Langsung ke konten utama

Sembunyi-sembunyi “di Negeri Bolqiah”

Isbedy Stiawan Zs
http://wisata.kompasiana.com/

PADA 16-20 Juli lalu, bersama sejumlah penyair Indonesia, saya mengunjungi Brunei Darussalam–negerinya Hasanal Bolqiah yang kayaraya itu. Turun dari pesawat Royal Brunei di Bandara Bandarseribegawan, rombongan dari Cengkareng disambut hangat para panitia.

Cukup lama juga kami berada di loby bandara, karena ada seorang peserta yang memiliki parpor sudah kadaluwarsa sehingga harus mengurus surat-surat bebas masuk negeri yang mesjidnya semuanya megah dan indah itu. Setelah beres, kami pun menuju bus ke Pusat Belia untuk mengantar para penyair yang bermalam di sana, yang lainnya di sebar ke sejumlah hotel: di antaranya LeGalery–tempatku menginap bersama penulis novel Ayat-Ayat Cinta–Ketika Cinta Bertasbih–Bumi Cinta Habibburachman El-Syiradz, Ahmadun Yosi Herfanda si “Sembahyang Rumputan”, Chavcay Syaifullah, Siti Zainon Ismail (Malaysia), Cik Rakib–Sawawie (Thailand), dan beberapa peserta Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) IV yang dilaksanakan 16-19 Juli 2010.

Sungguh, saya kira hampir seluruh penyair ‘ahli hisap’ (perorok), merasakan selama 4 hari di Brunei Darussalam ini benar-benar mencekam: kemerdekaan seperti terpasung, mata para polisi kerajaan bagaikan selalu mengintai. Kekhawatiran akan tertangkap basah saat mengepulkan asap rokok, lalu diganjar hukuman (jika dirupiahkan, menurut orang Brunei, sekitar Rp1.500 ribu)–meskipun si pelanggar adalah warga asing yang baru sekali datang. Entah, apakah itu hanya untuk menakut-nakuti atau benar-benar dijalankan tanpa pandangbulu! Sebab, hampir setiap warga Brunei yang kami tanya soal merokok, selalu berkata begitu. Akhirnya, kami pun sembunyi-sembunyi…

Namun, saya termasuk pendatang agak bandel. Sesampainya di sebuah hotel transit, saya “tantang” seorang penyair Brunei (baiknya, namanya di sini tak saya sebutkan) yang konon dikenal “pemberani” dan “pembangkang” di antara para penyair Brunei lainnya. Bahkan, sahibul cerita, dia pernah membikin kartunama dengan fotodirinya sedang merokok, tatkala pihak keraajaan memfatwakan pelarangan merokok. Ah, seorang teman saya dari Tangerang berujar, jangankah fatwa sultan bahkan firman Tuhan pun dia berani melanggar. Ini cerita saat dia mengantar kami ke mesjid Sultan Bolqiah untuk salat Jumat, ia hanya mengantar dan menjemput.

Itu sebabnya, ketika saya ingin merokok, dengan gaya khasnya yang selalu riang, mengajak saya turun lift dan di luar hotel itu kami merokok. Dia bilang, kita boleh merokok asal lima langkah dari dinding gedung dan tidak di tempat terbuka: artinya, kami bisa merokok asalkan terhalang pepohonan atau kendaraan. “Dan, harus tetap waspada. Terutama polisi yang tidak pakaian seragam,” katanya.

Ujaran teman penyair Brunei itu sekaligus menjadi pelajaran bagi kami. Memang setiap ada larangan, pasti terbuka juga cara untuk melanggarnya. Pepatah lain lubuk lain ikan itu, hanya berlaku pada kebudayaan atau adat istiadat. Sedangkan ranah hukum, bisa saja fleksibel.

Akhirnya kami pun bisa merokok, meskipun tetap dengan kekhawatiran, ataupun secara sembunyi-sembunyi. Misalnya, saat acara baca puisi di pasar modern, sehabis makan malam para pecandu tembakau mulai ‘belingsatan’ untuk mencari tempat: ada yang masuk ke toilet dan merokok, sementara saya dan penyair Chavchay turun ke bawah dan keluar, di rindang taman dan terhalang bus panitia kami pun merokok. Hanya saja, kami selalu boros, sebab lebih banyak merokok hanya separo lalu dilumat di bawah telapak sepatu! Alasannya sederhana: kenikmatan tak boleh dinikmati lama-lama, sebab lazimnya akan menuai ketaknimatan. Setiap kesusahan pasti ada kemudahan. Nah, kami khawatir setiap kemudahan akan mendapatkan kesusahan: ditangkap polisi kerajaan Bruneidarussalam.

Polisi kerajaan Brunei, menurut teman-teman penyair Brunei, tidak langsung menangkap warga yang merokok. Mereka menangkap setelah ada bukti. Bukti yang tak akan terbantahkan, ialah para polisi di sana lebih dulu akan memoto si pelaku. Kalau rokok itu sudah dilumat di tanah, mereka akan segera pergi. Ini pengalaman yang diceritakan penyair Yopi Umbaran, Firman Venakyasa, dll. saat merokok sebelum memasuki Bandara Bandarseribegawan. Saat mereka merokok, para pemuda Brunei tersenyum-senyum ingin menjebak dengan cara diam-diam melapor ke polisi. Ternyata orang Indonesia terbiasa menghadapi situasi seburuk apa pun atau lebih tepatnya lebih lihai kalau urusan “menipu” (hehehehe). Begitu polisi datang, rokokpun sudah dibuang! Kecelenya polisi, kecewanya para pemuda Brunei…

Tetapi, dalam berbagai seminar, para penyair Indonesia yang perokok kerap keluar ruangan. Berjamaah merokok. Tak cuma lelaki, perempuan penyair pun ikut merokok (tak perlu saya sebutkan siapa namanya di sini). Merekok secara berjamaah memang mengasyikkan. Barangkali ini juga yang menguatkan hati kami, keberanian kami, untuk “melawan” fatwa Sultan Hasanal Bolqiah tentang pelarangan merokok.

Pelarangan merokok di muka umum, membuat banyak kedai tak berani menjual rokok. Hanya tempat-tempat tertentu yang boleh mendagangkan rokok, itu pun harus sudah ada lisensi dari kerajaan dengan label peringatan merokok dari kerajaan Brunei. Banyak beredar rokok di negeri ini adalah produk Jarum Kudus.

Jadi, selama di Brunei, kami benar-benar layaknya pencuri, yang sembunyi-sembunyi agar tidak ditangkap polisi. Dan, orang Indonesia, memang paling lihai dalam soal ini. Terbukti, tak satu pun kami yang ditangkap lalu ditinggal rombongan. Biar pun saya pernah merokok di rumah makan pasar modern siang hari, cuma ditegur seorang satpam: “matikan rokok itu.” Saya pun melumatnya di piring bekas makan, untuk rokok yang kedua.*

Bandar Lampung, 29 Juli 2010

*) Lahir di Tanjungkarang, Lampung, dan hingga kini masih menetap di kota kelahirannya tersebut. Menulis puisi, cerpen, esai sastra dan opini sosial, politik, dan kebudayaan. sejumlah buku sastra yang telah diterbitkan oleh penerbit di Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com