Langsung ke konten utama

Mengenang Gus Dur Lewat Sastra

Afandi Sido
http://www.kompasiana.com/afsee

Almarhum Gus Dur dikenal selain sebagai negarawan dan ulama, juga sebagai penulis beberapa karya sastra kontemporer yang menghasilkan banyak buku, termasuk biografinya sendiri yang fenomenal dan beberapa buku kritik zaman. Beberapa karya sastra mantan presiden bernama asli Abdurrahman Wahid ini seperti puisi, catatan-catatan reformasi, humor, dan ulasannya mengenai beberapa keadaan negara saat ini menjadi koleksi berharga bagi beberapa komunitas pecinta sastra. Begitu pula dengan Paguyuban Sastrawan Mataram yang pada Minggu (4/9/2011) malam menyelenggarakan acara kumpul sastra di kawasan Kilometer Nol, Yogyakarta.

Acara bertema “Mengenang Gus Dur” tersebut diisi dengan dialog interaktif tentang beberapa karya sastra Alm. Gus Dur, yang kebanyakan didokumentasikan dalam bentuk buku dan jurnal-jurnal. Dalam sambutannya, panitia menjelaskan bahwa sejatinya Gus Dur selalu hidup melalui karya-karyanya yang dicintai. Selama masih ada masyarakat yang mengakui kebenaran dalam tulisan-tulisan hasil pemikiran Gus Dur, maka sejatinya ia selalu hidup.

Acara tersebut dihadiri oleh puluhan orang yang rela duduk beralaskan tikar seadanya di atas trotoar di depan Monumen Serangan Umum 1 Maret itu. Selain dialog, turut pula dilakukan pembacaan beberapa catatan Gus Dur dan puisi-puisi tentangnya. Salah satu catatan yang dibacakan adalah karya Gus Dur yang berisi kritik pemerintah lintas zaman sebagaimana berikut:

“Di suatu waktu, pada zaman sosialisme Uni Soviet masih menjadi-jadi dan tersebar ke penjuru dunia, rakyat tidak pernah kekurangan bahan pangan. Semua kebutuhan selalu disediakan pemerintah. Lalu, seorang aktivis sosial memutuskan melakukan perjalanan keliling dunia dan singgah ke beberapa bangsa untuk mencari tahu sistem pemerintahan lain yang nonsosialis. Lalu setelah aktivis itu mengelilingi banyak bangsa, tibalah ia pada satu bangsa yang masih asing namun menarik baginya. Ia bermaksud mencari tahu seberapa besar dan kuat bangsa itu memenuhi kebutuhan rakyatnya.

Mulailah ia dengan mengunjungi tempat-tempat yang sekiranya menjual barang-barang yang ia perlukan. Saat mencari bahan bakar ke sebuah gerai, ia dijawab oleh penjual bahwa bahan bakar tidak tersedia, lalu aktivis itu membuka buku catatannya lalu menuliskan dengn huruf besar di sebuah halaman, ‘BAHAN BAKAR HABIS’. Kemudian penelitiannya berlanjut, ia mengunjungi sebuah toko alat-alat mandi untuk mencari sabun, tapi di situ pun ia tak bisa temukan sabun, lalu ia tulis di halaman berikutnya, ‘SABUN HABIS’. Ia mulai berpikir, bagaimana bisa sebuah bangsa berbentuk negara tidak bisa menyediakan bahkan sabun bagi rakyatnya? Lalu dalam keputusasaan ia mendatangi sebuah gerai makanan, untuk menanyakan hal yang sama. Tapi belum sempat ia bertanya, seorang berpenampilan intel menegurnya. ‘Wahai anak muda, sedang apa kamu di sini? Kamu tahu tidak bahwa kegiatanmu ini membahayakan negara? Untungnya ini sudah zaman reformasi. Kalau ini masih zaman orde baru, sudah ditembak kamu!’ gertak intel itu.

Lalu sejenak kemudian, saat intel itu pergi, sang aktivis kembali membuka catatannya, dan menuliskan dengan huruf kapital berukuran besar di halaman berikutnya: ‘PELURU HABIS!’“


Acara diskusi sastra tersebut dihadiri orang-orang dari berbagai kalangan, baik yang datang terencana maupun yang sekadar ikut nimbrung karena kebetulan berada di sekitar Kilometer Nol dan berakhir menjelang pukul 23.00 WIB. Acara ini juga sempat menarik perhatian para pengendara yang melintas meski tidak mengganggu arus lalu lintas. Dalam kata-kata penutup acara, sastrawan Jogja berpesan agar karya-karya Gus Dur dipelihara, karena hanya dengan demikian kita bisa belajar dari seorang tokoh yang membawa perbedaan dalam pandangan kebangsaan.

05 September 2011
Dijumput dari: http://sosbud.kompasiana.com/2011/09/05/mengenang-gus-dur-lewat-sastra/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…