Langsung ke konten utama

APRESIASI ATAS PUISI PARA PENYAIR YANG TERCECER

KEGELISAHAN TANDA HIDUP
Maman S Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Kegelisahan tanda hidup: itulah yang memaksa manusia terus memelihara dinamika dan berkembang dengan berbagai kreativitasnya. Itulah yang menyebabkan para penulis—sastrawan, terus berkarya sepanjang usianya. Tak ada kata pensiun bagi penulis selama nyawanya belum melayang. Dan kegelisahan itu lahir dari sebuah elan yang datang bukan sekadar fanta rhei, segalanya mengalir dinamis, melainkan juga mengalir dengan semangat membangun sesuatu yang baru, mencipta dan menegakkan monumen. Atau, paling tidak, menunjukkan jati dirinya, eksistensinya yang dalam filosofi Rene Descartes dirangkum dalam satu kalimat terkenal: cogito ergo sum, aku berpikir, maka aku ada! Itulah barangkali yang mendasari usaha Hendry Ch Bangun mengumpulkan sejumlah puisi dari rekan-rekan penyair seangkatannya. Atau, jika sekadar berbagi “nostalgia” misalnya, tetap saja hasilnya sebuah karya, sebuah monumen, meski besar-kecilnya tetaplah ukuran relatif.

Boleh jadi analogi itu terkesan berlebihan. Tetapi, jika kita hendak menempatkannya dalam sebuah lanskap sejarah sastra Indonesia ketika para penyair yang terhimpun dalam buku ini memulai kiprah kepenyairannya, maka itulah yang dimaksud kegelisahan. Mereka, para penyair ini, lahir dan bergerak dalam sebuah lingkaran sastrawan segenerasinya. Peranan mereka kemudian menyebar memasuki wilayah pekerjaan dan profesi berbagai bidang. Tetapi, jangan lupa, gerakan mereka sempat menyebarkan pengaruhnya pada generasi di bawahnya. Jadilah ada kesinambungan yang bergerak tak terputus. Tulisan ini coba memetakan di mana posisi mereka layak ditempatkan.

Meskipun harus disadari, antologi ini mungkin dilandasi oleh semangat yang sama tentang kegelisahan tanda hidup itu, tentu saja, di sana masih terlalu banyak nama yang tercecer. Tetapi begitulah, tugas menghimpun sesuatu selalu berakhir dengan ketidaklengkapan, kerap ada saja yang luput. Dan terlepas dari perkara itu,kita dapat melanjutkan ke pertanyaan lain: apa maknanya antologi ini bagi kesusastraan Indonesia? Tidakkah ia sekadar menambah deretan nama dalam senarai penyair Indonesia. Atau ada sesuatu yang lain yang hendak ditegakkannya.

Tindak berbuat apa pun, pada hakikatnya selalu lebih baik daripada diam membeku, terlindas oleh catatan sejarah yang menyisakan begitu banyak nama yang tercecer, tenggelam, atau sengaja diluputkan. Tanpa sadar (atau dengan segala kesadarannya), itulah yang dilakukan A Teeuw atau bahkan juga HB Jassin, meski kita juga tidak dapat melupakan kontribusinya dengan berbagai monumen yang pernah dipancangkan. Tetapi ketika esai berjudul “Angkatan 80 dalam Sastra Indonesia” yang ditulis Korrie Layun Rampan muncul di Harian Suara Karya (24 Agustus 1984) menyusul simpang siur pandangan mengenai Angkatan 70 yang berkembang dalam rubrik “Dialog” mingguan Berita Buana, ada semacam rumpang yang dilakukan Korrie Layun Rampan. Jika itu kemudian kita terima begitu saja, maka sejumlah nama akan hilang tenggelam.

Abdul Hadi WM –yang kebetulan menjadi pengasuh rubrik “Dialog” mingguan Berita Buana itu, mengusung nama Angkatan 70 bagi generasinya. Meskipun demikian, ia memberi pertimbangan lain atas peran Iwan Simatupang sebagai salah satu pemicu gerakan estetik Angkatan 70. Mulailah pada dasawarsa tahun 1970-an itu, kesusastraan Indonesia ditumbuhi dengan begitu banyak karya eksperimental. Sejumlah karya dengan semangat itu kemudian dianggap sebagai sebuah konvensi kesastraan yang makin mapan sampai dasawarsa 1980-an.

Di tengah kemapanan itu, para penyair yang karya-karyanya terhimpun dalam antologi ini, memulai kiprah kepenyairannya. Maka mereka sesungguhnya telah memberikan kontribusi lain bagi penyemarakan kesusastraan Indonesia dasawarsa tahun 1980-an. Mereka, waktu itu, memang tidak dapat melepaskan diri dari keterpukauan pada Angkatan 70-an. Tetapi tokh mereka juga bukan termasuk golongan epigon. Mereka menyerap khazanah karya tahun 1970-an, tetapi pergerakan mereka berada di dalam lingkaran generasinya dan coba menentukan jati diri ekspresi kreatifnya. Maka yang muncul adalah sebuah jati diri dari generasi yang terpukau oleh Angkatan 70-an, tetapi tak hendak menempatkan diri dalam bayang-bayang generasi mana pun. Mereka coba bermain dengan dunia yang dikenalnya, dan bukan dunia yang diidamkannya, atau tidak juga mencoba mengangkat tradisi yang berada nun jauh di sana, di masa lalu, sebagaimana yang dilakukan Angkatan 70 itu.

Langkah yang ditempuh itu, ternyata menjadi sesuatu yang penting, lantaran kesan keterpengaruhan oleh karya-karya generasi sebelumnya, tidak tampak menonjol. Tentu mereka menyerap juga pengaruhnya, tetapi pengaruh itu tidak diterima secara membuta-tuli, tidak juga diterjemahkan secara artifisial. Mereka bermain dengan kebebasannya sejalan dengan apa yang menjadi kehendaknya. Mereka mengalir saja menurutkan kata hati dan kegelisahannya. Maka pembacaan pada karya-karya sebelumnya, tidak dimaksudkan untuk menjadi pengikut—pembebek—epigon, tidak juga hendak digunakan sebagai usaha untuk melakukan pemberontakan, melainkan sebagai sesuatu yang memang telah menjadi tuntutan untuk memperkaya folder wawasan intelektualnya.

Perlu dicatat di sini, kelompok sastrawan Angkatan 80-an, termasuk para penyair yang karya-karyanya terhimpun dalam antologi ini, sebagian besar bukanlah kaum penghamba bakat alam. Mereka lahir dan membesar dalam lingkaran kelompok yang membaca, yang menyadari, bahwa kreativitas menuntut wawasan, pengetahuan, informasi lain dari teks-teks yang lain. Mereka kelompok yang membaca, yang aktivitas diskusinya dimanfaatkan untuk saling menyebarkan wawasan sambil sekalian sharing gagasan. Maka, ketika di antara mereka ada yang meminggirkan diri lantaran memasuki profesi lain, folder kreativitas estetiknya tidak kosong melompong. Oleh karena itu, ketika mereka kembali bangun dari keterlenaan panjangnya, style, kekhasan atau penanda jati dirinya, semuanya mengalir begitu saja, seperti seseorang yang ingat masa lalunya, lalu membuka file lama yang tersimpan dalam folder kesadaran estetiknya.

Jika sejumlah puisi yang terhimpun dalam antologi ini dihasilkannya selepas mereka punya pengalaman hidup setengah abad, ekspresi puitiknya telah terbentuk pada awal mereka memproklamasikan kiprah kepenyairannya. Itulah yang dimaksud membuka file lama dari folder masa lalu. Di situlah uniknya antologi ini. Di satu pihak, mereka telah menjadi penyair pada awal tahun 1980-an itu, dan di pihak yang lain, mereka tak hendak menempatkan masa lalu tidak sebagai sebuah nostalgia an sich yang membuatnya tidak bebas bergerak. Justru dari sanalah kemudian mereka seperti melakukan istirahat panjang, lalu tiba-tiba terbangun dan mengekspresikan pengalaman kekiniannya. Lalu di manakah posisi mereka hendak ditempatkan?

***

Antologi ini menghimpun karya-karya 21 penyair yang –seperti telah disebutkan—kiprahnya dimulai sejak awal tahun 1980-an. Dari jumlah itu, lebih dari separohnya, para penyair ini, lebih banyak bergerak dalam bidang lain, terutama dunia kewartawanan. Boleh jadi lantaran itulah, sejarah seperti enggan mencatatnya. Padahal, tentu saja, sebagai fakta historis, mereka pernah ikut memainkan peranan penting dalam dinamika perkembangan kesusastraan Indonesia.

Sebutlah tiga nama –diurut secara alfabetis—yang saya tahu kiprahnya ketika itu: Hendry Ch Bangun, Linda Djuwita Djalil, dan Wahyu Wibowo. Ketiganya, tanpa mereka sadari, telah ikut menyemarakkan kehidupan bersastra di kampusnya, Fakultas Sastra UI, Rawamangun. Awal tahun 1980-an, tradisi diskusi dan wara-wiri dalam berbagai kegiatan kesusastraan di kampus itu, menyebar dinamis dan menjadi sesuatu yang semarak. Mereka juga bergentayangan berkolaborasi atau mengajak generasi seangkatannya dari kampus lain dalam dinamika aktivitas bersastra. Maka, sambil memprovokasi adik-adik kelasnya di kampusnya sendiri, mereka mengajari, bagaimana bergaul dengan teman-teman dari kampus lain.

Jika peranan mereka cukup signifikan dalam kehidupan kesusastraan Indonesia ketika itu, bukankah mereka juga seyogianya tetap mempunyai hak yang sama ketika kita hendak membuat sebuah lanskap perjalanan. Apalagi jika kita coba menelusuri biografi mereka. Puisi sesungguhnya awal kiprah mereka dalam dunia tulis-menulis. Jadi, pintu masuk mereka ke berbagai bidang profesi itu sesungguhnya juga melalui puisi. Jika kemudian sejumlah besar nama itu meninggalkan dunia kepenyairannya, duduk perkaranya berkaitan dengan persoalan pilihan. Mereka memilih bidang profesi lain dengan berbagai pertimbangan, tetapi tidak berarti melupakan puisi sama sekali. Ada semacam panggilan jiwa yang memaksanya untuk coba memasuki kembali wilayah yang begitu asyik digaulinya. Itulah aura magis puisi!

Persoalannya akan lain jika secara kualitatif, karya mereka tergolong picisan yang lebih layak masuk keranjang sampah daripada masuk catatan yang melengkapi sebuah lanskap perjalanan. Maka, penghilangan nama-nama mereka yang karyanya termasuk kategori picisan itu bukanlah sebuah dosa sejarah. Dalam konteks itulah, penting artinya menempatkan posisi para penyair yang terhimpun dalam antologi ini, manakala kualitas karya mereka tidak lagi jadi persoalan. Bagaimanakah sesungguhnya kualitas karya mereka? Mari kita periksa!

***

Antologi ini disusun secara alfabetis berdasarkan urutan abjad nama pengarang. Maka, perbincangan karya mereka sesuai dengan urutan abjad itu. Mengingat beberapa persoalan teknis, perbincangannya sendiri dilakukan secara sekilas pintas dengan coba mengupas satu-dua puisi, meski rata-rata mereka menyertakan tujuh—10 puisi.

***

Adhie M Massardi menyertakan delapan puisi. Salah satu puisinya yang berjudul “Presiden Jatuh Lagi” menunjukkan bahwa puisi kerap datang sebagai panggilan jiwa, sebagai suara hati yang paling dalam. Seperti deklarasi yang dikumandangkan para penyair romantik, puisi adalah getaran jiwa yang terdalam dan berada nun jauh entah di mana, namun menyebar mengikuti aliran darah. Dan di sanalah tuhan bertahta. Bukankah kreativitas juga merupakan bagian dari sifat Tuhan. Maka, ketika bangsa ini diterjang hingar-bingar, puisi tiba-tiba saja menjadi pilihan: “Dan aku kembali menulis puisi”.

Dalam konteks itu, bagi Adhie M Massardi, puisi laksana mata air yang tanpa disadarinya terus mengalir dan membawanya entah ke mana. Dan ketika ia sadar, bahwa kini arusnya seperti tidak ada hubungannya dengan sumber awalnya, ia kembali merindukan mata air itu lagi. Dengan begitu, puisi laksana menjadi sumber, sekaligus muara. Tetapi di mana pun sumber dan muaranya kini, ia tetap dianggap yang paling tepat mengalunkan suara hati. Itulah aura magis puisi yang bergerak seputar suara hati dan denyut jiwa. Maka, kerinduan pada Tuhan dapat dilakukan melalui keterpesonaan pada alam, hutan, burung.

Beberapa puisinya yang lain menunjukkan, bahwa penyair menyadari betul hakikat puisi tidak sekadar luapan emosi atau ekspresi jiwa. Selalu, di sana, ada sesuatu yang sengaja disembunyikan, ada pesan yang hendak diselusupkan. Maka, secara tematik, puisi menjadi sarana alternatif lain, ketika jiwa-hati dilanda kegelisahan. Dan pada saat yang sama, tak terhindarkan sentuh estetik (aesthetic contact) berbicara pula di sana. Cermati saja puisinya yang berjudul “Pada Sebuah Revolusi”. Gebalau politik dan rentetan demonstrasi massa, dikemas begitu simbolik. Maka, “Telah kumerdekakan ibumu!” … /anak-anak/ menuding pucuk pinus yang rapuh”// menjadi sangat metaforis, begitu simbolik. Siapakah atau lembaga manakah yang dimaksud dengan pucuk pinus itu?

Tentu saja kita dapat mencantelkannya pada siapa pun atau apa pun. Tetapi, lihatlah citraannya: pucuk pinus yang rapuh, ujung daun yang menjulang tinggi kerap condong kian-kemari bergantung arah angin yang datang menerpanya. Dalam slogan Orde Lama disebut: plintat-plintut, mencla-mencle. Siapakah yang dimaksud? Itulah kecerdasan seorang penyair. Itulah puisi yang sebenarnya (truly) yang bermain dalam diksi, majas, gaya bahasa. Oleh karena itu, ekspresi kegelisahan itu tidaklah mencelat begitu saja dalam larik kata-kata yang bermakna artifisial, denotatif, letterlijk, melainkan sesuatu yang metaforis, simbolis, dan mengganggu saklar asosiasi—imajinasi pembaca untuk membayangkan hal lain di luar teks. Itulah yang dimaksud citraan (image). Itulah substansi puisi!

Pengucapan dan kemasan yang sarat metafora itu tampak pula dalam puisinya yang berjudul “Presiden Jatuh Lagi.” Di tengah hiruk-pikuk intrik politik, tentara dan polisi yang nyaris terbelah, demonstrasi dan isu yang jadi santapan media massa setiap hari, si aku lirik malah bertanya: “Tetapi, pada ke mana kupu-kupuku?” Lho, kok, kupu-kupu? Bagaimana mungkin di tengah gebalau hiruk-pikuk dan ketegangan, tiba-tiba si aku lirik mengingat kupu-kupu. Itulah simbolisme, itulah metafora. Kupu-kupu adalah makhluk serangga yang terbang tak pernah bergegas. Mustahil pula mengepakkan sayapnya keras-keras. Ia cukuplah meliuk cantik dengan sayapnya yang indah. Tak ada hingar-bingar dalam kehidupan kupu-kupu, dan selalu ada aura damai manakala kita memperhatikannya. Itulah representasi suara kemanusiaan yang pada hakikatnya selalu menciptakan persaudaraan dengan sesama makhluk. Jadi, kupu-kupu sekadar simbol yang di sana ada representasi suara kemanusiaan yang datang dari hati nurani. Pandang yang memancarkan kedamaian.

Meski begitu, secara metaforis, kupu-kupu adalah makhluk yang wujud dari sebuah proses metamorfose. Ia mula-mula sosok ulat yang menempel sekian lama dalam senyap panjang, menjadi kepompong dalam diam, dan menggeliat lalu terbanglah menjadi kupu-kupu. Tema tentang kejatuhan presiden, itu juga laksana proses metamorfose yang rumit, penuh intrik dan ketegangan. Jadi, ketika si aku lirik bertanya tentang kupu-kupu, kejatuhan presiden memang melalui proses dan hukum kausalitas. Tetapi di sana, proses itu tidak melalui metamorfose yang lazim. Ada anomali, ada hukum alam yang dilanggar.

***

Adri Darmadji Woko lain lagi caranya menyampaikan kegelisahan. Seperti juga Massardi yang tak terkungkung pada tema tertentu, Woko pun mengangkat berbagai hal yang terkesan remeh-temeh, tetapi apa pun bagi penyair tetaplah inspiring ketika ia dicantelkan pada persoalan manusia. Lihat saja kritiknya pada para penghamba ramalan, dalam puisinya yang bertajuk: “Bola Kristal”. Bagaimana mungkin nasib manusia seolah-olah tergeletak pada bola kristal seorang cenayang?

Periksa juga beberapa puisinya yang lain: “Kota Tua,” atau “Apartemen”. Objek yang dilihatnya menjadi titik berangkat untuk mengungkapkan sesuatu yang berada di balik itu. Di sinilah pencermatan penyair—sastrawan pada umumnya—kerap meneroka lebih jauh sesuatu dengan mata batin. Mata sebatas untuk melihat, tetapi mata batin untuk meneroka, mengungkap, atau melakukan re-kreasi –penciptaan kembali—dunia yang berada dalam benda-benda kasat mata. Semacam dengan perdebatan Plato dan Aristoteles tentang hakikat “yang ada” (being) dan tentang dunia ideal dan dunia material. Maka ketika si aku lirik sampai di kota tua, yang dibayangkannya bukanlah bangunan-bangunan kuno bersejarah, melainkan ada peristiwa apakah di belakang sejarah bangunan itu; bagaimana sejarah di balik pembangunan gedung-gedung kuno itu.

Demikian juga, ketika si aku liris memasuki apartemen, yang dibayangkannya adalah kamar-kamar tertutup yang justru menciptakan keterasingan dan alienasi. Jika diibaratkan dengan dunia seni lukis, Woko tidak sekadar menggambar pemandangan alam atau benda tertentu yang cukup dapat memuaskan mata dan selesai hanya sebatas pandangan, melainkan mencipta sebuah lukisan yang memaksa pandangan mata membayangkan sesuatu di balik objek lukisnya. Ia melukis sesuatu sebagai pintu masuk penikmatnya untuk berpikir sesuatu yang lain, yang berada di luar itu. Dan puisi memberi peluang begitu luas untuk membayangkan berbagai hal lain di luar teks. Itulah aura puisi (yang baik) yang selalu menghamparkan medan tafsir.

***

Afrizal Anoda menyertakan delapan puisi, satu di antaranya puisi pendek. Anoda tampak hendak memanfaatkan tipografi secara lebih bebas. Terkesan ia sengaja tidak hendak terikat pada bentuk puisi konvensional. Dalam puisi, atau karya seni lainnya, cara ini tentu saja diizinkan, bahkan juga dianggap sebagai usaha untuk tidak mau terikat oleh konvensi. Duduk perkaranya kemudian adalah: sejauh mana tipografi atau keinginan untuk melepaskan diri dari konvensi itu mendukung tema dan sarana puitik lainnya. Puisi No. 250309 (Doa), Puisi No. 240894 (Mockba Peka), Puisi No. 301108 (Sawahlunto), misalnya, jelas dilandasi oleh semangat itu. Di dalamnya kita akan menjumpai adanya bait yang disusun seperti cerpen. Puisi ”Air Selokan” karya Sapardi Djoko Damono disusun dalam format seperti cerpen. Jadi, apa yang dilakukan penyair, segalanya diizinkan sejauh mendukung keseluruhan unsur-unsur puisi yang bersangkutan. Mari kita cermati:

Puisi No. 250309 (Doa) disusun dalam dua bentuk bait. Diawali dengan bait yang seperti prosa, kemudian diakhiri dengan bait konvensional. Cobalah perhatikan lagi bait keduanya berikut ini:

Tuhan, atau apalah Kau meski kupanggil

jangan dia meski dia ada

dalam barisan-Mu

sejak kemarin

Amin!

Sesungguhnya, tanpa bait pertama yang disusun seperti prosa itu, puisi ini sudah memperlihatkan kekuatannya. Lihat saja larik pertama yang menunjukkan ketakjuban aku liris, sehingga dikatakan, bahwa bahasa manusia tidak dapat mewakili kemahakuasaan Tuhan: Tuhan, atau apalah Kau meski kupanggil. Dalam hal ini, ada semacam paradoks: Tuhan sebagai sesuatu yang dianggap mahakuasa itu, ternyata cukuplah dipanggil Kau (atau Engkau). Bagaimana manusia di satu pihak memuja dan meyakini Tuhannya dengan segala kemahakuasaannya itu, disapa cukuplah dengan aku—Engkau; beraku-aku—berengkau-engkau; seperti dua orang sahabat yang begitu dekat sehingga cukuplah menggunakan kata sapaan –aku—Engkau. Paradoks itu sekaligus juga –secara semantik—menunjukkan betapa di sana ada kegamangan, keraguan untuk menyapa Tuhannya, dan ketidakyakinan pada serangkaian doa yang pernah dilantunkannya.

Perhatikan juga puisi No. 11008 (Lebaran ini)

Garis matahari di jendela

memanjang menggores bantal. Hilang bayang-bayang

Dinding kamar merunduk,

memberi salam.

Masihkah Kau mengenalku?

Perhatikan citraan yang dibangun penyair. Garis matahari di jendela/ memanjang menggores bantal … Apa yang hendak dicitrakan penyair? Segaris sinar yang menerobos celah jendela, jatuh di atas bantal seperti sebuah bentangan. Sebuah ekspresi yang tampak sederhana, tetapi di sana, kita (pembaca) dipaksa membayangkan banyak hal tentang alam, tentang garis-garis sinar matahari yang menerobos memasuki celah jendela, tentang suasana tenang, kedamaian, pagi, dan bantal. Banyak kisah tentang bantal, dan kita bebas melakukan tafsir apa pun tentang benda itu.

Jika puisi-puisi Cina klasik, seperti karya Lie Tai Po atau Manyoshu, puisi Jepang klasik, cukup sebatas menggambarkan suasana alam, Anoda rupanya hendak menempatkan alam sebagai pintu masuk menguak peristiwa yang terjadi tadi malam. Hilang bayang-bayang. Tetapi mengapa dinding harus merunduk, memberi salam. Apakah ia malu telah menjadi saksi peristiwa tadi malam dan kemudian kini sadar? Dan si aku lirik pun seperti malu berhadapan dengan Tuhan. Tentu saja segalanya menjadi problematik dan metaforis, jika kita mencantelkannya dengan judul “Lebaran ini”. Artinya, pada malam lebaran itu, di antara takbir dan suka cita kemenangan umat Islam setelah sebulan penuh berpuasa, ada semacam penyesalan. Dalam hal ini, pertanyaan retoris: Masihkah Kau mengenalku? Bukan ditujukan kepada Tuhan, melainkan kepada dirinya sendiri yang telah melakukan sesuatu yang (mungkin) akan membuat Tuhan tidak mau berdekatan.

***

Puisi adalah metafora, paradoks, ironi, atau apa pun yang maksudnya begini, maknanya begitu. Adanya semangat untuk melakukan ekonomisasi bahasa, menyebabkan penyair sering kali mencari makna kata yang tepat untuk mengungkapkan banyak hal. Di sinilah problem puisi kerap dihadapi penyair: di satu pihak penyair ingin menutupi pesannya secara sangat tersembunyi, di pihak lain, penyair ingin menyampaikan pesannya itu secara eksplisit, terang-benderang, bahkan artifisial. Maka, di antara dua sisi yang berseberangan itu, kita dihadapkan pada apa yang disebut puisi gelap, dan ada pula yang disebut puisi propaganda. Keduanya tentu saja memiliki kekurangannya.

Beberapa puisi Anny Djati W, untunglah tidak termasuk kategori keduanya. Meski begitu, pesannya yang sangat personal dengan pengalaman individualnya, apalagi ia cenderung mengangkat tema-tema seputar pribadi dirinya sendiri, menjadikan puisi-puisinya seperti tidak dapat melepaskan diri dari romantisisme individual. Maka, puisinya yang berjudul “Siapa Aku untukmu” laksana gugatan pada seseorang yang tidak dapat diungkapnya, kecuali lewat puisi. Dalam hal ini, puisi menjadi sebuah alternatif, ketika perasaan termarjinalisasikan tidak dapat diucapkannya. Jadi, ada kesedihan, harapan, dan keinginan yang hanya bergemuruh dalam hati, tetapi hanya menjadi milik dirinya sendiri. Inilah kegelisahan yang tak terucapkan.

Bagai tak ada lagi aku untukmu

Kau ambil langkah tanpa aku

Sepertinya aku telah tiada

Mungkin aku maya untukmu

Aku masih ada

Siapa aku untukmu

Begitulah ketika kegelisahan tak terucapkan, dan ia tidak hendak bersahabat atau menyapa alam, maka persoalan itu menjadi sangat personal, dan pembaca cukuplah sekadar memperoleh pewartaan itu, tanpa bermaksud mengajaknya berpihak ikut merasa terlibat dengan persoalan yang dihadapinya. Itulah risiko yang dihadapi ketika penyair mengabaikan tanda-tanda alam. Bukankah kesedihan, kedukalaraan, termasuk juga kebahagiaan dan harapan, dapat disampaikan melalui metafora alam atau apa pun.

***

Ariana Pegg menempatkan puisi boleh sebagai apa saja. Maka ketika ada sesuatu yang menggelitik, ia mencatatnya, dan lahirlah puisi. Maka lagi, tema bukanlah persoalan penting. Di sinilah puisi boleh memasuki ruang apa saja, dan coba mewartakan peristiwa apa pun. Penting atau tidak, tentu saja semuanya bergantung pada bagaimana si penyair menyajikan peristiwa itu. Dan dari sana sesungguhnya, kita (: pembaca) dapat menangkap, bahwa kreativitas sering datang tak terduga, imajinasi dapat memasuki wilayah apa pun. Bukankah kreativitas dan imajinasi terbebas dari ruang dan waktu. Dengan kreativitas dan imajinasi itu pula, persoalan remeh-temeh atau peristiwa biasa, dapat mewujud menjadi sesuatu yang luar biasa dan tidak terduga.

Periksalah puisinya yang bertajuk: “Welke Toneel Stukken Hebben Jullie Gezien?” berikut ini:

ketika gong berbunyi

musik berdentang

layar terbuka

kamu asyik berdua

dan

di mana saya?

Sebuah puisi sederhana, tetapi di situlah kekuatan puisi. Di balik kesederhanaan itu, tersimpan sebuah paradoks tentang keterpencilan aku lirik, tentang ketersisihan, bahkan juga alienasi. Di tengah hingar-bingar dan dentang musik, penonton yang tumpah, dan panggung yang meriah, si aku lirik seperti dicampakkan seseorang. Pertanyaan: di mana saya, menunjukkan suasana paradoksal itu. Saya tidak sekadar bertanya tentang tempat –yang sudah jelas diungkapkan dalam bait awal—tetapi juga posisi dalam hubungannya dengan seseorang yang khusus—mungkin kekasih, sahabat atau siapa saja.

Pertanyaan aneh itu juga menunjukkan hadirnya peristiwa aneh yang menggoncangkan. Ada semacam marjinalisasi dan ketersisihan yang tak terduga. Maka, pertanyaan aneh itu mempunyai cantelan sesuatu (peristiwa) yang juga tiba-tiba terasa aneh. Problem marjinalisasi dan ketersisihan itu didukung oleh bentuk kata ganti orang pertama: saya, dan bukan aku. Kata ganti saya, selain menunjukkan netralitas, juga tersirat ada perkara penghambaan dan pertuanan. Dalam sosiolinguistik, perkara itu termasuk dalam hubungan kebahasaan yang harus mempertimbangkan adanya stratifikasi sosial. Ia lalu berimplikasi pada marjinalisasi dan ketersisihan tadi. Bukankah kelaziman menyebut diri kepada seseorang yang dekat atau khusus itu adalah kata ganti aku?

Begitulah, pertanyaan di mana saya? Tidak saja hendak menegaskan si aku lirik yang tergoncang dibelit peristiwa paradoksal itu, tetapi juga sekaligus menggoncang eksistensi dan segala peran yang menyertainya. Apa pun yang ada di sekeliling pentas itu seketika seperti tidak lagi memihak kepadanya; semuanya seperti tidak peduli; ia terpencil sendiri di tengah pentas yang menghadirkan hiruk-pikuk keramaian.

Lalu, apa pula kaitannya dengan judul yang berbahasa Belanda itu (Welke Toneel Stukken Hebben Jullie Gezien?) Maknanya boleh diterjemahkan: Pementasan Drama apa yang sudah kalian lihat? Atau, boleh juga begini: Pementasan Drama mana yang sudah kalian lihat? Dengan begitu, pertanyaan retoris itu sesungguhnya menyimpan tiga hal: pertama, pementasan drama itu sendiri— yang (mungkin) mengangkat tema tragedi, kedua, peristiwa kamu asyik berdua yang juga bermakna dramatis—tragis bagi si aku lirik, dan ketiga, tragedi yang menimpa si aku liris yang kemudian memunculkan pertanyaan aneh tadi. Jadi, di sana, ada tragedi yang bertumpuk-tumpuk yang menimpa si aku lirik.

Begitulah, hakikat puisi yang menghamparkan medan tafsir memungkinkan kita (: pembaca) leluasa menafsir-maknainya, baik secara tekstual, maupun kontekstual.

***

Dharmadi menyertakan sejumlah puisi naratif dan beberapa puisi pendek. Tampak di sini, penyair tidak mau terikat pada tema. Maka, ketika tema tertentu perlu diungkapkan sebagai puisi naratif yang panjang, ya mengalirlah larik-larik yang berkisah tentang banyak hal dengan cantelan teks lain yang menyangkut sejarah, kebudayaan, dan mitos-mitos kepurbaan. Di situ pula penyair cenderung mengumbar imajinasinya sesuai tuntutan teks. Dalam hal ini, penyair tidak mendesak-paksa pesan-pesan ideologisnya, melainkan membebaskan diri dari keterikatan memaksakan kehendak. Ketika teks memaksanya menghadirkan teks lain, referensi lain, maka penyair memenuhi tuntutan itu, lantaran teks itu sendiri bagian dari dunia yang hendak dihadirkannya. Dengan demikian, imajinasi dan kreativitas tidak tersendak oleh persoalan di luar teks. Keseluruhannya dalam rangka membangun pesan tertentu dengan semangat tetap memelihara estetika.

Meskipun demikian, ketika penyair berhadapan dengan sesuatu dan sesuatu itu dianggap sudah cukup diekspresikan dalam beberapa larik saja, atau bahkan juga dalam beberapa kata, dan kemudian merasa bahwa segalanya sudah lengkap, maka selesailah proses kreaatifnya. Dan melalui proses kreatif itu, lahirlah puisi-puisi pendek. Oleh karena itu, kita dapat pula menjumpai puisi-puisi Dharmadi yang disusun dalam bentuk puisi pendek. Hal ini makin menegaskan, bahwa puisi naratif yang panjang atau puisi simbolik yang pendek, boleh menjadi pilihan penyair ketika ia merasa bahwa puisi itu secara tematik sudah lengkap. Dengan begitu, panjang-pendeknya puisi sangat bergantung pada lengkap tidaknya tema yang ditawarkan penyair.

Periksalah salah satu puisinya yang berjudul “Ibu yang Kitab, Ibu yang Lezat.” Puisi ini sesungguhnya hendak mengangkat ihwal sebuah kitab kuno yang di sana berbagai penafsiran atas teks itu sangat mungkin terjadi. Mengingat puisi ini memerlukan cantelan pada referensi lain, teks lain, maka arah puisi itu sesungguhnya dapat kita telusuri. Jadi, dalam puisi itu sudah tersedia sinyal-sinyal tertentu untuk mengajak pembacanya berdialog dan membuka teks lain agar jelas duduk perkaranya.

Periksa juga puisinya yang berjudul “Embun” berikut ini:

embun dalam kabut dengan langkah lembut

diam-diam setia mengirim hidup pada awal hari

yang beranjak berangkat menyusun jalan

waktu

selalu ada yang tak dapat lagi

ikut menyambut

lebih dulu telah Kaujemput

Lihatlah kesetiaan embun menyambut pagi, menyambut kehidupan, setiap hari. Tetapi di antara itu, kematian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari siklus kehidupan yang dikatakannya: lebih dulu telah Kaujemput. Tentu saja pemahaman atas tema puisi ini tidak perlu mencantelkannya dengan teks sejarah atau mitologi, sebagaimana yang dituntut oleh teks puisi “Ibu yang Kitab, Ibu yang Lezat.” Itulah yang dimaksud bahwa ekspresi penyair dapat disampaikan sedemikian rupa, sehingga merasa lebih pas jika menuliskannya dalam puisi naratif, atau puisi yang sekadar berbicara tentang embun. Meski begitu, dalam puisi “Embun” penyair tetap berhasil mengangkat persoalan di balik itu: kehidupan dan kematian. Dengan memanfaatkan enjambemen, tokh penyair tetap tidak kehilangan keberhasilannya untuk menjadikan puisi itu terasa hidup. Tanpa itu, larik-larik puisi itu akan menjadi seperti ini: embun dalam kabut dengan langkah lembut/diam-diam setia mengirim hidup pada awal hari/yang beranjak berangkat menyusun jalan/waktu//selalu ada yang tak dapat lagi/ikut menyambut//lebih dulu telah Kaujemput//

***

Di antara sedikit penyair Indonesia yang prolifik, satu di antaranya, Eka Budianta. Seperti juga kebanyakan penyair, ia tidak terikat pada tema tertentu. Maka, apa pun, siapa pun, atau mengapa dan bagaimana pun, di tangan Eka Budianta, boleh menjadi puisi. Ia bisa bercerita tentang apa saja: tentang gereja yang menghadirkan kedukaan—kegembiraan, kematian dan perkawinan; atau anak-anak yang dibaptis, dan kesadaran seseorang pasrah pada eksistensinya.

Dalam puisi lain, Budianta berkisah tentang Blora, burung, laut atau apa saja. Begitulah, Budianta ibarat si Mata Elang, yang melihat sesuatu dari sesuatu yang lain: tajam dan nyeleneh. Lihat saja puisinya yang berjudul “Gereja Santo Mateus”. Bagaimana gereja, Rumah Tuhan itu, yang kerap dicitrakan sebagai tempat suci, sakral, dan khidmat, memunculkan kedukalaraan ketika peti jenazah berada di sana; menghadirkan suka cita kebahagiaan, ketika anak-anak dibaptis di sana. Dan Budianta menyampaikannya tanpa kesan mendesakkan ideologi. Segalanya mengalir begitu saja, tanpa beban. Maka ia bisa memanfaatkan apa pun untuk sarana puitiknya.

Lihat juga puisinya yang berjudul “Sketsa Burung Desember”. Tanpa meninggalkan kualitas metaforanya, ia bisa menyelusupkan ironi, bahkan kritik, juga tanpa kesan mendesakkan ideologi dan keberpihakannya.

SKETSA BURUNG DESEMBER

Seekor burung di akhir tahun

melompat-lompat ranting sunyi

tidak jelas pekerjaannya

tak punya hobby, tak punya rencana

tidak jelas tabungan apalagi partainya

Seekor burung menunggu hujan

menguburkan Desembernya

Seekor burung di hutan agama

tidak menciap-ciap memanggil Tuhan

ketika surga menyebut namanya.

Cermatilah ironi yang disampaikan penyair: Seekor burung di hutan agama/tidak menciap-ciap memanggil Tuhan/ketika surga menyebut namanya. Meskipun tidak secara eksplisit dikatakan agama tertentu, larik-larik itu menegaskan, bahwa urusan surga-neraka-akhirat adalah urusan Tuhan. Tidak sesiapa pun yang punya otoritas dapat menentukan siapa masuk surga dan siapa yang masuk neraka. Bukankah kini, di negeri ini, kerap kita jumpai sebuah organisasi atau tokoh tertentu yang merasa mempunyai otoritas tentang itu, merasa paling suci dan paling benar, sehingga boleh seenaknya menilai aliran lain sebagai aliran sesat dan menyesatkan. Bahkan juga dengan kejumawaannya, kelompok ini menempatkan diri sebagai polisi Tuhan. Jadi, Budianta coba memberi penyadaran, betapa mulianya seekor burung, meski jelas bakal masuk surga, tokh dia tak membusungkan dada: akulah ahli surga! Sebuah penyadaran yang cerdas telah disampaikan Eka Budianta.

***

Fakhrunnas MA Jabbar adalah salah seorang penyair penting di belahan dunia Melayu. Kebanyakan penyair Melayu—Riau, cenderung coba setia pada ibu budayanya (Melayu). Ia, bersama Taufik Ikram Jamil, termasuk generasi pasca-Ibrahim Sattah, Idrus Tintin, Ediruslan PE Amanriza, dan kemudian juga Rida K Liamsi. Kesadarannya untuk tidak berkhianat pada ibu budayanya, tampak dari sejumlah puisi dan antologi cerpennya.

Meskipun begitu, Fakhrunnas MA Jabbar juga menyadari pengaruh luar dan dampak globalisasi adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dimungkirinya. Inklusivisme Melayu membawa kebudayaan Melayu dalam tarikan tradisionalisme dan modernisme. Maka, ketika pengaruh luar itu memasuki alam budaya Melayu, ia tidak hendak memusuhinya, tidak menolaknya, tetapi tidak pula menerimanya begitu saja. Jadi, dalam pandangan Fakhrunnas, modernisme adalah sesuatu yang mustahil dapat dibendungnya, tetapi ia juga menyadari pentingnya tetap memelihara tradisi yang sejak lama telah menjadi bagian dari kekayaan budaya Melayu. Jadi, ada semacam tarik-menarik dua kutub; yang satu harus tetap dipelihara sebaik-baiknya, yang satunya lagi, harus diterima, karena itu bagian dari perkembangan zaman.

Periksa saja puisinya yang berjudul panjang: “Kuberkuda di Riau/Kudaku Lari/Kudaku Laju/ Kaki Kudaku Menginjak Bom Waktu”// Tegur sapa pada alam yang dirangkai dalam larik-larik dengan pola repetisi pada bait awal menunjukkan, bahwa kesadaran penyair akan persaudaraannya dengan alam sebagai sesuatu yang seharusnya ketika ia hendak melakukan hubungan sosial. Tegur sapa pada alam sebagai representasi persaudaraan masyarakat Melayu dengan segala makhluk bumi adalah salah satu ciri kultur Melayu. Dalam hal ini, masyarakat Melayu melihat adanya dua dunia yang saling melengkapi: alam dan hubungan sosial.

Konsep Islam tentang hubungan vertikal (habluminallah) dan hubungan horisontal (hablumninanas) diterjemahkan Fakhrunnas dalam konteks kesadaran manusia yang harus terus-menerus menjaga hubungan harmonis dengan alam. Hanya dengan cara itulah, hubungan makrokosmos (jagat raya) dan mikrokosmos (individu manusia) akan tetap terjaga secara baik. Pandangan tersebut secara jelas tampak pula jika kita mempelajari pantun. Sampiran dan isi dalam pantun adalah representasi dua dunia tadi: Sampiran berkaitan erat dengan dunia makrokosmos dan isi berkaitan dengan dunia mikrokosmos. Oleh karena itu, sampiran cenderung memanfaatkan segala kosakata yang berkaitan dengan alam, dan isi berhubungan dengan persoalan etika, adat-istiadat, dan sopan santun yang semuanya itu dimanifestasikan dalam hubungan sosial. Jadi, puisi itu pun dapat ditafsirkan sebagai konfigurasi pantun. Di dalamnya kita dapat menjumpai pola sampiran (tegur sapa pada alam) dan isi yang berkenaan dengan tema puisi itu; masalah sosial.

Dengan demikian, jika hubungan sampiran dan isi dalam pantun merupakan pesan ontologis, bagaimana manusia harus menyikapi keberadaan dirinya dalam lingkungan sosial dan dalam persaudaraannya dengan alam, maka dalam puisi Fakhrunnas, sampiran berkaitan dengan pemujaan pada alam dan isi lebih merupakan ekspresi “sang kuda” dalam hubungan sosial. Tampak pula di sini, penyair pun tidak dapat melepaskan diri dari hubungan makrokosmos dan mikrokosmos, sebagaimana yang terjadi dalam alam pikiran masyarakat Melayu yang tentu saja itu pun berkaitan dengan sistem kepercayaan yang mendasarinya. Maka, wahai awan dan juga bukan awan, asssalamualaikum … adalah tegur sapa pada dua dunia itu (sampiran). Itulah filosofi dunia Melayu. Jadi, ketika penyair hendak menegaskan perjalanan kemelayuan dirinya, ia –mungkin tanpa sadar sebagai ingatan kolektif orang Melayu— memulainya dengan tegur sapa.

Selepas tegur sapa itu, mulailah penyair berkisah tentang perjalanannya yang tak dapat melepaskan diri dari sejarah masa lalu dan kegelisahannya dalam berhadapan dengan modernisme. Puisi naratif ini boleh dikatakan sebagai potret diri orang Melayu yang tak hendak berkhianat pada puaknya, dan sekaligus berusaha menyikapi perkembangan zaman sebagai sebuah keniscayaan. Dalam tarik-menarik itu, pada akhirnya segalanya mengalir pada satu muara yang sama: Tuhan. Jadi, metafora apa pun, simbol-simbol apa pun, segalanya cenderung merupakan representasi tentang alam, sejarah kebesaran puak Melayu, dan problem kekinian yang bermuara pada modernisme. Periksa bait keempat dari puisi “Kuberkuda di Riau/Kudaku Lari/Kudaku Laju/ Kaki Kudaku Menginjak Bom Waktu”:

dan

tumasik pun bernyanyi

seribu todak mengepung nila utama

di tahta sunyi

gelombang melaka membasuh mimpi-mimpi

melayu kini jadi pucat pasi tak bernyali

kaki naga dan kaki kuda membenam sejarah

Beberapa kata kunci dapat disebutkan di sini: tumasik, tahta, melaka, mimpi-mimpi, melayu kini jadi pucat, kaki naga, kaki kuda, membenam sejarah. Bukankah kata-kata kunci itu punya cantelan pada sejarah masa lalu puak Melayu yang berkenaan dengan kebesaran kerajaan Melayu? Tumasik yang kini jadi Singapura, Melaka (dan Johor) yang kini jadi negara bagian Malaysia, kerajaan Melayu yang kini tinggal kenangan, kaki naga sebagai simbol dari kekuatan ekonomi kelompok etnik Cina, makin menegaskan, bahwa dunia Melayu kini kebesarannya tinggal sebagai nostalgia. Maka sejarah kebesaran Kerajaan Melayu pun kini terbenam oleh kekuatan ekonomi etnik tertentu dan marjinalisasi yang dilakukan Jakarta. Fakhrunnas, bahkan juga kebanyakan penyair Melayu—Riau, menyadari benar posisi dunia Melayu kini. Jadi, suara yang dilantunkan Fakhrunnas, ibarat hendak menegaskan kembali posisi Melayu-Riau kini dalam hubungannya dengan semangat keserumpunan yang kini berada dalam penguasaan kekuatan ekonomi asing (Cina) dan dalam hubungan pusat-daerah (: Jakarta—Riau) yang menempatkan Riau sebagai kawasan eksploitasi Jakarta.

***

Dua puisi Fatchurrachman Soehari, “Rembulan dalam Pelukan” dan “Puisi Terus Terang” di antara sejumlah puisinya yang lain yang terhimpun dalam antologi ini, tampak lebih menyerupai pengalaman spiritualitasnya ketika kehidupan didera berbagai persoalan. Metafora tentang jalan terjal, kemarau panjang, malam tanpa rembulan, belukar yang mengering, mengisyaratkan problem hidup yang rumit. Dan si aku lirik laksana tidak dapat melepaskan diri dari jeratan yang membelit problem itu.

Seperti lazimnya manusia yang beriman, ketika hidup begitu redup, Tuhan sering kali menjadi alat pelarian. Maka konsep tuhan sebagai pelarian, boleh menjadi apa saja. Tuhan di sana bukan dalam konteks manunggal ing kawula gusti, melainkan sebagai objek spiritual. Si aku lirik berada dalam proses mencari. Dia “merasa” menemukan ketika objek pelariannya seperti memberikan jawaban. Tuhan, bagi si aku lirik, tidak memancar dalam segala gerak kehidupan jagat raya ini, melainkan tetap bersemayam tegak pada tahtanya, dalam singgasanannya. Maka, sebuah situasi tercipta. Hubungan aku—Tuhan menjelma menjadi hamba—tuan—Tuhan, dan bukan aku sebagai representasi Tuhan.

Aku lirik dalam puisi Soehari adalah aku yang berlindung dalam kuasa Tuhan, bukan aku yang menjadi bagian dari sifat-sifat Tuhan. Maka, ada jarak antara subjek—objek, aku—Tuhan. Dan rupanya, jarak itu sengaja dibentangkan lantaran si aku lirik belum juga menyadari, bahwa dirinya bagian yang tidak terpisahkan dari sifat-sifat Tuhan itu.

Rembulan yang berada dalam pangkuan si aku lirik adalah objek Tuhan, dan tidak memancar memasuki ruh, menyebar dalam darah, dan bergerak dalam setiap detak jantung. Sebuah persahabatan dengan Tuhan yang bukan dalam tataran panteistik, melainkan cenderung deistik, bahkan juga lebih dekat pada agnostisisme. Si aku lirik tetap memperlakukan dirinya sebagai hamba Tuhan.

Dalam “Puisi Terus Terang” keberadaan Tuhan masih dalam posisi yang sama: subjek—objek. Dan objek itu hendak berbagi dengan istri. Dalam konteks sufistik, dua puisi tadi tentu saja tidak menyentuh hakikat kebersatuan aku—Tuhan; ana al Haq sebagaimana yang dikatakan Al Hallaj atau tidak juga dalam konteks manunggal ing kawula Gusti yang dalam kerangka panteistik: manusia adalah representasi Tuhan, maka di sana, dalam diri manusia, sifat-sifat Tuhan ikut mendekam.

***

Hendry Ch Bangun menyertakan tujuh puisi. Salah satu puisinya yang bertajuk “Jumat Agung di Situ Gintung” akan kita periksa, sejauh mana puisi itu menawarkan sesuatu. Temanya sendiri berkisah tentang tragedi jebolnya Situ Gintung yang menyisakan kepedihan berkepanjangan bagi keluarga korban. Sebagai wartawan, tentu saja ia dapat membuat model berita apa pun dari berbagai sudut pandang. Sebagai penyair, niscaya sudut pandangnya berbeda dengan profesinya sebagai wartawan. Mari kita periksa, bagaimana ia mencoba mewartakan tragedi itu dari sudut pandang kepenyairannya.

Bagaimana Hendry Ch Bangun harus bersikap ketika ia memposisikan dirinya sebagai penyair? Apakah ia harus mewartakan tragedi itu sebagaimana adanya yang bertumpu pada fakta-fakta? Mengungkapkan kepedihannya, sebagaimana yang diangkat berbagai stasiun tv dan koran-koran ibukota atau mendedahkan berbagai trauma psikologis yang berada di belakang musibah itu? Jika begitu, ia tak beda dengan wartawan atau juru berita lainnya.

Penyair, mesti mengungkapkan sesuatu yang tak terpikirkan orang lain. Atau, dalam ungkapan para teoretikus sastra, sastrawan—penyair—mengolah peristiwa biasa menjadi luar biasa; melihat sebuah kegilaan dari kegilaan yang lain, memandang peristiwa apa pun dengan intuisi dan menerjemahkannya dengan pemahaman metalogika. Dalam bahasa yang lebih filosofis, menangkap fenomena, bukan dari gejala atau tanda-tanda, melainkan dari sesuatu yang jauh berada di depannya. Fenomena sekadar sebagai sinyal pada sesuatu yang melewati batas kehidupan. Ini bukan perkara rasionalitas—irasionalitas, melainkan rasionalitas—metarasionalitas.

Begitulah, dengan cara itu, tugas penyair, melakukan pencerahan. Di situlah, fungsi sastra tidak sekadar merekam dan menyampaikan peristiwa faktual menjadi fiksional, tetapi juga berjuang menggelitik pembacanya agar memperoleh pencerahan. Ada usaha untuk memberi penyadaran atau menjadikan pembaca ngeh, tergugah, bahkan juga inspiring. Dengan cara itu, pembaca –sadar atau tidak—melakukan reproduksi atau bertindak—berbuat sesuatu yang lain, entah berupa penolakan, pemihakan, empati—simpati. Itulah fungsi sastra. Dan sastra yang baik, seyogianya berperan dalam posisi itu.

Mari kita periksa puisinya yang berjudul “Jumat Agung di Situ Gintung”:

Pintu surga terbuka penuh
meski banjir belum surut
di subuh jumat agung
di Cirendeu

Itulah bait pembuka yang disampaikan penyair. Ia coba memandang tragedi itu dari sisi yang lain, yang berbeda, yang kreatif, khas, bahwa di balik derita dan kedukalaraan itu, selalu ada sesuatu yang lain sebagai yang melengkapi, komplementer: Itulah hikmah! Atau, jangan-jangan, sebagaimana yang diisyaratkan penyair: inikah yang disebut skenario Tuhan. Dan kita, manusia, sering kali tidak dapat memahami rencana-Nya. Sangat mungkin, Tuhan punya maksud lain di balik tragedi itu, sebuah rencana yang berada dalam tataran metarasional. Penyair justru berhasil menangkap makna dari segala makna yang mendekam di balik tragedi Situ Gintung. Itulah kreativitas yang menuntut ketajaman intuisi, sensitivitas, dan kepekaan sikap keberimanan. Itulah yang dalam bahasa teologis disebut: mysterium tremendum et fascinans; rahasia yang menakjubkan—menakutkan—mempesona—dan menggoncangkan jiwa sekaligus menariknya pada kesadaran transendensi.

Dengan begitu, pilihan penyair memulai puisinya dengan: Pintu surga terbuka penuh/ meski banjir belum surut/ di subuh jumat agung/ di Cirendeu// adalah pewartaan sebagai bentuk empati—simpatinya pada para korban, sekaligus juga sebagai manifestasi teologis ketika ia melihatnya dari sudut keberimanannya. Bukankah bagi para korban tragedi itu, perhatian, nasihat, atau bantuan apa pun, tidak dapat sepenuhnya mengobati luka batin mereka, para korban yang masih hidup? Jadi, secara tematik, penyair tak hendak menambah luka mereka dengan mengeksploitasi kehancuran fisik-batinnya; tak hendak menasihati dengan ayat-ayat Tuhan atau dengan segala kalimat yang muaranya jatuh pada satu kata: bersabarlah! Ia tidak hendak melakukan itu; tak hendak menempatkan peristiwa itu secara kasat mata, artifisial, apa adanya. Ia memandangnya dari tataran yang lain, yang lebih hakiki, yang sufistik, yang lebih subtil tentang hakikat kehidupan ketika bencana mengganggu tatanan sosial. Barangkali di situlah makna rahasia bencana. Selalu ada sesuatu yang tak terjangkau logika formal. Maka, ia mesti dimaknai oleh logika yang lain yang berada di atasnya: metalogika!

Meskipun begitu, lantaran penyair memilih puisi sebagai mediumnya, tentu saja, ia juga mesti mempertimbangkan sarana ekspresinya dalam kerangka estetika untuk meneguhkan efek puitiknya. Tanpa itu, ia akan tergelincir pada apa yang disebut artifisial itu. Itulah sebabnya, kita dapat memahami, mengapa larik pertama dimulai dengan Pintu surga terbuka penuh. Ada kesengajaan dan kesadaran dengan penempatan larik itu sebagai pembuka. Tujuannya untuk menciptakan suasana magis dan pintu masuk ke dalam aura religius; bahwa tragedi Situ Gintung tidak terlepas dari perkara Tuhan.

Dalam konteks itu pula, bencana Situ Gintung harus ditempatkan. Maka, … si hamil yang hanyut/si bayi yang tersangkut/si mahasiswi yang terkubur/si remaja yang terendam lumpur/si ayah yang terkulai di antara reruntuh/si nenek yang masih bersarung// seyogianya diterjemahkan dalam konteks skenario Tuhan itu. Repetisi itu juga menegaskan, bahwa bencana tak mengenal jenis kelamin, pekerjaan, usia, agama, atau apa pun yang melekat atas nama status sosial. Bukankah Tuhan pun memberlakukan itu ketika hendak mengukur keberimanan umat-Nya. “Tak ada yang lebih terhormat bagi sesiapa pun, kecuali mereka yang bertakwa.”
Di bagian akhir dikatakan:

air banjir masih mengalir
mendayu jerit tangis
di antara barang-barang yang dikais
dan asa yang putus menanti nasib

di langit syuhada berpesta
mensyukuri nikmat-Nya

Perhatikanlah citraan penglihatan (air banjir masih mengalir dan di antara barang-barang yang dikais) berkelindan dengan citraan pendengaran (mendayu jerit tangis) dan suasana batin (dan asa yang putus menanti nasib). Kita (: pembaca) seperti dibetot pada pemandangan mengerikan: suara banjir bersahutan jerit-tangis, badan timbul tenggelam; tangan menggapai-gapai, meraih apa pun; usaha menyelamatkan diri yang gagal; dan pasrah pada nasib. Ketika kekacaubalauan itu terjadi, di belahan langit yang lain yang entah di mana: syuhada berpesta/mensyukuri nikmat-Nya//

Jadi, pesan puisi itu sesungguhnya sederhana: di balik bencana apa pun, selalu ada hikmah. Maka, berpikirlah positif. Sebab, kematian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Itulah sastra yang menawarkan pencerahan. itulah puisi!

***

Heryus Saputro menyertakan delapan puisi dengan tema-tema yang diangkatnya begitu beragam: Tentang keterpanaan pada laut, pada kuasa Tuhan; tentang kepunahan badak; tentang kuasa cinta, atau juga derita pedagang kaki lima. Di antara sejumlah puisinya itu, salah satu di antaranya berjudul lebih panjang dari puisinya itu sendiri: “Tentang Kisah Seorang Anak Lelaki yang Mudik Membawa Sekapal Kemewahan dan Menemukan Ibunya Lusuh Serenta Pantai”

“Lho …!

Kapan dan di mana aku pernah mengutukmu jadi batu?

Tak pernah!”

Inilah hebatnya puisi: penyair boleh sesukanya membuat judul, boleh sesukanya pula menyampaikan pesan tematiknya. Tentu saja keserbabolehan itu, kebebasan kreatif itu, tetap berada dalam apa yang disebut konvensi bahasa. Dengan cara itu, pembaca memperoleh kemungkinan untuk melakukan berbagai penafsiran. Itulah licentia poetica yang memungkinkan bahasa makin kaya dengan ungkapan, idiom, metafora dan seterusnya. Tanpa kebebasan itu, bahasa akan mandek, stagnan, miskin makna. Mari kita coba mencermati teks puisi di atas.

Jelas, judul puisi itu termasuk bagian integral dari tema yang hendak diangkat puisi itu: Seperti puisi Sitor Situmorang, “Malam Lebaran” Bulan di atas Kuburan, atau dua puisi Sutardji Calzoum Bachri, “Luka” Ha Ha atau “Kalian” Pun! Berhadapan dengan puisi yang seperti ini, tidak dapat lain, judul dihadirkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan tema puisi yang bersangkutan. Lalu bagaimana kita menafsirkan puisi “Tentang Kisah …” ini?

Kapan dan di mana aku pernah mengutukmu jadi batu? Ini kunci pembuka makna puisi itu. Dan ketika dikaitkan dengan judulnya yang di sana ada kata-kata: anak lelaki, mudik, kapal, kemewahan, ibunya, lusuh-renta, pantai, maka cantelan kita melayang jauh ke ranah Minangkabau, ke mitos Si Malin Kundang. Bukankah si Malin Kundang yang mudik ke kampungnya dan tak mengakui ibunya, kemudian dikutuk jadi batu?

Puisi tadi semacam parodi atau boleh juga dimaknai sebagai pembalikan mitos itu, sekalian hendak menegaskan cinta-kasih seorang ibu yang tak pernah surut-mengering. Larik akhir menegaskan kembali pemaknaan cinta-kasih itu: Tak pernah!” ketidakjelasan sikap si anak kepada ibunya, menunjukkan, bahwa sekapal kemewahan atau sukses apa pun, bagi ibu, tidak lebih penting. Sebab, hakikat cinta sejati seorang ibu adalah mencintai anaknya sepanjang usia dan dalam keadaan apa pun. Dengan begitu, kerajaan rumah tangga bagi anak adalah ibu. Bagaimana mungkin, si Malin Kundang dikutuk ibunya jadi batu?

Jangan lupa, larik awal: “Lho …! bukanlah berasal dari ranah kebudayaan Minang. Ini Jawa. Jadi, bagi kultur Minangkabau, posisi ibu (mamak) sangat penting. Kuasanya perlu terus-menerus memperoleh legitimasi, agar tidak terjadi pengkhianatan pada ibu. Dengan begitu, mitos Malin Kundang adalah bentuk legitimasi pada kuasa ibu. Ketika kuasa ibu dipertanyakan, bahkan dikhianati, maka akan terjadi anomali, terjadi kegoncangan tatanan sosial. Ini kiamat kecil dalam kehidupan sosial budaya Minang. Jadi, mitos itu semata-mata berfungsi sebagai alat legitimasi pada kuasa ibu.

Jawa, Sunda atau kultur lain pada umumnya, meski juga menempatkan ibu dalam posisi terhormat dan memposisikan surga di bawah telapak kaki ibu, segala kuasa berada di tangan ayah. Swarga katut, neroko nunut, menunjukkan posisi kuasa ayah dalam kehidupan rumah tangga. Maka, metafora surga di bawah telapak kaki ibu, sesungguhnya cukup rentan, sebab secara sosial, ayahlah yang berkuasa. Jadi, “Kapan dan di mana aku pernah mengutukmu jadi batu?/Tak pernah!” adalah bentuk legitimasi lain –dari anak—yang memandang cinta kasih ibu bagai air laut yang tak pernah kering. Dengan demikian, baik kultur Minang, maupun Jawa, pada hakikatnya hendak menempatkan cinta-kasih dan kuasa ibu sebagai sesuatu yang tidak boleh dikhianati. Berkhianat pada ibu adalah tabu. Maka, legitimasi pada posisi ibu, mesti terus-menerus dilakukan.

***

“Kegelisahan tanda hidup” substansinya sama juga dengan kesadaran bahwa perjalanan hidup manusia pada dasarnya selalu belum selesai. Selalu ada perjalanan lain untuk melanjutkan hingga sampai ke sebuah terminal terakhir: kematian. Jadi, hidup manusia laiknya sebuah perjalanan panjang dari satu terminal ke terminal yang lain. Jika ia merasa sudah sampai pada terminal terakhir, padahal perjalanan masih panjang, itulah kematian pendahuluan sebelum sampai pada kematian yang sebenarnya: maut! Itulah kematian manusia sebelum ajal datang menjemputnya. Hakikatnya sebagai manusia telah pensiun. Maka, manusia harus bergerak, berkarya. Itulah kegelisahan tanda hidup!

Sejumlah puisi Kurniawan Junaedhie memperlihatkan semangat “kegelisahan tanda hidup” itu. Pengelanaannya menelusuri kota-kota dunia, seperti sebuah perjalanan panjang yang selalu belum juga selesai. Kota-kota dunia yang disinggahinya sebentar laksana terminal atau halte. Di kota-kota itu pula si aku lirik meninggalkan peristiwa, kegetiran, keanehan, atau bahkan pertanyaan yang menggantung tak berjawab. Meski begitu, seperti burung, ia kerap rindu sarang: kupikir-pikir, aku ini unggas/terbang jauh di negeri orang/kini balik: melihat diri di kolam/terpukau melihat wajah sendiri yang muram//

Begitulah, pengelanaan si aku liris laksana pencarian yang tak pernah jumpa, pergi ke entah dan kembali lagi ke sarang dengan membawa kenangan yang muram. Ada semacam tarikan pada masa lalu ketika ia berhadapan dengan peristiwa masa kini yang justru kerap tak membahagiakannya. Jadi, peristiwa masa kini yang dalam bayangannya akan membawa kebahagiaan, ternyata tidak juga. Ini berbeda dengan “si anak hilang” Sitor Situmorang yang merasa terasing di negeri asing, terasing di kampung halaman sendiri. Junaedhie terasing di negeri orang dan muram di negeri sendiri. Ada semacam penyesalan yang tak berujung.

***

Linda Djuwita Djalil sebenarnya lebih dikenal sebagai wartawan yang biasa nongkrong di Istana Negara, meskipun bidang sastra yang menceburkannya pada dunia tulis-menulis. Sejumlah puisinya dalam antologi ini terasa penting, karena ia seperti hendak menyalurkan unek-unek seputar pengalamannya sebagai wartawan. Puisi menjadi semacam ekspresi kegelisahan pada sesuatu.

Meskipun demikian, tentu saja, bagi kita persoalannya bukan sekadar puisi sebagai saluran unek-unek, melainkan sebagai catatan tentang sebuah peristiwa. Dalam hal ini, seperti juga Adhie M Massardi, coba menempatkan puisi sebagai saluran lain, ketika segala pipa untuk mengeluarkan pikiran dan perasaan tersumbat oleh banyak hal. Puisi menjadi alternatif yang lebih mungkin, lebih aman, lebih pas dan sesuai dengan suara hati. Linda Djuwita Djalil tampaknya merasakan hal yang sama. Maka, tidak dapat lain: puisilah yang menjadi pilihan.

Cermatilah puisinya yang berjudul “Mundur”.



Ketika jas merah melekat cantik di tubuhku

dan sepatu hitam berpita menapak,

melumat rumput gedung putih megah itu

menggelegarlah keputusan terbesar negeri ini

Dia berhenti! Dia berhenti!

Itulah kehebatan puisi yang hendak menyampaikan sesuatu yang maksudnya begini, artinya begitu. Dengan cara itu, tidak ada objek yang terlukai. Tetapi jelas, puisi itu sebagai catatan individual, sangat personal, bagaimana si aku lirik menghadapi saat-saat genting dan mendebarkan itu. Dari mana kita memperoleh cantelan pada peristiwa tertentu dan tempat tertentu. Di sinilah sinyal-sinyal pemaknaan perlu dicermati: gedung putih megah, keputusan terbesar negeri ini, Dia berhenti! Semua mengisyaratkan sebuah gedung pusat kekuasaan. Maka, dia berhenti, siapa lagi jika bukan DIA. Tambahan lagi, di sana ada kolofon yang menunjukkan tarikh: Jakarta, Mei 1998. Bukankah bulan dan tahun itu termasuk bagian penting dalam sejarah perjalanan bangsa ini ketika Orde Baru mengakhiri kekuasaannya selama lebih dari tiga dasawarsa?

Bahwa penafsiran ini benar atau tidak tepat, tentu saja semuanya sah. Puisi adalah hamparan makna yang berada di lautan tafsir. Jadi, tafsir apa pun yang disampaikan pembaca, segalanya sah sejauh ia punya argumen.

Periksa lagi bait berikutnya puisi itu:

Aroma melati di kedinginan pantulan kaca antik sekali pun

tak mampu menahan senyum pahit makhluk bernyawa yang ada di situ

hening, hikmat, mencekam, plong, gamang,

seluruh rasa bergelora, bahkan sujud syukur nyaris terlupa

sebagian merasa tengah menembus surga

sisanya bersiap menghadap neraka…

Lihatlah bagaimana si aku lirik coba mewartakan suasana batin sesiapa pun yang menjadi saksi sejarah peristiwa itu? hening, hikmat, mencekam, plong, gamang,/ seluruh rasa bergelora …/ sebagian merasa tengah menembus surga/ sisanya bersiap menghadap neraka…// Kata-kata, bahasa ternyata tidak cukup lengkap dapat mengungkapkan suasana yang terjadi ketika itu. Tetapi kita tokh tetap dapat merasakan, atau membayangkan, bagaimana segala rasa bergalau, campur aduk, bergemuruh entah bagaimana lagi.

Kusapa jas merah dengan leluasa

sinarnya menohok penjuru dunia

ah, barangkali kini memang sudah gilirannya!

Dan bagaimanakah si aku lirik menyikapi peristiwa bersejarah itu ketika ia meninggalkan gedung putih yang megah itu? Enteng saja ia bergumam: ah, barangkali kini memang sudah gilirannya! Sekali lagi, itulah hebatnya puisi: peristiwa apa pun, boleh ditanggapi, bagaimana penyair menyikapinya. Jadi, seperti sebuah arisan, kapan pun akan tiba gilirannya.

Puisi-puisi lainnya, jelas punya arti penting ketika kita hendak mencantelkan teks dengan konteksnya. Dan Linda Djalil telah menawarkan itu dengan sangat baik. Persoalannya tinggal, bagaimana pembaca menafsirkannya.

***

Membaca puisi-puisi MH Giyarno, saya merasakan ada gejolak yang tersendak, dendam yang terpendam, dan kemarahan yang tertahankan. Boleh jadi persoalannya bersumber dari derita yang dirasakannya tanpa suara; atau oleh luka yang tak dapat dipahaminya sendiri. Entah kepada siapa gejolak, dendam dan kemarahan itu hendak ditimpakan. Kepada Tuhan, kepada nasib, kepada seseorang atau kepada dirinya sendiri, ternyata juga tidak jelas. Maka, dalam puisinya yang berjudul “Setelah Senja di Terminal Leuwi Panjang” segalanya terasa asing, aneh, absurd.

Masih ada kesadaran akan eksistensinya, bahwa ia berada di sebuah terminal. Tetapi orang-orang di sana tak satu pun dikenalnya; mereka datang dan pergi entah ke mana, nama-nama terasa asing; tak jelas pula, mengapa ia sampai di sana; segalanya serba gamang, tanpa tujuan. Ia hanya ingin pergi ke terus, sampai ia tiba di sebuah kota yang entah. Itulah suasana yang dihadirkan dalam puisi itu. Segalanya serba tak jelas, tetapi kita merasakan suasana yang dihadirkan si aku liris, seperti hendak menggugat sesuatu.

Hampir semua puisi Giyarno laksana hendak menggambarkan suasana yang seperti itu. Maka, kemuraman, kedegilan, ketakpedulian, kegelandangan, seperti muncul begitu saja tanpa kendali. Penekanan pada suasana kemuraman itu membawa kita pada sebuah lorong gelap yang hanya dapat dirasakan suasananya, tetapi tidak jelas di manakah lorong gelap itu berada.

Periksa puisi panjangnya, “Asmaradana”. Pada bait awalnya mula-mula kita merasakan suasana yang agak santai, meski tidak tampak kecerahannya. Asap rokok, di Cipanas, dan membuat jejak, mencitrakan peristiwa obrolan yang (mungkin) menghasilkan sebuah kesepakatan. Tetapi pada bait-bait berikutnya, serempak pencitraan suasana berubah seketika: ada hingar bingar derum mesin dan roda-roda. Ada kemurungan dan suasana dingin: kegelapan dan bisik-bisik kabut. Ada duka. Perhatikan bait berikutnya:

di kota ini kau dan aku seperti berlomba

siapa yang lebih dulu tinggal gema

dengan minum baygon

atau menyilet nadi tangan sendiri

Bagaimana mungkin dua orang saling berlomba bunuh diri? Di sana, ada semacam keputusasaan, karena keduanya berlomba mengejar kematian. Atau, bagaimana kematian menjadi tujuan, padahal perjanjian sudah disepakati? Tampaknya, penyair sengaja hendak menciptakan kemurungan, bahwa perjanjian yang telah disepakati seperti tidak bermakna. Bukankah minum baygon dan menyilet nadi tangan adalah pintu gerbang kematian.

Pada bait-bait berikutnya, tak terelakkan, kita seperti dihadapkan pada segala yang tak nyaman: kegersangan, penuh rahasia, dan serba tak terduga. Dikatakannya: hidup adalah sederet huruf dan aksara/mencang-mencong dan tak tereja//

Terlepas dari persoalan tematik itu, pilihan Giyarno pada penciptaan suasana, seperti yang pernah dilakukan Asrul Sani, Toto Sudarto Bachtiar, Ajip Rosidi, sampai ke Sapardi Djoko Damono yang pengucapannya terasa lebih sederhana, tampaknya lebih pas mewakili suasana batinnya. Dengan cara itu, segala kemuraman dan kegelandangannya terpancarkan dan kemudian menyebar dalam saklar imajinasi pembaca. Meski tidak jelas sebab-musababnya, tak jelas keberpihakan atau permusuhannya, tak jelas pula siapa atau pihak mana yang hendak digugatnya, tujuannya satu: penyair melalui si aku lirik tampaknya sengaja hendak berbagi suasana batinnya. Jadi, nikmati saja suasana yang ditawarkannya.

***

Membaca puisi-puisi Noorca Marendra Massardi, kita seperti berhadapan dengan manusia yang terbelah; satu kaki berada dalam keterpukauan kultur etnik dengan segala karakteristik tradisionalismenya, satu kaki lagi berada dalam dunia modern yang kerap memberondongnya dengan berbagai pertanyaan. Maka, ketika ia berada dalam lingkaran kultur etnik, ia seperti ingin masuk ke sana, tetapi juga sekaligus hendak menolaknya lantaran itu merasa itu bukanlah dunianya yang sebenarnya. Meskipun begitu, ketika ia berada dalam kehidupan modern di tengah hingar-bingar kesibukan masyarakat yang serba asing, warga dunia, ia juga merasa tak nyaman, terasing. Jadilah ia coba sekadar menjadi penonton dan mewartakannya dari kejauhan atau dalam sembunyi.

Puisinya yang berjudul “Kehidupan” seperti hendak menegaskan kegalauannya di tengah kehidupan warga dunia: sibuk, bergegas-berderap, cuek-tak peduli orang-orang sekeliling, dan kehidupan berjalan terus. Puisi yang dikemas dengan deretan larik-larik pendek, pertanyaan repetitif tentang taksi—transpor dan kemudian berakhir pada larik-larik dengan sejumlah pertanyaan, laksana sebuah siklus kehidupan yang terus bergerak, berderap, sibuk, berulang-ulang, pertanyaan tak berjawab, dan kehidupan terus berjalan tak pernah mati. Jika saja dalam puisi itu tak ada sinyal tentang Bali (: wanara wana, monyet-monyet, Ubud, brem, lawar, pura, puri, dst), maka boleh jadi yang diangkat penyair adalah kehidupan kota metropolis. Tetapi itulah puisi, kebebasan tafsir itu harus dicantelkan pada ruang (tempat, wilayah atau kota) tertentu ketika di sana kita menemukan petunjuk. Perhatikan bait awal puisi itu:

taxi …?

transport …?

para tamu hanya tersenyum kemudian menggeleng

tapi mereka terus berdatangan

di dalam hujan

di tengah terik

di pusat perbelanjaan

di tempat pelancongan

di puri

di lapangan bola

di pelbagai pura

di segala bulan

Dengan segala sinyal yang dapat digunakan sebagai petunjuk tentang tempat, kita (: pembaca) seperti dibetot pada sebuah tempat di Bali yang sepanjang hari, orang-orang di sana terus bermain dengan kesibukannya sendiri, masing-masing. Salah satu tempat di Bali tiba-tiba saja menjelma menjadi kota yang tak pernah mati. Dan di sana, beragam manusia dari belahan dunia, dipersatukan oleh sesuatu –entah apa—dan kembali pergi mengurusi jati dirinya masing-masing: goodbye ubud/au revoir warung/sayonara pura/auf wiedersehen puri/ciao belih// Maka, ketika ada pertanyaan tentang taksi atau apa pun, pertanyaan itu tidak hanya akan terus berulang dan hadir di tempat itu, tetapi juga kerap menggantung tak berjawab. Tetapi, tokh kehidupan di sana terus berjalan, tak pernah mati.

Begitulah, puisi boleh mewartakan apa pun. Bahwa si aku lirik tak muncul di sana, sangat mungkin penyair sekadar hendak melakukan pemotretan: itulah sisi kehidupan di Bali yang tak pernah mati, berulang-ulang, dan selalu meninggalkan pertanyaan tak berjawab.

Pesona Bali dengan segala eksotismenya, boleh jadi begitu kuat menyihir sang penyair. Meskipun tentu saja, dari penyair ini, masih tersedia puisi lain yang berbicara tentang tempat atau kota lain, setidak-tidaknya, keseluruhan puisi Noorca Marendra Massardi dalam antologi ini, semuanya mengambil latar Bali. Dalam konteks itu pula, Bali seperti serempak memaksanya berhadapan dengan kehidupan ambivalen: tradisionalisme dan sekaligus juga modernisme, atau sebaliknya. Itulah yang menjadikannya seperti manusia yang terbelah: terpesona oleh tradisionalisme Bali yang eksotik, dan kenyataan kini ia berada di tengah warga dunia yang terus berdatangan, sibuk mengurusi dirinya masing-masing, dan selalu, ada serentetan pertanyaan yang mereka tinggalkan.

Meskipun dalam puisinya yang berjudul “Bedulu” kesan kehidupan modern tak muncul di sana, Bali dengan segala misteri kisah masa lalunya, tetap saja memancarkan aura sihirnya bagi penyair. Maka, keterpesonaannya itu, direpresentasikan melalui bentuk tipografi yang meluncur deras atau mengalir perlahan, bergantung bagaimana cara membacanya. Dengan bentuk tipografi yang seperti itu, ia boleh menjelma mantra atau apa saja. Tetapi, bagaimanapun cara membacanya, suasana magis pada puisi itu tetap saja akan hadir dan menyebar pada setiap larik kata-katanya. Jadi, bukan tanpa alasan penyair melakukan pilihan atas tipografi yang seperti itu. Ada sesuatu yang hendak ditawarkannya, ada pesan yang hendak disampaikannya. Semuanya bersumber dari kegagalan penyair menyembunyikan keterpesonaannya pada Bali.

***

Remy Soetansyah menyertakan delapan puisi dalam antologi ini. Dari sejumlah puisinya itu saya menangkap adanya usaha mempermainkan repetisi untuk menciptakan efek bunyi yang berulang. Pantun, syair atau gurindam, bahkan juga mantera cenderung punya pola, terutama untuk menghasilkan kesamaan bunyi antarlarik. Tetapi mantera semata-mata mengandalkan kesamaan bunyi yang berulang, terus-menerus, meski tidak jelas maknanya. Tujuannya, makin kental kesamaan bunyi itu, makin kuat daya magisnya. Dan itu yang memang menjadi tujuan mantera: menciptakan efek magis yang ditimbulkan dari peulangan bunyi yang sama, yang berulang.

Puisi Remy Soetansyah yang berjudul “Rah” cenderung menyerupai mantera, tetapi tidak cukup kuat daya magisnya lantaran perulangan bunyi itu terlalu singkat, meski juga tetap menyimpan—memancarkan keindahan bunyi yang berulang itu. Walaupun demikian, puisi sejenis ini tetap akan terasa enak didengar jika dibaca oleh deklamator yang andal. Beberapa puisinya yang lain, seperti hendak memanfaatkan repetisi seperti itu. Ada dua kemungkinan dengan pilihan itu. Jika repetisi itu efektif membangun persajakan, ia akan menghadirkan efek bunyi yang sedap, sebaliknya, jika perulangan itu berlebihan (lewah, redundancy), puisi itu akan tergelincir pada pemborosan.

Di antara sejumlah puisi itu, puisinya yang berjudul “Jelang Malam Pengantin” terasa sangat kuat aroma psikologisnya. Jika si aku lirik dalam puisi itu perempuan, maka proteksionisme ibu dapat dimaknai sebagai cinta yang berlebihan sosok ibu kepada anak. Tetapi, jika di sana yang disapa si aku lirik, ayah, maka sangat mungkin itu masuk kategori Electra Complex. Di sana yang disapa adalah ibu, jadi tak mungkin kecenderungan kasus itu terjadi. Tetapi jika si aku lirik laki-laki, maka sangat mungkin ia termasuk kategori Oedipus Complex. Dan si anak laki-laki itu menyadari bahwa salah satu tugas sucinya setelah perkawinan itu adalah menghadirkan cucu-cucu bagi sang ibu.

Untuk memberi gambaran lebih jelas mengenai perkara itu, mari kita cermatinya puisi yang berjudul “Jelang Malam Pengantin” berikut ini:

Ibu, di hari pernikahanku

Aku kirim puisi untukmu

Karena tak ada waktu lagi

Sebentar lagi tuan kadi akan bersaksi

Demi rahim

demi masa

demi air susumu

aku tak akan meninggalkanmu

tak akan pernah

Ikhlaskan seseorang

tidur di sampingku

Dan dalam tidur jagaku

Jiwamu, terpeliharalah

Dalam jiwaku yang bahagia

Tampak di sini hubungan emosional anak—ibu terasa sangat kuat. Ibu menjadi belahan jiwa yang tidak mudah begitu saja ditinggalkan ketika harus bersama seseorang yang lain: suami atau istri. Secara keseluruhan, puisi yang tampak sederhanaitu memperlihatkan impresi penyair tentang “perebutan” cinta ibu dengan suami atau istri.

***

Dari sejumlah puisi Saut Poltak Tambunan yang terhimpun dalam antologi ini, beberapa di antaranya disajikan secara cool, mengalir, lepas, dan terkesan tanpa pretensi memikul beban pesan tertentu. Periksalah puisi-puisi “Bekasi—Yogyakarta, Oktober (1),” “Bekasi—Yogyakarta, Oktober (2),” dan “Kenangan Sepanjang Pantura” yang mengingatkan kita pada puisi-puisi Sapardi Djoko Damono. Citraan alam dan usaha penciptaan suasana peristiwa dalam puisi itu, cukup kuat mengajak pembaca untuk ikut memasuki dunia yang hendak dihadirkan dalam puisi itu.

Saya kutip selengkapnya puisi yang berjudul “Bekasi—Yogyakarta, Oktober (2)” berikut ini:

Bekasi – Jogyakarta, Oktober (2)

Merah mungil cherry bulan puasa gugur dari kerindangannya dan menggelinding sebutir di ujung sepatuku. Sehelai putih kelopak bunganya menggelayut manja di jumbai dasiku. Aku biarkan. Pun jemuran kaus oblong lusuh milik buruh di pagar kawat seberang sungai masih juga melambaikan dirinya padaku, sangat bersahabat. Bisikku gundah : Hai, sudah kau baca sesobek kertas bertulis namaku hanyut ke seberang lain?
Tiba-tiba angin semilir Kalimalang di sore yang masih terik ini menarikan gemulainya bergairah lebih dari biasa. Sedang aku hanya bisa diam, terjongong di kursi bambu pemberian sahabat yang dalam canda aku usulkan masuk sorga itu. Ooo, alangkah sedikit waktu tersisa padaku untuk mengerti gairah angin sepanjang sungai ini. Alangkah sempit ruang imaji padaku untuk dapat memahami makna lukisan arus air yang berputar ke tepiannya.
Aku memang kecewa, tetapi setidaknya masih ada ilalang yang setia menjulurkan kuning bunganya di samping jendela untuk kucumbui dari meja kerjaku, sebelum azan magrib mengajakku menuju pulang, sujud di kakiNya.
Saudaraku, biarkan kusimpan senyummu saja agar selalu membuatku rindu.

21 Oktober 2004

Puisi dengan tema yang terkesan sederhana. Tetapi, di balik kesederhanaannya itu, tersimpan kedalaman. Justru di situlah kekuatan puisi ini. Di balik cara pengucapan yang mengalir begitu saja, ada persoalan besar yang sesungguhnya tersimpan dalam puisi itu. Merah mungil cherry bulan puasa gugur dari kerindangannya dan menggelinding sebutir di ujung sepatuku. Sehelai putih kelopak bunganya menggelayut manja di jumbai dasiku. Di sini, tampak si aku lirik begitu akrab dengan lingkungan sekitarnya. Ada persahabatan yang kental dengan alam. Dan si aku lirik mengisahkan itu sekalian seperti sedang bercengkeram dengan alam yang menjadi objek kisahannya. Ada kebersatuan antara alam dan manusia.

Dari hubungan manusia dan alam itu, peristiwanya kemudian terus berkelindan tentang problem sosial –juga di sekitarnya—yang dikatakannya: jemuran kaus oblong lusuh milik buruh di pagar kawat seberang sungai masih juga melambaikan dirinya padaku, sangat bersahabat.

Begitulah, penyair memulai kisahannya itu, mula-mula tentang persahabatannya dengan alam, kemudian tentang kepeduliannya pada problem sosial, dan terus berkelindan sampai akhirnya tiba di muara kehidupan: kematian. Itulah puncak kesadaran manusia tentang eksistensinya di dunia. Ia tidak dapat melepaskan diri dari hubungannya dengan Tuhan. Itulah pewartaan kemanusiaan. Maka, pelihara pewartaan itu yang dikatakan penyair: Saudaraku, biarkan kusimpan senyummu saja agar selalu membuatku rindu.

***

Sejumlah puisi Syafrudddin Pernyata yang terhimpun dalam buku ini, tampaknya sengaja memanfaatkan sejumlah repetisi. Tetapi berbeda dengan repetisi yang hendak menciptakan efek bunyi dengan pengulangan bunyi yang sama, sebagaimana yang banyak dimanfaatkan dalam mantera, repetisi dalam puisi-puisi Syafrudddin Pernyata cenderung sebagai penegasan pada pesan (message) tertentu. Seperti juga yang terjadi pada beberapa puisi Remy Soetansyah, pemanfaatan repetisi, apalagi dengan mengeksploitasinya, sangat mungkin mendatangkan risiko pemubaziran atau meneguhkan pesan jika dikemas secara efektif.

Bagaimanapun juga, puisi bermain dalam tataran citraan (image), maka ekonomisasi bahasa seyogianya menjadi pertimbangan serius. Efektivitas dan efisiensi bahasa dalam puisi akan menjadikan puisi itu padat berisi, bernas, tetapi sekaligus membuka peluang bagi pembaca mengganggu saklar imajinasinya untuk menciptakan medan tafsir seluas-luasnya. Itulah sebabnya, tidak sedikit penyair yang kerap tergoda untuk membangun puisi-puisi pendek—padat, sehingga begitu satu kata dihilangkan, seketika akan terjadi masalah, bahwa di dalam rumpang itu, ada sesuatu yang hilang.

Perhatikan dua bait awal puisinya yang berjudul “Menikam Sepi”.

Telah kujelajah semua belantara

kusibak remang-remang kota

kudaki pencakar langit

tak kutemui ujudmu kini

Telah kubuka setiap jendela

kusingkap setiap gordennya

kiintip rasa siapa saja

walau bayangmu tak ada lagi

Bukankah bait pertama dan kedua sesungguhnya kata kuncinya ada pada larik pertama dan keempat. Oleh karena itu, kedua bait puisi itu dapat lebih dipadatkan lagi menjadi: Telah kujelajah semua belantara/ tak kutemui ujudmu kini /Telah kubuka setiap jendela /walau bayangmu tak ada lagi// Tetapi begitulah, penyair kadang kala juga terlena dengan permainan kata. Maka, jadilah pesan yang sebenarnya sudah jelas itu, masih merasa perlu diberi penekanan. Tujuannya untuk menciptakan efek puitik.

Permainan repetisi itu juga tampak pada puisinya yang lain: “Pengembaraan,” “Siapa,” “Kucari,” bahkan juga hampir keseluruhan puisinya yang terhimpun dalam antologi ini. Tentu saja dalam hal ini penyair boleh melakukan apa saja. Itu perkara pilihan. Tetapi kecenderungan mengeksploitasi repetisi secara berlebihan, juga dapat terkesan lewah (redundancy). Untunglah dalam beberapa puisinya yang lain, ada pesan lokalitas yang coba diselusupkannya, sehingga puisi itu terasa sangat khas. Saya kira, penggalian pada kekayaan lokalitas itu sangat mungkin bakal menghasilkan puisi-puisi yang khas, unik, dan menyihir!

***

Sutan Iwan Soekri Munaf termasuk penyair yang kiprahnya dimulai sejak tahun 1980-an. Sebagai wartawan—sastrawan, ia leluasa “memotret” banyak hal di berbagai kota. Maka, tema-tema yang diangkatnya juga beragam. Sejumlah puisinya yang terhimpun dalam antologi ini pun memperlihatkan pengelanaannya bergentayangan memasuki berbagai wilayah dan ceruk-ceruk kehidupan. Caranya menumpahkan ekspresi kreatifnya juga tidak terikat oleh bentuk penulisan puisi yang konvensional. Ia mungkin tidak merasa harus terikat oleh bentuk atau tipografi.

Boleh jadi, bagi Sutan Iwan Soekri Munaf, menulis puisi dalam bentuk apa pun dan dengan cara apa pun, sah-sah saja, sejauh dapat mewakili luapan kreativitasnya. Lihat saja, misalnya, puisinya yang berjudul “Sajak tentang Olly” –Aku ingin sekali Rasakan—. Di sana, selain tidak ada huruf kapital yang menandai awal sebuah kalimat, larik-lariknya disusun tanpa ada pembagian bait. Maka semuanya seperti mengalir begitu saja. Perhatikan puisinya itu di bawah ini:

SAJAK TENTANG OLLY

Aku Ingin Sekali Rasakan

aku ingin sekali menatapmu. tapi dari kafe ini hanya barisan gelas demi gelas yang menertawai diriku. sesekali suara botol memecahkan sepi dalam busa mulutku. dan namamu tersebut-sebut dalam bualan botol dengan gelas. mataku masih mencari dirimu dari kursi ini. dan gelas demi gelas datang berkisah sambil hantarkan mabuk dari dalam botol. sesekali wajahmu mengajuk dari dalam busa di mulutku dan botol demi botol berteriak ke tengah hari yang dilewati gelas demi gelas: kemana dia?
aku terdiam. mataku masih tak lepas untuk menatapmu. tapi gelas ini bukanlah dirimu dan botol ini bukanlah diriku. hanya aku ingin sekali semesra botol dan gelas membagi rasa dalam dirimu padaku. aku masih mencarimu dari balik gelas dan botol
ya, dari kafe ini masih ingin kurasakan mesranya gelas dan botol, barangkali hangatmu singgah ke dalam hatiku

Kuningan, Jakarta, Juni 2001

Tampaknya Munaf sengaja menggunakan pola seperti itu untuk membangun suasana (di dalam kafe) menggelinding begitu saja. Memang ada jeda, baik melalui tanda baca titik (.) atau bentuk alinea (yang tak lazim). Maka, suasana perasaan si aku lirik yang berada dalam keadaan mabuk, di antara minuman dan perempuan, terus saja mengalir. Jadi apa pun yang terjadi di sana, dirasakan oleh si aku lirik dalam keadaan sadar dan tidak sadar. Dengan begitu, botol-botol, gelas, kursi, perempuan, busa minuman, pandangan mata, kafe, kehangatan, semuanya itu berada di antara sadar dan tidak sadar.

Jika puisi tadi menggambarkan si aku lirik yang berhadapan dengan dirinya sendiri, pengalaman personal, maka puisinya yang berjudul “Pulang” coba mengungkapkan peristiwa tragedi Semanggi yang merenggut sekian banyak korban.

PULANG

Aku hilang kata

yang berseri dulu,

Tuhan!

Lihat

Begitu gampang nyawa terbang



Bagaimanapun juga, puisi ini tetaplah akan menjadi bagian dari catatan sejarah, meskipun sebagai puisi, catatan sejarah itu berdasarkan pandangan subjektif penyair. Oleh karena itu, peristiwa Semanggi yang menjadi bagian dari sejarah pergolakan reformasi yang dilakukan mahasiswa, ia tetap saja sebagai catatan subjektif yang sifatnya sangat personal. Yang diangkat penyair dalam peristiwa itu adalah sisi lain dari peristiwa besar itu. Bait awal yang mengungkapkan goncangan jiwa mahadahsyat dan keterpanaan luar biasa si aku lirik yang menjadi saksi peristiwa itu. Maka aku hilang kata laksana hendak mewakili perasaan keterpanaan itu. Dan kata: Tuhan! (dengan tanda seru) sebagai bentuk gugatan yang tak terperikan. Apakah ia hendak menggugat Tuhan, marah luar biasa kepada entah siapa, atau bentuk permohonan, agar Tuhan turun tangan menyelesaikan peristiwa tragis itu.

Begitulah puisi, boleh digunakan sebagai alat untuk keperluan apa saja, diperlakukan sesukanya, atau sekadar catatat gebalau jiwa. Segalanya diizinkan. Itulah puisi!

***

Wahyu Wibowo, bersama Hendry Ch Bangun, dikenal sebagai salah seorang tokoh penggerak aktivitas sastra di FSUI Rawamangun. Sebagai aktivis sastra, ia pandai mengangkat isu-isu kontroversial yang memungkinkan orang terpancing dalam kancah polemik yang dihadirkannya. Tentang peran Pujangga Jawa, Ronggowarsito, simposium sastra, dan belakangan Aliran Kritik Sastra Sawo Manila, misalnya, adalah beberapa contoh kasus, bagaimana isu itu kemudian menggelinding menjadi sebuah wacana polemik secara nasional. Sebagai redaktur majalah Tifa Sastra (1978—1980), memungkinkannya lebih leluasa menjalankan peranan itu.

Terlepas dari perkara tersebut, selain sebagai penyair lewat antologi puisi Ken Mokar Ikan dalam Kaca (antologi bersama Hendry Ch Bangun) (1980), Sajak-sajak Satu Nol Tiga (1987), dan Ribuan Mata Tombak (1987), ia dikenal juga sebagai novelis dan penulis esai yang prolifik. Dalam antologi ini, disertakan 11 puisinya yang serba pendek.

Panjang-pendeknya puisi tidaklah dapat dijadikan ukuran berhasil-tidaknya karya itu. Kriteria penilaian atas puisi tentu saja ditentukan oleh puisi itu sendiri. Sejauh mana ia memancarkan kekuatan citraannya (image), metafora, dan sarana puitik lainnya sebagai fondasi sebuah puisi. Perhatikan salah satu puisinya yang berjudul “Senandung buat Dian” berikut ini:

katakanlah aku mesti pulang dan kembali

menyintaimu bersama butiran pasir di hati

hujan sore hutan meranggas

Jika tidak menggunakan enjambemen, boleh jadi puisi itu disusun seperti ini: katakanlah/aku mesti pulang/ dan kembali menyintaimu/ bersama butiran pasir di hati// hujan sore/ hutan meranggas// Judul mengisyaratkan sebuah pesan untuk seseorang (Dian), mungkin perempuan, mungkin juga laki-laki; mungkin sahabat, tetapi bisa juga kekasih, atau bisa siapa saja yang khusus.

Ketika kita mencermati puisinya, tampak di sana ada paradoks: pulang dan kembali. Pulang artinya si aku lirik telah melakukan pengembaraan (cinta, spiritual, pengelanaan, dan sebagainya) dan kemudian harus balik kembali ke sarangnya semula. Tempat pulang pun, boleh ditafsirkan rumah, kekasih, atau bahkan kematian. Mengingat konteks puisi ini cenderung merepresentasikan hubungan sosial, maka tujuan pulang adalah kembali ke pangkuan sang kekasih, dan coba menjalin kembali hubungan percintaannya.

Meskipun begitu, persoalannya tidaklah sesederhana itu: bersama butiran pasir di hati menegaskan kembali sebuah paradoks. Ada pasir dalam hati artinya ada sesuatu yang tidak beres dan menyakitkan. Lalu, akankah si aku lirik kembali mencintainya, sementara hati sudah terlalu luka? Larik terakhir –yang juga mengisyaratkan sebuah paradoks—menegaskan kembali luka itu: hujan sore hutan meranggas. Ini bukanlah kontradiksi, melainkan sebuah paradoks. Di satu pihak, ada yang memperoleh kesejukan (hujan, air, segar, dingin), dan di pihak yang lain, ada yang mengalami kepedihan, kegersangan, kepanasan, duka lara (melalui citraan: hutan meranggas). Jadi, si aku lirik seperti berhadapan dengan sebuah dilema. Tentu saja kita dapat menafsirkan lebih luas tentang problem percintaan yang rumit itu.

Dalam beberapa puisinya yang lain, tampaknya Wibowo cenderung membiarkan persoalannya tidak selesai, meski larik-larik akhir dalam sejumlah puisinya itu sengaja dihadirkan sebagai penegasan kembali persoalan yang dibicarakannya. Berbeda dengan puisinya yang dibicarakan tadi, puisinya yang berjudul “Senayan …,” “Napi Itu,” “Breaking News” dan seterus, memaksa kita menerjemahkan teks itu dengan cara mencantelkannya dengan mitos pewayangan. Kadang-kadang, kekuatan puisi-puisi pendek justru terletak cantelannya itu. Sebab, di sana, pada cantelan itu, mendekam berbagai peristiwa. Ingat saja yang dilakukan para penyair Imagism (Inggris) atau Haiku (Jepang). Dengan menampilkan larik-larik pendek, mereka menyimpan—menyembunyikan banyak peristiwa. Persoalannya tinggal, bagaimana pembaca coba menerjemahkan teks itu sesuai dengan pengalaman dan asosiasinya tentang apa yang disampaikan dalam teks puisi yang bersangkutan.

Bojonggede, 9 Juni 2009

Ini ungkapan Sitor Situmorang dalam esainya tentang Angkatan 45, “Konsepsi Seni Angkatan 45,” Siasat, No. 3, 1949 dan “Angkatan 45? Gelanggang, 6 November 1949. Substansi tulisan Sitor itu hendak menegaskan perbedaan semangat Angkatan 45 dengan angkatan sebelumnya. Selain faktor momentum, dalam diri sastrawan Angkatan 45 juga ada gejolak elan vital, ada semangat hidup untuk mencipta, ada kegelisahan untuk berkarya. Seniman sejati mesti memiliki kegelisahan itu. Maka, kegelisahan tanda hidup hanya berlaku untuk seniman sejati yang tidak akan pernah pensiun untuk berkarya. Periksa juga esai-esai Sitor Situmorang, Sastra Revolusioner (Ed. Maman S Mahayana), Yogyakarta: Mahatari, 2004.

Abdul Hadi WM, “Angkatan 70 dalam Sastra Indonesia,” Makalah Diskusi Sastra diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta, 4 September 1984 di Teater Arena Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Tulisan Abdul Hadi itu merupakan pengembangan pemikirannya yang tersebar dalam beberapa artikelnya tentang Angkatan 70. Konsepsi estetik yang dirumuskan Abdul Hadi tentang Angkatan 70 ini dilandasi oleh pemikiran yang melihat sastrawan pada generasi itu mengusung apa yang disebutnya semangat “kembali ke akar, kembali ke tradisi.”

Posisi Iwan Simatupang memang agak unik. Dia memulai kiprahnya pada dasawarsa tahun 1950-an, tetapi memperoleh momentumnya justru awa tahun 1970-an. Dalam dunia sastra, bahkan kesenian pada umumnya, momentum sering menentukan nasib sebuah karya. Malahan juga tak jarang justru menjadi faktor utama yang mengangkat reputasi. Itulah yang dialami Iwan Simatupang. Banyak pengamat sastra Indonesia menempatkan Merahnya Merah (1968) sebagai novel pertamanya, karena ia terbit lebih awal. Padahal, Ziarah (1969) selesai ditulis Iwan tak lama setelah kematian istrinya, Cornelia Astrid van Geem tahun 1960, dan Merahnya Merah rampung setahun kemudian (1961). Karya pertamanya drama Bulan Bujur Sangkar ditulis di Eropa (1957) dipublikasikan tahun 1960, dan nyaris tak mendapat tanggapan apa pun. Tahun 1966, terbit dua drama berikutnya, RT Nol/RW Nol dan Petang di Taman, tetapi juga tak ada sambutan. Karya Iwan Simatupang mulai menghebohkan, bahkan memunculkan polemik, justru setelah terbit Merahnya Merah dan terutama Ziarah. Tampak di sini, tanggapan atas novel Iwan Simatupang begitu semarak, bersifat polemis, dan penting bagi perkembangan kritik sastra. Sangat mungkin tanggapan pembaca akan berbeda jika novel itu terbit tahun 1960-an ketika politik menjadi panglima. Jadi, terbitnya novel Iwan Simatupang selepas tragedi 1965, seperti memperoleh momentum. Sejak itu, berlahiran karya sejenis dari sastrawan lain yang memperlihatkan semangat eksperimentasi. Iwan Simatupang menjadi tokoh penting. Betapa ramai tanggapan pembaca, dapat dilihat dari semua tulisan tentang Iwan Simatupang yang mencapai lebih dari 300-an, mulai resensi, esai sampai disertasi. Inilah dasar, mengapa Iwan Simatupang ditempatkan sebagai salah satu tokoh pemicu lahirnya gerakan Sastrawan Angkatan 70 dalam sastra Indonesia.

Tanpa bermaksud melebihkan, nama-nama Doddy Mardanus (peneliti), Eko Endarmoko (editor), Ibnu Wahyudi, Kasijanto, Maman S Mahayana, Sunu Wasono, Tommy Christomi, Zeffry Alkatiri (dosen FIB-UI), Priyono Bandot Sumbogo (Pemred Majalah Forum Keadilan), Yahya Andi Saputra (penyair, budayawan Betawi), mengawali dan berkembang karier kepenulisannya justru pada periode awal tahun 1980-an. Dan itu, langsung atau tidak, tidak terlepas dari pergaulannya dengan ketiga nama itu. Kondisi itu didukung pula oleh keberadaan beberapa media, seperti buletin Gaung, dan terutama Majalah Seloka dan Tifa Sastra yang untuk ukuran waktu itu boleh dikatakan cukup penting mengingat penyebarannya yang luas ke berbagai kota di Indonesia. Kegiatan bersastra, diskusi, dan menulis menjadi sesuatu yang menggairahkan, yang tidak saya lihat pada mahasiswa FIB-UI sekarang sejak Fakultas Sastra UI pindah ke Depok.

Dalam konteks ini, puisi sesungguhnya tidak sekadar ekspresi suara hati, melainkan juga catatan individu tentang sebuah peristiwa. Jika dikaitkan dengan proses kejatuhan Presiden Abdurrahman Wahid, puisi ini menjadi potret zamannya, menjadi catatan sejarah yang bersifat sangat personal, sangat individual. Jadi, di balik larik-larik puisi itu, ada peristiwa besar yang terjadi di negeri ini. Membaca nada (tone) yang disampaikan penyair, saya pikir, puisi ini ditulis setelah beberapa lama peristiwa kejatuhan presiden itu terjadi. Penyair tampak cool dan coba mengambil jarak untuk tidak tergelincir pada nada subjektif. Di situlah makna penyair melakukan perenungan. Dan di situ pula berlahiran penciptaan metafora.

Bandingkan dengan puisi Sitor Situmorang yang terkenal: Malam Lebaran/Bulan di atas kuburan//

Yang dimaksud tradisi (Melayu) yang harus dipelihara sebaik-baiknya –bagi sastrawan Melayu—tidak sama dengan semangat para perumus Surat Kepercayaan Gelanggang yang menyatakan “ … Kalau kami berbitjara tentang kebudajaan Indonesia, kami tidak ingat kepada me-laplap hasil kebudajaan lama sampai berkilat dan untuk dibanggakan, tetapi kami memikirkan suatu penghidupan kebudajaan baru jang sehat….” Bagi sastrawan Melayu, kebesaran puak Melayu pada masa lalu, meskipun bukan sesuatu yang harus ditangisi, persolan itu kini kerap dianggap sebagai kecelakaan sejarah sebagai akibat terjadinya kesepakatan Belanda—Inggris sebagaimana yang tertuang dalam Traktat London, 1824 (Lebih lengkap tentang masalah ini, lihat juga Maman S Mahayana, Bermain dengan Cerpen (Jakarta: Gramedia, 2007)

Periksa Maman S Mahayana, “Tentang Pantun: Sebuah Penutup” dalam Maman S Mahayana (Ed.), Negeri Pantun, Depok: Yayasan Panggung Melayu, 2008, hlm. 81—91.

Bandingkan puisi ini dengan puisi Adhie M Massardi yang berjudul “Presiden Jatuh Lagi.” Meski tidak ada nama-nama disebutkankan kedua penyair itu, metafora yang dibangun di sana jelas mengarah pada tokoh tertentu. Suasana genting dan penuh ketegangan terasa sangat kuat dalam puisi kedua penyair ini. Sekali lagi, puisi tidak sekadar ekspresi jiwa, melainkan juga sebagai catatan tentang peristiwa. Ia menjadi potret sosial dan semangat zamannya.

Untuk perkara mantera, boleh juga mencermati secara serius puisi-puisi Sutadji Calzoum Bachri, O, Amuk, Kapak dengan Kredonya yang terkenal.

Satu Nol Tiga (103) adalah salah satu kamar di Asrama Daksinapati Rawamangun yang ditempati Hendry Ch Bangun, Sunu Wasono, dan Kasiyanto.

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Media Lamongan