Langsung ke konten utama

“Pembisik” Republika

Pamusuk Eneste
http://www.kr.co.id/

BAGI PENULIS cerpen di Tanah Air, boleh dikatakan tak ada masalah dengan media cetak tempat memuatkan cerpen. Hampir setiap koran memuat cerpen pada edisi Minggunya. Koran-koran Jakarta yang memuat cerpen, antara lain, Kompas, Suara Pembaruan, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia, Sinar Harapan, bahkan Warta Kota. Di luar Jakarta pun masih ada Pikiran Rakyat (Bandung), Suara Merdeka (Semarang), Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi (Yogyakarta), Bali Post (Denpasar), untuk menyebut beberapa nama media cetak. Jadi, begitu banyak pilihan! Persoalan tinggal pada si cerpenis: layak muat atau tidak karyanya. Tentu setiap media cetak memiliki kriteria tersendiri dalam menyeleksi cerpen yang masuk.

Mengenai cerpen di koran-koran ini, tak perlu lagi diragukan fungsi dan kehadirannya. Sudah sejak 1956 Jassin mencatat, “Kesusasteraan dalam majalah dan suratkabar tak dapat tidak harus dimasukkan dalam usaha penyelidikan sejarah kesusasteraan Indonesia modern, suatu pekerjaan yang belum lagi mendapat penyelidik yang khusus ditugaskan untuk itu” (Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei IV, 1985, hlm 125-126).

***

SEJAK 1992, harian Kompas menerbitkan buku kumpulan cerpen. Cerpen yang dimuat di harian itu setiap minggu dipilih sekitar 15-17 cerpen per tahun dan itu masih berlangsung hingga sekarang.

Harian Bernas di Yogyakarta pun pernah menerbitkan kumpulan cerpen, yakni Lukisan Matahari (1992), Guru Tarno (1994), dan Candramawa (1995). Sayang, kebiasaan itu tidak berlanjut hingga sekarang.

Harian Surabaya Post di Surabaya pun pernah menerbitkan kumpulan cerpen, yakni Limau Walikota (1993). Sayang, ini juga tidak rutin; paling tidak, tidak serutin kumpulan cerpen Kompas.

Kini harian Republika juga menerbitkan kumpulan cerpen berjudul Pembisik. “Sebanyak 27 cerpen yang terkumpul dalam buku ini adalah ‘segenggam mutiara’ yang terpilih dari sekitar 500 cerpen yang telah dimuat pada rubrik sastra Republika dalam rentang waktu hampir 10 tahun. Sejak terbit pada 4 Januari 1993, tiap Minggu rubrik ini memuat satu cerpen,” tulis Ahmadun Yosi Herfanda, sebagai penyunting buku (hlm i). Sayang memang, penyunting tidak menyebutkan kriteria pemilihan ke 27 cerpen dan siapa para pemilihnya.

***

KE-27 CERPEN yang dimuat dalam Pembisik (235 halaman) ini berasal dari cerpenis “papan atas” dan cerpenis yang sedang “naik daun” (meminjam istilah penyunting). Oleh karena itu, dalam buku ini kita temukan sekaligus cerpen Umar Kayam (“Mbok Jah”), Putu Wijaya (“Kemerdekaan”), Danarto (“Sawitri”), Kuntowijoyo (“Pada Hari Kematian Seekor Kerbau”), Wisran Hadi (“Pembidik”), Nh Dini (“Meiling”), Bakdi Soemanto (“Impian di Tengah Musim”), Hamsad Rangkuti (“Malam Seribu Bulan”), Seno Gumira Ajidarma (“Taksi Bloes”), dll., bersanding dengan cerpen Gus tf Sakai (“Beras”), Joni Ariadinata (“Purdah”), Hudan Hidayat (“Saat yang Indah untuk Mati”), Agus Noor (“Tak Ada Mawar di Jalan Raya”), Oka Rusmini (“Telaga”), Dorothea Rosa Herliany (“Sepotong Bulan Luka”), Abidah el Khalieqy (“Percintaan Bulbul”), dll.

Ini tentu gejala yang menarik karena penyunting (atau pemilih cerpen?) tidak membedakan penulis senior dan penulis yunior. Sebaliknya, penyunting (atau pemilih cerpen?) memberi peluang yang sama bagi para penulis cerpen: terlepas dari apakah cerpenis itu sudah mapan atau masih pemula. Di pihak lain, para pembaca pun bisa membandingkan karya cerpenis “papan atas” dan karya cerpenis yang sedang “naik daun”. Terserah pada pembaca untuk memberi penilaian!

***

CERPEN “Pembisik” karya Wisran Hadi (hlm 215-223) memang menarik. Mungkin itulah sebabnya judul cerpen itu sekaligus dijadikan judul buku.

Wisran Hadi menceritakan tokoh “aku” yang berperan sebagai pembisik dalam pementasan sandiwara. “Keterlibatanku dalam dunia sandiwara dimulai dan berakhir sebagai pembisik. Membisiki dialog para aktor yang sedang bermain di panggung, sekiranya mereka lupa naskah agar sandiwara itu berjalan sesuai apa yang diinginkan oleh sutradara. Sebab, banyak sekali aktor yang tidak setia pada naskah. Bukan karena mereka menolak dominasi sutradara, tetapi banyak di antara mereka yang lemah ingatan, tidak dapat menghafal dialog yang ada pada naskah dengan baik. Tetapi ada juga yang karena terlalu kreatif, mereka menciptakan dialog sendiri saat mereka lupa pada dialog yang sesungguhnya” (hlm 215).

Ternyata ada suka dukanya menjadi pembisik. Sukanya karena pembisik sering “berdempet-dempet” dengan wanita-wanita cantik yang sedang menunggu giliran muncul di panggung. “Aku sering ganti celana bila sampai di pondokan setelah pertunjukan” (hlm 217).

Dukanya kalau aktor/pemain yang dibisiki tidak menuruti kata-kata yang dibisikkan.

Pada suatu pementasan kisah Perang Paderi terjadilah kekacauan. Si tokoh utama (pemeran Tuanku Imam Bonjol) ternyata melenceng dari naskah asli. Penonton pun jadi heboh. Si pembisik asli sebetulnya tidak membisikkan apa-apa pada pemeran Tuanku Imam Bonjol. Ternyata pemeran Tuanku Imam Bonjol mengucapkan sesuatu yang berlainan dengan yang ada dalam naskah.

Mengapa begitu?

Ternyata pembisik dalam pementasan itu bukan hanya satu.

“Ada pembisik lain, tapi kau tidak tahu,” kata pemeran Tuanku Imam Bonjol kepada si “aku”, si pembisik asli.

“Siapa yang mengangkat pembisik lain? Sutradara?”

“Bukan?”

“Lalu?”

“Aku. Aku kan juga punya banyak pembisik, Bung!”

Sejak itu, si “aku” berhenti jadi pembisik, sedang pemeran Tuanku Imam Bonjol terus mengadakan pementasan ke mana-mana. “Kami keliling dunia, Bung!” seru sang Tuanku (hlm 223).

***

MENURUT penyuntingnya, “Di luar karya-karya yang terpilih untuk buku ini tentu masih banyak karya yang sebenarnya sangat layak untuk dibukukan” (hlm ii). Oleh karena itu, buku Pembisik ini masih akan disusul kumpulan cerpen kedua “yang akan segera menyusul terbit” (hlm ii).

Senada dengan Jassin, Ahmadun pun mencatat di akhir kata pengantarnya, “rubrik sastra di suratkabar tidak dapat dilewatkan begitu saja oleh para kritisi dan pengamat sastra dalam menyusun sejarah perkembangan sastra di negeri ini (hlm iii).

Jadi, kita tunggu saja buku kedua, ketiga, dan seterusnya. Mudah-mudahan pula penerbitan kumpulan cerpen Republika tidak seperti nasib kumpulan cerpen terbitan Bernas dan Surabaya Post yang disebut di atas, melainkan seperti kumpulan cerpen terbitan Kompas — terbit terus-menerus setiap tahun.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…