Ragdi F. Daye *
http://www.padang-today.com/
Sastra Indonesia pascakolonial adalah sastra yang gamang dan mengambang.
Sesungguhnya, kondisi dunia sastra Indonesia pada beberapa tahun terakhir ini tampak begitu gamang. Di satu sisi, produksi teks yang berlimpah ruah dengan terus lahirnya penulis-penulis muda berbakat sangat menggembirakan. Di sisi lain, kuantitatif produksi teks tersebut justru melahirkan persoalan serius, seperti kualitas teks, keseragaman pengayaan, miskinnya penggalian tema eksplorasi teknik ungkap, hingga tren tematik sastra yang merayakan ketubuhan-seksualitas.
Bila hendak dicari penyebabnya, ada kemungkinan semua persoalan berkait dengan sejarah sastra modern Indonesia yang masih sangat muda. Di samping itu juga disebabkan oleh kuasa-selera redaktur koran yang berlebihan karena sastra modern Indonesia tidak bisa lepas dari surat-kabar. Selain itu juga lantaran kian pudarnya batas antara karya pop dan sastra serius serta menjangkitnya mentalitas selebritis di dunia sastra. Persoalan kian rumit ketika kritik sastra Indonesia nyaris tidak berfungsi.
Sastra modern Indonesia dapat dikatakan sebagai sastra pascakolonial, mengingat Indonesia adalah sebuah negeri yang pernah dijajah oleh bangsa lain. Secara ironis, sastra pascakolonial Indonesia tidak lepas dari tangan Kolonial itu sendiri. Boleh dibilang, sastra modern Indonesia merupakan perpanjangan dari sastra Barat. Namun berbeda dengan sastra pascakolonial negara-negara Dunia Ketiga lainnya seperti sastra Amerika Latin, sastra Afrika, atau sastra negara-negara Asia bekas jajahan Barat yang melawan hegemoni kulit putih (bekas penjajahnya) dalam kancah sastra berbahasa Inggris, sebagai bekas jajahan Belanda, sastra Indonesia tidak menggunakan bahasa Belanda sebagai media ekspresi, namun bahasa Melayu yang telah dijadikan bahasa administratif semasa kolonialisasi.
Sastra Indonesia tumbuh berkembang di antara ‘authenticity’ dan ‘modernity’. Ketegangan antara ‘kem-bali ke akar’ dan ‘sejarah ke depan’ mengakibatnya nasionalisme dalam sastra pun semakin kabur untuk dirumuskan. Sastra Indonesia terjebak antara keinginan untuk menyejajarkan diri dengan bekas penjajah dengan cara membuka-lipat identitas, dan berupaya mempertahankan perbedaaan dengan melakukan pengukuhan ke dalam akar tradisi.
Temu Sastrawan Indonesia (TSI) 2: Sastra Indonesia Pascakolonial
Melanjutkan agenda tahunan yang diawali di Provinsi Jambi pada tahun 2008, Temu Sastrawan Indonesia (TSI) 2 dilaksanakan di Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka-Belitung dari tanggal 30 Juli sampai dengan 2 Agustus 2009. TSI 2 yang dihadiri oleh sekitar 200 orang sastrawan dan pemerhati sastra dari seluruh daerah Indonesia (kecuali Papua dan Bengkulu), mengangkat tema sastra In-donesia pascakolonial.
Tema besar tersebut dipecah dalam empat subtema, yakni “Merumuskan kembali Sastra Indonesia: Definisi, Sejarah, Identitas”, “Kritik Sastra Indonesia Pascakolonial”, “Membaca Teks dan Gerakan Sastra Mutakhir: Mencari Subyek Pascakolonial”, dan “Penerjemahan Sastra: Keharusan, Pilihan, atau Sekadar Perkenalan?” Topik-topik tersebut dibahas oleh pembicara yang terdiri atas Agus R. Sarjono, Saut Situmorang, Yasraf Amir Piliang, Syafrina Noorman, Haryat-moko, Katrin Bandel, Zen Hae, Anton Kurnia, Nenden Lilis A, Nurhayat Arif Permana, Radhar Panca Dahana, Zurmailis, Arif Bagus Prasetyo, dan John McGlynn dengan moderator Joni Ariadinata, Tia Setiadi, Willy Siswanto, dan Triyanto Triwikromo.
Selain seminar dan dialog sastra, acara TSI 2 juga dilengkapi dengan penerbitan buku, malam apresiasi seni, peluncuran dan bedah buku, bazaar buku, dan wisata budaya. Dua buah buku antologi cerpen dan puisi yang diterbitkan adalah “Jalan Menikung ke Bukit Timah” dan “Pedas Lada Pasir Kuarsa”.
Definisi Sastra Pascakolonial
Indonesia adalah negara pascakolonial. Sebagai bekas jajahan Eropa, nasib Indonesia mirip dengan nasib negara-negara pascakolonial lain di berbagai belahan dunia. Meskipun demikian, di dunia sastra Indonesia, istilah ‘sastra pasca-kolonial’ tidak begitu banyak dikenal dan digunakan. Masih jarang sas-trawan Indonesia yang dengan sadar mencoba mempersoalkan pascakolonialitas dalam karyanya, dan kritikus sastra yang mencoba menganalisis sastra Indonesia dengan pendekatan pascakolonial pun masih sedikit.
Pascakolonial pada awalnya adalah studi tentang interaksi antara bangsa-bangsa Eropa dan masyarakat-masyarakat yang mereka jajah secara modern. Dalam perkembangannya, ia beranjak ke isu-isu besar lain seperti gender, tradisi, dan seksualitas. Meski demikian, konsep pascakolonialisme mempunyai masalah secara terminologi dan aksiologi.
Di antaranya: Kolonialisme dapat disamakan dengan konsep hegemoni, baik melalui dominasi politik, maupun dominasi gagasan dan kebudayaan; karya-karya pascakolonial dapat saja dihasilkan pada masa penjajahan; negara pascakolonial masih banyak yang tersubordinasi secara kultural, ekonomi, dan politik walau secara teknis telah merdeka; pandangan pascakolonial yang eurosentris tidak sepenuhnya benar karena sejumlah negeri jajahan telah memiliki kekuatan literer sebelum dijajah; dan tidak semua sastrawan pascakolonial terlibat dalam isu-isu perlawanan atas dominasi dan pengaruh kolonial.
Katrin Bandel dalam makalahnya mengungkapkan bahwa pascako-lonialisme adalah usaha untuk memahami realitas masa kini, baik di negara pascakolonial, maupun di negara bekas penjajah dengan ber-fokus pada relasi kekuasaan global dan sejarahnya. Pascakolonialisme bukan sekadar deskripsi keadaan, namun sebentuk perlawanan. Perlawanan tersebut bukanlah sebuah upaya untuk menghancurkan atau ‘membuang’ segala sesuatu yang ‘Barat’ untuk kemudian ‘kembali’ kepada budaya lokal yang ‘asli’ karena telah terjadi hibridisasi antara budaya penjajah dengan yang dijajah.
Sastra pascakolonial dapat dipahami melalui dua definisi. Per-tama, sastra pascakolonial adalah sastra yang ditulis oleh pengarang negara pas-cakolonial (bekas ja-jahan); sastra Indonesia masuk ke dalamnya. Kedua, sastra pascakolonial adalah sastra yang mencerminkan kesadaran pascakolonial dan semangat perlawanan terhadap ketidakadilan global/(neo)kolonialisme. Dari sekian banyak karya sastra In-donesia, hanya sedikit yang dapat digolongkan pada definisi kedua tersebut.
Liminalitas
Yasraf Amir Piliang mengungkapkan bahwa sastra Indonesia hidup dalam dunia ambilavensi dan kontradiski diri: ingin menjadi otentik dengan meniru, ingin berbeda dengan merepetisi, ingin menjadi diri sendiri dengan melakukan proses identifikasi. Sastra Indonesia terperangkap dalam ‘liminalitas’, yaitu kondisi ambivalensi dan kontradiksi diri tanpa solusi. Sastra hidup dalam ‘tegangan’ tak terselesaikan: tegangan Barat/ Timur, tradisional/ modern, global/ lokal, progresif/ reaktif, dan tak mampu mengambil sebuah ‘keputusan’, ‘solusi’, atau ‘pilihan’. Kesusastraan berada di dalam kondisi ‘ketiadaan-putusan’. Liminalitas sastra membawa pada kondisi kemenggantungan, tak ke sana tak ke sini, tak modern tak tradisional.
Dalam sastra Indonesia telah terjadi apa yang disebut dengan proses mimikri, yakni proses peniruan yang sepertinya sama, tetapi tidak benar-benar sama. Budaya kolonial mendorong pribumi untuk meniru dan merepetisi budaya mereka. Akan tetapi ada pelencengan makna dan pemahaman terhadap repetisi di dalamnya sebagai strategi kultural-tekstual melawan penjajah. Ketika wacana kolonial mendorong subyek terjajah untuk meniru-niru sang penjajah dengan mengadobsi kebiasaan, ideologi, kode budaya, dan kanon-kanon estetik mereka, hasilnya menjadi salinan kabur sang penjajah.
Sebagai alat perlawanan, mimikri secara terus menerus memproduksi penggelinciran, ekses, dan perbedaan-perbedaannya. Mimikri dapat terjadi melalui repetisi statis yang dicirikan dengan pengulangan, di mana antara yang mengulang dan yang diulang hanya ada relasi kesamaan dan identitas. Kedua, repetisi dinamis, yaitu repetisi yang juga menunjuk pada pengulangan, akan tetapi elemen-elemen di dalamnya mengalami pem-bedaan.
Dunia sastra Indonesia terombang-ambing antara repetisi statis dan repetisi dinamis, antara tradisi dan modernitas. Kolonialisme telah memutus sastra Indonesia dari indigenous knowledge, yaitu dari tradisi sastra lisan. Di sisi lain ketika hendak berkiblat pada jati dirinya sendiri (tradisi, lokal) sastra Indonesia mengalami dilema industria-lisasi media dan publikasi massa yang menuntut selera global yang seragam. Pihak-pihak yang memfasilitasi pengembangan sastra Indonesia justru lembaga asing yang notabene adalah dari negara (neo)kolonial.
Oportunisme
Dalam pandangan Radhar Panca Dahana, keberadaan kanon-kanon sastra pascakolonial di Indonesia tampak dalam sejumlah karya yang dalam isu dan perspektifnya tidak jauh bergeser dengan apa yang sudah dilakukan lebih dari setengah abad lalu, persoalan-persoalan dasar seperti seksualitas, gender, tradisi, relasi kuasa, minoritas, hingga perlawanan terhadap kekuatan asing, merupakan kelanjutan dari karya-karya Mochtar Lubis, Idrus, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, dan lain-lain. Dengan kata lain, karya-karya sastra Indonesia masa kini sesungguhnya tidaklah membawa perubahan paradigmatik dibanding dengan berbagai eks-perimentasi literer yang dilakukan oleh para sastrawan akhir 60-an dan awal 70-an, seperti Iwan Simatupang, Budi Darma, Danarto, WS Rendra, Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachri, dan lain-lain.
Apabila hendak dicari sebuah nama, baru Afrizal Malnalah yang menawarkan cara pandang dan pe-nyikapan baru atas tema-tema pasca-kolonial. Dia menyikapi realitas mutakhir yang penuh benda dan materialisme dengan me-nyejajarkannya subyek-subyek klasik dalam perpuisian Indonesia, seperti aku, Tuhan, cinta dan lain-lain. Selain Afrizal—yang melahirkan sederet panjang epigon—para sastrawan masih terlihat kaku dan ragu dalam menentukan posisi dan orientasinya menghadapi realitas pascakolonialnya.
Sastra pascakolonial Indonesia mengalami semacam oportunisme. Sastra Indonesia menyerahkan dirinya pada kepentingan industri (kapitalis-me). Gerakan-gerakan sastra lokal tinggal pesta-pesta kecil sehingga pluralisme dan multikulturalisme tidak berkembang menjadi kedewasaan kultural, malah sebaliknya, menjadi chauvinisme lokal yang destruktif. Sastra sampai pada posisi minor dan tersubordinasi karena telah terlucuti dari kekuatan utama dan historisnya. Kehidupan yang pragmatik-materialis-tik telah menjadi antitesis dari ke-kuatan moral sastra sehingga pena menjadi majal.
Dengan kondisi seperti itu, menurut Radhar, sebaiknya sastra berhenti melakukan kesia-siaan dengan terus menerbitkan karya-karya yang hanya merayakan arogansi dan dunia sempit pengarangnya. Mutu karya perlu ditingkatkan beserta kekuatan sosial yang membangunnya. Para sastrawan harus berani meninggalkan individualisme yang menjeratnya secara kreatif, untuk secara sosial menyatukan diri dalam sebuah wacana dimana mereka mengenali, mengidentifikasi hidup dan diri mereka sendiri, kemudian menetapkan orientasi dan gagasan kolektif untuk bergerak ke muka.
Diskusi yang Tanggung
Tema yang diusung TSI 2 sama sekali tidak ringan. Namun durasi waktu yang pendek mengakibatkan pembahasan tentang sastra pascakolonial Indonesia terasa tanggung. Belum selesai suatu persoalan diperbincangkan, sudah dialihkan ke topik lain karena waktu diskusi sudah habis. Banyak masalah yang menggantung, terutama tentang identitas seperti apa yang diharapkan dari sastra Indonesia; apakah identitas hibrida yang kemari menanggung: Timur sekaligus Barat, tradisi sekaligus modern. Rumusan sastra pascakolonial Indonesia pun setelah diskusi berlangsung setengah jalan baru beroleh titik terang.
Memang, sepertinya sastra Indonesia mempunyai banyak problem dari berbagai segi.
Semuanya menjadi pekerjaan berat yang tak tertuntaskan dalam TSI, tentu saja. Radhar dan Saut Situmorang mempermasalahkan politisasi sastra, hegemoni kelompok tertentu yang pada dasarnya telah menjadi kolonialisme pula. Katrin Bandel dan Zurmailis menggoyahkan kredibilitas Saman karya Ayu Utami sebagai puncak karya sastra pasca-kolonial Indonesia mutakhir. Pemikiran Anton Kurnia yang menyarankan dibentuknya lembaga penerjemahan sastra yang dapat menjadi jembatan sastra Indonesia ke dunia internasional, dan sebaliknya, sastra dunia ke Indonesia, tinggal sebatas wacana yang entah bagaimana dapat diwujudkan.
Ironisnya, persoalan besar yang berada di pundak para penggiat sastra itu tak benar-benar mendapat perhatian utuh dari peserta. Hampir pada setiap sesi diskusi diisi oleh keasyikan para peserta ngerumpi di belakang. Ada yang berkomentar bahwa itu fenomena biasa dalam perhelatan sastrawan/ seniman, seolah waktu tidak cukup-cukup untuk ngobrol di luar topik. Beberapa kali moderator terpaksa mengeluarkan imbauan keras untuk menertibkan forum dan menyarankan kepada ‘sastrawan penggembira’ untuk memilih tempat di luar daripada cuma menggaduh. Barangkali hal itu disebabkan setting acara yang kurang memberi kesempatan kepada para sastrawan untuk berdiskusi ngalor ngidul dan temu kangen dengan rekan sepro-fesinya.
Dukungan pemerintah daerah dan TSI 3
Satu hal yang mengagumkan dari acara TSI 2 di Bangka Belitung adalah dukungan dan perhatian besar dari pemerintah daerahnya. Pada acara pembukaan, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Ir. H. Eko Maulana Ali, M. Sc., menjamu langsung seluruh peserta di rumah dinasnya. Acara hiburan kesenian yang disuguhkan adalah kesenian tradisional berupa musik gambus Melayu dan atraksi berbalas pantun, bukan nyanyian pop dengan iringan orgen tunggal seperti di daerah ini. Tidak tanggung-tanggung, setelah membuka secara resmi, Gubernur Eko tampil membawakan Gurindam Abad 21 diiringi musik setempat.
Meski merupakan daerah yang masih belia dan pencapaian sastranya belum begitu bergema—kecuali tetralogi Laskar Pelangi, itupun ‘status kesastraannya’ masih diperdebatkan—Bangka Belitung sangat berani dengan mengajukan diri menjadi tuan rumah, kemudian semampu mungkin menjalankan tanggung jawabnya.
Kondisi miris terasa atas sastra Sumatra Barat. Meski menyumbang penulis cukup banyak dari kedua buah buku antologi yang diterbitkan (9 dari 99 orang, ditambah sejumlah un-dangan khusus), ternyata dari provinsi ini hanya satu orang sastrawan yang datang, yakni saya sendiri. Sastrawan-sastrawan lain tidak dapat hadir karena terkendala biaya transportasi. Saya sangat beruntung karena dibantu oleh Komite Sekolah SMP IT Adzkia (terima kasih kepada Bapak Uyung dan Ibu Rita) sehingga dapat berangkat meski harus lewat jalur darat menempuh jarak ratusan kilometer.
Kenyataan tersebut menunjukkan ironi lain bahwa di daerah yang telah melahirkan sastrawan-sastrawan besar seperti Marah Rusli, Idrus, Chairil Anwar, Hamka, AA Navis, dan lain-lain ini, sastra tak begitu berharga—setidak-tidaknya di mata pemerintah daerah. Sastra tak dapat dijadikan obyek andalan yang menghasilkan uang dan gengsi seperti pariwisata dan kesenian pop sehingga tidak diberi perhatian. Padahal bahasa Indonesia yang dipakai hari ini tidak lepas dari lekat tangan para sastrawan Sumatra Barat yang telah memberi warna kental atas sastra modern Indonesia.
Hati saya sangat getir ketika mengetahui bahwa Esha Tegar Putra (penyair muda; sekadar contoh) yang telah ‘mengemis’ dana ke Walikota Solok tak jadi datang karena dana tak turun, padahal dia telah diundang hadir dalam acara peluncuran buku kumpulan puisinya. Sementara, seorang peserta dari Pulau Belitung yang jaraknya sangat dekat dari Pangkalpinang diberi ongkos satu juta rupiah oleh bupatinya. Sastrawan dari Ternate, Maluku Utara, malah mendapat sokongan penuh dari gubernurnya sehingga dengan percaya diri mengajukan diri menjadi tuan rumah TSI 3.
Begitu pula dengan Nusa Tenggara Timur, Riau, Sulawesi Barat, Sumatra Utara, dan daerah-daerah lain yang kualitas kesastraannya (kalau boleh disebut) tidak terlalu istimewa dibanding perkembangan sastra Sumatra Barat, mereka tidak saja didukung secara moral dan material oleh pemerintahnya, namun juga diutus sebagai duta daerah.
Temu Sastrawan Indonesia ke-3 akan digelar tahun depan di Tanjung Pinang, Provinsi Kepulauan Riau dengan ketua panitia Abdul Kadir Ibrahim. Tema yang akan dibahas akan dirumuskan panitia, juga waktu pelaksanaannya. Para sastrawan Indonesia yang tinggal di Sumatra Barat barangkali perlu menabung dari sekarang agar dapat memenuhi undangan panitia, sekiranya nanti hati pemerintah daerah tidak kunjung terketuk.[]
*) Penulis adalah Sastrawan
Sumber: http://www.padang-today.com/index.php?today=article&j=3&id=921
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar