Langsung ke konten utama

Peranakan Arab dan Dunia Perbukuan

Djoko Pitono*
http://www.jawapos.com/

Mantan Menteri Luar Negeri Ali Alatas wafat belum lama ini. Hampir semua media nasional menempatkan berita itu di halaman utama. Berbagai tulisan obituari menyanjung almarhum sebagai sosok abdi negara yang luar biasa. Sebagai diplomat, Ali Alatas sangat piawai. Penampilannya santun dan rendah hati. Tidak pernah menonjolkan diri. Nyaris seluruh hidupnya untuk bangsa dan negara ini.

Sebelum itu, tiga pekan lalu, sebuah acara bertajuk Festival Kampoeng Ampel digelar di Balai Pemuda Surabaya. Selain penampilan karya seni, juga ada diskusi dan bedah buku tentang orang-orang Arab dari Hadramaut, Kebangkitan Hadrami di Indonesia karya Natalie Mobini Kesheh. Nama Ali Alatas tentu disebut-sebut karena ketokohannya yang menjulang tinggi.

Tetapi, berbicara tentang orang-orang peranakan Arab, tak urung akan menimbulkan keheranan. Orang akan heran karena banyak tokoh hebat peranakan Arab seperti Ali Alatas, tetapi susah mendapatkan buku tentang kehidupan kelompok etnis tersebut. Kita tahu tentang Anies Baswedan PhD, intelektual muda yang kini menjabat rektor Universitas Paramadina. Seperti juga bintang musik rock Achmad Albar, bintang sinetron Shireen Sungkar, Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad, promotor balap mobil Helmy Sungkar, tokoh HAM Munir, mantan Menkeu Fuad Bawazier, almarhum Mendikbud Fuad Hassan, mantan Menkeu Mar’ie Muhammad, dan sebagainya.

Saya memang heran, karena sulit sekali saya menemukan buku-buku tentang peranakan Arab di Indonesia. Kalau ada, tentu membicarakan masa lalu. Nyaris tidak ada yang berbicara masa kini. Bandingkan dengan buku-buku yang membahas orang-orang Tionghoa. Amat banyak ditemukan di toko buku. Padahal, sekarang jumlah doktor dan profesor keturunan Arab juga banyak. Padahal juga, saat ini tokoh keturunan Arab yang bergerak di dunia perbukuan dan media juga tidak sedikit. Kita mengenal nama Nono Anwar Makarim PhD, tokoh pers mahasiswa 1960-an yang kini jadi ahli hukum dan juga promotor perbukuan. Di Surabaya, ada Adi Amar yang memimpin Penerbit Buku Risalah Gusti. Sedangkan di Bandung ada Haidar Bagir PhD, bos penerbit Mizan, yang baru terpilih sebagai The Best CEO 2008 versi Majalah Swa.

Lebih dari itu, orang-orang keturunan Arab ternyata adalah pionir dunia penerbitan di negeri ini. Sebuah artikel yang ditulis Nico Kaptein, ilmuwan Belanda, pada 1993, menunjukkan hal itu. Dalam tulisan berjudul An Arab Printer in Surabaya in 1853, disebutkan bahwa penulis mendapati sebuah buku berbahasa Arab campur bahasa Melayu di Perpustakaan Universitas Leiden terbitan Surabaya. Buku berjudul Sharaf al-anam itu diselesaikan di Kampung Baru, Surabaya, di tepi Kali Mas pada 15 Ramadan tahun 1269 Hijriyah. Penerbitnya, Husayn ibn Muhammad al-Husayn al-Habshi. Sebuah artikel yang menarik, karena juga membicarakan mesin cetak yang saat itu sangat sulit dimiliki orang di luar orang Belanda. Sayangnya, Nico Kaptein tidak bisa memperoleh informasi bagaimana kelanjutan penerbitan tersebut. Bangkrut ataukah disita oleh pemerintah kolonial Belanda.

Kisah orang-orang peranakan Arab jelas sangat menarik. Saya membayangkan setelah ini akan terbit buku-buku yang membicarakan kelompok etnis ini. Tentang generasi masa kininya, bukan masa lalu. Selama ini memang hanya buku-buku ”masa lalu” yang ada. Itu pun sudah sulit ditemukan, kecuali di perpustakaan tertentu. Misalnya, buku Hadramaut Dan Koloni Arab di Nusantara karya L.W.C. van den Berg. Buku ini terbit pertama kali dalam bahasa Belanda pada 1886. Buku ini memang bagus. Tetapi, ya itu tadi, berbicara masa lalu, karena memang sudah lama ditulis.

Dari buku van den Berg kita tahu bagaimana kerasnya perjuangan para lelaki Hadramaut untuk bisa datang ke Indonesia. Dari kota-kota pedalaman di Hadramaut, mereka harus berjalan kaki ratusan kilometer ke kota kawasan pantai (pelabuhan), sebelum akhirnya naik kapal berbulan-bulan lamanya hingga tiba di Indonesia.

Meskipun ada orang-orang Arab Yaman yang datang jauh hari sebelumnya, gelombang besar imigran Arab diperkirakan tiba di negeri ini setelah abad ke-17. Mereka tinggal di kantong-kantong pemukiman kota-kota pantai Jawa seperti Batavia (Jakarta), Cirebon, Pekalongan, Tegal, Semarang, Gresik, Surabaya, Bangil, dan sebagainya. Di antara mereka juga tinggal di kota pedalaman seperti Solo dan Jogjakarta. Sebagian kecil dari mereka bahkan sampai ke Maluku Utara seperti Ternate, Tidore, dan juga ke NTT dan Timor Leste (dulu Timor Timur). Mereka datang tanpa istri, kemudian kawin dengan perempuan setempat hingga peranak-pinak.

Saya membayangkan, para penulis akan mengabadikan beragam kisah yang menarik tentang orang-orang peranakan Arab masa kini itu. Bagaimana kaum mudanya? Apa kekhasan kehidupan mereka? Apa yang membedakan mereka dengan generasi sebelumnya?

Orang-orang Arab di masa lalu memang dikenal sangat rajin dan ulet bekerja. Mereka dilukiskan sebagai orang-orang yang hemat dalam mengumpulkan uang hasil dagangnya, dan setelah cukup banyak mereka belikan tanah atau rumah. Rumah yang mereka beli kemudian mereka sewakan, uangnya ditabung dan setelah terkumpul mereka belikan rumah lainnya. Begitu seterusnya.

Bukan sesuatu yang aneh bila seorang keturunan Arab memiliki 10 hingga 20 rumah dan gedung bangunan kantor. Namun, anak cucu mereka dewasa ini tidak mempunyai ketekunan dan keuletan seperti itu. Setelah orang tua dan kakeknya meninggal, mereka menjual begitu saja harta warisan keluarga.

Di masa lalu, banyak rumah dan bangunan megah di banyak jalan protokol di Surabaya dan Jakarta adalah milik orang-orang keturunan Arab. Namun sekarang, bangunan-bangunan itu telah berganti pemilik.

Fakta-fakta seperti itulah baru sebagian topik yang layak ditulis sebagai buku. Kita tunggu. (*)

*) Jurnalis dan editor buku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…