Langsung ke konten utama

124 Sastrawan Siap Mengikuti TSI 4 Ternate

Herdoni Syafriansyah
Sriwijaya Post,6 Oktober 2011

SEBANYAK 124 sastrawan siap mengikuti Temu Sastrawan Indonesia (TSI) 4 di Ternate, 25-29 Oktober 2011. Untuk cerpenis yang lolos sejumlah 11 orang, sementara penyair 81 orang.

“Ke 92 sastrawan tersebut, lolos seleksi karya oleh Dewan Kurator yang bersidang di Jakarta, 10-11 September 2011,” jelas Dino Umahuk, sekretaris panitia TSI 4 mewakili Ketua Pelaksana, Sofyan Daud.

Ditambahkan Dino, TSI 4 akan diikuti 124 sastrawan (cerpenis-penyair), sebab 32 sastrawan yang khusus telah dipilih oleh Dewan Kurator untuk difasilitasi transportasi dari tempat asal ke Ternate pergi-pulang.

“Jumlah sastrawan itu diluar narasumber, moderator, fasilitator workshop, dan penampil pada malam pembukaan dan penutupan,” kata Dino.

Keputusan tersebut, hasil sidang Dewan Kurator Temu Sastra Indonesia (TSI) IV yang digelar selama dua hari di Jakarta, Minggu (10-11/9). Karya-karya sastra yang terpilih itu akan dibukukan dalam antologi sastra TSI 4.

Salah satu dewan kurator, Zen Hae mengatakan, temu sastra ini akan mengumpulkan seluruh sastrawan se-Indonesia. Tujuan utamanya tak lain, untuk menggairahkan kembali sastra di negeri ini. Apalagi kata dia, peserta TSI-4 kali ini cukup banyak terdiri dari kalangan muda sehingga harus didukung oleh semua elemen bangsa termasuk pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

"Tidak mungkin hanya kalangan sastrawan menanggung beban untuk memajukan sastra itu sendiri, tapi perlu dukungan berbagai pihak untuk mengembangkannya," ujar Zen di Jakarta, Minggu (11/9). Hadir pula dalam pertemuan ini Walikota Ternate, Burhan Abdurrahman.

Zen juga mengatakan, sangat menggembirakan bila pemerintah turut aktif bagi pertumbuhan sastra, bukan hanya di Jakarta tapi di seluruh indonesia.

"Tujuan utamanya supaya tidak ketinggalan dengan negara lain dalam hal budaya dan sastra. Padahal kita banyak memiliki sastrawan yang bahkan namanya sudah meng-internasional. Jadi potensi kemajuan sastra negeri ini sangat besar. Hanya masih kurang diperhatikan," tambahnya.

Untuk peserta asal Sumatera Selatan, diwakili oleh empat orang sastrawan yang masuk dalam jajaran sastrawan muda Indonesia. Mereka adalah Eko Putra (Penyair, Sekayu Musi Banyuasin), Benny Arnas (Cerpenis, Lubuklinggau), Herdoni Syafriansyah (Penyair, Sekayu Musi Banyuasin), dan Nurhayat Arief Permana (Penyair, Palembang).

Sedangkan Pringadi Abdi Surya, penulis asal Banyuasin Sumatera Selatan yang biasa dikenal sebagai penyair, mewakili Nusa Tenggara Barat untuk kategori Cerpen.

Walikota Ternate Burhan Abdurrahman mengatakan, Pemerintah Daerah mendukung sepenuhnya TSI IV yang siap digelar. Sultan Ternate, Mudaffar Sjah pun mengatakan, masyarakat kota Ternate akan mendukung kesuksesan kegiatan ini.

Rencananya, para sastrawan dan budayawan yang diundang untuk mengisi Malam Pembukaan TSI IV ini antara lain Happy Salma, D Zawawi Imron, Joni Ariadinata dan Agus Nuramal. Malam pembukaan juga akan dimeriahkan oleh penyanyi Glen Fredly.

Dijumput dari: http://palembang.tribunnews.com/2011/10/06/124-sastrawan-siap-mengikuti-tsi-4-ternate

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…