mengungkapkan alam batin penyair secara utuh, sehingga diperlukan upaya-upaya untuk membuat kata-kata itu selain menyarankan makna yang lain, ‘baru’, atau yang lebih luas, juga menimbulkan efek lain akibat bunyi, ritme, atau pencitraan yang ‘mendekati’ pengalaman batin itu. Karena itu, selain bentuk fisiknya yang bisa dilihat langsung pada teks kata-katanya, puisi juga membawa “aura” atau efek lain yang lebih subtil, lebih halus dan nonfisik.

Tubuh, Jiwa, dan Ruh

Saya kira sebuah sajak setidaknya memiliki tiga anasir penting, yaitu tubuh, jiwa, dan ruh (atau dua anasir penting jika jiwa dan ruh dianggap sama). Tubuh atau bentuk puisi adalah unsur-unsur fisik yang membentuknya, seperti ritme/ketukan, bunyi, kata-kata (diksi, metafora), baris, bait, tipografi atau apapun yang kita anggap sebagai bagian “luar” sebuah sajak. Jiwa atau isi adalah unsur-unsur yang diwakili oleh tubuh, yang dapat kita rasakan seperti tema/makna, emosi, atau resepsi pembaca setelah berkomunikasi dengan tubuh sajak. Sedangkan ruh lebih berupa hikmah atau wisdom yang ditimbulkan pada pembaca sajak tersebut, bersifat abstrak dan pribadi.

Contoh paling jelas tentang tubuh sajak dapat dilihat pada bentuk-bentuk puisi lama yang memiliki pola-pola yang mengikat unsur-unsur pembentuk tubuh sajak secara ketat, seperti jumlah sukukata dalam setiap baris, jumlah baris setiap bait, atau bunyi akhir setiap baris. Beberapa bentuk puisi lama bahkan menetapkan tema/isi tertentu untuk bentuk tertentu. Dalam puisi modern yang lebih bebas dan longgar, pola-pola ini menjadi kabur dan lentur. Unsur-unsur pembentuk tubuh sajak hadir secara lebih bebas tanpa diikat oleh aturan-aturan persajakan lagi. Meski demikian, kebebasan bentuk pada puisi mutakhir tidak begitu saja menghilangkan jejak-jejak pola puisi lama. Kadang-kadang, disadari atau tidak, seorang penyair masih memunculkan pola-pola yang teratur dalam sajak-sajaknya yang langsung mengingatkan kita pada bentuk-bentuk pantun, syair, atau sajak-sajak tradisional lainnya.

Bahasa, Kosakata, Diksi, Metafora/perlambang, Bunyi

Penyair bergulat dengan bahasa, dengan kata-kata. Sebagai medium berkarya, konsekuensi logisnya adalah menguasai medium tersebut. Ketika menulis puisi berbahasa Indonesia, maka pemahaman yang cukup tentang tatabahasa Indonesia adalah sebuah keharusan. Bagaimana kita bisa memainkan sebuah lagu dengan saksofon kalau kita tidak menguasai alat musik tersebut? Memang ada yang disebut licentia poetica atau poetic license (kebebasan puitik), yaitu “hak” penyair untuk “menyalahi” atau melanggar aturan-aturan tatabahasa. Namun, bagaimana bisa “melanggar” kalau tidak tahu batas-batasnya?

Guna memperluas kemungkinan-kemungkinan kreatif dalam berpuisi, seorang penyair mau tidak mau harus memperkaya dirinya dengan kosakata sebanyak-banyaknya. Ia perlu memperluas minat bacaanya, memperkaya pengalaman bahasanya baik melalui bidang-bidang lain di luar disiplin sastra maupun melalui studi bahasa-bahasa lain di luar bahasa ibu baik itu bahasa daerah maupun asing. Kekayaan kosakata ini akan memudahkan penyair memilih kata yang telak, menciptakan idiom yang segar, memudahkannya dalam menerjemahkan pengalaman batin yang abstrak ke dalam bahasa. Kekayaan kosakata menentukan diksi, kemampuan penyair memilih kata yang pas, baik dari segi makna kata maupun bunyi. Kekayaan kosakata juga membantu penyair menghindari metafora yang cliché.

Tema, Sumber Inspirasi

Puisi bersumber dari realitas kehidupan. Karena itu apapun bisa menjadi tema. Karenanya, bagi penyair (pengalaman menjalani) kehidupan itu sendiri adalah sumber inspirasi yang tak pernah habis. Namun demikian, meski bersumber dari realitas kehidupan, puisi tidak sama dengan catatan jurnal atau reportase/berita yang hanya mencatat/melaporkan peristiwa. Sebuah peristiwa atau pengalaman yang masih segar memerlukan perlakuan-perlakuan tertentu agar dapat dituliskan menjadi puisi, dan tidak jatuh menjadi sekadar catatan harian atau curhat.

Sebuah peristiwa harus diendapkan, disimpan, ‘dilupakan’ terlebih dahulu agar kita dapat menciptakan ‘jarak’ dari peristiwa tersebut. Dengan kata lain, peristiwa itu kita peram terlebih dahulu hingga menjadi “kenangan”. Jarak di sini tidak selalu berarti kurun waktu tertentu pascaperistiwa, tetapi lebih dimaksudkan sebagai jarak subjektif. Penyair yang sudah berpengalaman cukup biasanya mampu menciptakan jarak dari peristiwa tersebut bahkan saat ia masih berada dalam peristiwa itu. Saat seorang penyair menuliskan sebuah sajak dalam waktu singkat atau spontan, ia sebenarnya sedang memanggil kembali kenangan-kenangan dari rak bawah sadarnya. Ketika seorang penyair menulis sajak tentang cinta atau patah hati, dia tidak (hanya) mengacu pada satu peristiwa tunggal, walaupun dalam menulis sajak tersebut ia didorong oleh sebuah peristiwa. Dengan kata lain, ia mengolah sebuah peristiwa dengan (kenangan atas) peristiwa-peristiwa lain yang menghasilkan hikmah atau kesadaran baru. Pembaca pun tidak merasa hanya jadi ember curhat si penyair, tetapi ‘diajak’ bersama-sama berkontemplasi tentang situasi tersebut. Pembaca ikut terlibat dalam sajak tersebut. Pembaca tidak hanya ‘menonton’ si penyair menangis lewat sajak tersebut, tetapi bersama-sama ‘menuliskan’ kenangan.

Tantangan-tantangan

Baiklah. Katakanlah kita sepakat bahwa Anda semua sudah berada di gerbang puisi. Bayangkanlah di balik gerbang itu adalah jalan panjang yang penuh tantangan dan jebakan, sekaligus penuh pesona dan pukau yang memabukkan. Diperlukan keberanian yang cukup, stamina yang cukup, diperlukan semangat yang cukup untuk selalu belajar dari pengalaman sepanjang perjalanan itu. Perkembangan teknologi komunikasi dan multimedia telah dan akan membuka peluang-peluang kreatif yang baru. Kosakata baru banyak hadir dalam bahasa kita sehari-hari dan itu berarti bertambah pula kemungkinan-kemungkinan pengucapan dalam puisi kita. Batasan-batasan tentang estetika puisi juga akan berkembang. Singkatnya, puisi akan tetap hidup dan tumbuh seiring tumbuhnya peradaban manusia, dan sepanjang pertumbuhan itu selalu muncul tantangan-tantangan baru.

Kepenyairan adalah pergulatan terus-menerus untuk menaklukkan tantangan-tantangan itu. Anda mungkin (tidak) akan sampai ke puncak puisi, tapi paling tidak Anda telah berani mencoba, berani mengambil tantangan itu, dan itu tidak akan pernah sia-sia.

Disampaikan pada bengkel kerja “Semua Bisa Menulis” Perkosakata 2008 komunitas Kemudian.com, Ahad Wage, 6 April 2008 di Perpumda Jakarta.

Dijumput dari: http://www.facebook.com/notes/catatan-fesbuk/ts-pinang-selamat-saya-kira-anda-sudah-tiba-di-gerbang-puisi/396169663745238

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…