Langsung ke konten utama

Adopsi Fakta Imajinatif Sastra

Anjrah Lelono Broto
http://suaraguru.wordpress.com/

Sastra sebagai sebuah teks yang sejajar dengan gambar, suara, maupun gerak memiliki roh yang multi-intrepretasi. Publik sebagai lembaga apresian independen bebas untuk mengintrepretasi pesan dan makna yang ada di dalamnya. Publik memahami secara dewasa bahwa sastra selain berangkat dari alam rekaan (fictional) serta alam permenungan (reflection), sastra dekat dengan identitas ketidakberpijakan atau imajinatif.

Ketidakberpijakan cenderung diapresiasikan publik sebagai kebohongan. Tidak berlebihan memang, karena di dalam sastra bahasa, tema, ataupun amanat bersifat personal, masing-masing individu memiliki keberagaman stilistika komunikasi yang cenderung membebaskan intrepretasi. Yang membedakan teks sastra dengan teks lain adalah kegenialan sastra untuk membuat pengakuan bahwa dirinya adalah aksioma fiksi, sedangkan teks-teks yang lain cenderung enggan untuk jujur bahwa sejatinya dirinya juga melakukan sebuah kebohongan.

Sastra dekat dengan identitas ketidakberpijakan, lantaran di dalam sastra ‘kebenaran’ disampaikan dengan bahasa teks imajinatif dan personal yang sarat dengan ‘pembenaran-pembenaran’.

Hari ini, di dalam ruang publik Indonesia sekat antara kebenaran dan ketidakberpijakan menjadi tipis, bahkan hilang. Publik tertatih-tatih untuk membedakan antara fakta dan opini, antara antara realitas dan imajinasi, antara kebenaran dan mimpi. Pengambil-alihan fungsi dan peran prosedural teks sastra oleh teks-teks yang lain ini memungkinkan mewabahnya dehumanisasi kolektif. Mengapa? Sastra yang multi-intrepretasi dan refleksional diadopsi habis-habisan oleh teks yang lain, ketika teks-teks tersebut kehilangan kesejatiannya maka publik terperosok dalam krisis kebenaran. Eksistensi menjadi samara, bahkan kabur, ketika kebenaran disampaikan secara imajinatif yang dapat dianalisis secara instrinsik maupun ekstrinsik, seperti halnya sastra.

Publik membaca berita dan informasi yang dibungkus dalam teks gambar, suara, maupun gerak, seperti halnya membaca sebuah karya sastra. Publik menganalisis dan memahaminya menggunakan perspektif instrinsik maupun ekstrinsik. Bagaimana karakter tokohnya, temanya apa, alurnya bagaimana, settingnya dimana dan kapan, bahkan publik juga membaca ‘siapa’ yang memberitakan seperti halnya penikmat karya sastra memahami ‘siapa’ pengarangnya.

Hakekatnya, kebenaran dan ketidakberpijakan dalam sastra memang tak terbatas, keduanya membias bercampur-campur bagai larutan gula-garam yang dapat mengganti ion tubuh. Tatkala sastra disodorkan dalam meja sajian kepada publik, ia mampu berdiri menjadi seni, slogan, propaganda, moral, sains, atau ideologi. Begitulah sekarang yang terjadi dalam teks-teks yang lain. Publik bimbang mengapresiasi dan mencermati mana artis mana politisi, mana pemimpin mana selebritis, ataupun mana ideologi mana seni.

Jikalau teks sastra diapresiasi melewati permenungan refleksional lalu bagaimana dengan teks-teks berita?

Tentu saja, pengadopsian identitas sastra oleh teks-teks yang lain ini meminggirkan posisi dan peran sastra itu sendiri. Ketika sebuah teks dijiplak tanpa keterangan sumber maka sumber akan terbenam dan publik akan rancu memahami teks itu sendiri. Radhar Panca Dahana, dalam bukunya Kebenaran dan Dusta dalam Sastra, menyatakan bahwa; jika hal di atas terjadi, maka sastra akan bernasib seperti kotak mainan anak, ia akan tergeletak di pojok, di atas lemari baju, atau teronggok di balik etalase barang elektronik; lusuh dan berdebu, terlupakan, tak terbeli.

Benarkah? Pertanyaan tersebut sebaiknya kita simpan rapat-rapat, karena realitas sudah menjawabnya. Publik meminggirkan jauh-jauh sastra dalam hidup dan berkehidupan sehar-hari. Bahkan lingkungan pendidikan, yang merupakan garda depan pengenalan sastra, dewasa ini cenderung mendewa-dewakan materialisme dan tidak memberi ruang nafas bagi sastra untuk anak didiknya. Sedangkan di lingkaran publik, secara global, jauh lebih ruaar biasa… Buku-buku sastra hilang dalam terang, dan sastrawan bertahan hidup dengan terpaksa melacur dalam hegemoni sastra koran. Pasca generasi sastrawan termuda seperti Joni Ariadinata, Benni Setiawan, Ayu Utami, Fira Basuki, Dee, ataupun Djenar Mahesa Ayu, tak ada lagi perwajahan baru. Sehingga, wajarlah jika kemudian ada maklumat kematian sastra terdengar di telinga publik Indonesia.

Fenomena pengadopsian identitas sastra oleh teks-teks yang lian yang mengakibatkan keterpinggiran sastra memang mengundang berbagai kontroversi pendapat dan asumsi. Akan tetapi, dalam riuh-rentak opini dan penawaran solusi yang berkembang ada sebuah hikmah yang bisa dipetik yaitu mengemukanya kesejatian humanitas Indonesia bahwa manusia memang menjalani sebuah proses untuk menemukan dirinya sendiri dan menyempurnakan pemahaman atas dunia. Kebenaran dan ketidakberpijakan sastra memang laksana pedang bermata dua, mampu menggoda pengadopsian namun secara kejam dapat membuat degradasi keberhargaan sastra itu sendiri.

Dunia Imajinasi
Dalam karya sastra adalah dunia imajinasi ditata sebagai semesta. Dalam penataannya, tak hanya akal-budi namun juga kearifan dan kesegaran jasmani yang berperan. Realitas yang ada dan terbangun dalam karya sastra tidak mampu diterjemahkan dalam tata bahasa formal keseharian, sebagaimana perkawanan dan perkawinan perjalanan material dan spiritual yang takkan pernah terdefinisikan secara menyeluruh. Kesejatian identitas karakter inilah yang membedakan karya sastra dari teks-teks yang lain seperti teori penelitian, jurnalistik populer, historiografi, atau aforisme.

Kenyataan ini menuntut seorang penikmat karya sastra memiliki ancangan ke’dirian’ pribadi untuk mengapresiasi karya sastra. Karena, proses pemahaman terhadap sebuah teks sastra berjalan dalam sebuh proses (not instanable), melalui rekonstitusi dan rekonstruksi manusia secara menyeluruh. Pemikiran tentang rekonstruksi manusia secara menyeluruh akan menjadi menarik apabila lebih dikaji secara mendalam.

Barangkali juga merupakan sebuah objek kajian yang menarik dan penuh gelitik, apabila kita bersedia membaca kembali rekonstruksi sebuah karya sastra, misalnya naskah Perang Bubat, Panembahan Reso, Hamlet, atau naskah-naskah repertoar Kabuki seperti Love Suicides at Sonezaki, Blossom In The Wind, dll. Mungkin, jikalau dianggap terlalu jauh bisa kita baca kembali naskah repertoar Ludruk seperti Sarip Tambak Oso, Sakerah, ataupun Sogol; Arek Sumur Gumuling, dst. Hampir semua naskah-naskah karya sastra tersebut memiliki keterkaitan dengan teks sejarah. maka teks sejarah menempati posisi yang vital dalam membangun pesan pembelajaran.

Teks sejarah Perang Bubat merupakan satu contoh teks sejarah yang banyak mengalami rekonstruksi dari pengarang dari kultur wilayah yang berbeda, terutama Jawa dan Sunda. Teks Perang Bubat sebagai teks sejarah ini ketika ditransfer ke dalam teks sastra akan menjadi naskah karya sastra yang penuh deng rekonstruksi si pengarang, yang mungkin bergeser dari fakta sejarah atau yang belum terungkap oleh sejarah itu sendiri. Rekonstruksi Perang Bubat dalam bentuk teks sastra menjadi menarik karena di dalamnya melibatkan aspek emosi ras, etnik, dan kultural yang berbeda yaitu Sunda dan Jawa. Teks sejarah mencatat bahwa kerajaan Padjajaran mengalami kemunduran dan menghilang pasca peristiwa berdarah di lapangan Bubat. Peristiwa yang merenggut nyawa Sri Baduga Maharaja dan Dewi Pitaloka ini meninggalkan kepahitan dan dendam kultural antara Jawa dan Sunda. Masyarakat Sunda mempercayai bahwa Kerajaan Pajajaran tidak musnah atau dikuasai Majapahit melainkan berpindah ke alam lain; “Padjajaran hanteu sirna tapi tilem ngawun-awun”.

Dengan demikian hadir berbagai persoalan khususnya yang menyangkut posisi sebuah karya sastra itu sendiri di tengah rekonstruksi yang demikian, juga tanggung jawab seorang pengarang, dan kesiapan seorang pembaca, apakah masih menganggap naskah seperti itu sebagai karya sastra manakala di dalamnya terjalin rangkaian dialog antartokohnya sebagai hasil rekonstruksi pengarang, serta posisi ‘dusta’ dan ‘kebenaran’ yang bukan lagi bergerak dalam batas-batas realitas antara sesuatu yang bersifat empiris dan imajis, melainkan sudah melibatkan aspek-aspek subjektivitas pengarang dengan segala bentuk konsekuensinya.

Kearifan publik sebagai lembaga apresian independen menuntun pemahaman bahwa karya sastra bisa menjadi kebohongan dan kebenaran. Kearifan akan membimbing publik untuk membedakan antara fakta yang sesungguhnya dan ‘fakta’ hasil imajinasi atau rekonstruksi seorang pengarang, yang menlahirkan karya sastra berisi transformasi kesejarahan.

Rekonstruksi naskah sejarah ke sastra dipandang sebagai sebuah ‘dusta’, manakala aspek-aspek individualisme, bahkan –komunalisme– telah berlaku di dalamnya. Di situ kita memahami bagaimana posisi ‘kebenaran’ naskah sebagai sejarah yang diyakini kebenarannya, dan bagaimana posisi ‘dusta’ dalam naskah sejarah itu sendiri yang telah mengalami rekonstruksi. Sebuah ‘dusta’ yang sesungguhnya berada di luar keberadaan sebuah karya sastra karena terkait dengan latar belakang pengarang. Dan seorang pembaca, kiranya perlu untuk tahu keberadaan posisinya, bukan hanya berpegangan pada aspek-aspek individual atau komunal. Mari membaca dan menulis, sastra.

9 September, 2009
*) Litbang LBTI (Lembaga Baca-Tulis Indonesia)
Sumber: http://suaraguru.wordpress.com/2009/09/09/adopsi-fakta-imajinatif-sastra/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…