Sajak-Sajak Akhmad Muhaimin Azzet

http://www.infoanda.com/Republika
DI LERENG MERAPI

asap tebal yang membumbung itu
mengarah ke utara
sementara aku menatap selatan

guguran lava itu menggetarkan jiwa
tetapi aku hanya terpaku
dalam pesona awan bergumpalan

zet, sudah saatnya mengungsi
ke mana engkau menyelamatkan diri
namun kaki ini kaku, jiwa pun kelu

2006



SELALU ADA JEJAK

bahkan aku tak pernah mencatat
bekas air atas batu-batu dan ganggang
apalagi belaian angin pada dedaunan
hingga gemerisik dalam kemesraan

padahal selalu ada jejak
tak sekadar tanda
yang akan menjadi saksi
saat berjumpa

bahkan aku hanya bisa diam
saat kesunyian kian larut pada malam
menumpahkan segala gerak pesona
tanpa suara, tanpa kata-kata

2006



MEMILIH KEMBALI

kemacetan demi kemacetan telah merangsek

dalam hari-hariku, lihatlah, betapa luka
telah tumpah di seruang dada
bau anyirnya mengaliri jasad yang gelora
meninggalkan polusi dunia

di manakah rayuan yang dulu kau nyanyikan
nyatanya mengembarai waktu
hanyalah kota yang kian berdesakan
wajah kepalsuan

dalam geremang malam yang kegerahan
aku memilih kembali, meski tawaran
semakin menggiurkan

2006



DI UJUNG SEBUAH JALAN

wajah siapakah yang muncul bergantian
di ujung sebuah jalan, memberikan hiburan
kepada jiwa yang sempoyongan
seharian bersitegang dengan pilihan

sesekali aku menjelma magma
yang bergemuruh dalam setiap percakapan
sebab selalu ada yang berbenturan
perihal kepentingan

di ujung sebuah jalan saatnya ditentukan
siapa kalah siapa menang

2006

Akhmad Muhaimin Azzet lahir di Banjardowo, Jombang, 2 Februari 1973. Alumnus Fakultas Tarbiyah IAIN (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini banyak menulis puisi, cerpen dan esei. Karya-karyanya dimuat di media cetak daerah dan nasional. Beberapa puisinya terangkum dalam antologi puisi Tamansari (FKY, 1998), Embun Tajalli Singapura (FKY, 2000), Lirik Lereng Merapi (Aksara Indonesia dan Dewan Kesenian Sleman, 2001), Filantropi (Aksara Indonesia dan FKY, 2001), Malam Bulan (Laba-laba dan Masyarakat Sastra Jakarta, 2002), dan Sajadah Kata (Syaamil, Bandung, 2002). Tinggal di Yogyakarta.

Komentar