Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Ahmad Zaini

http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
Di Ambang Senja

Di ambang senja
Seraut wajah meredup
Di telan bayang malam

Gambaran masa silam
Tergores dalam kerut
Wajahnya
Yang mulai senja



Ramadhan

Senja di ujung sya’ban
Telah berganti
Seiring datangnya malam
Dengan remang rembulan
Ramadhan

Kau rahmati
Kau berkahi
Bulan ini
dengan melipatgandakan pahala
kebajikan yang kita lakukan
Kau ampuni segala dosa yang lewat

Dalam bulan ini
Kau janjikan kebahagiaan
Bagi orang-orang yang berpuasa
Berlebaran dan bertemu Tuhan

Beruntunglah hambaMu
Yang beribadah dalam bulan ini

31 Agustus 2008



Secercah Harap

Menjelang senja
Saat kelelawaar terbang mencari sarang
Kulihat awan jingga pantulkan cahaya kemerahan
Terasa dalam hati debar-debar keangungan
Atas kuasaMu

Cahaya Ramadhan
Memberi secercah harap
Untuk menghapus semua dosa masa lalu

September 2008



Bulan Ampunan

Bulan penuh rahmat
Penuh maghfirah
Telah datang
Janjikan kebahagiaan
Berlebaran dan bertemu Tuhan

Sujud kepadaMu
Menebus salah dan dosa

September 2008



Manusia

Dengan menyebut namaMu
Yang mulya di atas segala kemulyaan
Yang agung di atas segala keagungan
Maha pengasih tak pandang kasih
Maha menyanyang tak pandang sayang
Aku datang kepadaMu
Untuk kabarkan ciptaMu

Manusia bukan lagi manusia
yang memanusiakan manusia
Bak hewan tanpa akal dan perasaan
Nafsu memperbudak
Menodai kodrat yang telah Kau berikan
Tumpahkan darah
Bakar amarah
Bergolak dalam bejana
Kehidupan dengan bumbu nafsu
Tanda-tanda kebesaranMu
Telah mengecil di hati
Mereka lebih mengagungkan dunia
Di setiap desah yang Engkau hembuskan
Menyeruak kebusukan
Tanpa wangian tasbih
Terucap dan berputar
Di tengah poros hidup ini



Deretan Angka

Deretan angka melingkari waktu
Kuhitung satu demi Satu
Deretan angka
melukis hati mengukir jiwa
kosong tak bernilai

September 2008

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…