Langsung ke konten utama

Kisah Lebaran Yang Ironis

Denny Mizhar *
http://sastra-indonesia.com/

Dalam menyambut lebaran Idhul Fitri ada tradisi di Indonesia yang tiap tahunnya tak pernah terlewatkan, yakni mudik ke kampung halaman dan silaturrahmi antar keluarga juga tetangga. Hal tersebut menandakan kemenangan setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan selama sebulan penuh. Kemenangan yang perlu dirayakan dengan penuh makna. Tetapi, apakah semua masyarakat Indonesia yang beragama Islam dapat menikmati perayaan tersebut?

Lebaran Idhul Fitri adalah peringatan hari besar agama yang berbaur dengan tradisi budaya, kadang kala menyisakan duka. Adapun kedukaan yang menyelimuti perayaan lebaran di antaranya: tidak bisa pulang ke kampung karena tidak mempunyai biaya, tidak dapat tiket kendaraan karena terlalu banyaknya orang yang pulang kampung, kemacetan lalu lintas, kemiskinan dan lain sebagainya.

Kisah-kisah tersebut dapat dibaca lewat karya cepen Umar Kayam yang banyak bercerita tentang lebaran. Lebaran dalam cerpen Umar Kayam kisahnya kebanyakan Ironi atau kedukaan. Harusnya lebaran dapat dinikmati dengan kegembiraan dan penuh makna, akan tetapi sebaliknya. Dalam cerpennya yang berjudul “Ke Solo, Ke Njanti” Tokoh Ibu dan dua anaknya sudah membeli karcis bus menuju Wonogiri. Namun, mereka tidak dapat pulang kampung dikarenakan banyaknya calon pemudik di terminal bus hingga mereka tidak dapat masuk ke dalam bus. Problemnya, tidak terjadi pada beberapa hari menjelang Lebaran tetapi pada hari pertama dan kedua Lebaran. Pada kenyataannya dua hari Lebaran, masih banyak orang yang akan pulang ke kampung halaman. Padahal Ibu tersebut sudah berjanji pada anaknya akan pulang kampung halaman, dengan persiapan sudah dilakukan selama tiga tahun. Tokoh ibu itupun akhirnya kembali lagi bekerja pada majikannya, kecewa tidak dapat pulang ke kampung halaman meski menghibur anak-anaknya dengan diajak jalan-jalan.

Begitu pula dalam cerpen yang berjudul “Menjelang Lebaran”, Umar Kayam masih berkisah tentang keluarga yang tidak jadi pulang ke kampung halaman. Tersebab Kamil, suami Sri kena PHK dari tempatnya bekerjanya. Sri dan Kamil yang sudah berjanji pada dua anaknya untuk pulang kampung halaman, tidak jadi. Bahkan pembantunya yang sudah bekerja selama sepuluh tahun tidak digaji meskipun masih boleh tetap tinggal dalam keluarga mereka.

Lain lagi dengan cerpen yang berjudul “Sardi” yang berkisah kenekatan tokoh Sardi, kalau dalam cerpen “Ke Solo, Ke Njanti” persoalannya banyaknya orang yang juga pulang ke kampung halaman dan cerpen “Menjelang Lebaran” adalah karena kena PHK dan harus berfikir ulang akan hidup keluarga. Kenekatan tokoh Sardi untuk pulang ke kampung halaman dengan cara menilep uang majikannya karena bisiskan dari syaitan, uang yang didapatkan dari gaji hanya cukup untuk naik kendaraan saja. Akhirnya, cek yang dicairkan Sardi tidak diserahkannya kepada majikannya, tetapi dia bawa ke kampung halaman dan dibagi-bagikannya kepada sanak familinya. Dengan begitu Sardi yang pada awalnya ngotot untuk berangkat ke Jakarta kini tidak berani lagi kembali.

Dari tiga cerpen yang ditulis oleh Umar Kayam yang kesemuanya terhimpun dalam buku kumpulan cerpen “Lebaran di Karet, di Karet…” yang diterbitkan oleh Kompas pada tahun 2002. Cerpen-cerpen tersebut menggambarkan keironisan atau kedukaan lebaran. Lebaran yang identik dengan pulang ke kampung halaman tidak serta mudah diraih bagi mereka yang miskin. Kemiskinan menyebabkan keterbalikan akan glamour-nya pesta lebaran, di sana-sini perputaran uang terjadi dengan cepat, budaya konsumtif menggejala: baju baru, makanan untuk sajian tamu dengan mewah. Bagaimana dengan yang orang miskin?.

Sajak Sitor Sitomorang yang berjudul “Malam Lebaran” dalam kumpulan sajak “Dalam Sajak” (1955), dengan bunyi: bulan di atas kuburan. Meski pada proses penciptaannya terjadi ketika Sitor berkunjung ke rumah Pramoedya saat hari raya Idul Fitri dan ketika pulang Sitor melihat Bulan juga berjinjing ingin mengetahui apa di balik tembok Loji Jawa ternyata kuburan ungkap sitor dalam buku “Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang” (Pamusuk, 2009). Dapat ditarik makna bahwa kemeriahan lebaran atau kebahagiaan lebaran yang ditandakan dengan bulan, berbanding terbalik dengan kuburan. Dan kuburan adalah tempat yang sepi dan menyeramkan. Maka jika digabungkan, dibalik kemeriahan peringatan lebaran ada derita yang dialami orang-orang miskin yang tak dapat menikmati lebaran di kampung halaman bahkan tak mampu membeli baju baru juga makanan untuk disajikan pada tamu-tamunya.

Meskipun teks-teks sastra cerpen Umar Kayam dan Sajak Sitor Sitomurang (mungkin) fiksi atau (mungkin) nyata, tetapi hal tersebut setidaknya patut dijadikan renungan bagi umat Islam yang merayakan lebaran Idhul Fitri. Karena teks sastra tidak hadir dari ruang kosong, sefiksi-fiksinya teks sastra tetap tidak beranjak dari realitas budaya penulis.

Dengan begitu, maka perayaan lebaran tidak perlu diperingati dengan konsumtif, glamour dan pesta yang tidak bernilai kemanusiaan atau keagamaan. Perayaan Lebaran Idhul Fitri adalah tempat kesunyian refleksi menata hidup ke depan. Idhul Fitri memiliki makna kembali pada kesucian, manusia kembali lagi seperti kertas putih. Dari kertas putih tersebut, esok hendaknya dihiasi dengan warna kebajian. Kebajikan dalam konteks kisah orang miskin di cerpen- cerpen Umar Kayam dan ironi makna lebaran dalam Sajak Sitor Sitomorang tidak terjumpai lagi di bumi Indonesia. Kemenangan milik semua orang dan bangsa ini selalu diisi dengan aktivitas kebajikan. Manusia yang kembali menjadi kertas putih suci mencapai makna yang hakiki dan berkesadaran sosial yang tinggi.

*) Pegiat Pelangi Sastra Malang dan Anggota Teater Sampar Indonesia-Malang

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com