Langsung ke konten utama

Salam dari Amsterdam

Heri Latief
http://politik.kompasiana.com/

Seorang kawan menulis surat pada saya, apakah saya bisa cerita tentang kehidupan di Belanda. Mulanya saya bingung juga, apa yang saya mau ceritakan? Apakah boleh menulis tentang konflik antara kaum pendatang dan Inlander, komplit dengan bumbu agamanya?

Kawan saya bilang soal konflik agama tak perlu diceritakan, katanya dunia sudah muak dengan segala berita provokasi hasil konflik beragama. Saya jadi maklumlah, di Eropa yang lagi hot isunya adalah soal anti agama “import”, sedangkan jelas terlihat bahwa praktik pertentangan klas di dalam masyarakat maju masih tetap saja terjadi, walau pun secara ekonomi dan sosial Barat telah berhasil memakmurkan sebagian besar rakyatnya, tapi rupanya masih ada yang miskin alias tiarap ekonominya, sudah tentu kemiskinannya lain lagi sifatnya jika dibandingkan dengan situasi kemiskinan di negeri dunia ketiga seperti Indonesia, tidak adil membandingkannya. Kita tahu bahwa antrian minyak tanah tak akan terjadi di Barat yang cara memasaknya memakai kompor gas atau kompor listrik.

Di Belanda kasus “kemiskinan” simbolnya adalah pembagian sembako via pos-pos sosial, namanya Voedselbank, misalnya di daerah Amsterdam Zuidoost. Menurut statistiknya 83% dari para penerima bantuan ini terjerat urusan hutang berat, sehingga bantuan tsb sangat diperlukan. Maka bermunculanlah Voedselbank di seluruh negeri Belanda. Saya tadinya tidak percaya bahwa di negeri Belanda juga ada antrian bantuan sembako, tapi setelah publikasinya muncul di media, saya pun maklum, tampaknya musti ada perbedaan klas yang tajam dalam masyarakat di suatu negara industri, untuk menjaga agar supaya tetap ada balans antara sangkaya dan simiskin, semua tentunya demi keuntungan sistim Kapitalisme.

Belanda terkenal dengan watak klas pedagangnya, Kruideniermentaliteit, sehingga tidak heranlah licinnya roda ekonomi sejak jaman baheula tetap berjalan sampai saat ini sesuai dengan semangat jiwa VOC, jaman dulu mereka berlayar jauh dari Amsterdam ke kepulauwan Nusantara demi mencari rempah-rempah, dengan mendapat keuntungan gila-gilaan, sebesar 2500 persen! sekarang hanya dengan mengirimkan Unilever sudah bisa mengeruk keuntungan besar dari jauh tanpa musti mengeluarkan tembakan sebutir peluru…

Ruang hidup orang asing di Amsterdam sangat asyik dan penuh toleransi, ini mungkin karena Amsterdam terkenal sebagai kota kaum Sosialis, Liberal (pedagang) dan Seniman. Dalam dunia musik Belanda dikenal nama Andre Hazes (almarhum), seorang penyanyi rakyat, yang dicintai kawan dan lawan ini memang punya suara merdu, patungnya sang maestro ada di pasar Albert Cuyp, bergaya lagi nyanyi duduk di korsi bar. Asli Amsterdammer, bir dan Cafe sebagai gaya hidup.

Jangan lupa juga, ide kebebasan dalam arti kata kebebasan dalam memilih cara hidup sangat dihormati di negeri kincir angin ini, bahkan di depan gereja Westerkerk ada sebuah “Homo Monumen”, marmer berbentuk segitiga, contoh lainnya di depan gereja tua Oudekerk di Zeedijk ada kamar-kamar buat majang para pekerja sex. Di gereja tua ini pernah diadakan pameran lukisan dari pelukis Lekra, Basuki Resobowo.

Amsterdam pernah diberi judul: kota Sodom dan Gomorrah yang punya serikat pekerja pelacuran.Tak heranlah, jutaan orang setiap tahun mampir ke Amsterdam untuk sekedar buang tai macan, atau stoned di coffeshop. Vrijheid = Blijheid. Kebebasan = kebahagiaan, demikian kata orang sana.

Resiko dari kebebasan itu juga minta korban, misalnya terjadi pemukulan di jalanan terhadap kaum gay, pembakaran sekolah islam pada saat terjadinya pembunuhan terhadap sineas Theo van Gogh, pertentangan antar ras semakin keras seperti batu cadas. Di kalangan anak mudanya terjadi situasi “saling mengawasi”, siap sedia, karena pembauran itu di lapangan ternyata sangat sulit dilaksanakan, praktiknya adalah masih adanya cap orang asing sebagai warganegara klas kambing dan superioritas penduduk asli, padahal banyak orang asing yang sudah ikut dalam sistim secara seratus persen, misalnya ada yang jadi pejabat di departemen kehakiman, tapi tetap saja dianggap loyalitasnya ganda, sebab punya 2 kewarganegaraan. Ini juga perkara aneh, suatu kasus politik yang punya pejabat publik dengan 2 macam paspor.

Bingung kan? Itu bisa terjadi di Belanda. Sempat diributkan juga kasus tsb oleh partai ekstrim kanan, tapi tak mempengaruhi situasi yang ada, paspor ganda tak jadi soal selama bisa kerja optimal buat kepentingan Belanda. Pilihan pragmatis yang luar biasa sekali itu akibat dari persaingan dalam mencari dukungan politik, artinya kepentingan Belanda terhadap para pendatang sangat besar, para pendatang juga sebagai salah satu faktor pendukung kejayaan politik dan ekonomi Belanda di Eropa dan dunia.

Orang Belanda juga punya sifat sosial yang besar terhadap binatang, dibuktikan dengan adanya partai binatang, dan punya wakil di parlemen. Hati-hati jangan sembarangan nimpuk anjing atau nendang kucing di Belanda, bisa dilaporkan ke polisi dan kena denda. Jadi jangan marah-marah jika lagi santai jalan-jalan di trotoar kota Amsterdam lalu sepatu kita secara tak sengaja menginjak tai anjing. Sepertinya kita tak sah datang ke Belanda jika sepatu kita belum menginjak tai anjing di trotoar.

Perbedaan dasar orang kita dengan wong Londo itu bisa saja dilihat dari cara orang membersihkan dirinya setelah buang air besar, si Londo cukup dengan 5 lembar kertas cebok, si orang asing musti punya sebotol air buat cebok di dalam wc nya. Yang mana lebih ngirit, siapa yang hipokrit, yang mana lebih efisien dan keren? Jawabnya adalah suka-suka elo aja deh, yang penting bersih

Amsterdam, 4 Maret 2008

Komentar

PUstakapuJAngga.com

Sastra-Indonesia.com