Langsung ke konten utama

Lewat Puisi dan Prosa

Mengenang 100 Tahun Kelahiran Sutan Takdir Alisjahbana
Susianna
http://www.suarakarya-online.com/

Ibarat pepatah, manusia mati meninggalkan nama, almarhum Sutan Takdir Alisjahbana yang akrab disebut STA atau Takdir masih tetap dikenang. Almarhum meninggalkan warisan sejumlah karya dan pemikiran, khususnya di bidang bahasa, sastra (esai. Novel/roman dan puisi), kebudayaan, filsafat, pendidikan dan pengetahuan pada umumnya.

Almarhum lahir tanggal 11 Februari 1908 di Natal (Sumatera Utara) dan meninggal tanggal 17 Juli 1994 di Jakarta.

Memperinganti 100 tahun kelahiran Takdir, 11 Februari 2008, Dewan Kesenian Jakarta, bekerja sama antara lain dengan Yayasan Sutan Takdir Alisjahbana menghadirkan acara : 100 Tahun STA : Menimbang Kembali Pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana. Acara yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam dihadiri wartawan senior, seniman, penulis, penyair dan keluarga STA serta undangan lainnya di Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismall Marzuki, Selasa (25/3) lalu.

Dalam diskusi yang dipandu Wicaksono Adi mengfokuskan STA sebagai budayawan, ahli bahasa dan sastrawan. Hal ini tersirat dalan sejumlah makalah pembicara yaitu Goenawan Mohamad membahas STA Sebuah Prosa, Jos Daniel Parera mengangkat topik kebahasaan (linguistik) dan Nirwan Ahmad Arsuka berbicara tentang Autopoiesis Takdir. Demikian juga pada pidato pembukaan yang disampaikan Jakob Oetama dan salah seorang putri almarhum Tamalia Alisjahbana.

Pidato pembukaan Jakob Oetama dalam makalahnya bertajuk STA Sebagai Budayawan, yang dibacakan St Sularto, mengatakan STA bersosok budayawan, budayawan yang lengkap. Ia budayawan dalam arti seniman terutama seni sastra. Ia juga budayawan dalam arti memiliki pandangan hidup, sikap, nilai-nilai dan orientasi.

Tamalia Alisjahbana SH, LLB (Cantab), LLM, menyinggung bahwa Takdir tergerak dan tersentuh oleh ikrar Sumpah Pemuda, terutama pada isi ketiga yaitu satu bahasa. Kenapa, karena ia telah mempelajari sendiri tata-bahasa dan teori linguistik. Ia mengerti betul apa artinya satu bahasa bagi persatuan Nusantara. Karena, isinya sejalan dengan bisikan hati nurani banyak kaum muda dan Takdir menanggapi dengan penuh semangat. Sebelumnya Takdir sudah aktif di Jong Sumateranen Bond di Sumatera dam kemudian di Jawa. Pada tahun 1928, almarhum menerbitkan dan memimpin majalah Semangat Muda, meneruskan semangat Sumpah Pemuda. Almarhum menyadari betul bahwa Sumpah Pemuda adalah lahirnya Indonesia secara spritual. Tahun 1933 Takdir mencetuskan Polemik Kebudayaan pada Kongres Pendidikan di Solo.

Puisi Baru

Goenawan Mohamad cenderung membicarakan sajak Takdir antara lain yang terkenal, “Menuju Ke Laut” – yang hendak menggambarkan perubahan hidup dari “tasik yang tenang” ke dalam laut yang penuh tantangan – juga tak melukiskan sebuah samudra yang ganas dan gelap gelita. Laut Takdir adalah sebuah “gelanggang biru” yang mengandung “ombak ria” dan angin yang bisa diajak “bergurau”.

Bukannya tanpa kesedihan. Kumpulan sajak Takdir berjudul Tebaran Mega mengandung sejumlah sajak yang mengandung tangis. Tapi di sana pula Takdir menulis, sebagai penutup sajak “Api Suci”, satu kalimat yang agaknya mewakili sikap hidupnya: “Nyanyian semata bunyi jeritku.”

Dalam kata pengantarnya untuk antologi Puisi Baru, Takdir menyebut dengan bersemangat bagaimana angkatan muda Indonesia “tiada berapa banyak bedanya dengan ‘manusia bebas dan perkasa’ Eropa.”

Tapi dengan menjadikan diri demikian itulah lahir nasionalisme. Nasionalisme ini tak berangkat dari ingatan tentang masa lampau, tentang akar budaya atau biologi; ia bahkan tak berangkat dari akar apapun; ia lahir dari hasrat membangun sesuatu yang baru.

Seperti kata Takdir ketika ia membahas “sajak kebangsaan” dalam Kebangkitan Puisi Baru:… bangsa dalam arti yang lama sesuatu pengertian anthropologi dan ethnologi, bangsa dalam arti yang modern satu nation, ialah pengertian politik, yang bersandar pada sikap jiwa yang tentu kemauannya, tentu perasaan dan pikirannya dan tentu cita-citanya.. Atau, seperti kata Takdir dalam pengantar Puisi Baru: Puisi modern itu individualistis, yaitu mengemukakan perasaan dan pikiran sendiri.

Dan perasaan dan pikiran sendiri itu mesti senyala-nyalanya, sehidup-hidupnya, selangsung-langsungnya ke luar dari jiwa orang yang menciptakannya. Keaslian menjadi semboyan yang dipegang teguh segala orang.

Takdir mengumpamakan sebuah sajak ibarat “nyanyian unggas di dahan” atau “teja” di “langit-senja”. Sajak hadir tanpa dirancang. “Tak ia diatur dan disusun”, katanya. “Perasaan datang memenuhi jiwa pujangga dan tiadalah jalan yang lain baginya [selain] melepaskan perasaan yang berlimpah-limpah itu”. Seorang penyair (seperti Tatengkeng) tak dapat menahan kalbunya [yang] mengeluarkan tempik sorak yang gemuruh datang membanjir.Di situ Takdir mengakui: dalam proses kreatif yang sesungguhnya, subyek tak hadir. Tapi Takdir tak selamanya berada dalam pendirian itu. Ia juga meneguhkan yang sebaliknya.

Dalam Kebangkitan Puisi Baru ia justru memberi sang subyek peran menata bentuk. Ia mengritik sebagian sajak Armijn Pane yang punya kecenderungan “menjadi anarki”.

Ia juga mengecam puisi lama sebagai puisi yang tak memiliki (“tak ada”) “suatu perasaan yang memimpin dari dalam”. Dalam puisi lama, kata Takdir, “pujangganya tiada terus menerus didorong oleh kegairahan menciptakan”.

Takdir menulis Kebangkitan Puisi Baru di tahun 1930-an. Dalam pengantarnya untuk Puisi Baru, Takdir mengatakan bahwa puisi zamannya “langsung dipengaruhi” oleh puisi internasional. Tapi kita lihat begitu jauh jarak Pujangga Baru dari sastra dunia sezamannya atau lebih tepat, jarak Takdir dari modernisme.

5 April 2008

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com