Langsung ke konten utama

Hasrat Sitor Terpenuhi di Bali

Nuryana Asmaudi
http://www.balipost.co.id/

Sastrawan Angkatan 45 Sitor Situmorang secara tak terduga Selasa (2/12) lalu tampil di hadapan publik sastra di Denpasar. Ia tampil membacakan sajak, berdialog, dan beramah-tamah dengan kalangan muda di Gallery Seputih milik Made Wianta di Jl. Pandu Tanjung Bungkak, Denpasar.

SASTRAWAN yang sudah lama menetap di Paris tersebut hadir di Bali bersama istrinya — Debora. Kedatangannya ke Bali itu kemudian dimanfaatkan untuk mengadakan pertemuan dengan para seniman serta peminat sastra di Bali. Penampilan Sitor di Gallery Seputih itu terbukti memang mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan seni di Bali.

Mantan Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional (1959-1965), sebuah organisasi kesenian di bawah PNI, itu pun tampak sangat gembira bisa bertemu para seniman muda Bali. Sebuah kesempatan yang katanya memang sudah lama diimpikannya. Karenanya, Sitor — sastrawan yang pernah dipenjara oleh penguasa Orde Baru pasca- G-30-S/PKI — kemudian banyak bercerita dan dengan penuh semangat mengajak dialog seniman yang hadir malam itu.

Sitor mengaku datang ke Bali pertama kali tahun 1956. Pada saat itu ada Kongres Kebudayaan Nasional ke-2 yang diadakan oleh Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN). Lalu kedatangannya yang ke-2 ke Bali pada 1962, pada saat Indonesia menjadi tuan rumah “Pertemuan atau Konferensi Kumpulan Pengarang-pengarang Asia-Afrika” yang dilangsungkan di Tanjung Sari, Sanur. Saat itu Sitor jadi ketua konferensi. Lalu, kedatangan saya yang ke-3 pada 1978, atas biaya dan dukungan Sutan Takdir Alisyahbana, selepas dia dipenjara selama delapan tahun oleh Orde Baru. “Setelah itu saya tak pernah lagi berkunjung ke Bali dan baru sekarang ini bisa datang lagi ke sini,” cerita Sitor.

Namun, kata Sitor, kedatangannya ke Bali yang paling berkesan adalah pada 1978. Saat dipenjara, dia berangan-angan, jika sudah bebas nanti yang pertama-tama ingin dikunjungi adalah Bali. Hal itu benar-benar bisa diwujudkan tepat setelah dia dibebaskan dari penjara, meskipun saat itu dia tak punya duit sama sekali. “Saya ditanggung Sutan Takdir, semuanya ditanggung dia. Saya diundang ke Toya Bungkah di Danau Batur tempat dia punya pesanggrahan sastra. Selama hampir sebulan saya tinggal di sana menikmati suasana sambil mengadakan penelitian. Saya perhatikan para turis yang sering kali datang ke sana. Saya bergaul dengan mereka,” cerita Sitor seraya menyebut, pengalamannya di Toya Bungkah itu ditulisnya menjadi buku “The Rites of The Bali Aga”.

Sitor malam itu membawa tiga buku karyanya yang kemudian diberikan sebagai kenang-kenangan kepada Made Wianta. Dua buku lainnya adalah “Kisah Surat Dari Legian” dan “Paris La Nuit”. “Buku kumpulan sajak saya yang pertama ‘Surat Kertas Hijau’ juga yang menerbitkan adalah Takdir, tokoh yang menjadi lawan politik saya pada saat itu. Itu kan aneh? Tapi ya begitulah sportivitas pertemanan kreatif kami pada masa itu. Seharusnya kan dia mencekal saya, tapi kok malah menerbitkan buku puisi saya, dan juga membiayai dan menanggung saya pergi-pulang dan selama saya di Bali saat itu,” kesan Sitor sambil tertawa.

Pertemuan antara Sitor dengan para seniman serta peminat sastra di Bali malam itu memang terkesan hangat. Sastrawan yang telah berusia 79 tahun itu sepertinya merasa mendapat gairah baru. Kesempatan itu pun dimanfaatkan untuk berdialog dan beramah-tamah lebih jauh. Termasuk mempertanyakan pada Sitor seputar peristiwa dan kondisi sastra khususnya di Bali pada masa 1950-an hingga 1960-an. Sayang, dalam dialog malam itu acap terjadi miskomunikasi. Mungkin karena faktor usia dan pendengaran Sitor yang sudah agak kurang peka dan ditambah lagi dengan adanya ”trauma” masa lalu Sitor. Sehingga, setiap pertanyaan yang diajukan ke Sitor ditanggapi dengan kesan seolah mengarah ke unsur politik. Ini membuat Sitor jadi “beringas”, seolah merasa sedang “diinteli” oleh generasi Orba. Padahal, beberapa seniman Bali benar-benar hanya menanyakan murni soal sastra dan tanpa bertendensi politik. Dalam kesempatan itu, Sitor sempat membacakan beberapa sajaknya antara lain “Lukisan Dalam Lukisan” dan “Untuk Pelukis Salim”. Beberapa sastrawan Bali pun membacakan sajaknya untuk Sitor.

***

Sitor Situmorang dilahirkan di Harianboho (Sumatera Utara) 2 Oktober 1924. Berpendidikan HIS (di Baliga dan Sibolga), MULO (Terutung), AMS (Jakarta) dan pernah memperdalam pengetahuan mengenai sinematografi di Universitas California AS (1956-57), pernah bermukin di beberapa kota seperti Singapura, Amsterdam, Leiden, Islamabad, Paris, dll. Ia pun pernah menjadi redaktur di beberapa media yang terbit di Sumatera dan Jawa. Juga aktif di berbagai organisasi kesenian dan pejabat pemerintahan. Juga pernah menjadi anggota MPRS dan dosen Akademi Teater Nasional (Jakarta). Sejumlah bukunya yang telah terbit antara lain “Pertempuran dan Salju di Paris” (1956) mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955/56. Kumpulan sajaknya “Peta Perjalanan” (1976) memperoleh Hadiah Puisi Dewan Kesenian Jakarta 1976/1977. Karya-karyanya yang lain adalah “Surat Kertas Hijau” (1954), “Jalan Mutiara” (1954), ”Dalam Sajak” (1955) ”Wajah Tak Bernama” (1956), ”Zaman Baru” (1962), ”Pangeran” (1963), ”Sastra Revolusioner” (1965), ”Dinding Waktu” (1976), ”Sitor Situmorang Seorang Sastrawan 45 Penyair Danau Toba” (1981), ”Danau Toba” (1981), ”Angin Danau (1982), ”Bunga di Atas Batu” (1989), serta ”Rindu Kelana” (1994).

Pada usianya yang ke-80 Oktober tahun depan, juga akan terbit lima buku terbarunya di Jakarta. Meski karya-karyanya sudah begitu banyak dan usianya sudah uzur, Sitor mengaku masih tetap penuh semangat dan terus berkarya. ”Saya masih terus menulis sajak. Kalau dulu, pada usia 25-an karya-karya itu mengalir seperti banjir, sekarang setelah tua begini hanya menetes tapi terus dan tak mau henti,” aku Sitor.

Kepada para peminat sastra di Bali dan kalangan kampus, Sitor berpesan bahwa baca teori itu penting, tapi tak akan berarti tanpa pengalaman pribadi. ”Pengalaman pribadilah yang akan memperkaya dan memberi kematangan dalam berkarya,” tuturnya.

Komentar

Sastra-Indonesia.com