Di Manakah “Kedalaman” Novel Nubuat(?)

Marhalim Zaini*
http://www.riaupos.com/

Dari berbagai pengalaman bacaan saya yang serupa itu, maka kini saya sedang berhadapan dengan novel Nubuat karya Gde Agung Lontar. Novel yang mengisahkan tentang perjalanan/petualangan seorang tokoh lelaki muda bernama Awang, dari kampung halamannya (yang oleh pengarang cukup dinamai dengan Parit 0 (?) sampai Parit 40, menuju ke tempat-tempat yang kelak membawa tokoh ini mencapai keinginannya untuk menjadi hulubalang istana. Keinginan ini pun sesungguhnya bukanlah sebuah obsesi yang kuat dari si Awang. Sebab di balik itu tujuan utamanya merantau adalah untuk menghindar dijodohkan dengan perempuan sekampungnya yang tinggal di Parit 19 bernama Zahara, anak Leman Tonjang, sahabat lama ayahnya Awang. Kenapa menghindar? Tak ada gambaran yang kuat untuk dapat menjawabnya dengan lebih “ideologis.” Alasan Awang, karena si Zahara itu, adalah Budak Bingal. Apa itu Budak Bingal? Tak pula dapat kita temukan detil deskripsi yang membuat Zahara dipanggil oleh Awang dengan sebutan demikian, sehingga penolakan/penghindaran Awang menjadi sangat beralasan. Setahu saya, kata “bingal” sendiri adalah khas milik orang Melayu, yang dapat diartikan sebagai “tak mau mendengar nasehat orang” atau “keras kepala” dan sejenisnya. Namun, tak ada deskripsi peristiwa yang dapat jadi referensi pembaca untuk ikut membenarkan si Awang. Lalu, seolah tanpa ada konflik/perdebatan yang lebih luas dan tajam, akhirnya Mak (Ibunya Awang) dengan agak berat hati mengizinkan Awang pergi merantau.

Proses perjalanan Awang menyinggahi satu daerah ke daerah yang lain hingga mendapatkan gelar parjurit laskar hulubalang raja inilah yang nampak menjadi fokus cerita dalam novel Nubuat ini. Mulai dari kota Bandarnibung, lalu ke kota pelabuhan bernama Nemopolis, kemudian kota persinggahan dan dikenal dengan kota para pujangga Wadi Awaliyah, menuju ke kota besar di tengah padang pasir bernama Oasis Nikmah, dan terakhir ke kota indah Metrozamrud tempat di mana Yang Mulia Sultan Maulana bertahta. Lalu, bagaimana dengan kata “nubuat” yang menjadi judul dari novel ini? Bagaimana keterkaitannya dengan kota-kota itu? Siapakah pemilik nubuat tersebut?

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “nubuat” berarti wahyu yang diturunkan kepada nabi (untuk disampaikan kepada manusia), atau boleh juga berarti ramalan. Saya kira, dalam konteks novel ini, agaknya arti yang kedua lebih tepat. Dan pengarang sendiri, juga sempat menderetkan kata “dinubuatkan” dengan kata “dinujumkan/ditakwilkan/diramalkan” (hal. 238). Nubuat yang tertera dalam novel ini lebih berbentuk semacam syair, yang terdiri dari empat bait yang mewakili empat nubuat. Karena “nubuat” ini dapat dikatakan sebagai intisari dari sejumlah peristiwa dalam novel ini, ada baiknya saya kutipkan secara lengkap. Nubuat pertama: “Pada purnama merah jelaga/Kayu-kayu bersilang membara/Pada sebuah kota peniaga/Dari sebuah ladang kopra.” Nubuat kedua: “Pada purnama pagi cemerlang/Angin dan air saling bersilang/Pada sebuah kota yang terang/Membuang segala belang berbilang.” Nubuat ketiga: “Pada purnama gelap sudah/Batu dan pasir bertikai-sungsang/Pada sebuah kota bermadah/Hilang tiang hilang sagang.” Nubuat keempat: “Pada purnama ketiga belas/Berkatalah sang pujangga di depan tahta/Tentang hati yang sungsang penuh bara/Khianat tiada terkira-kira!/Sayang Laksamana, bersiap merayakan kekalahannya/Pada sebilah pedang bertanjak emas.”

Empat nubuat ini kemudian dinamakan sebagai Nubuat Temberang. Karena yang menulis nubuat ini adalah seseorang yang bernama Temberang. Tokoh ini sempat menyebut nama lengkapnya ketika berkenalan dengan pemimpin serombongan kafilah dengan Temberang bin Tembung. Seorang tokoh yang kemudian bersahabat dengan si Awang, selama hampir sebagian besar masa perjalanan. Awang bertemu dengan Temberang ketika berada di Wadi Awaliyah. Yang dengan banyak serba kebetulan, Awang dan Temberang terus bersama melakukan perjalanan hingga sampai ke kota Metrozamrud. Nah, Nubuat Temberang ini setiap baitnya seolah menjadi semacam ramalan nasib yang akan menimpa negeri yang disinggahi oleh Temberang. Misalnya, negeri Bandarnibung yang terletak di atas rawa-rawa hampir musnah terbakar, kota Nemopolis dilanda Tsunami (meski penulis sendiri tak menyebutnya begittu), kota Wadi Awaliyah terbenam di bawah timbunan batu dan pasir, dan kuil-kuil zagaru di kota Wadi Hidayah banyak bertumbangan. Demikianlah, sosok Temberang kemudian menjadi sosok yang sangat dicari-cari oleh orang-orang yang negerinya telah porak-poranda oleh nubuat. Mereka marah dan menuduh bahwa Temberang adalah pembawa malapetaka.

Selain itu, dalam perjalanan menuju Oasis Nikmah, Temberang dan Awang yang juga bersama serombongan pedagang dari Bandarnibung yang kebetulan bertemu, sempat tertawan oleh sekawanan penyamun. Episode ini juga adalah awal pertemuan dan (langsung jatuh hati) Awang pada seorang perempuan bercadar bernama Hara. Mereka semua dibebaskan setelah serombongan orang dari Metrozamrud yang dipimpin oleh seorang bernama Talon. Tersebab rombongan ini dulu pernah mengalahkan penyamun, dengan melumpuhkan pemimpinnya, maka kini merekalah yang memimpin, dan berupaya membawa para penyamun ke jalan yang benar. Talon, adalah sosok protagonis yang kelak ikut menyelamatkan Sultan dari rongrongan makar yang dilakukan oleh Durona, seorang panglima hulubalang. Keberadaan Temberang dan Awang di kerajaan saat terjadinya proses makar itu, rupanya turut membantu melumpuhkan kelompok Durona. Dan Awang, pada sebuah kesempatan (yang nampaknya banyak serba kebetulan) dapat menikamkan pedang ke tubuh Drona di saat ia sedang lengah. Peristiwa inilah yang membuat Awang dianugerahi sebagai kepala prajurit penggawa istana. Lalu, Awang pun pulang kampung menemui Mak-nya, dan berakhir dengan happy-ending, dapat kawin dengan Hara, yang ternyata adalah Zahara, perempuan yang dulu sempat dijodohkan dengannya.

“Novel Antah-berantah”
Jika cara baca saya terhadap novel ini merujuk kepada apa yang telah saya paparkan di awal tulisan ini tentang keinginan saya untuk mendapatkan “realitas autentik” sekaligus hendak menyelami makna tekstual, dan makna referensial/kontekstual, maka saya akan berhadapan dengan lanskap-lanskap “realitas” yang serba kabur. Upaya saya berkali-kali membuka “pintu-pintu” peristiwa untuk dapat masuk ke dalam makna/nilai yang lebih luas yang terkandung dalam novel ini, dan menjejak ke sebuah akar kebudayaan tertentu, saya selalu tak berhasil. Maka di sini, saya hendak menunjukkan beberapa soal, yang menurut saya, menjadi sebab ketidakberhasilan saya itu.

Pertama, soal ke mana akar sosial-kultural dalam novel Nubuat ini hendak dirujuk, sehingga saya/kita dapat menemukan “realitas autentik” itu? Awalnya, saya hampir percaya bahwa novel ini menempatkan “Melayu” sebagai sebuah rujukan dasar untuk memberi sentuhan “lokal” (bahkan mungkin tawaran estetika) dengan berbagai problematikanya. Awalnya, saya juga hampir percaya dengan salah satu komentar di belakang kulit sampul novel ini yang menyatakan bahwa, “…ingin mengenal lebih dalam budaya Melayu yang menyimpan nilai-nilai “cerdik cendekia”…..” Namun, setelah membaca novel ini, saya justru merasakan Melayu sebagai sebuah entitas kebudayaan, pun peradaban besar, menjadi tak terjangkau nilai-nilainya, menjadi rumpang gagasan-gagasannya, bahkan sangat lemah akurasi empiriknya. Yang menjadi sebab terbesar sehingga hal ini terjadi, saya kira adalah bahwa pengarang tidak menghadirkan deskripsi referensial yang memadai (apalagi detil) tentang sebuah realitas yang dipaparkan. Tidak tampak demikian meyakinkan pembaca, bahwa persoalan yang diusung pengarang adalah persoalan dengan latar belakang dari sebuah kebudayaan yang dikenalkan secara komprehensif. Maka, fakta ini secara tak langsung juga, menampik pernyataan dari salah satu komentar yang lain, yang juga tertera di belakang sampul novel ini, berbunyi, “…jika detil yang diinginkan, novel ini akan memberikannya.”

Hemat saya, simbol ke-Melayu-an dalam novel Nubuat sesungguhnya demikian banyak bertebaran. Namun simbol-simbol itu seolah hadir sebagai “dirinya sendiri” yang tidak berdaya untuk membangun jaringan/relasi secara proporsional dengan peristiwa, sehingga ia lebih terkesan sebagai asesoris yang tak menunjukkan eksistensi nilainya yang penting. Simbol Melayu “Tanjak” misalnya, yang dibawa/dipakai tokoh Awang merantau tidak kemudian menjelaskan identitas.(bersambung)

*) Adalah sastrawan dan pengajar di Akademi Kesenian Melayu Riau. Bersama beberapa teman mengelola Sekolah Menulis Paragraf di bawah Yayasan Paragraf. Tinggal di Pekanbaru.

Komentar