Langsung ke konten utama

Sajak-Sajak Tia Setiadi

http://www.lampungpost.com/
Ode untuk Daun-Daun
: Jingga Gemilang

/1/
daun-daun yang jatuh adalah surat-surat
yang mesti kau baca.

hijau atau jambon warnanya
adalah warna lembaran hatimu sendiri

yang terbaring
menunggu, menunggu
di luar kata-kata dan ranum kulitmu

daun-daun
daun-daun

daun-daun yang jatuh—
perlahan dan tabah—

seperti sehelai sapu tangan jingga yang jatuh
dari pohon awan

sesaat selepas kauseka
kesepianku.

/2/
daun-daun yang jatuh adalah kerinduan
yang mesti kau terjemahkan.

musim demi musim
dalam celupan cahaya dan air

daun-daun itu mematangkan diri

menunggu, menunggu
sentuhanmu.

bacalah gurat-gurat wajahnya
agar kau kenali gurat-gurat wajahmu sendiri

daun-daun
daun-daun

daun-daun yang jatuh adalah lidah-lidah malaikat
yang bernyanyi

dan lidah-lidah sungai
dan burung-burung pingai
yang bernyanyi

daun-daun
daun-daun

pungut dan himpun daun-daun yang jatuh itu
lalu kau hamburkan kembali

ke mangkuk bumiku yang subur rindu:

lembaran-lembaran musim—
bak riak-riak karpet parsi—

yang hijau pupus,
amin.



Bilqis dan Sulaiman
Duhai bumi, telanlah airmu. Dan duhai langit, berhentilah…
(QS Hud [11]: 44)

“Duhai bumi, telanlah airmu,” ujar Bilqis,
sembari berjinjit di lantai Istana Ursyalim.
Ia menyangka lantai itu terbikin dari air
maka ia tarik sedikit ujung gaunnya
dan tersingkaplah dua betis gadingnya
dengan helaian-helaian bulu lunak
yang meriap berkilauan kena sinar damar

Saat Sulaiman berucap bahwa lantai itu
tersusun dari kaca dan bukan dari air
Bilqis seketika terperanjat dan tersipu
hati dan pipinya berubah jadi lembayung
bak dicelup oleh Sang Pencelup Agung
sepasang matanya runduk dalam takjub
bagaikan dua butir embun di taman yang kuyup

“Kedua mataku ternyata menipu, duhai Sulaiman,
kukira bentangan air padahal cermin yang licin,
maka kini biarlah aku buta di hadapanmu,
dan biarlah biru langit berakhir bagiku”

Kemudian Sulaiman mengecup mata Bilqis.

“Wahai Bilqis, bukan hanya engkau yang buta,
kini aku pun buta, karna meski aku mengerti
bahasa berbagai binatang dan makhluk-makhluk gaib
namun ternyata aku tak mampu memahami
huruf-huruf rahasia yang tersembunyi
di helaian-helaian halus bulu betismu,”

Dan Bilqis pun mengecup mata Sulaiman.

“Bila demikian, biarkan matamu jadi mataku,
dan mataku jadi matamu, Junjunanku,
hanya dengan begitu kebesaranmu akan tersingkap
bagiku, dan rahasiaku akan tersingkap bagimu”

Malam kian dalam, damar pun berpadaman
sebab kini minyak dan sumbunya telah bersatu
Tetapi kedua sejoli itu masih saja terjaga
di tempatnya semula, seperti dua air terjun
yang mematung, saling mengurai rahasia
dan meneroka lanskap diri masing-masing
keduanya jadi guru dan murid satu sama lain

Cinta Bilqis dan Sulaiman semakin membesar
dan sengit setiap detiknya, sementara bumi
kian menyempit, dan kemudian menjelma
jadi sehampar kolam kecil yang menyucikan
dan menyatukan guguran gairah keduanya
dengan luruhan cahaya purnama dari angkasa
yang semakin anggun dan keramat setiap detiknya.



Wijayakusuma

tanpa tahu saat ia lewat
tilasnya masih terambung—
di banjir wangi wijayakusuma.

__________________
Tia Setiadi, menulis esai dan sajak pada pelbagai media. Pernah bekerja sebagai redaktur budaya pada majalah Gong (2008). Kini bekerja sebagai chief editor penerbit Interlude dan peneliti ahli pada Parikesit Institute. Sedang menyiapkan antologi puisi tunggal: Husrev dan Shirin.
Sumber: http://www.lampungpost.com/sastra/7843-sajak-sajak-tia-setiadi.html

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…