Indrian Koto
http://www.lampungpost.com/
SORE jatuh di ujung gedung, digantikan senja yang temaram. Segera, malam menaburkan kegelapan yang paling kelam. Langit menyajikan sekeping bulan yang patah--serupa goresan luka kecil pada wajah. Bintang bertebar di pipi malam, mewartakan batas langit dari ketinggian.
Kota tak hendak menutup kisah, menawarkan kemilau di jalan-jalan, gedung bertingkat dan papan iklan. Malam tak mesti dilalui dengan kegelapan. Trotoar, bangku-bangku dan taman mengisahkan sejarah paling masyuk sepanjang malam.
Kota menggeliat, mengabarkan kemerdekaan yang paling laknat. Kehidupan tumbuh di mana-mana, menyajikan riang wajah-wajah dan gemuruh suara-suara. Malam, waktu yang paling tepat merayakan sebuah kemenangan.
Sebuah kota di musim hujan. Orang-orang tak hendak menutup kisah di balik selimut dan kamar-kamar. Setiap jengkal malam menawarkan kisah paling indah, membawa tiap-tiap tubuh keluar rumah. Tak mesti menutup bagian tubuh, sebab dingin disapu kabut dan lampu-lampu. Malam menguapkan panas, sebuah bertanda tentu saja, besok hari barangkali hujan. Maka, nikmatilah ini malam sebelum waktu dikubur pagi yang menyilaukan. Siang, tak lebih dari sebuah penjara yang jauh dari hura-hura.
Dan, perempuan itu lahir dari geliat kota. Malam telah membuat orang lupa dengan sekitarnya. Lalu apa artinya seorang perempuan di antara sekian ratus atau ribuan(?) perempuan yang berkeliaran di sepanjang malam.
Perempuan itu menyapa malam, menyatu bersama hingar-bingar. Menyeruak di celah sempit yang tak memberi ruang, melewati trotoar, menyeberang jalan, taman, gang, dan lampu-lampu. Bulan mengikuti dari jauh, seperti sepasang mata yang mencurigakan.1
"Tak ada yang lebih menakutkan selain kota, lampu, dan nama-nama", bisik perempuan itu, bahasanya mengalir bersama angin. "Tak ada yang lebih kucinta selain gunung, laut, dan pulau-pulau," lanjutnya. Kini tubuh itu menyatu bersama bingar lampu, musik, tarian, dan lagu-lagu. Tubuhnya melekat di antara bahasa carut-marut, tawa, asap rokok, dan sengak alkohol murah. Meja menyajikan Anker, Bintang, Vodka, TKW, anggur merah-putih, Topi Miring, KTI, Ardath, Commodore, gelas-gelas kosong, dan kulit kacang. Duhai, lihatlah denyut hidup di malam hari, seakan besok pagi-pagi sekali mentari tak lahir lagi. Nikmatilah, nikmatilah, selagi malam masih panjang. Mari menari, perempuan.
"Saya si putri, si putri sinden panggung," mengalun di antara tubuh-tubuh ramping, belahan dada, pinggang, pantat, dan suit..suit. Dan, perempuan itu mengikuti alunan yang disajikan, seperti melafazkan doa-doa. Khusuk dan begitu ikhlas.
Malam bergulir, tepat di ubun-ubun. Dan, perempuan itu menggeliat di balik selimut apek di kamar sumpek.
* * *
Perempuan itu berdiri di jendela, mengintip langit yang gemetar menahan tangis. Ah, biarlah dan tetaplah telanjang.
Perempuan yang lahir dari malam, di antara sejuta geliat kenikmatan. Lihatlah matanya basah. Apakah yang terbersit di hati seorang perempuan yang telah membakar tangis dan mengubur mimpi?
"Jangan panggil aku pelacur," rintihnya sesekali lewat igauan dan sepenggal mimpi. Apa yang lebih menguntungkan saat ini, --di sini-- selain melelang diri? Seseorang pernah berkata kepadanya, entah di mana.
Tapi, tidak. Lihatlah dia tengah bersedih. Tangisnya mengalir bersama hujan. Menggenang ke lantai, mengalir ke tiap cela dan lubang-lubang. Terus mengalir. Adakah malam tengah menangisi nasibmu perempuan, ataukah kau tengah menangisi malam? Jangan menangis, karena hidup tak pernah meminta itu. Lihatlah tangismu telah merendam sebagian kota. Engkaukah yang selalu membanjiri kota dengan air mata tiap kali tahun baru tiba?
"Aku menjadi cengeng saat Desember menjelang."
Matanya yang serupa telaga yang mengalirkan apa saja. Seperti sungai di belakang rumah. Jauuuh!! Dulu sekali! Sungai di matanya, seumpama sungai yang mengalir ke muara. Anak-anak yang melompat riang dengan tubuh telanjang, perempuan yang mencuci di tepian, para bujang belajar mengintip gadis-gadis mandi. Sungai lebar di belakang rumah, tempatnya belajar mengeja usia, membiarkan betisnya dijilat-jilat lidah sungai, memperlihatkan tubuh rampingnya yang dililit kain basahan. Tertawa-tawa, sementara di hulu laki-laki menghanyutkan keperkasaan dan dicumbu ikan-ikan. Gadis-gadis mungil tidak saja membaca usia lewat sesuatu yang tumbuh pada dada atau yang mengalir dari selangkangnya. Mereka berlomba menghirup aroma laki-laki yang dihanyutkan jauh ke hilir. Maka, sesekali jika muncul pemuda iseng yang belajar mengintip lewat sepotong kail, jala atau sebuah sampan, mereka berlomba untuk sekadar memperlihatkan lekuk yang membesar pada bagian tubuh. Lekuk yang senantiasa menggelora dan terus membakar.
Sebuah sungai, kampung, dan gunung-gunung. Hidup yang terkungkung, membentuk mereka sebagai pencinta yang sembunyi. Di balik pohon bambu, kandang lembu, pinggir sawah atau belakang rumah. Terkikik-kikik di rerimbun, sesemak kecil, dan di bawah sepotong bulan. Sesekali tentu ada yang berani membuka jendela (di malam-malam buta, tentunya).
Awal tahun adalah musim kawin, tak seorang pun yang mampu mengusir sepi dan rasa dingin. Yang menggelora di kedalaman mereka yang paling entah, lebih menggairahkan ketimbang berita-berita menjemukan tentang kematian, orang-orang hanyut, rumah yang tersangkut di pinggir sungai, tanggul-tanggul jebol, sawah yang mendanau, tanah longsor, laut berwarna lumpur atau langit yang selalu kelam.
Tidak. Dia bukanlah gadis yang rakus, meski sering memimpikan satu-dua laki-laki bertelanjang dada. Hanya bertelanjang dada. Tidakkah begitu sering mereka saksikan di tepian? Bukan itu sesungguhnya yang menyiksanya benar. Adalah apa yang berada jauh di sebalik bebukitan dan hilir sungai. Setiap laki-laki yang pernah mengalir jauh ke muara selalu membawa kisah paling perkasa, tentang laut, pulau, jalan-jalan, oto, pasar, dan barisan toko-toko. Tidakkah selama ini milik para orang tua dan laki-laki saja? Betapa tidak adilnya! Seperti laknatnya impian gadis-gadis yang bercinta dengan beberapa lelaki sekaligus atau bercumbu dengan sejenisnya. Apakah segala pantang dan larangan hanya diperuntukkan bagi perempuan?
Angan hanya selembar arus sungai, mimpi hanya sebatas gunung, begitulah petuah para tetua. Ah, dia tak hendak membiarkan tubuhnya membatu di jendela. Keluar hanya ketika hari-hari tertentu saja, ke pakan misalnya dan selebihnya mengubur diri di dalam kamar. Perempuan, kampung dan pantangan, betapa membosankan.
Barangkali pesannya--yang satu dua--mengalir jauh ke muara dan dibaca para pelaut dan penghuni dermaga. Sehingga suatu kali, datanglah berbondong-bondong orang dari hilir, membawa cerita yang paling indah: tentang negeri di seberang laut yang langitnya lebih rendah, pekerjaan yang mengangkang dan keringat yang berubah uang. Maka, seperti pasukan demonstran orang-orang berebutan menuju hilir. Bersampan dan berakit atau melewati jalan kecil yang berbatu. Meninggalkan hamparan ladang cengkih yang meranggas, kopi menguning, sawah mengering, anak istri, cangkul dan bajak, Lumpur, dan kain samping. Rantau mengabarkan mimpi paling sempurna. Sejak itulah ia didera kegelisahan asing. Bapak yang tua, Mak yang renta, adik yang butuh uang sekolah (ah, alasan paling buruk dari semua alasan yang tersedia). Tidak. Bukankah, dari dulu ia begitu mendamba pelayaran? Itu saja. Maka, lewat seorang laki-laki yang dikenal di tepian, dia mengalir bersama malam. Diam-diam.
Ditinggalkannya kampung, ladang, gunung, petak sawah, tepian, ranum jagung, dan berisik air di tanggul. Dia tak sempat menengok lagi ke belakang. Apa yang bisa dipastikan pada kegelapan?
Di luar hujan terus mengalir makin deras, halilintar terus menyambar dan ia tengah merindukan hujan yang lain pada malam yang lain. Malam yang telah lama hilang sejak keberangkatan. "Bukankah aku meninggalkan segalanya ketika kemarau bertandang, tetapi kenapa justru hujan membuatku kehilangan?" bisiknya diam-diam.
Seorang laki-laki terbangun, menghampiri si perempuan.
"Tidurlah, sayang. Di luar masih hujan."
Perempuan itu bergeming.
"Seperti anak kecil saja. Sini! Tidakkah hujan mengairahkan? Buatlah tubuhku terasa gerah ketika dingin itu memagut, sayang."
Laki-laki itu mendekat. "Kau menangis?" tanyanya dalam sisa kantuk yang tertahan.
"Tidak! Aku justru sedang tertawa.".
Malam terus membakar. Sementara hujan terus mengalir di kedua matanya, bagai tanggul yang pecah dan mengalirkan apa saja. Tumpah di lantai, meggenang di selokan, merambat ke jalan-jalan.
Malam mencair di kota yang gigil.
Rumahlebah, 2004-2005
1. Diambil dari judul cerpen Triyanto Triwikromo, "Sepasang Mata yang Mencurigakan", dalam kumpulan cerpen Malam Sepasang Lampion, penerbit Kompas.
pakan, pekan; hari ketika pasar ramai sekali, terjadi satu kali dalam seminggu dan biasanya hari Minggu. Sebagian masyarakat Minang menyebut hari Minggu dengan hari pakan.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
A Khoirul Anam
A Qorib Hidayatullah
A Rodhi Murtadho
A. Yusrianto Elga
A. Zakky Zulhazmi
A.S. Laksana
Aang Fatihul Islam
Aba Mardjani
Abd. Mun’im
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Gaffar Ruskhan
Abdul Hadi W. M.
Abdul Kadir Ibrahim
Abdul Malik
Abdul Muis
Abdul Wachid BS
Abdullah Khusairi
Abidah El Khalieqy
Abimardha Kurniawan
Abroorza A. Yusra
Abu Salman
Acep Iwan Saidi
Achmad Farid Tuasikal
Adek Alwi
Adi Marsiela
Adian Husaini
Adib Muttaqin Asfar
Adji Subela
Afandi Sido
Afriza Hanifa
Afrizal Malna
Ageng Wuri R. A.
Ags. Arya Dipayana
Aguk Irawan M.N.
Agus B. Harianto
Agus Bing
Agus Noor
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sri Danardana
Agus Sulton
Agus Sunyoto
Agus Wibowo
Agus Wirawan
Agusri Junaidi
AH J Khuzaini
Ahda Imran
Ahid Hidayat
Ahm Soleh
Ahmad Asyhar
Ahmad Farid Yahya
Ahmad Fuadi
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Musthofa Haroen
Ahmad Rofiq
Ahmad Suhendra
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Aini Aviena Violeta
Ajip Rosidi
Akhiriyati Sundari
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Al Azhar Riau
Al-Fairish
Alex R. Nainggolan
Alexander G.B.
Alfian Zainal
Aliansyah
Alimuddin
Almania Rohmah
Alunk Estohank
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Anata Siregar
Andi Sutisno
Andy Riza Hidayat
Anies Baswedan
Anindita S Thayf
Anis Ceha
Anis Faridatur Rofiah
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Anton Kurnia
Ari Hidayat
Ari Kristianawati
Arie MP Tamba
Arief Junianto
Aris Kurniawan
Arti Bumi Intaran
Arul Arista
AS Sumbawi
Asarpin
Asep Sambodja
Atiqurrahman
Awalludin GD Mualif
Ayu Purwaningsih
Babe Derwan
Bakdi Soemanto
Balada
Bale Aksara
Bamby Cahyadi
Bandung Mawardi
Bayu Dwi Mardana
Bellanissa Zoditama
Beni Setia
Benny Arnas
Beno Siang Pamungkas
Berita
Berita Duka
Bernando J. Sujibto
Berthold Damshauser
Binhad Nurrohmat
Bokor Hutasuhut
Brunel University London
BSW Adjikoesoemo
Budaya
Budhi Setyawan
Budi Darma
Budi Hutasuhut
Budi P. Hatees
Budiawan Dwi Santoso
Bur Rasuanto
Burhanuddin Bella
Bustan Basir Maras
Catatan
Catullus
CB. Ismulyadi
Cerbung
Cerita Rakyat
Cerpen
Chavchay Syaifullah
Cikie Wahab
Cunong Nunuk Suraja
D Zawawi Imron
Dad Murniah
Dadang Ari Murtono
Dahlia Rasyad
Damhuri Muhammad
Damiri Mahmud
Danarto
Daniel Paranamesa
Darju Prasetya
Darman Djamaluddin
Darman Moenir
Dasman Djamaluddin
David Krisna Alka
Dea Anugrah
Dedy Tri Riyadi
Denny JA
Denny Mizhar
Desi Sommalia Gustina
Dewi Anggraeni
Dharma Setyawan
Dian Hartati
Didi Arsandi
Dina Oktaviani
Dipo Handoko
Djenar Maesa Ayu
Djoko Pitono
Doddi Ahmad Fauji
Doddy Hidayatullah
Dodi Chandra
Dodiek Adyttya Dwiwanto
Dody Kristianto
Donny Anggoro
Dony P. Herwanto
Dwi Cipta
Dwi Fitria
Dwi Klik Santosa
Dwi Pranoto
Dwicipta
Edy A Effendi
Edy Firmansyah
Eka Budianta
Eka Fendri Putra
Eka Kurniawan
Eko Darmoko
Ellyzan Katan
Elnisya Mahendra
Emha Ainun Nadjib
Endah Imawati
Eni Suryanti
Eny Rose
Eriyandi Budiman
Eriyanti
Erwin Edhi Prasetya
Erwin Setia
Esai
Evan Ys
Evi Idawati
F Rahardi
Fadly Rahman
Fahrudin Nasrulloh
Faizah Sirajuddin
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fakhrunnas M.A. Jabbar
Fanny Chotimah
Fariz al-Nizar
Fariz Alneizar
Faruk HT
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fathurrahman Karyadi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzan Santa
Fazabinal Alim
Festival Sastra Gresik
Fikri MS
Fiksi Mini
Fransisca Dewi Ria Utari
Franz Kafka
Fuad Anshori
Furqon Abdi
Fuska Sani Evani
Gendhotwukir
Gendut Riyanto
Gerson Poyk
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gola Gong
Grathia Pitaloka
Gregorio Lopez y’ Fuentes
Gugun El-Guyanie
Gunawan Budi Susanto
Gus Noy
H.H. Tokoro
Hadi Napster
Hamberan Syahbana
Hamdy Salad
Hamsad Rangkuti
Han Gagas
Hang Kafrawi
Hani Pudjiarti
Hanna Fransisca
Hardi Hamzah
Hardjono WS
Haris del Hakim
Haris Priyatna
Harris Maulana
Hary B. Kori'un
Hasan Al Banna
Hasan Junus
Hasbullah Said
Hasnan Bachtiar
HE. Benyamine
Heidi Arbuckle
Helmi Y Haska
Helvy Tiana Rosa
Hendra Junaedi
Hendri Nova
Herdoni Syafriansyah
Heri Kurniawan
Heri Latief
Heri Ruslan
Herman RN
Hermawan Aksan
Hermien Y. Kleden
Herry Lamongan
Holy Adib
Humaidiy AS
Husni Anshori
I Nyoman Darma Putra
I Nyoman Tingkat
I Wayan Artika
Ibnu Wahyudi
Ida Farida
Ignas Kleden
Ilham Khoiri
Imam Cahyono
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Imron Tohari
Indra Tranggono
Indrian Koto
Irwan Kelana
Isbedy Stiawan Z.S.
Iskandar Noe
Isma Swastiningrum
Ismi Wahid
Iwan Gardono Sujatmiko
Iwan Gunadi
Iwan Kurniawan
Iwan Nurdaya Djafar
Iwank
J.S. Badudu
Janoary M Wibowo
Javed Paul Syatha
JILFest 2008
JJ. Kusni
Jodhi Yudono
Joko Novianto Bp
Joko Pinurbo
Jones Gultom
Jual Buku Paket Hemat
Jusuf AN
Kadek Suartaya
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Kasnadi
Kedung Darma Romansha
Kenedi Nurhan
Khaerudin Kurniawan
Khaerul Anwar
Ki Sugito Ha Es
Kirana Kejora
Komunitas Deo Gratias
Korrie Layun Rampan
Kritik Sastra
Kunthi Hastorini
Kuntowijoyo
Kurie Suditomo
Kurnia Effendi
Kurniawan
Kuswinarto
La Ode Rabbani
Lathifa Akmaliyah
Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember
Leon Agusta
Lily Siti Multatuliana
Lily Yulianti Farid
Lina Kelana
Liza Wahyuninto
Lona Olavia
Lugiena Dé
M Fadjroel Rachman
M Farid W Makkulau
M Syakir
M. Dawam Rahardjo
M. Faizi
M. Mustafied
M. Raudah Jambak
M. Taufan Musonip
M. Yoesoef
M.D. Atmaja
M.Th. Krishdiana Putri
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maklumat Sastra Profetik
Malkan Junaidi
Maman S. Mahayana
Mangun Kuncoro
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Maria D. Andriana
Maria Magdalena Bhoernomo
Mariana Amiruddin
Maryati
Marzuzak SY
Mashuri
Maulana Syamsuri
Media: Crayon on Paper
Mega Vristian
MG. Sungatno
Misbahus Surur
Mofik el-abrar
Moh. Amir Sutaarga
Moh. Ghufron Cholid
Mohammad Hatta
Mohammad Kh. Azad
Mohammad Takdir Ilahi
Much. Khoiri
Muhamad Taslim Dalma
Muhammad Rain
Muhammad Subhan
Muhammad Yasir
Muhammadun A.S
Muhidin M Dahlan
Mujtahid
Mulyawan Karim
Musa Ismail
Musfi Efrizal
Mustafa Ismail
Mustofa W Hasyim
N Teguh Prasetyo
N. Mursidi
Nadhi Kiara Zifen
Nana Riskhi Susanti
Nanang Suryadi
Naskah Teater
Nasrulloh Habibi
Neva Tuhella
Nietzsche
Nirwan Dewanto
Nizar Qabbani
Noor H. Dee
Nova Christina
Novelet
Nunung Nurdiah
Nur Wachid
Nurani Soyomukti
Nurel Javissyarqi
Nurman Hartono
Nuryana Asmaudi
Nyoman Tusthi Eddy
Obrolan
Oky Sanjaya
Oyos Saroso HN
P Ari Subagyo
Pagelaran Musim Tandur
Pamusuk Eneste
Panji Satrio
PDS H.B. Jassin
Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga
Pipiet Senja
Pramoedya Ananta Toer
Pringadi AS
Pringgo HR
Prosa
Puisi
Puji Santosa
Purnawan Andra
PUstaka puJAngga
Putu Fajar Arcana
Putu Satria Kusuma
Putu Wijaya
R Masri Sareb Putra
R. Adhi Kusumaputra
R. Timur Budi Raja
R.N. Bayu Aji
Radhar Panca Dahana
Ragdi F. Daye
Rahmi Hattani
Raja Ali Haji
Raju Febrian
Rakai Lukman
Rakhmat Giryadi
Rama Dira J
Rama Prabu
Ramadhan KH
Ramon Magsaysay
Ramses Ohee
Ratih Kumala
Raudal Tanjung Banua
Reiny Dwinanda
Remy Sylado
Resensi
Ressa Novita
Ressa Sagitariana Putri
Ria Ristiana Dewi
Rialita Fithra Asmara
Ribut Wijoto
Rida K Liamsi
Rifka Sibarani
Rilda A. Oe. Taneko
Rilda A.Oe. Taneko
Rimbun Natamarga
Rinto Andriono
Risang Anom Pujayanto
Rita Zahara
Riyon Fidwar
Robin Al Kautsar
Robin Dos Santos Soares
Rodli TL
Rofiqi Hasan
Rohman Budijanto
Rukardi
S Yoga
S. Jai
S. Takdir Alisyahbana
S.W. Teofani
Sabrank Suparno
Sahaya Santayana
Sajak
Sajak Sebatang Lisong
Salamet Wahedi
Salman Rusydie Anwar
Salman S. Yoga
Salyaputra
Samson Rambah Pasir
Samsudin Adlawi
Sanie B. Kuncoro
Santy Novaria
Sapardi Djoko Damono
Sarabunis Mubarok
Sartika Dian Nuraini
Sasti Gotama
Sastra Nusantara
Satmoko Budi Santoso
Satriani
Saut Poltak Tambunan
Saut Situmorang
Sekolah Literasi Gratis (SLG)
Selasih
Seno Gumira Ajidarma
Seno Joko Suyono
Sergi Sutanto
Shadiqin Sudirman
Shiny.ane el’poesya
Shourisha Arashi
Sidik Nugroho
Sigit Susanto
Sihar Ramses Simatupang
Sindu Putra
Siska Afriani
Siti Sa’adah
Sitok Srengenge
Siwi Dwi Saputro
Slamet Samsoerizal
Sobih Adnan
Sofyan RH. Zaid
Solihin
Soni Farid Maulana
Sony Prasetyotomo
Sony Wibisono
Sosiawan Leak
Sri Wintala Achmad
Sri Wulan Rujiati Mulyadi
Stevani Elisabeth
Suci Ayu Latifah
Sucipto Hadi Purnomo
Sudarmoko
Sudirman HN
Suhadi Mukhan
Suharsono
Sukar
Sunaryono Basuki Ks
Sungatno
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Sunudyantoro
Supriyadi
Suriani
Suryanto Sastroatmodjo
Susianna
Sutan Iwan Soekri Munaf
Sutardji Calzoum Bachri
Sutejo
Syahruddin El-Fikri
Syaripudin Zuhri
Syifa Aulia
Syu’bah Asa
T.A. Sakti
Tammalele
Tan Lioe Ie
Tasyriq Hifzhillah
Taufik Abdullah
Taufik Effendi Aria
Taufik Ikram Jamil
Taufiq Wr. Hidayat
TE. Priyono
Teguh Winarsho AS
Tenas Effendy
Tengsoe Tjahjono
Thayeb Loh Angen
Theresia Purbandini
Tia Setiadi
Tias Tatanka
Tito Sianipar
Tjahjono EP
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
Tjut Zakiyah Anshari
Topik Mulyana
Tosa Poetra
Tri Harun Syafii
TS Pinang
Tu-ngang Iskandar
Udo Z. Karzi
Uly Giznawati
Umar Fauzi Ballah
Umbu Landu Paranggi
Umi Kulsum
Uniawati
Universitas Indonesia
Usman Arrumy
Usman D.Ganggang
Utada Kamaru
UU Hamidy
Viddy AD Daery
W.S. Rendra
Wa Ode Wulan Ratna
Wahib Muthalib
Wahyudi Akmaliah Muhammad
Wardjito Soeharso
Wawan Eko Yulianto
Wawancara
Wayan Sunarta
Weli Meinindartato
Wicaksono
Widodo DS
Wina Karnie
Wisran Hadi
Wong Wing King
Yan Maniani
Yanti Mulatsih
Yanuar Arifin
Yasser Arafat
Yaumu Roikha
Yetti A. KA
Yohanes Padmo Adi Nugroho
Yohanes Sehandi
Yona Primadesi
Yudhi Ms
Yudhistira ANM Massardi
Yulianna
Yurnaldi
Yusi A. Pareanom
Yusi Avianto Pareanom
Yusri Fajar
Yusrizal KW
Yuyun Ifa Naliah
Zaim Rofiqi
Zainal Arifin Thoha
Zakki Amali
Zakky Zulhazmi
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zelfeni Wimra
Zuarman Ahmad
Zulfikar Akbar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar