Langsung ke konten utama

Luka Pak Pram

Wawan Eko Yulianto
http://www.suarapembaruan.com/

Kami memanggilnya, Pak Pram. Orang tua yang punya banyak koleksi luka. Dia tak pernah ragu menceritakan asal-usul dan detail luka-lukanya. Ukuran, bentuk, dan warna luka-luka itu sangat beragam. Ada yang selebar telur, ada yang memanjang sepanjang rokok, ada yang tipis seperti sapu lidi.

Ia pandai bercerita. Cerita apa saja yang entah mengapa selalu ditingkahi Pak Pram dengan menunjukkan lukanya. Meskipun ceritanya tentang Malin Kundang, ia bisa membumbuinya dengan menunjukkan lukanya. Kalau sudah begitu, temanku Misdi adalah orang yang paling takjub.

"Kalian tahu bagaimana Sinbad ditawan dan dipaksa memberitahu di mana ia simpan harta karun temuannya?" kata Pak Pram mengawali cerita.

"Dia dipaksa mengaku dengan disundut rokok di dadanya. Seperti inilah jadinya. Ya, persis seperti inilah hasilnya setelah Sinbad disiksa. Waktu itu Sinbad berlayar bersama...." Begitulah Pak Pram bercerita.

Pada banyak cerita lain dia juga menggunakan cara serupa. Dengan begitu, kami para penggemar ceritanya dibuat melongo. Kami benar-benar yakin dunia dalam cerita itu ada. Karena itu kami selalu menunggu cerita-ceritanya.

*

Terakhir kali aku mendengar cerita Pak Pram sekitar sepuluh tahun lalu. Kala itu aku baru lulus SMP. "Pak Pram mau cerita. Ayo!" Misdi berteriak mengajakku. Aku berlari mengikuti Misdi. Aku dan Misdi berlari kecil menerjang jalanan kampung yang berdebu dan panas. Aku tak bersandal. Tak apalah. Jalan di kampung kami adalah jalan yang tertutup pasir-batu. Di beberapa tempat ada batu yang meringis dan siap menggigit kakiku kapan saja. Tapi hal itu tak menyurutkan niatku berlari kecil ke pos siskamling.

Sesampai di sana, sudah ada sekitar delapan anak lain, teman-teman sebayaku. Di dalam pos dari bambu itu, ada Pak Pram. Beliau tampak tua. Memang, sejak aku kenal beliau beberapa tahun sebelumnya, beliau sudah tampak tua. Pak Pram duduk bersandar di dinding pos tepat di bawah papan penunjuk notasi kentongan.

Ada tiga teman duduk di samping Pak Pram. Yang lainnya di luar pos siskamling yang sempit itu. Ada yang duduk di bibir pos dan ada pula yang berdiri di depan. Karena tak kebagian tempat, aku berdiri tepat di bawah kentongan.

Kali itu, Pak Pram bercerita tentang Baratayuda. Anak-anak sebayaku waktu itu jarang ada yang suka wayang kulit kendati kami tinggal di desa. Di antara teman-temanku, paling-paling cuma Wawan yang pernah nonton wayang kulit sampai semalam suntuk. Itu pun ia tak tahu jelas isi ceritanya. Tapi itu lebih baik daripada teman-teman lainnya yang paling-paling cuma sekadar mendengar kisah pewayangan dari bapak atau paman. Tapi, karena kali ini yang bercerita Pak Pram, kami sudah siap terpukau oleh kisah wayang itu.

Pak Pram mulai bercerita. Tentu- nya, cerita itu didukung gambaran nyata berupa bekas-bekas luka. Di tengah-tengah kisah Baratayuda, Pak Pram membalik badan dan membuka bajunya. Dia tunjukkan luka-luka tipis memanjang seperti sapu lidi di punggungnya. Banyak sekali bekas-bekas memanjang itu. Itu jenis luka yang baru pertama kali kami lihat.

"Saat panah Srikandi menghajar Bisma, Bisma langsung sekarat. Saat itu, dia meminta kepada para Kurawa agar diberikan alas tidur untuk menjemput ajal. Dia minta tumpukan panah dan pedang para prajurit. Bukannya nyaman, dia malah mendapatkan luka-luka baru karena mata pedang-pedang dan anak panah itu. Tapi, dia malah puas dengan itu karena dia adalah ksatria sejati. Pantang bagi ksatria menikmati ajal sambil bersantai di kursi atau kasur yang nyaman."

Misdi melongo, tak bisa lagi mengatupkan mulut. Aku pun takjub dan larut ke dalam kisah perang akbar yang terjadi di padang Kurusetra itu. Aku bisa rasakan panasnya padang gersang Kurusetra yang mungkin tak terlalu berbeda dengan panasnya kampungku. Aku juga bisa bayangkan kuda-kuda berderap menarik keretanya dan menghamburkan debu. Dan terutama aku bisa membayangkan luka-luka perang demi melihat luka-luka Pak Pram.

Sungguh, inilah dia orang yang paling dahsyat menghidupkan cerita.

Cerita itu berlangsung selama dua jam. "Sudah sore. Insya Allah, besok jika aku masih di kampung ini, aku akan ceritakan kisah lain." Pak Pram mulai mengancingkan bajunya, menyimpan kembali luka-lukanya.

Kami pun bertanya-tanya, cerita apa lagi yang akan dikisahkan dan luka mana lagi yang akan ia tunjukkan.

Ketika akan bubar, kebetulan sekali ada penjual es sirup lewat. Misdi segera merogoh saku dan mendapati uang seratus rupiah. "Sebentar Pak Pram, minum dulu."

"Lho, tak usah repot-repot, Mis."

"Tidak repot kok, Pak," kata Misdi sambil menyorongkan es sirup yang dibelinya. Isinya cuma air putih dan sirup manis warna merah.

Pak Pram dengan malu-malu mengambil gelas itu dan menenggak isinya. Kami semua memperhatikan buah jakunnya naik turun. Ada bekas luka melintang di lehernya. Cerita apa yang bisa dikisahkan dengan bekas luka di leher itu?

*

Pak Pram masih tiga hari di kampung kami. Aku tidak tahu pasti dari mana asal Pak Pram. Di Kampung ini, ia hanya tinggal untuk mengunjungi putranya, Awang, seorang penjahit. Jahitan Awang terkenal sangat bagus tapi anehnya tidak laris.

Pak Pram biasa datang ke kampung kami dua bulan sekali. Setiap kali beliau pulang itulah kami mendapatkan cerita.

Belakangan aku sedikit tahu mengenai siapa Pak Pram dari bapak. Bapakku yang waktu itu adalah seorang ketua RT. Setiap kali Pak Pram datang menginap di kampung kami, Awang selalu minta izin ke bapak.

"Namanya bukan Pram, nama aslinya Wagimin, orang Ngawi," kata bapakku.

Bapak bercerita bahwa Pak Pram-ku atau Pak Wagimin adalah bekas tawanan politik yang pernah dibuang ke Pulau Buru. Di sanalah dia mendapatkan luka-luka yang membuat takjub anak-anak yang mendengarkan ceritanya. Baru lima tahun yang sebelumnya dia dipulangkan dari Pulau Buru.

Karena bekas tahanan politik itulah maka nasib usaha Awang, kata bapakku, tak begitu laris. "Nama Pram itu ia peroleh dari seorang temannya di Pulau Buru," kata bapakku.

Aku semakin penasaran ingin mengetahui Pak Pram lebih jauh. Aku berencana menanyakan banyak hal kepada Pak Pram pada keesokan harinya.

Sayang, aku tak lagi bisa bertemu Pak Pram. Keesokan harinya aku sudah harus pergi ke ibu kota kabupaten untuk mengurus masuk SMA Negeri yang paling baik. Aku tinggal di rumah pamanku. Begitulah seterusnya hingga lulus SMA aku tak pernah lagi bertemu juru cerita itu. Selanjutnya, aku kuliah di Malang dan pulang sebulan sekali. Aku semakin tak berkesempatan mendengar cerita Pak Pram. Saat kuliah aku mengenal nama Pramoedya Ananta Toer. Inikah nama yang dipakai Pak Pram?

*

Kini Pak Pram sudah menetap di kampung kami. Dia tinggal bersama penjahit Awang. Penjahit Awang pun sudah semakin ramai. Sayang, Pak Pram kini sudah tak kuat lagi bercerita.

Lebaran tahun lalu, aku dan Misdi mengunjungi Pak Pram. Kami memancing-mancing beliau untuk bercerita. Tetapi segalanya sudah semakin sukar. Mendengar kami saja beliau kesulitan, apalagi bercerita dengan runtut dan jelas.

Setahuku, Lebaran itu Misdi menunjukkan ketertarikannya yang semakin besar untuk bisa bercerita. Dia berseloroh, "Sayang sekali aku tidak punya luka untuk dipamerkan."

"Hus, pamali, nanti kualat," kataku. Misdi kemudian tertawa sambil mengelus jenggotnya yang ia biarkan lebat.

*

Hari Senin kemarin Pak Pram mengadakan syukuran, selamatan. Usianya sudah 80 tahun. Aku menyempatkan diri menghadiri selamatan itu setelah mendapat telepon dari bapak sehari sebelumnya. Aku berharap bertemu Misdi. Tapi sayang dia tak datang. Kabar burung menyebutkan Misdi terlibat jaringan teroris. Ada juga yang bilang ia sudah ditangkap dan dipaksa untuk mengaku. Jika benar begitu, mungkin inilah saatnya Misdi mendapatkan luka-lukanya untuk membantu bercerita. Masya Allah. Aku hanya berdoa, semoga semua orang mendapatkan yang terbaik, kalau perlu tanpa ada luka.***

bengkel imajiNASI, 2006
Diambil dari: http://www.sriti.com/story_view.php?key=2126

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan