Langsung ke konten utama

Serenada Malam Kunangkunang

Shourisha Arashi
http://sastra-indonesia.com/

Kutenggelamkan diri dalam kubangan yang pekatnya adalah malam. Sedangkan dingin ini tak lagi dapat bekukan apapun karena segalanya telah hilang. Hanya jejak samar yang nyata mengarah ke entah. Dan kita takkan pernah tahu hingga saatnya tiba.

Langitku hitam. Sedang bintang yang nampak ternyata kunangkunang yang linglung mencari tempat berlindung. Kulihat telaga perak rembulan dan sekejap yang nampak adalah aku yang bersayap koyak. Terbang rendah dari dahan ke dedaunan lalu hinggap di rerumputan liar.

O, betapa sendu serenada malam kunangkunang. Dengan bisik lirih dan getar sayap yang mulai lelah. Dengan terang temaram tanpa pernah mendamba kerlapkerlip seterang bintang-gemintang. Karena gelap selalu menghargai seredup apapun nyala cahaya.

Lalu mendung pun hanya akan menjadi segumpal awan kelabu yang berlalu. Bersama angin yang mengabarkan bahwa hujan kan segera datang. Bukan janji. Hanya kabar. Maka kudengarkan dan kupahami dengan harap tak terlalu besar. Kurasa dan semoga kita masih bisa bersabar.

23 September 2011

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan