Langsung ke konten utama

Kebangkitan Novelis Pria

Reiny Dwinanda
Republika, 18 Maret 2007

Berakhir sudah kecenderungan merajanya novelis perempuan di kancah persaingan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Padahal, selama dua kali penyelenggaraan –1997 dan 2003– ‘sastra wangi’ selalu tampil sebagai yang terdepan. Kali ini, untuk lomba tahun 2006, seluruh trofi juara disapu bersih oleh penulis pria.

Ketua DKJ Marco Kusumawidjaja, memandang fenomena itu mencerminkan potret yang sesungguhnya tentang para penulis novel. Hasrat untuk menjadi penulis sastra, khususnya novel, masih menghinggapi kaum muda. ”Kenyataan ini sekaligus menepis anggapan masa depan sastra Indonesia berada di bawah dominasi penulis perempuan,” katanya.

Setelah tiga tahun tidak digelar, Sayembara Novel DKJ memperdengarkan sejumlah kabar baik bagi dunia sastra Indonesia. Animo masyarakat dalam penulisan novel meningkat secara drastis. ”Di tahun 2006, panitia mengalami mabuk naskah,” celetuk sastrawan sekaligus anggota dewan juri, Ahmad Tohari, Jumat (9/3) pekan lalu.

Betapa tidak, ada 249 naskah yang masuk. Padahal, selama tiga dekade penyelenggaraan jumlah peserta berkutat di angka 100. ”Ini kejutan yang menggembirakan,” kata Tohari.

Jumlah naskah bukan satu-satunya faktor yang membuat dewan juri terkejut. Jumlah halaman per naskah juga ‘memabukkan’ Tohari, Apsanti Djokosujatno, dan Bambang Sugiharto, selaku dewan juri. ”Yang paling tipis 152 halaman,” tambah Tohari yang menghabiskan waktu tiga bulan untuk menilai seluruh novel.

Kabar gembira lain menyangkut keberagaman tema pada novel-novel yang mewakili berbagai genre tersebut. Mulai dari tema domestik dan klasik, agama, rasialisme, manusia super, hingga teknologi modern. ”Semoga variasi bentuk, narasi, dan tema itu dapat memperluas cakrawala kesusastraan Indonesia,” harap Tohari.

Sedikit kilas balik, selama novelis perempuan menguasai dunia penulisan novel, tema-tema yang menyangkut seks serta pesan religi menjadi bacaan paling mudah ditemui. Meski begitu, tema yang melenceng dari arus utama tetap mendapat tempat. Di tahun 2003, DKJ menobatkan Dadaisme karya Dewi Sartika, Gani Jora karya Abidah el Khalieqy, dan Tabularasa karya Ratih Kumala, sebagai tiga terbaik di kancah persaingan penulisan novel.

Dewan juri juga bangga dengan para peserta sayembara yang mayoritas telah memakai bahasa Indonesia yang baik. Salah satu naskah malah terpantau disajikan dengan bahasa yang menakjubkan. ”Ini memperlihatkan betapa mereka mempersiapkan secara serius novel yang dilombakan,” komentar Tohari, penulis Lintang Kemukus Dini Hari.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Daoed Joesoef, turut bergembira melihat geliat sastra masa kini. Terlebih di bidang prosa. ”Bila kondisi seperti ini tetap terjaga baik, tak ayal Indonesia akan melahirkan gagasan-gagasan kebudayaan yang cemerlang,” tuturnya.

Daoed memandang sastra sebagai koinsidensi dari intuisi dan imajinasi. Dengan begitu, karya sastra dapat dijadikan bukti dari proses manusia kreatif. ”Apalagi jika karya sastra dapat bahu-membahu dengan ilmu pengetahuan. Itu akan memungkinkan terjadinya perpaduan antara ungkapan perasaan dan pikiran. Pasti hasilnya akan lebih membanggakan,” katanya.

Novel berjudul Hubbu mengantarkan Mashuri sebagai penyabet juara pertama Sayembara Novel DKJ 2006. Penulis kelahiran Lamongan, 27 April 1976, ini mengambil latar belakang pesantren untuk menceritakan seorang anak muda yang mencoba mengkompromikan impiannya dengan dikte keluarganya. ”Ceritanya sangat utuh dan padu,” Tohari mengomentari novel karya awak Harian Memorandum itu.

Berikut petikan novelHubbu,

Jarot tak tahu pasti, ia hanya meyakini, manusia itu ada batasnya. Sayang tak ada seorang pun yang tahu batas itu sehingga manusia diberi kesempatan untuk mencari sampai ambang batas itu sendiri. Mungkin terlalu filosofis, tetapi apa yang dilakukan Jarot adalah untuk mengenal batas-batas dirinya, kemanusiaannya, serta akal sebagai manusia.

Berada di urutan kedua, Mutiara Karam karya Tusiran Suseno. Awak Radio Republik Indonesia ini merupakan ‘pemain’ lama di dunia sastra. Ia merupakan salah satu penulis yang produktif menggarap naskah teater Melayu.

Tampil sebagai juara ketiga, Calvin M Sidjaja. Mahasiswa kelahiran 1976 ini menulis Jukstaposisi. Di posisi selanjutnya ada Junaedi Setiyono dengan novel Glonggong dan Yonathan S Raharjo dengan novel Lanang.

Untuk memperkenalkan penulis-penulis berbakat ini kepada publik, DKJ menampilkan mereka dalam helatan kedua Lampion Sastra, Jumat (16/3) lalu. Petikan novel para pemenang Sayembara Novel DKJ dibacakan dalam acara tersebut.

Novel yang gagal memenangi Sayembara Novel DKJ, lanjut Tohari, belum tentu tak akan laku di pasaran. Sebab, dewan juri mendaulat juara berdasarkan sudut pandang kesusastraan. Sementara, penerbit memakai kaca mata selera pasar. Mungkin, yang tidak menang justru akan menjadi novel best seller.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/03/kebangkitan-novelis-pria.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…