Langsung ke konten utama

Niat Jahat di Kepala Cheng Ho

Sunlie Thomas Alexander
http://suaramerdeka.com/

BAGAIMANA mesti aku rawikan riwayat Sam Po Thai Kam yang serupa dongeng ini? Oh, kisah-kisah liar yang tak mungkin kautemukan dalam catatan sejarah. Tapi begitulah, cerita-cerita tak jelas asal muasal ini telah kudengar di masa kanak-kanak dan lama mengendap dalam ingatan yang mirip belukar semak…

(1) TENTU kau tahu banyak cerita tentang pelaut besar itu. Bagaimana pelayarannya yang luar biasa, –ah, 114 tahun sebelum Magellan merintis penjelajahan samudera mengelilingi bumi– mengubah peta navigasi dunia sampai abad kelima belas.

Atau, bagaimana selama 28 tahun, tak urung lebih dari 30 negeri di Asia, Timur Tengah, dan Afrika telah disinggahi dalam tujuh kali ekspedisi yang kesohor itu demi memperluas pengaruh Kaisar Ming sebagai Putra Langit dan menjalin hubungan perniagaan dengan banyak negeri.

Kendati armadanya membentang hampir seribu meter di garis cakrawala, memanjang 1,5 kilometer di lautan, toh berbeda dari penjelajah Eropa yang rakus, tak dibawanya semangat penaklukan dan keserakahan. Bahkan, syahdan kapal-kapal itu lebih banyak membawa ragam cinderamata yang akan dipersembahkan kepada raja-raja berbagai negeri ketimbang senjata.

Ai, demikianlah sejarah lebih suka mencatat jasa, misi mulia, dan kepahlawanannya di sepanjang jalur pelayaran. Karena itu, tak kau sangsikan lagi riwayat yang mengisahkan kemurahan hati orang kasim itu. Tengoklah, katamu, tatkala merapat di Tuban dan Gresik misalnya, kepada penduduk pribumi tak segan ia ajarkan beragam teknik pertanian dan peternakan, juga tata cara pertukangan dan perikanan.

Oh, tentu tak hendak kuremehkan kebesaran Sam Po Thai Kam, Kawan! Tapi percayakah dirimu, kalau kukatakan bahwa dalam pelayarannya yang panjang itu, beberapa kali sempat terlintas niat jahat di kepalanya untuk mencelakai para penduduk Nanyang 1) yang ia sambangi?
Tahukah dirimu, atau pernahkah kaumendengar bahwa mulut pelaut ulung itu sesungguhnya mengandung tuah? Tak pelak apa pun yang diucapkan kerap dengan segera menjelma jadi kenyataan; hal yang tak benar pun menjadi benar. Ya, sebab itulah niat buruknya tak pernah kesampaian, Kawan.

Kau heran, kau menyangka ku berkelakar? Ai, anggap saja Tuhan selalu memberkati perjalanan muhibahnya, senantiasa menjaga keagungan namanya, karena itu tak pernah membiarkannya melakukan keculasan.

“Itu tak mungkin! Cheng Ho…,“ bantahmu dengan nada tak senang, “adalah pelaut budiman.
Bahkan ia lebih suka tuntaskan masalah dengan diplomasi daripada kekerasan.“

Lantas kau menunjukkan lagi padaku kisah ketika ia mengirim para utusan kehormatan kaisar ke Kerajaan Blambangan saat berlabuh di Samo Lung.
2) Lebih dari separuh utusan tak bersenjata ini tewas dibantai Majapahit yang mengira Blambangan sedang meminta bantuan Kaisar Ming.
Terkejut oleh serangan, ia pun mengerahkan seluruh armada ke Majapahit dan arahkan semua meriam kapal perangnya ke daratan. Sebelum bola-bola mesiu itu dimuntahkan, ia melakukan tindakan mengejutkan. Dengan menggunakan kapal kecil dan hanya ditemani beberapa pengawal, ia malah memutuskan menghadap Raja Majapahit untuk menanyakan kenapa utusannya diserang. Tak pelak sang raja pun menyadari kesalahpahaman dan perkara dapat diselesaikan dengan damai.

“Sungguh menakjubkan apa yang ia lakukan,” pujimu kagum. Karena itu, wajar apabila kau bersikeras menyangkal habis-habisan sejumlah kisah yang kudengar dari kakekku di masa kecil ini.
Ah, baiklah, anggap saja aku memang keliru dan hanya ngelantur. Toh, aku pun tak bisa menunjukkan kebenarannya padamu. Tak ada sepotong pun catatan sahih yang bisa kurujuk sebagai pegangan kecuali kisah-kisah ini kudengar dari mulut kakekku puluhan tahun silam. Membelukar dalam ingatan. Tak ada bukti bisa diuji layaknya lonceng raksasa Cakrado yang dihadiahkannya kepada Sultan Aceh, atau piring bertuliskan Ayat Kursi yang saat ini masih tersimpan baik di Kraton Kasepuhan Cirebon.

Namun tak ada salahnya bukan, jika cerita-cerita kecil ini aku ungkapkan kepada pembaca? Sebab bagiku, di sini persoalannya bukanlah sejauh mana kebenaran kisah-kisah itu, tapi bagaimana sesekali kita mencoba melihat sisi lain dari versi sejarah yang resmi…

Hm, beginilah cerita yang kautuduh sebagai fitnah keji itu. Cerita-cerita yang kau anggap musykil.

(2) AH kukatakan kepadamu, sesungguhnya rumah panggung yang tegak dari Semenanjung Malaya hingga bumi Betawi tak lepas dari riwayat pelayaran laksamana agung itu. Bahwa, sejarah tiang-tiang penopang rumah itu berpangkal dari sebuah niat buruk yang tebersit di benak Cheng Ho tatkala armada rayanya –ya, sebagaimana dicatat Ma Huan dalam kitab Ying-yai Sheng-lan, terdiri atas 27.000 awak dan 307 kapal besar-kecil-menyusuri pesisir timur Sumatera.

“Dirikanlah rumah di atas pancang tiang, niscaya kalian bakal terhindar dari ancaman binatang buas,“ katanya kepada orang-orang Melayu di Riau dan Malaka. “Tinggikanlah rumah agar kalian tak disapu ombak dan sungai yang meluap,“ sarannya kepada penduduk yang berdiam di pesisir Jambi, bantalan Batanghari dan Musi.

Ai, kendati tak mampu kutunjukkan tanda betapa rumah-rumah panggung itu adalah jejak kepicikannya yang nyata, toh terang dapat kautangkap maksud dan tujuan nasihat itu bukan? Bahwa tak lain supaya orang-orang Melayu mengalami celaka, mati ketimpa rumah panggung mereka yang roboh apabila tiang-tiang penyanggah merapuh dan patah.

Ya, bisa saja sebaliknya kau asal bentuk arsitektur tua itu sebagai salah satu tanda kemurahan hatinya berbagi ilmu, sebab para penduduk pribumi dengan lugunya telah bertanya, “Tak robohkah rumah kami, Tuan Nahkoda?“ “Oh, Tidak. Tidak akan roboh. Percayalah!“ Mulut bertuah, sakti ucapannya, manjur kata-katanya. Sekali bilang tidak, berarti memang tidak. Akibatnya para penduduk pun selamat dari malapetaka. Karena itu sampai sekarang, masih dapat kautemukan rumah panggung tegak di mana-mana selama belum hilang Melayu di bumi…

Kau menganggapku mengarang-ngarang cerita? Silakan saja. Tapi dengarkanlah dulu ceritaku perihal pohon kelapa.

Kautahu kenapa para penduduk di pesisir suka membakar daun-daun, pelepah dan reranting kering di bawah batang-batang kelapa? Termasuk di kampungku, bahkan saban sore kakekku dulu selalu melakukan. Biasanya dengan sapu lidi dia kumpulkan sampah daun dan ranting yang berserakan di pekarangan rumah kami yang tak jauh dari pantai, juga pelepah kelapa kering atau rumput yang habis ditebas. Lalu dia tumpukkan di bawah beberapa batang kelapa kami sebelum kemudian beliau bakar.

“Kenapa membakar di bawah batang nyiur, Kek?” tanyaku penasaran waktu itu.

“Ya tentu saja biar batangnya subur dan nanti berbuah lebat,” beliau tertawa, “Sesuai yang dianjurkan Cheng Ho. Mau kau mendengar ceritanya?”

Nah, kisah ini ada kaitannya dengan hikayat Sunda Kelapa, bagaimana pelabuhan yang pernah jaya tersebut bernama demikian syahdu. Begini kakekku dulu bercerita: Konon ketika pertama menginjakkan kaki di sana, pelaut besar itu bertanya apa nama tempat yang disinggahi kepada seorang penduduk yang kebetulan sedang memetik kelapa di pantai. Entahlah kebetulan semata atau sudah takdir, telunjuk Cheng Ho yang menunjuk tanah ternyata tepat mengarah pada sebutir kelapa. Karena mengira orang bertanya apa nama buah, penduduk itu pun serta merta menjawab: “Kelapa!” Maka jadilah Sunda Kelapa, yang di kemudian hari kesohor sebagai pelabuhan besar nan hibuk tempat berlabuh kapal-kapal dari penjuru negeri.

Bahkan sampai sekarang orang-orang Tionghoa masih sering menyebut Jakarta sebagai Pa Sang, Pa dari kata kelapa. Atau Jai Sang, yang berarti Bandar Kelapa. Begitulah.

Namun lantaran iri melihat indahnya pantai dengan nyiur hijau melambai-lambai, selanjutnya sang laksamana menganjurkan para penduduk di sana menyalakan api di bawah batang-batang kelapa mereka. Supaya terhindar dari hama dan tanahnya kian subur, demikian alasan orang kebiri itu. Padahal niat di hati sebetulnya agar batang-batang menjulang tinggi itu hangus terbakar.

Toh, lagi-lagi para penduduk dengan lugasnya bertanya, tak matikah pohon kelapa? Ya, kau pastinya sudah tahu apa jawaban Cheng Ho, sehingga tradisi ini kemudian terpelihara dari generasi ke generasi dan tersebar luas ke seantero tempat berkat para pelaut…

Apakah kau percaya jika buah duku dulunya beracun?

(3) MUNGKIN kakekku memang cuma ngelantur karena iseng. Tak pernah kutahu dari mana ia pungut semua kisah liar ini. Apakah karangannya sendiri saat tenggelam dalam lamunan? Atau bualan yang didengarnya dari seseorang di kedai-kedai kopi? Entahlah.

Tapi ambillah sebutir duku, kupaslah kulitnya dan amati baik-baik isinya. Pasti kau mendapatkan sebekas goresan kuku di setiap keping dagingnya yang putih, bukan? Tak perlu kaget, tak perlu bertanya, aku beritahu saja padamu rahasia ini.

Sesungguhnya itulah bekas kuku jempol Sam Po Thai Kam tatkala ia menghasut para penduduk sebuah desa kecil di Jawa Barat makan buah duku yang beracun! Ah, waktu itu -ketika ia bersama serombongan kecil prajuritnya mampir ke desa tersebut dengan maksud membeli damar- memang sedang musim buah. Melihat lebatnya buah-buahan berkulit kuning yang tampak menggiurkan di hutan pinggir desa dan banyaknya buah-buah jatuh yang dibiarkan berserakan di bawah batang, Cheng Ho dengan spontan pun bertanya, “Kenapa tak ada yang memetik buah-buah ini, Kisanak?” Dan dijawab, “Buah ini tak bisa dimakan, Tuan.” Penasaran, ia lalu memetik sebutir duku yang bergelantungan di dahan rendah dan membuka kulitnya. Dia teliti isi buah yang baru kali pertama ditemui itu, ditekan daging buah dengan kuku jempolnya hingga tergores dan berair. Saat itulah, tiba-tiba timbul lagi niat jahat dalam kepalanya.

“Siapa bilang buah ini tak boleh dimakan? Boleh kok!” katanya kepada para penduduk yang mengerumuni.

“Tidakkah beracun, Tuan?” tanya seorang lelaki separuh baya yang tampak bingung di sampingnya, “Apa tidak mati kalau dimakan?”
“Oh, tidak, tidak. Makanlah!” tersenyum diulurkannya daging duku yang terkupas di tangannya kepada penduduk itu.
Mungkin terpukau oleh sosoknya yang berkharisma, mungkin juga suaranya yang lembut, ramah dan berwibawa, tanpa ragu-ragu lagi si penduduk kemudian memakan duku yang diberikan. Dan seketika, lenyaplah racun buah-buahan itu oleh kata-katanya yang bertuah. Ketika dikunyah, ternyata memang begitu manis rasa daging buah itu.

Sejak itulah, kau tahu, duku bukan lagi buah-buahan hutan yang tumbuh liar, tetapi para penduduk beramai-ramai suka menanam pohonnya yang besar dan rimbun di kebun maupun pekarangan rumah.

Sejak itu pulalah, goresan kuku jempol Cheng Ho tertinggal di dagingnya yang putih, membekas untuk selamanya. Kau suka buah duku? Beruntunglah! Ah, masih ada beberapa kisah semacam ini yang kudengar dari kakekku pada masa kanakkanak. Tapi akan kuceritakan satu lagi untukmu. Kali ini tentang buah durian.

Kau gemar makan durian juga kan? Aku suka. Apalagi kalau dagingnya berwarna kuning dan tebal-tebal. Harum dan lezat sekali.

Enak pula jika dibuat ketan durian. Pada musim buah, belum lagi bila harganya murah, setiap hari bisa lima durian besar aku habiskan sendirian. Jika orang lain tak berani makan terlalu banyak karena takut panas dalam, aku tidak. Aku punya cara mujarab menawar panas dalamnya. Waktu kecil, setiap paman dan bibiku membawa banyak durian hasil kebunnya di dusun, ibuku selalu menyuruhku minum air yang ditampung pada kulit durian sehabis kami ludes menyikat oleh-oleh itu.

“Sam Po Thai Kam-lah yang telah mengajari orang-orang di sini,” tukas ibuku. Semua orang di kampung halamanku juga melakukan hal yang sama, turun-temurun.

“Lalu apa yang salah dengan itu? Bukankah ia telah menularkan pengetahuannya yang baik tentang durian pada penduduk?” gugatmu.

Ya, tentunya kau benar jika saja memang demikian adanya. Tapi pada Ramadan bertarikh 1407 Masehi itu tatkala singgah di pantai Tanjung Ketapang, Bau Bo Li 3), Cheng Ho sama sekali tidak bermaksud mengajari penduduk di ujung selatan Pulau Bangka cara makan durian yang masih dipraktikkan hingga kini tersebut. Saat berbuka puasa di bukit yang kelak akan disebut Liu Lian Liang atau Bukit Durian, ia justru berniat mempermainkan orang-orang kampung yang lugu.

Karena tahu, kulit durian sebetulnya malah lebih panas daripada isi buah berduri itu. Kau kaget lagi? Begitu pula halnya diriku waktu kecil saat mendengar cerita kakekku ini.

Namun seperti yang sudah bisa kau duga, orang-orang pribumi selalu saja dengan polosnya bertanya: “Buat apa minum air kulit durian, Laksamana?”
Tak pelak dengan santai, Cheng Ho pun menjawab bahwa kulit durian berkhasiat menghilangkan panas dalam. Jawabannya itulah, kata kakekku, yang sebenarnya menjadi obat mujarab untuk mengatasi panas dalam.

Berkat mulutnya yang bertuahlah, kulit durian pun akhirnya benar-benar menjadi penawar manjur seperti yang ia katakan. Ya, sampai sekarang, Kawan.

(4) AI, tentu saja aku berharap kisah-kisah liar ini tidaklah mengurangi kekagumanmu pada pelaut suku Hui itu. Sebagaimana tak sedikit pun, riwayat yang sulit ditelusuri sanad-nya ini bakal mengubah rasa hormatku padanya. Demikian halnya orang-orang Tionghoa di Gedong Batu ini —terutama mereka yang masih keturunan Wang Jinghong alias Kiai Jurumudi Dampo Awang— tak sedikit pun meragukan kepahlawanan sang laksamana dan begitu setia memuja patungnya yang keramat di kelenteng Sam Po Kong.

Semua catatan sejarah yang kaubeberkan kembali itu tidaklah pernah aku ragukan, Kawan. Sama sekali tidak. Selain nakhoda yang baik, barangkali ia memang seorang muslim yang tak pernah melalaikan kemakmuran masjid sebagaimana katamu.

Ingatlah, bagaimana pada 1413 ia memugar Masjid Qinging di timur laut Kabupaten Zian, juga Masjid San San di Nanjing yang rusak karena terbakar pada 1430. Tak segan pula ia menyampaikan khotbah Jumat tatkala berlabuh di Surabaya. Tapi adakah ia memang semulia yang digambarkan sejarah? Tentu kau mafhum kalau pelaut besar itu tak sekudus Nabi bukan? Aku tahu kau memikirkan hal ini, meskipun tetap tak bakal berkenan menerima ceritaku yang mirip dongeng. Akh…

Jadi, lupakanlah!

Catatan:

1) Nanyang: Samudera Selatan, Nusantara.
2) Samo Lung: Semarang
3) Bau Bo Li: Toboali, sekarang ibukota kabupaten Bangka Selatan. Berasal dari kata Tobo = tebu, kepunyaan Ali. Kota penghasil nanas dan terasi.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan