Langsung ke konten utama

Ruang Batin yang Tumbuh dari Mata

Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

Malam ini –setelah purwokerto diguyur hujan deras, dingin dan saya ditemani kopi serta lagu Clapton yang bertajuk Pilgrim— aku benar-benar menikmati membaca puisi Hanna Fransisca yang bertajuk “Tumbuh dari Matanya”. Bait pertama puisi itu, diawali baris-baris yang berkata begini:

Perempuan di kaca mobil,
membuka jalan
hujan memanjang
hitam.

Baris-baris itu dibangun dari latar-latar material “kaca mobil, jalan, hujan yang memanjang”. Kaca mobil sebagai latar material berasosiasi dengan latar material lainnya yaitu jalan, dimana dua material ini berpusat pada penglihatan aku lirik yaitu perempuan. Suasana yang ditimbulkan dari dua latar material ini semula terkesan biasa saja, tetapi lalu menggetarkan ketika baris terusannya berkata: “hujan memanjang/ hitam”.

Hitam adalah warna yang pekat, dan semakin bertambah pekat dengan adanya bait kedua yang ternyata mengkisahkan suasana ruang batin khas dalam posisi “sunyi dan asing” dan makin menggenaskan sebab diakhiri dengan citarasa yang pahit yaitu “empedu”.

Ia menjadi simpanan
sunyi,
asing,
dan yang empedu.

Lalu, dari kepekatan yang ruang batin yang pahit itu, ternyata aku lirik mendedahkan suara batin yang bagiku cukup mengagetkan:

Andai tumbuh sayap
di punggungnya, izinkan ia
menjadi tuhan

Ruang batin yang terasa sebagai suara privatif, yang berusul dari semacam peristiwa kepahitan “jarak dan hujan yang tumbuh dari mata” yang pada ujungnya ternyata tak berbuah pelapukan. Malah sebaliknya, diolah menjadi oasis nurani dimana aku lirik ingin belajar membaca peristiwa yang dialaminya.

Ia ingin belajar
membaca, pada apa yang tertinggal
sebagai jarak, yang menjadikannya
hujan selalu tumbuh
dari matanya.

Sebagai pembaca, keinginan untuk belajar itulah yang aku kira menjadikan daya puisi seperti datang dari ruang batin yang menjadi merdeka. Dan disinilah aku berpendapat puncak estetika puisi berada, dimana puisi ditulis untuk optimisme yang perlu untuk senantiasa dijaga oleh manusia, masa lalu dipantulkan sebagai pelajaran berharga untuk difungsikan merangkai keesokan untuk menjadi kemungkinan kebahagiaan.

Tumbuh dari Matanya
Hanna Fransisca
Untuk semua sahabat

Perempuan di kaca mobil,
membuka jalan
hujan memanjang
hitam.

Ia menjadi simpanan
sunyi,
asing,
dan yang empedu.

Andai tumbuh sayap
di punggungnya, izinkan ia
menjadi tuhan.

Ia ingin belajar
membaca, pada apa yang tertinggal
sebagai jarak, yang menjadikannya
hujan selalu tumbuh
dari matanya.

Senja hari dalam perjalanan menuju Jakarta, 25 Agustus 2010

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan