Langsung ke konten utama

Maiyah, Cak Nun dan Perjalanannya

Suharsono *
http://forumsastrajombang.blogspot.com/

Maiyah adalah sebuah pergumulan orang-orang yang datang dari berbagai elemen dan organisasi yang berbeda-beda namun mempunyai tujuan sama, yaitu mencari ridho Alloh. Dalam Jama’ah Maiyah tidak ada pemimpin dan anggota. Siapa pun diperbolehkan memandu acara, bertadarrus, memimpin wirid, sholawat dll tidak harus orang yang bersuara bagus (merdu) seperti Zainul ataupun mBak Nia, melainkan yang ihlas berma’iyah. Dalam jamaah ini juga tidak ada skat khusus antara pria-wanita, tua-muda, kaya-miskin, pejabat-rakyat. Yang diutamakan disini ialah saling percaya, saling menjaga kehormatan diri dihadapan Tuhan dan manusia. Itulah indahnya bermaiyah. Semua permasalahan hidup dibahas disini. Semua jamaah yang hadir dapat memberikan testimoni atau pendapat dalam rangka merespon tafsir yang dijelaskan Cak Fuad maupun tafsir yang dijelaskan Cak Nun. Inilah beda acara Maiyah dengan acara lain. Kita bisa mengerti kandungan Alquran baik secara teks dan konteksnya. Dalam acara ini juga bebas bertanya dan berdoa, baik untuk famili yang sakit ataupun untuk diri sendiri.

Pergaulan Cak Nun dengan berbagai elemen masyarakat, mempengaruhi pola berfikir dan cara memandang kehidupan social, polotik, ekonomi, budaya ataupun agama. Pengalaman Cak Nun jajah deso melankori menjelajahi nusantara dan berbagai belahan dunia membuar Cak Nun syarat dan kaya akan pengalaman. Semua permasalahan kehidupan, baik dari yang besar sampai yang kecil, dionceki Cak Nun secara detail. Bertapa hal yang menurut kita remeh dan sepele, ternyata ditangan Cak Nun dioalh menjadi bahan menarik untuk dikaji. Cak Nun juga tak segan belajar dari wong cilik, seniman, yang menurut pandangan modern dianggap ketinggalan jaman. Teapi tidak bagi Caj Nun. Sebut saja kata kata semisal: benere dewe, benere wong akeh, lan bener kang sejati, Cak Nun belajar dari seorang pemain ludruk. Khususnya pelawaknya yang mamapu menjungkirbalikkan keadaan yang membuat fikiran fress dengan joke-joke segarnya.

Dalam ranah budaya, Cak Nun dan Kyai Kanjengnya telahmenorehkan sejarah da tinta emas dalam perkembangan musik Sholawat di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan tampilnya musik Kyai Kanjeng di berbagai acara tanah air dan manca negara. Kyai Kanjeng juga mampu mendorong dan menginspirasi munculnya group musik sholawat baru di Indonesia yang tumbuh subur bagai jamur di musim hujan. Apalagi berbagai aliran musik dapat dipadukan dalam Kyai Kanjeng. Sehingga menjadikan musik ini bisa diterima oleh kelompok musik manapun. Kyai kanjeng yang berangkat dari tidak diperhitungkan, kini mulai diperhitungkan, kenapa demikian? Jawabya sederhana, karena berangkat dari ketulusan cinta kepada Rosululloh. Tidak hanya itu, Kyai Kanjeng juga tergolong musik yang disegani. Terbukti betapa banyak personel Kyai Kanjeng yang diundang tampil diberbagai negara-negara di dunia, termasuk Mesir: sebuah negri Piramida, Fir aun, dan Musa zaman dulu. Dan di sana, Kyai Kanjeng menjadi tamu kehormatan.

Hal yang sam juga terjadi di Roma dan Vatikan. Pendeta Paus Pulus meng-elu-elukan Cak Nun dan memberinya gelar Sang Maestro Musik Indonesia. Cak Nun tidak menyangka kalau Kyai Kanjeng akan mendapat apreseas dari masyarakat eropa. Namun walau begitu Cak Nun tidak gila kehormatan, tidak gila jabatan. Cak Nun juga tidak berkecil hati walau di dalam negeri sendiri tidak ada media massa baik cetak ataupun elektronik yang memberitakannya. Itu semua tidak penting. Karena yang utama bagi Cak Nun ialah cinta Alooh dan Rasulnya.

Dalam bidang politik, Cak Nun juga berusaha melakukan pencerahan terhadap bangsa ini. Zaman orde baru, disaat orang tidak berani ngomong terbuka dalam menyampaikan kebenaran dan kecurangan, Cak Nun tampil sebagai sosok kontroversial. Cak Nun ngomong lantang dan tanpa rasa takut. Padahal waktu itu siapa pun bisa dicekal. Ketika itu parta masih PPP, PDI, Golkar. PPP dan PDI yang waktu itu menjadi partai gurem. Walau demikian Cak Nun tak segan mendukung partai kecil. meskipun kadang dianggap bunglon. Sesungguhnya Cak Nun hanya menunjukkan bahwa membangun bangsa, bingkainya adalah persatuan dan kesatuan. Dan tidak dengan terkotak-kotak. Dan tak ada niat sedikit pun bagi Cak Nun untuk menjadikan jama’ahnya sebagai tunggangan / kendaraan politik bagi kepentingan pribadinya.

Dalam bidang ekonomi, Cak Nun sering mangatakan bahwa orang Indonesia adalah orang yang tahan banting, ulet serta pinter ubet. Dalam kondisi krisis pun, orang Indonesia masih sempat cengengesan dan nongkrong di warung. Dalam hal makanan pun Indonesia juga diakui sebagai pakar kuliner. Dari bahan sepele seperti kaspe, ketela, bisa tercipta aneka jenis makanan macam-macam. Dan jenis makanan apapun mudah dijumpai di Indonesia. Membludak. Tidak seperti di luar negeri, yang segala sesuatu sulit dicari.

Bidang tenaga kerja pun, menurut Cak Nun orang Indonesia memiliki etos kerja yang tinggi. Dedikasi ini terbukti dengan banyaknya TKI yang rela menjadi pekerja yang paling rendah namun paling ramah di negeri orang. Walau banyak terjadi kisah tragis dan pilu TKI yang disiksa majikannya, namun tetap tak menyurtkan semangat pekerja Indonesia untuk ke luar negeri.

Cak Nun optimis, bahwa Indinesia akan tampil mercusuar memimpin dunia. Kekayaan alam dan jumlah muslim terbesar dunia serta keanekaragaman budaya adalah modal yang menjadi indikasinya. Dengan satu syarat! Pemimpin negeri ini punya kapasitas mengelola dan memenejementnya. Dalam berbagai hal, berbagai forum acara, Cak Nun selalu menyuarakan optimismenya tentang Indonesia. Cak Nun tidak ingin bangsa ini terseok-seok lagi seperti dulu. Dalam satu kesempatan Cak Nun pernah mengatakan agar kita berguru pada Sukarno yang terkenal dengan Jasmerahnya, berguru pada Suharto sang Bapak Pembangunan yang walaupun diturunkan mahasiswa, namun hingga kini belum bisa mewujutkan buah reformasinya.

Bangsa dan rakyat Indonesia memang terus dikoyak-koyak oleh pemimpinnya sendiri dan Barat yang tak suka dengan kemajuan Indonesia. Akankah jita berdiamdiri? Cak Nun menyarankan agar kita mengawali kebangkitan Indonesia dengan cara berbuat baik kepada diri sendiri, keluarga, bangsa dan Negara. Barulah Indonesia akan maju.

*) Suharsono. JM tinggal di Kendalsari Sumobito. Bekerja di Kimia Farma.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…