Langsung ke konten utama

Sastra Pesantren dalam Pergulatan

K. Ng. H. Agus Sunyoto
http://pesantrenbudaya.com/?id=28

KH Abdurrahman Wahid (1973) memberikan abstraksi tentang sastera pesantren dalam dua definisi, pertama, karya-karya sastera yang mengeksplorasi kebiasaan-kebiasaan di pesantren,. Kedua, adanya corak psikologi pesantren dengan struktur agama (warna religius) yang kuat. Sementara Ahmad Tohari (2003) menegaskan bahwa sastera pesantren adalah sastera yang membawa semangat budaya dan tradisi pesantren, yaitu sastera yang membawa spirit religius ala pesantren dan ditulis oleh komunitas pesantren sendiri.

Tradisi oral yang menjadi dasar kebudayaan Nusantara, sedikitnya telah memberikan andil yang tidak kecil bagi kurang berkembangnya sastera tulis di Indonesia, terutama di lingkungan pesantren yang cenderung menekankan keilmuan fiqiyyah. Namun hal itu tidak berarti menjadikan dunia pesantren tidak berperan sama sekali dalam pengembangan sastera tulis. Pada pertengahan abad ke-19, misal, pesantren Tegalsari di Ponorogo telah melahirkan seorang maestro sastera yang dinobatkan sebagai pujangga di Kasunanan Surakarta: Raden Ngabehi Ronggowarsito. Tidak kurang dari 150 karya sastera telah dihasilkan, baik karya sendiri maupun saduran. Yang termasyhur di antaranya Serat Wirid Hidayat Jati, Suluk Suksma Lelana, Serat Jangka Jayabhaya, Serat Kalatidha,dsb.

Pada saat kolonial Belanda menerapkan sistem pendidikan sekolah di Indonesia, berbagai genre sastera baru khas Barat masuk ke berbagai kalangan yang terproses di lingkungan pendidikan sekolah. Sastera kemudian lebih banyak berkembang di lingkungan sekolah. Pesantren-pesantren secara sistematis termarjinalisasi dari percaturan dunia sastera. Meski demikian, karya-karya bernafas Islam bermunculan meski tidak berlatar pesantren dan tidak ditulis komunitas pesantren. Karya-karya itu tercermin pada karya-karya Hamka, Joesoef Sou’eb, Bahrum Rangkuti, yang dilanjutkan Habiburrahman El-Shirazy, Emha Ainun Najib. Sementara yang banyak bertutur tentang lingkungan dan tradisi pesantren serta berasal dari komunitas berlatar pesantren adalah Ahmad Tohari, KH M. Dawam Sholeh, KH Abu Fadhol as-Senory.

Seiring perkembangan sastera di lingkungan sekolah, terjadi perubahan budaya dalam masyarakat Indonesia, di mana Sastera Islam Indonesia yang sebelumnya mengenal beragam bentuk seperti Matsnawi, Syair, Pantun, Gurindam, Khasidah, Wiracarita, bergeser menjadi karya sastera berbentuk Roman, Cerpen, Prosa lirik, Novel, Epik, bahkan belakangan direduksi hanya menjadi novel dan puisi.

Di tengah derasnya arus perubahan sastera di era teknologi informasi, keberadaan pesantren sebagai bagian dari lembaga pendidikan tradisional, tidak bisa terhindar dari pengaruh-pengaruh informasi dari luar. Namun satu hal yang hendaknya patut diingat dari keberadaan sastera pesantren, yaitu tidak boleh bergeser dari eksistensi pesantren sebagai tema sentral. Maksudnya, karya-karya berciri pesantren haruslah berpijak pada gagasan sentral yang berkaitan dengan Akidah dan Akhlak, di mana dalam karya kreatif yang penuh imajinasi tinggi dan liar pun tidak boleh lepas dari gagasan sentral itu.
* * *

Di tengah arus global yang ditandai konsep-konsep, pandangan-pandangan, ide-ide, gagasan-gagasan, dan nilai-nilai umum yang berciri keterbukaan dan kebebasan telah menimbulkan perubahan suatu transvaluasi yang sangat ekstrim dalam masyarakat. Atas nama globalisasi, era di mana kita hidup sekarang ini ditandai oleh keterbukaan dan kebebasan di segala aspek, baik kebebasan ekonomi yang mengacu kepada ekonomi pasar bebas, kebebasan komunikasi lewat cyberspace, kebebasan seni dalam menganut nilai-nilai, bahkan kebebasan agama yang menghargai pluralitas. Seni kontemporer di era global, mengikuti kaidah-kaidah global tentang sebuah tatanan masyarakat bersifat trans-nasional yang tidak dibatasi ras, suku, budaya, bahasa, teritorial negara, agama.

Di tengah hiruk seni kontemporer yang mereduksi nilai-nilai moral hanya menjadi sekedar tontonan berjiwa hedonis, seni dekaden, kesyahwatan, keberadaan karya sastera pesantren menjadi keniscayaan sebagai karya profetik yang menjadi keniscayaan. Dengan gagasan sentral berpusar sekitar Akidah dan Akhlak, sastera pesantren diharapkan dapat menjadi alternatif di tengah sastera sekuler yang hedonis dan dekaden.

Memasuki pertengahan dasawarsa 2000-an, karya-karya yang ditulis kalangan pesantren baik berbentuk cerpen, novel dan puisi mulai bermunculan. Lahirnya penerbit Pustaka Pesantren di Yogyakarta yang melansir karya-karya santri dan santriwati, adalah fakta tentang mulai bangkitnya sastera di lingkungan pesantren. Muhbub Jamaluddin, santri dari Kotagede, Yogyakarta, telah menyumbangkan dua novel berjudul Pangeran Bersarung (2005) dan Laskar Hizb (2007); Ully Maftuhah, santriwati Ponpes Tahfidzul Qur’an Al-Asy’ariyah Wonosobo itu telah menelurkan karya-karya bermutu seperti Indahnya Hidayah-Mu (2002), All About Yahya (2003), Anak-anak Negeri (2006), dan novel berjudul BLOK I (2007) yang diterbitkan Matapena; Izma Kazee, alumnus PPP Al-Fathimiyyah di Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang, menelurkan karya sastera seperti cerpen berjudul Pelangi (2000), novel Jerawat Santri (2006), dan novel Ja’a Jutek (2007); di Jawa Timur sastera pesantren dirintis di PP Al-Islah di Sendangagung, Paciran, Lamongan dengan munculnya cerpenis-cerpenis muda seperti Rosydina Robi’a Qolbi, Anita Amaliyah, Athiful Khoiri, Hasnatul Ummah, Ika Nur Ridiawati, Imanur Rosyidah, Laili Purnamasari, Lukluil Maknun, Ali Masykur, Moh.Qomaruddin, Tsani Itsna Ariyanti, dan Aleyo Sas Melas.

Kemunculan sasterawan-sasterawan muda dari lingkungan pesantren, tampaknya akan menjadi penanda sejarah tersendiri bagi perjalanan sastera di Indonesia. Sebab dengan kemunculan karya sastera yang ditulis komunitas pesantren, cakrawala pemikiran dengan sudut pandang yang digunakan memiliki kekhasan dibanding karya sastera yang ditulis orang-orang berlatar sekolah. Karena itu, ke depan diharapkan pesantren-pesantren lebih banyak memberikan peluang bagi perkembangan sastera di lingkungan santri agar potensi yang terkandung di pesantren dapat terekspresikan lewat tulisan-tulisan sastera.
* * *

Lepas dari pandangan teoritik terkait sastera pesantren, fakta yang berkaitan dengan potensi pesantren sebagai penyimpan perbendaharaan budaya dan tradisi tidak akan pernah habis memberikan sumbangan bagi keberlangsungan pewarisan tradisi baik tradisi tulis dan terutama tradisi lisan (oral tradition). Di pesantren-pesantren, misal, kita bisa mendapati bagaimana Kitab Suci Al-Qur’an diajarkan dalam bentuk hafalan, tentu dengan metode dan teknik menghafal yang tak diragukan lagi efektivitasnya dari zaman ke zaman. Di pesantren-pesantren salaf, metode hafalan masih bisa dijumpai penggunaannya untuk mata pelajaran nahwu, sharaf, ushul fiqih, aqidah dan akhlaq. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari komunitas pesantren, metode hafalan digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan amaliah tradisi keagamaan seperti Yasinan, Tahlilan, Khasidah Diba’iyyah, Khasidah Burdah, Istighotsah, Wirid, Si’iran, di mana semua itu akan memberikan kontribusi yang tidak kecil bagi terjadinya dukungan pengembangan sastera pesantren.

Selain menyimpan potensi-potensi perbendaharaan budaya dan tradisi yang mampu memberikan dorongan bagi pengembangan sastera di pesantren, yang tak kalah adalah keberadaan tokoh inspirator yang mampu memotivasi dan mendorong komunitas pesantren untuk mengembangkan sastera. Keberadaan majalah pesantren seperti IJTIHAD di PP Sidogiri Pasuruan, setidaknya memberi peluang bagi dimuatnya karya-karya esai dan puisi karya Dwy Sa’doellah, yang tentunya telah memberi inspirasi bagi santri-santri untuk berkarya mengikuti jejak sang motivator.

2011-08-26

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…