Langsung ke konten utama

Gokma

Hasan Al Banna
http://suaramerdeka.com/

ANAK-ANAK tangga berderak. Langkahnya menyerah pada dakian ketiga. Tinggal dua tatih lagi, tapi ia harus menata engah napas. Menyibak urai rambut yang kusut. Ya, tatapan yang nanar musti dibeningkan lagi. Sebab, pintu belakang rumah panggung di hadapannya, sekonyong-konyong oleng, memunculkan bayangan yang kacau. Ia lantas meraba bundar perut dengan putaran tapak tangan. Perutnya terasa kian padat dan berat. Sesekali menyesakkan dada, kadang kali mendesak-desak jauh ke bawah pusar. Sambil mengatur alur napas, perempuan itu menyabit belukar peluh —yang tumbuh di dahi dan leher— dengan lengkung jemarinya.

Kini Gokma mulai merasa tenang. Tapi, matahari yang tak pernah tertatih, menegur kelengahannya. Maka ia pun bersegera menyiangi daun ubi. Lekas-lekas pula ia menyurukkan kekayu kering ke jantung tungku, lantas menyalakannya. Tak lama lagi Daulat pulang memundak linggis dan sekop tua. Tentu, Daulat juga bakal memapah rasa letih dan lapar. Lantaran itulah, ia tadi memetik beberapa tangkai daun ubi muda di pekarangan belakang. Seikat sayuran yang segar sekaligus mendebarkan. Belasan hari belakangan ini, Gokma kerap memetik daun ubi yang tumbuh sembarang di belakang rumah. Namun, di mana tadi ia menaruh daun ubi yang telah disianginya itu?

Gokma memang pelupa. Tapi ia tak pernah lupa bagaimana cara merayakan selera suaminya.

Daulat gemar menyantap gulai daun ubi tumbuk. Apalagi dalam keadaan letih atau tatkala seleranya lagi sulit disetir. Segandeng mata Daulat selalu berpijar kalau sedang berhadap-hadap dengan lauk tersebut. Dengan atau tanpa sambal kacang-teri, suaminya itu bakal makan dengan mulut berdecap-decap. Daulat tak peduli meski Gokma kerap menggurauinya, ”Enak kali-lah Abang rasa te ni horbo itu, ya?” Memang, Gokma telanjur menamai gulai tersebut dengan sebutan te ni horbo karena menyerupa setumpuk kotoran kerbau. Hijau tua, dan kacau. Gokma sendiri tak suka. Namun, bukan berarti ia enggan menyiapkan sekaligus menyajikannya untuk Daulat.

Apa yang tak Gokma lakukan untuk Daulat. Ia ingin Daulat melupakan penyakit yang makin menciutkan tubuhnya. Benar, hati bengkak bukan penyakit jinak. Tapi paling tidak, dengan mengurangi beban pikiran Daulat, tentu penyakit tak terlalu leluasa bekerja. Sebenarnya, Gokma ingin melerai Daulat bekerja sebagai penambang liar batu pasir. Tebing-tebing batu yang terjal, bengal dan mencemaskan itu terlalu berat bagi Daulat. Mulai dari merontokan pundak tebing dengan peralatan seadanya sampai memipihkannya. Belum lagi harus mengangkut berkarung-karung serpihan batu ke bak penampungan. Daulat dan beberapa penambang yang lain harus menaklukkan jalan menurun, curam dan tajam. Dari lokasi tambang ke bak penampungan berjarak hampir satu kilo. Tak jarang, Daulat harus naik turun sampai dua puluh kali. Entahlah, itu pekerjaan yang terlampau mengkhawatirkan, terlebih-lebih karena penyakit Daulat.

Tapi, ya, melarang Daulat bekerja serupa saja seperti menuai beliung serapah dari pihak keluarga suaminya. Berarti pula, Gokma akan makin sering ke rumah mertua. Sekitar dua bulan lalu, Daulat tergeletak di tempat tidur. Rasa perih yang luar biasa di ulu hati menyandera tubuhnya. Pada saat yang bersamaan, usia kandungan Gokma masuk bulan keenam. Tubuhnya lemah pula. Turun ke sawah sebagai buruh upahan Gokma tak sanggup. Kalau untuk lauk, bisalah ia padakan tanam-tanaman yang tumbuh di sekitar rumah. Tapi beras? Tak jarang Gokma harus memintanya ke rumah mertua. Bagaimana lagi. Simpanan tak punya. Untuk membiayai pengobatan Daulat —meski cuma berobat kampung, ia harus utang kian kemari.

Nah, jangankan menjemput beras ke rumah mertua, bertandang saja pun sudah sebuah petaka. Kata-kata pedas hilir-mudik di telinganya. Apalagi bou —mertua perempuan Gokma, bakal mengait-ngaitkan nasib Daulat dengan kutukan: Inilah akibat kawin semarga! Ia memang semarga dengan Daulat. Tapi menurut Gokma, aturan adat itu tidak cocok lagi ditunaikan di zaman sekarang. Bukankah itu berlaku dulu, tatkala orang semarga yang tinggal sekampung, masih memiliki simpul temali darah yang erat? Tentu sepasang insan yang masih bertalian darah dan semarga tabu untuk menikah.

Tapi ia datang dari kampung yang jauh. Ia menyandang marga yang urutan silsilahnya tak menentu lagi. Ayah Gokma bahkan menikahi seorang perempuan Jawa, yaitu ibu Gokma. Maka dari itu ia tak ragu menyambut pinangan, meski ditentang keras keluarga Daulat. Ia merasa tidak sedang menyabung nasib. Kalaupun perjalanan perkawinannya dengan Daulat tak sekilau impian, bagi Gokma tak singung-menyinggung dengan kutukan. Tidak bahagialah, dirundung musibahlah, dikepung kesulitan, mendatangkan bala penyakit, atau bahkan berujung pada kematian tragis. Itu urusan Tuhan, sungut Gokma.

Ya, termasuk penyakit yang mendera Daulat, menurut Gokma turun dari Tuhan, bukan kuasa kutukan. Lagi pula, sebelum menikah pun Daulat sudah menanggung penyakit tersebut. Gokma tak menyesal, dan tak akan pernah menyesal. Kalaupun ada penyesalan, karena tak bisa membantu Daulat menggalah nafkah. Pekerjaan berat tentu kian menggirangkan penyakit Daulat. Tapi hidup harus memilih. Ketimbang sering menahankan kelebat caci-maki keluarga Daulat, Gokma memilih suaminya tetap pergi ke bahu bukit. Ia tinggal banyak berdoa: Tuhan, kuasa Engkau yang menurunkan penyakit, kuasa Engkau pula yang mengangkatnya.

Sejatinya, Daulat acap melerai Gokma pergi ke rumah Ibunya. Meski beberapa kali pula Gokma mengabaikannya.

”Tak usah lagi kau pergi ke sana!”

”Terpaksa, Bang,” jawab Gokma.

”Makanya jangan dipaksa.”

”Ah, sudahlah, Bang.”

”Kalau begitu, jangan kau mengeluh. Inilah, itulah. Kau tahankanlah sendiri,” Daulat mendadak meletuskan kata-kata ketus.

”Kalau Abang mau kita mati kelaparan, tak apalah, aku tak ‘kan ke rumah bou lagi,” Gokma menangkis, tak kalah sengit.

Tapi tak kuat ia menolak janin tangis.

”Bah, kasar kali kau ngomong, Gokma!”

”Abang kira omongan Abang tadi tak kasar? Aku terpaksa lakukan ini karena kondisi kita. Untuk kesehatan Abang juga,” Suara Gokma bergetar, ”Meski pedas telingaku karena sindiran bou, aku tahankan. Tapi kepada siapa lagi aku mengadu kalau bukan kepada Abang?” Gokma terdesak menghadang isak. Adapun Daulat, kesulitan menyeret udara ke dadanya. Hening.

”Aku sehat-sehat saja, Gokma. Biarkan aku pergi ke bukit. Pikirkan saja kandunganmu. Jangan lupa kau makan. Banyak-banyak istirahat,” Daulat memilih merundukkan amarahnya. Gokma menggigit bibir. Daulat benar, ia memang sering lupa makan, acap pula lupa istirahat.

Iyalah, Gokma makin pelupa sekarang! Namun ia tak bakal lupa cara meracik lauk daun ubi tumbuk terbaik bagi suaminya.

Dengan sigap Gokma mendongakkan lesung kayu yang telungkup di pojok dapur, sekalian meraih alu. Penyedap lain sudah disiapkannya dari tadi: bawang merah, cabai, segenggam rimbang, serta kincung merah jambuósudah dicuci bersih, dan siap dicincang mata alu di rahang lesung.

Sungguh, ada kenikmatan tersendiri ketika ayun alu perlahan berdegap ke jantung lesung. Sehujam demi sehujam, menjelma bunyi-bunyi benturan yang terpendam. Seperti debam jantung Gokma menunggu kepulangan Daulat. Sesekali, tumpuk daun ubi luput tertumbuk, melahirkan suara berdetuk-berdentang. Suara kepala kayu beradu dengan perut kayu. Tapi mengapa suaminya belum juga mengetuk pintu? Terkadang rimbang sebesar pucuk kelingking, atau bawang yang linang terpental-pental dari liang lesung. Sesekali pula, kepal-kepal daun ubi turut terjungkal. Adakah di luar sana Daulat sedang tersengal?

Namun Gokma terus melanjutkan pekerjaannya. Sambil menumbuk daun ubi, Gokma mengaduk-aduk saripati kelapa tua yang dijerang di belanga. Diaduk agar tidak pecah santan. Hendaknya, seperti nasihat Daulat, ketika santan sudah menggelegak, daun ubi juga sudah siap diangkut ke belanga penjerangan. Daun ubi yang sudah ditumbuk tidak boleh lama-lama duduk di pangkuan lesung, karena rasa pahit perlahan-lahan akan menggerogotinya.

Mmh, Gokma tiba-tiba dirangkul malu. Daulat memang lebih mahir memasak daun ubi tumbuk ketimbang dirinya. Pada masa mula perkawinan, Daulat begitu sabar membunuh kegamangan Gokma dalam meracik lauk daun ubi tumbuk. Kadang, Daulat turut membantu, bahkan pernah memaksakan diri menumbuk daun ubi, padahal penyakit sedang mencengkeram kekuatan tubuhnya.

Ah, Gokma kerap ditodong tangis setiap pulang ke peristiwa itu. Pun seperti ia sering disayat kepedihan air mata terkenang sindiran bou atas ketakmahirannya memasak lauk kegemaran Daulat. Ia sering mencoba maklum, karena lauk daun ubi tumbuk adalah makanan turun-temurun orang Selatan di tanah Tapanuli. Tapi Gokma merasa beling sindiran bou terlampau runcing.

”Hei, pindahkan ke belanga sesegera mungkin!” gema suara Daulat memantul ke telinganya.

Gokma tersentak. Ia memaling ke sekeliling. Ei, begitu jauh ia terseret ke lembah lamunan. Maka, Gokma pun berupaya kembali ke bukit kesadaran. Ia tak mau lalai memindahkan jabang santapan ke atas belanga, selekas mungkin. Gokma pun memastikan hasil tumbukannya: apakah daun ubi sudah sebenar lumat, sudah menyatu dengan pecahan bawang, rimbang, dan cabai yang menyembulkan biji-bijiannya? Pun sudah seraga dengan kincung yang telah terberai serat-seratnya?

Tapi, pernah —bahkan tak sekali dua kali terjadi, santan di pangkuan belanga menguap nyaris tak tersisa. Saat itu, ia sibuk menimang-nimang wangi daun ubi sehabis ditumbuk. Gokma pun lupa, bahwa menumbuk dan menjerang-mengaduk santan harus ditunaikan seapi-selegak.

Dasar, Gokma pelupa! Namun, kali ini —tepatnya beberapa hari belakangan, ia tak bakal lupa menderetkan sajian yang sempurna untuk Daulat.

Ya, belasan hari terakhir, Gokma senantiasa menyuguhkan hidangan daun ubi tumbuk ke hadapan Daulat. Mungkin, ini adalah wujud syukurnya kepada Tuhan. Entah Daulat sudah sepenuhnya sembuh atau belum. Yang pasti, tubuh Daulat kelihatan lebih berdaging, lebih bersih. Rona muka suaminya berseri. Memang, Daulat tidak banyak berbicara kepadanya. Tapi, senyum dan cahaya mata suaminya begitu melegakan Gokma. Adakah karena tak berapa lama lagi anak pertama mereka akan lahir?

Mmh, mengembang kelopak hati Gokma menikmati saat-saat daun ubi tumbuk mentah diceburkan ke geriak santan. Hidungnya mekar merengkuh aroma yang khas. Ia sering mengibaratkan aromanya seperti uap tanah basah usai dicangkul, atau batang leher padi yang tertebas sabit.

Namun, menemani Daulat menyantap makan malam, jauh lebih membahagiakan dirinya. Ia sengaja tak mengusik Daulat dengan keluhan-keluhannya: perutnya sering sakit, pinggang tegang, dan dadanya sesak. Gokma tak mau suaminya berpikir keras, lantas sakit lagi. Ia biarkan Daulat menebus lapar setelah seharian bekerja. Meski sesekali Gokma memegangi perut, senyum tak surut dari bibirnya. Lantas, setiap kali menyaksikan Daulat tambah-tambah, ia mengalirkan bisikan kepada kandungannya, ”Lihat, kuat sekali Ayahmu makan. Kau harus tiru Ayahmu, biar simbur magodang, sehat dan gemuk.”

Gokma terkesima! Mulut suaminya bergelimang nasi. Pada terjal leher Daulat, seperti ada anak neraca yang sibuk menimbang kelezatan. Maka tak ada alasan bagi Gokma untuk tak menyaksikan Daulat menyelesaikan suapan terakhir. Pun tatkala sendawa Daulat susul-menyusul, Gokma terpukau!

”Kalau laki-laki, kau musti rajin bantu Ayahmu bekerja. Nah, kalau perempuan, kau harus bantu Ibu masak daun ubi tumbuk,” petik batin Gokma sambil memberesi piring kotor ke dapur. Inilah puncak kegembiraan Gokma beberapa malam ini: mendapati piring bekas Daulat makan, bersih dan licin. Tak ada sisa nasi, tak ada ampas daun ubi tumbuk. ”Lahap kali makanmu, suamiku,” bisik Gokma berkali-kali, tergeli-geli. Meski ketika kembali ke ruang tengah, ia sering kecewa lantaran tak menemukan suaminya.

Kekenyangan tak pernah mampu menghadang Daulat untuk bangkit ke luar rumah. Memang, selepas makan, Daulat sering ke luar rumah. Entah membeli rokok, atau sekadar duduk di kedai kopi. Namun ia tak pernah lupa pamit. Nian, belakangan ini, Gokma kerap lupa, pamit ke mana suaminya..?

Ah, pelupa betul Gokma. Kini makin parah malah. Dari mana jalannya ia bisa lupa soal sesusut jenazah —dengan perut pecah— yang terbujur di rumahnya belasan hari silam?
Gokma, Gokma...

Medan, 2009

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan