Langsung ke konten utama

Pecahannya Merekahkan Pelangi

M.D. Atmaja
http://www.sastra-indonesia.com/

Siang hari, sewaktu matahari baru saja merangkaki langit, pada kehangatannya, dua manusia, lelaki-perempuan berjalan menyusuri pasir yang gemerisik membisik. Mereka bergandengan tangan, saling merekatkan diri agar salah satunya tidak terseret begitu saja. Agar keduanya dapat berjalan seiring, di jalan yang sama untuk saling mereguk hasrat, kemurnian asa, renyahnya pemahaman atau manisnya daging yang basah. Dan, mereka pun terus berjalan dengan sama-sama menggelayut ke mega-mega hati yang di sana terdapat sungai harapan yang mengalir di tengah malam.

Lagi-lagi, lelaki-perempuan itu masih lelaki-perempuan yang kemarin-kemarin juga. Si Lelaki Pendosa yang melangkah ringan di atas kakinya yang berlumur dosa-dosa perjalanan, dan seorang Perempuan Pendoa yang malu-malu tersenyum menghadapi getirnya penderitaan. Mereka berdua adalah sepasang kekasih, yang selalu bersama di jalan-jalan yang selalu di tempuhi. Selayaknya kehidupan di sana ada sepasang kekasih. Malam bercumbu dengan siang. Pagi bersetubuh dengan sore. Hitam mengecapi aroma cinta si putih. Ini lah pasangan yang lainnnya, Lelaki Pendosa dan Perempuan Pendoa.

Perjalanan mereka kini sampai pada papan beton yang menjorok ke lautan. Papan itu, terbaring panjang, pada ujungnya diapit ratusan anak-anak yang menanggung gelombang yang datang dan menghantam. Ombak berdebur dan langsung pecah begitu saja ketika menghantam balok-balok beton yang dingin menyapa. Air laut yang memercik, menjadi tirai dan naungan bagi Lelaki Pendosa dan kekasihnya, Perempuan Pendoa dari panas matahari.

Pada detik yang berganti dengan begitu cepatnya, si Perempuan Pendoa berlari ke ujung papan, dia mencondongkan kepalanya ke laut dimana ombak terus menghantam dengan keras. Perempuan Pendoa menatap ombak dengan girang. Pandangannya menatap penuh cahaya saat ombak bergulung dan langsung mendentum di di bawah kakinya.

“Mas!” panggilnya pada Lelaki Pendosa yang menyaksikan dirinya dari kejauhan. “Sini, Mas, temani aku!” ucap Perempuan Pendoa setengah manja dengan berteriak.

Lelaki yang berdiri mematung di belakang jauh pun, mendekati dengan lambat. Pandangannya terjurus pada ombak yang bergulung dan membentur dinding papan dengan begitu kerasnya. Air yang dipecah kerasnya beton langsung menghabur menjadi tirai selayaknya hujan di pagi hari ketika matahari baru saja memancar. Sang Lelaki Pendosa menaiki beton dimana si Perempuan Pendoa berdiri. Dia ragu sampai keduanya telah mentau di sana. Menanti ombak yang menghambur.

Tidak lama, air pun bertaburan selayaknya daunan yang berguguran…

“Ada pelangi, Maaass!!! Teriak si Perempuan Pendoa dalam keriangan yang penuh arti bagi kekasihnya.

“Kamu bahagia, Sayang?” tanya Lelaki Pendosa dengan menahan rasa harap bahwa kekasihnya akan mengatakan: Ya. “Kamu bahagia, Kekasihku, Istriku, Semangatku, Kehidupanku, Perempuan Pendoaku?” dia mengulangi pertanyaannya.

Perempuan Pendoa hanya tersenyum sambil memandangi gelombang yang datang dan pecah berhaburan di sekeliling mereka. Air itu menerpa selayaknya hujan, lalau pecahannya menciptakan pelangi yang melengkung begitu dekat dengan sepasang kekasih itu: Pendoa dan Pendosa.

“Aku bahagia, Mas!” ucap Perempuan Pendoa dalam senyuman sambil menggenggam erat tangan kekasihnya ketika ombak kembali menghambur bagai hujan dan menciptakan pelangi di sana.

“Terima kasih, Sayang…!!!” ucap Lelaki Pendosa sambil melemparkan sekecup cium pada rambut kekasihnya. “Ah, Dia menyimpan banyak misteri di dalam cakrawala itu. Misteri yang indah, ketakutan yang indah, kebahagiaan yang memabukkan.” Ucapnya sambil melemparkan pandangan jauh ke tengah laut.

“Ketakutan,” ucap Perempuan Pendoa dalam desahan. “kamu takut pada kematian, Mas?”

Lelaki Pendosa pun menggelengkan kepala. “Kematian, jalan menuju Tuhan. Kenapa musti takut mati? Kalau setelah mati kita akan bertemu dengan Zat yang telah menciptakan kita.”

“Kenapa banyak manusia takut mati?”

“Sebab mereka takut berpisah dengan dunianya!” Jawab Lelaki Pendosa dalam senyuman kecil. “Manusia terlalu takut kehilangan dunianya, sebab mungkin saja mereka tidak yakin kalau setelah kehidupan ini ada kehidupan selanjutnya. Mungkin, keyakinan mereka pada Allah perlu dipertanyakan oleh diri mereka sendiri.”

“Kamu tidak takut mati, Mas?”

Lelaki Pendosa menggelengkan kepala, “Tidak!!!” jawabnya dalam senyuman lebar. “Dalam tapakan perjalanan jauhku, aku seringkali mendengar alam raya mentasbihkan Allah, Tuhan semesta alam. Gemuruh ombak ini pun sedang bertasbih ketika menghambur ke pantai dan pecah.”

“Kamu bisa mendengarkannya, Mas? Dzikir itu..”

“Sesekali aku mendengarnya. Dari Ar-Rahman; Ar-Rahim; Al-Malik; Al-Quddus; Al-Salam; Al-Mu’min; Al-Muhaimin; Al-Aziz; Al-Jabbar; Al-Mutakabbir; Al-Khaliq; Al-Bari; Al-Musawwir; Al-Ghaffar; Al-Qahhar; Al-Wahhab; Al-Razzaq; Al-Fattah; Al-’Alim; Al-Qabidh; Al-Basit; Al-Khafidh; Ar-Rafi’; Al-Mu’izz; Al-Muzill; As-Sami’; Al-Basir; Al-Hakam; Al-’Adl; Al-Latif; Al-Khabir; Al-Halim; Al-’Azim; Al-Ghafur; Asy-Syakur; Al-’Aliy; Al-Kabir; Al-Hafiz; Al-Muqit; Al-Hasib; Al-Jalil; Al-Karim; Ar-Raqib; Al-Mujib; Al-Wasi’; Al-Hakim; Al-Wadud; Al-Majid; Al-Ba’ith; Asy-Syahid; Al-Haqq; Al-Wakil; Al-Qawiy; Al-Matin; Al-Waliy; Al-Hamid; Al-Muhsi; Al-Mubdi; Al-Mu’id; Al-Muhyi; Al-Mumit; Al-Hayy; Al-Qayyum; Al-Wajid; Al-Majid; Al-Wahid; Al-Ahad; As-Samad; Al-Qadir; Al-Muqtadir; Al-Muqaddim; Al-Mu’akhkhir; Al-Awwal; Al-Akhir; Az-Zahir; Al-Batin; Al-Wali; Al-Muta’ali; Al-Barr; At-Tawwab; Al-Muntaqim; Al-’Afuw; Ar-Ra’uf; Malik-ul-Mulk; Dzul-Jalal-Wal-Ikram; Al-Muqsit; Al-Jami’;Al-Ghaniy; Al-Mughni; Al-Mani’; Al-Darr; Al-Nafi’; Al-Nur; Al-Hadi; Al-Badi’; Al-Baqi; Al-Warith; Ar-Rasyid; dan As-Sabur. Kemudian dalam keheningan yang indah, alam raya bertasbih: Laa ilaaha illallaah.”

Ombak kembali menghambur dengan sangat keras. Air terpecah begitu saja ketika menghantam papan beton yang lama kelamaan terkikis lembut dan asinnya air laut. Keheningan merebak pada suasana hati Lelaki Pendosa. Pandangannya terjurus pada Perempuan Pendoa yang menikmati pelangi yang tercipta. Lelaki Pendosa tersenyum dengan sederhana, sedangkan di dalam hatinya berdengung nada yang bersahutan: Alhamdulillaah! Ombak datang kembali lebih besar, menghantam pantai dan pecah. Air berhamburan membasahi tubuh Lelaki Pendosa dan Perempuan Pendoa yang telah menjadi satu. Lalu dari ombak yang terpecah, pecahannya merekahkan pelangi.

Bantul – Studio Semangat Desa Sejahtera Fictionbooks,
Minggu, Selasa 29 Juni 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Sufi, Puisi Kesunyian

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

apa perlunya teriakan bagi yang mampu mendengar bisikan
–Jalaluddin Rumi, ”Yang Mengenal Dirinya Yang Mengenal Tuhannya”, terj. dari Fihi ma Fihi oleh Anwar Kholid

Lihatlah bagaimana sebagian dari mereka memiliki ‘dzawq—cita rasa batiniah yang halus tentang syair yang hanya dikhususkan bagi mereka. Padahal itu adalah sejenis pencerapan juga, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah, betapa sebagian orang memiliki dzaug yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzawq pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzawq berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’—perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Puisi-Puisi M. Faizi

http://m-faizi.blogspot.com/
SALAM UNTUK PENYAIR

Aku berlindung dari silap kelih penyair
yang melihat sembilu seperti belati
karena pandangannya adalah “seperti”

Aku berlindung dari khayal penyair
yang mabuk mandam sajak-sajaknya
lalu mengatakan separuh puisi
dan menyimpannya separuh lagi

Aku berlindung dari sajak penyair
yang menyepuh hak kepada batil
karena kebenaran yang disamarkan
pada majas menipu tafsir

Aku berlindung kepada Allah
yang melaungkan jalan pulang
bagi puisi di rimba bahasa
menulis sekarang untuk esok dan lusa
membaca yang fana untuk yang baka

Jika hidupnya sebatas usia
tentu dia bukan penyair
karena kata dalam sajak
selalu habis di ujung larik bait terakhir

(bersambung…)

8-10/2006



SURGA DUNIA

Surga adalah kehendak
dan dunia adalah keterbatasannya

Surga dunia, fuh!
sajak indah persebalikan
sumpah serapah yang terkabulkan

Rentang, di saat satelit memangkas jarak
akal, di saat komputer menggantikan otak
akhirnya, kehendak terbatas
pada ketakterbatasannya

Surga dunia
dan sajak persebalikan itu adalah:
buk…

SRI MANGKUNEGARA IV (1809—1881) (bagian IV habis)

: Sastawan Pujangga dan Negarawan Bijak
Puji Santosa
http://pujagita.blogspot.com/

Sri Mangkunegara IV adalah sastrawan pujangga dan sekaligus seorang negarawan yang memperoleh gelar satriya pinandita atau sabda pandita ratu. Dia dilahirkan pada hari Ahad, 3 Maret 1809 di Surakarta dari pasangan Kanjeng Pangeran Adiwijaya I dengan Raden Ayu Sekeli, putri Sri Mangkunegara II. Sri Mangkunegara IV secara garis keturunan dari ibu adalah cucu Sri Mangkunegara II, sementara dari garis keturunan ayahandanya, beliau adalah buyut (cicit) dari Sri Susuhunan Pakubuwana III. Ketika baru lahir Sri Mangkunegara IV langsung diminta oleh kakeknya, Sri Mangkunegara II, untuk dijadikan putra angkatnya. Bayi yang masih kecil itu diserahkan ke salah satu selirnya, Ajeng Dayaningsih, lalu diberi nama R.M. Soedira. Di tangan selir raja Mangkunegara II inilah R.M. Soedira tumbuh sebagai anak yang sehat, cerdas, dan kompetitif.

Sehubungan pada waktu itu di Surakarta belum ada pendidikan formal yang modern sepert…