Langsung ke konten utama

Temu Sastra Indonesia 2011 Digelar di Ternate

http://www.umm.ac.id/

Temu Sastrawan Indonesia IV Tahun 2011 akan digelar di Ternate, tanggal 25 – 29 Oktober 2011. Tidak kurang dari 200 sastrawan dari berbagai provinsi di Indonesia akan bertemu untuk bermusyawarah, mengikuti seminar nasional, pesta sastra dan peluncuruan beberapa karya sastrawan.

TSI akan diiukti oleh para sastrawan beken Indonesia serta beberapa sastrawan yang lolos seleksi atas karya yang sudah dikirim ke Dewan Kurator Sastra Indonesia. Sidang Dewan Kurator Temu Sastra IV yang digelar selama dua hari di Jakarta (10-11/9) telah selesai menentukan, memilih dan memastikan karya-karya yang masuk ke dalam bunga rampai esei, cerpen dan puisi yang terpilih dalam event Temu Sastra Indonesia IV yang akan dilaksanakan di Ternate, Maluku Utara tanggal 25-29 Oktober 2011 mendatang.

"Panitia akan melayangkan undangan resmi kepada semua peserta, baik peserta yang terpilih maupun karya yang lolos seleksi dewan kurator mulai Senin (12/9)," kata Ketua Pelaksana Temu Sastra Indonesia IV, Sofyan Daud di Jakarta, Minggu.

Walikota Ternate Burhan Abdurrahman dalam keterangan persnya mengatakan, pemerintah daerah Maluku Utara mendukung sepenuhnya pelaksanaan Temu Sastra Indonesia IV.

"Tentunya pemerintah daerah mendukung dilaksanakannya Temu Sastra Indonesia IV karena sangat berguna dan menaikkan serta membudayakan nilai-nilai seni," kata Burhan.

Hal yang sama juga dikatakan oleh Sultan Ternate Mudaffar Sjah, masyarakat Ternate pasti akan mendukung Temu Sastra Indonesia IV tersebut.

Untuk menentukan karya-karya yang akan ditampilkan dalam acara Temu Sastra Indonesia IV dilakukan seleksi yang ketat.

"Para penyair dan karyanya, misalnya puisi, banyak nama-nama baru yang menjanjikan bagi perkembangan puisi Indonesia. Karya penyairpun variatif dan memperlihatkan kekuatan dalam puisi yang mereka kirimkan," kata salah seorang kurator puisi Joko Pinurbo.

Sementara kurator bidang cerpen, Linda Christanty mengatakan, cerpen-cerpen yang diseleksi memperlihatkan kreativitas dan memperlihatkan kekuatan dalam puisi tersebut,

Secara keseluruhan, dewan kurator terbagi atas tiga genre, yaitu untuk genre esai yang dikuratori oleh Nukila Amal, Zen Hae dan Jamal D Rahman.

Untuk genre cerpen ditugasi kepada Rumahitam, Triyanto Triwikoromo, Sihar Ramses Simatupang dan Linda Christanty. Sedangkan untuk puisi, kuratornya adalah Isbedy Setiawan, D Kemalawati, Joko Pinurbo dan Rudi Fofid.

"Naskah yang masuk ke panitia Temu Sastra Indonesia IV ini 248 cerpen, 495 puisi. Sedangkan esai yang dipilih dari karya narasumber yang diundang Temu Sastra Indonesia IV," kata Sofyan.(zul)

Daftar Sastrawan yang Lolos Seleksi

1. Abdul Salam HS Banten
2. Ahmad Faqih Mahfuz Yogyakarta
3. Adin Jawa Tengah
4. Adri Sandara Sumatera Barat
5. AF Kurniawan Jawa Tengah
6. A. Faruqi Munif Jawa Timur
7. Ahmad Davis K Jambi
8. Ahmad Syahid Jawa Barat
9. Alek Subairi Jawa Timur
10. Alex R Nainggolan Jakarta
11. Arizal Tanjung Sumatera Barat
12. Alya Salasha Sinta Bekasi
13. Amin Basiri Jawa Timur
14. Arther Panther Oli Sulawesi Utara
15. Bambang Widiatmo Jakarta
16. Boedi Ismanto SA Yogyakarya
17. Damiri Mahmud Sumatera Utara
18. Dedi Supendra Sumatera Barat
19. Dedi Triadi Malang
20. Dian Hartati Jawa Barat
21. Dino Umahuk Ternate
22. Doddy Kristanto Jawa Timur
23. Doel CP Alisah Aceh
24. Dwi Setyo Wibowo Jawa Tengah
25. Edi Firmansyah Jawa Timur
26. Effendi Danata NTB
27. Esha Tegar Putra Sumatera Barat
28. Fajar Martha Riau
29. Fatkurrahman Jawa Barat
30. Fatih Kudus Jailani NTB
31. Febrie Hastanto Jawa Tengah
32. Frans Ekodhanto Jakarta
33. Galah Denawa Jawa Barat
34. Hanna Fransiska Jakarta
35. Herdoni Syafrians Sumatera Selatan
36. Herman RN Aceh
37. Herton Maridi Jawa Barat
38. Husen Arifin Jawa Timur
39. Husnu Abadi Riau
40. Idrus F Shahab Jakarta
41. Idris Siregar Sumatera Utara
42. I Putu Gede Pradipta Bali
43. Ishack Sonlay NTT
44. Jun Nizami Jawa Barat
45. KIKI Sulistyo NTB
46. Lailatul Kiptiyah Jakarta
47. Lina Kelana Jawa Timur
48. Mahmud Jauhari Ali Kalimantan Timur
49. Mahendra Jawa Timur
50. Maulana Satrya Sumatera Utara
51. Mohammad Ibrahim Ilyas Sumatera Barat
52. Muhammad Ridwan Jawa Timur
53. Mario F lawi NTT
54. Matdon Jawa Barat
55. Nanang Suryadi Jawa Timur
56. Nurhayat Arief Sumatera Selatan
57. Pungkit Wijaya Jawa Barat
58. Qizink La Aziva Banten
59. Restu Putra Jawa Barat
60. Rozi Kembara Jakarta
61. Rudi Ramdani Jawa Barat
62. Salman Yoga S Aceh
63. Shohifur Ridho Ilahi Yogyakarya
64. Sindu Putra NTB
65. Sulaiman Juned Sumatera Barat
66. Sulaiman Tripa Aceh
67. Sutan Iwan Sukri Munaf Bekasi
68. Setio Bardono Depok
69. Syaifuddin Gani Sulawesi Tenggara
70. Syaiful Rahman Jawa Timur
71. Sekar Arum -
72. Teja Purnama Sumatera Utara
73. Tulus Wijanarko Jakarta
74. Tina Aprida Marpaung Sumatera Utara
75. Toni Lesmana Jawa Barat
76. Tjahjono Widianto Jawa Timur
77. Umar Fauzi Ballah Jawa Timur
78. Wahyu Prastianto Jakarta
79. Vidy AD Daery Jawa Timur
80. Yan Zavin Auddjand -
81. Yori Komara Sumatera Barat

Data ini dikopi dari Kompasiana yang mengambil dari Grup TSI IV:
http://www.facebook.com/groups/ternate2011/?id=238218532891310&ref=notif¬if_t=group_activity
http://www.umm.ac.id/id/seni-dan-budaya/30-sastra/umm-41-temu-sastra-indonesia-2011-digelar-di-ternate.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…