Langsung ke konten utama

Sastra Perkebunan: Kegetiran Hidup di Balik Kemegahan

Umi Kulsum
Kompas, 7 April 2008

MALAM itu, hanya disaksikan sinar bulan dan suara jengkerik, Ruki meninggalkan neneknya yang masih meringkuk di dipan reyot. Gubuk tua yang dihuninya sejak kanak-kanak dipandangnya dari kejauhan dengan harapan kelak dapat dilihatnya lagi. Dengan segala keberanian dan tekad, Ruki meninggalkan desanya menuju ibu kota agar dapat mendaftar untuk ikut bekerja di tanah Deli, suatu tempat yang menjanjikan mimpi masa depan yang lebih baik.

Sayangnya, Ruki hanya menemukan kekecewaan ketika sampai di perkebunan Deli. Perlakuan kasar mandor dan kehidupan di bawah batas kemanusiaan itulah yang diperolehnya sehari-hari. Makanan yang jauh dari cukup, tempat tinggal yang mengenaskan, bahkan baju pun tidak dimilikinya karena dia tidak mampu membeli pakaian. Jika Ruki terlambat bangun dan bekerja di kebun, caci maki didapatnya disertai tendangan keras sang mandor.

Kekerasan yang terus dilihat dan dialaminya membuat Ruki ingin kembali ke kampung halaman ketika kontrak pertamanya usai. Namun, Ruki tidak menyadari suatu permainan lain dari pemilik kebun. Pada malam ketika dia menjadi orang bebas, Ruki dan teman-teman lain diundang oleh mandor kebun untuk pesta, saat itu tiba-tiba mandor bersikap seperti seorang bapak yang sangat peduli kepada anak-anaknya. Mandor menasihati Ruki agar dia tidak mempermalukan dirinya dengan kembali ke kampung halaman hanya dengan pakaian lusuh dan tidak memiliki uang, hingga akhirnya Ruki menandatangani kontraknya yang kedua!

Ruki tergiur dengan uang muka untuk kontraknya yang kedua, dengan harapan dapat membeli sehelai baju dan kain untuk ikat kepala. Sayangnya, mimpi menabung saat teken kontrak selalu hilang dari benaknya ketika dia menerima upah atas kerja kerasnya. Bayaran yang tak seberapa itu pun habis untuk bermain judi di hari bayaran, dan tentunya dipotong untuk membayar utangnya kepada ”perempuan bebas”. Karena pada ”perempuan bebas”-lah Ruki dapat melampiaskan hasrat dan kerinduannya akan kasih wanita.

Ruki tidak menyadari situasi yang dihadapinya, perjudian dan prostitusi terselubung yang dibiarkan oleh penguasa setempat adalah bagian dari jerat penguasa perkebunan. Hal itu dilakukan agar kuli menghabiskan uangnya untuk judi dan seks sehingga mereka tidak pernah memiliki tabungan untuk kembali ke kampung halaman.

Keinginan! Adalah sesuatu yang mustahil bagi seorang kuli. Hidup Ruki seolah berjalan seperti mesin yang dikendalikan oleh suara sirene dan makian. Dia harus segera bangun dan bekerja di kebun ketika sirene pertama di pagi buta terdengar. Kemudian istirahat setelah sirene untuk istirahat dan sirene untuk tidur. Ruki pun menjalaninya tanpa berpikir dan tanpa merasakan apa pun. Keinginan pulang ke kampung halaman pun makin samar. Ruki yang terlatih untuk tidak punya keinginan apa-apa hanya menikmati hiburan dengan berjudi. Itu pula yang membuatnya meneken kontrak untuk yang kesembilan belas kalinya, dengan tubuh bungkuk dan rambut putihnya.

Nasib. Itulah yang ada dalam benak Ruki. Hampir tiga puluh tahun telah dilewati Ruki dalam perkebunan di Deli, negeri yang dikabarkan memiliki pohon berbuah emas sehingga orang-orang dari tanah Jawa tergiur ingin melihat dan mengambil keuntungan dari pohon tersebut.

Demikianlah gambaran novel Koeli atau Kuli karya Madelon Hermine Szekely-Lulofs yang pada awal diluncurkan di Belanda mengguncang masyarakat di sana. Negeri itu terkejut oleh kenyataan betapa perlakuan pemilik kebun yang sangat tidak manusiawi kepada buruh perkebunannya. Kisah perkebunan di akhir abad ke-18 juga ditulis dalam novel Rubber (1931) yang diterjemahkan menjadi Berpacu Nasib di Kebun Karet oleh Lulofs. Di Indonesia pun baru-baru ini terbit novel dengan napas dan substansi yang sama oleh Emil W Aulia berjudul Berjuta-juta dari Deli.

Keberadaan Buruh

Dalam industri perkebunan, keberadaan buruh, yaitu kuli penggarap lahan, mutlak dibutuhkan. Untuk itu, didatangkanlah kuli-kuli dari Pulau Jawa untuk memenuhi kebutuhan pekerja di perkebunan. Sebelumnya, migrasi orang-orang Hindustan dan China telah lebih dulu menempati posisi pekerja di tanah Deli.

Berjuta-juta dari Deli adalah sebuah novel yang isinya diambil dari sebuah dokumen berjudul Millionen uit Deli karya Van de Brand, seorang pengacara buruh perkebunan di tahun 1902. Dokumen itu membongkar kekerasan dan kekejian yang menimpa buruh perkebunan sehingga menimbulkan kontroversi politik tingkat tinggi di Belanda. Emil Aulia kemudian menuangkannya dalam bentuk fiksi sehingga dokumen sejarah itu pun dapat dinikmati dengan mudah. Melalui riset yang tekun dan teliti, Emil menghadirkan nuansa peristiwa yang terjadi satu abad silam. Namun, Lulofs dengan pengalaman pribadinya mampu menampilkan realitas kegetiran dan ironi kehidupan di perkebunan, baik yang dialami para kuli pribumi maupun kulit putih Eropa melalui Koeli dan Rubber.

Pada pertengahan abad ke-19, kemiskinan menjadi wajah yang umum di Nusantara. Maka, mereka yang menginginkan perubahan hidup lalu mencari celah untuk keluar dari kemiskinan itu. Hal inilah yang membius orang-orang miskin pergi ke Deli untuk mencari ”pohon berbuah emas”.

Meski buruh perkebunan memberikan keuntungan sangat besar bagi Tuan Kebun atau Singkeh, keberadaan buruh jauh dari dihargai. Bahkan, para buruh ditindas dan diperas oleh tangan dan mesin kolonialis. Dalam Kuli dan Berjuta-juta dari Deli tergambar sangat jelas bagaimana buruh diperdaya sejak awal dan disiksa selama berada di perkebunan.

Kuli kontrak bukan lagi manusia yang memiliki derajat dan harkat hidupnya. Mereka telah terasing menjadi manusia yang lain. Seperti ungkapan Ruki ketika berada di perkebunan Deli, ”Mereka telah kehilangan kemauan, kemerdekaan, dan hak mereka. Mereka adalah suatu bangsa baru, tanpa tanah air, tanpa keluarga, tanpa tradisi.”

Nasib kuli perempuan lebih mengenaskan lagi. Mereka diperlakukan seperti barang yang dapat diambil paksa atau dialihkan kepada orang lain tanpa meminta persetujuannya sekalipun. Karena itu, ketika kuli perempuan sampai di perkebunan, dia langsung diberikan kepada kuli laki-laki yang paling lama tinggal di perkebunan untuk diperistri (tanpa prosesi perkawinan).

Jika para kuli menjadi tenaga yang diperlakukan tidak lebih berharga daripada hewan, para majikan justru dapat berbuat sesukanya dan memiliki kehidupan berlimpah. Seperti diceritakan dalam novel Rubber yang diterjemahkan menjadi Bertahan di Kebun Karet, adalah kehidupan para Tuan Kebun yang datang dari Belanda, Amerika, dan Inggris di Sumatera Utara.

Kelompok berpendidikan ini hidup dengan kebiasaan Eropa yang suka berpesta dan memamerkan kekayaan mereka. Mereka justru berasal dari masyarakat Eropa kelas bawah yang berambisi mengumpulkan kekayaan melalui perkebunan. Orang-orang Eropa ini hanyalah para petualang yang tidak pernah mencintai Deli dan bercita-cita kembali ke kampung halaman setelah memiliki kekayaan yang cukup, yaitu rumah dan mobil mewah.

Meski mereka berasal dari bangsa yang sama, tujuan ekonomi di Deli membuat mereka bersaing satu sama lain, bahkan menjatuhkan temannya sendiri. Lulofs telah berusaha untuk jujur menghadirkan kehidupan para tuan kebun. (Umi Kulsum/ Litbang Kompas)

Dijumput dari: http://www.facebook.com/note.php?note_id=201704779858395

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…