Langsung ke konten utama

Mengenal Paruntuk Kana dalam Sastra Makassar

M Farid W Makkulau
http://www.kompasiana.com/mfaridwm

SUATU hari saya duduk – duduk di teras rumah dan menyaksikan orang yang lewat depan rumah. Saat itu ada seorang perempuan yang singgah menanyakan rumah seseorang yang merupakan teman kuliahnya. Menyaksikan paras wanita yang ternyata mahasiswi itu, kontan saya berujar, ”Kuntui bulang sampulo angngappak”. (Artinya Seperti bulan empat belas). Tetangga baru yang mendengar saya berujar demikian bertanya, ”Maksudnya apa tadi pak ?” Saya jelaskan bahwa itu ungkapan terhadap seseorang gadis yang sangat cantik. Ternyata Basa Kabuyu – buyu (sastra tutur Makassar) sudah banyak dilupakan, terlupakan, bahkan sama sekali tidak diketahui oleh masyarakatnya sendiri.

Dalam sastra daerah Makassar dikenal yang namanya Paruntuk Kana, yaitu semacam Peribahasa atau Pepatah dalam Bahasa Indonesia. Saat ini Paruntuk Kana sudah banyak dilupakan masyarakat Makassar sebagai bagian dari pengajaran budaya padahal dulunya basa kabuyu-buyu (sastra tutur) ini dimaksudkan untuk memperhalus budi pekerti, mengenalkan tata krama ataupun untuk menyindir / mengingatkan bahwa sesuatu perbuatan itu tidak baik dilakukan.

Berikut ini beberapa contoh ungkapan ‘Paruntuk Kana’.

- Singkamma miong tugguru ana’na

Artinya : Seperti kucing yang jatuh anaknya. Dimaksudkan terhadap seseorang yang bekerja sembrono, tidak memperhatikan baik buruknya yang dia kerjakan.

- Manre dongik tai tedong.

Artinya : Makannya seperti burung pipit, tetapi kotorannya seperti tahi kerbau. Maksudnya Besar pasak daripada tiang.

- Kapala rupa’

Artinya Tebal muka. Makna kiasannya : Nikanagi mange ri tau kurang sirika, Orang yang tidak punya rasa malu.

- Kontoi pak na Palu-palu

Artinya : Seperti pahat dengan palu. Makna kiasannya : Biasa dikatakan terhadap obat yang sangat mujarab bila dikenakan kepada orang sakit.

- Kammai rappo nipue’ rua

Artinya : Seperti pinang dibelah dua. Maksudnya : Bagaikan orang yang bersaudara kembar sulit dibedakan.

- Kammai jeknek aklete ri lekopacco.

Artinya : Seperti air meniti di daun talas. Maksudnya : Bagaikan Orang yang tidak tetap Pendiriannya.

- Kamma linta natabaya jekne tambako.

Artinya : Seperti lintah dikena air tembakau. Maksudnya : Orang yang langsung diam setelah ditantang pembicaraannya.

- Dallek – dallek ulara’

Artinya : rezeki ular. Maksudnya : Rezeki untung-untungan.

- Eja tompiseng na doang

Artinya : nanti merah baru udang. Maksudnya : Orang yang nekat melakukan sesuatu sehingga tidak perduli apapun yang bakal terjadi.

- Erokak na baddilik bulo

Artinya : Dia mau menembak saya dengan bedil bambu. Dimaksudkan seseorang yang mau mengetahui rahasia seseorang.

- Ia Le’bak Ampalembai ri Kaddaro.

Artinya : Persis dia yang memindahkan ke tempurung kelapa. Dikatakan kepada seseorang yang berperilaku seperti orang tuanya.

- Jarung naboya pangkuluk tappelak.

Artinya : Jarum dicari, kapak yang hilang. Maksudnya ingin mendapatkan sesuatu yang tidak berarti tetapi dia kehilangan yang lebih besar.

- Tu Bajiki Pantarak.

Artinya : Orang baik di luar. Maksudnya sindiran kepada orang yang kelihatannya baik, akan tetapi berhati jelek.

Semoga Bermanfaat Adanya.

___________01 May 2011
*) Regular called ‘Etta Adil’, A Learner who live in village that has lost track of its history. Happy go to the island, love of the Sea and Concern of Conservation of Coral Reef. Ever feel the joy as a teacher and journalist. After failing to be politician, now works as a public relation worker and observer of history and social culture. My Email : mfarid_upeks@yahoo.com

Dijumput dari: http://bahasa.kompasiana.com/2011/05/01/mengenal-paruntuk-kana-dalam-sastra-makassar/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…