Sabtu, 21 Maret 2009

Perempuan yang Merindukan Hujan

Indrian Koto
http://www.lampungpost.com/

SORE jatuh di ujung gedung, digantikan senja yang temaram. Segera, malam menaburkan kegelapan yang paling kelam. Langit menyajikan sekeping bulan yang patah--serupa goresan luka kecil pada wajah. Bintang bertebar di pipi malam, mewartakan batas langit dari ketinggian.

Kota tak hendak menutup kisah, menawarkan kemilau di jalan-jalan, gedung bertingkat dan papan iklan. Malam tak mesti dilalui dengan kegelapan. Trotoar, bangku-bangku dan taman mengisahkan sejarah paling masyuk sepanjang malam.

Kota menggeliat, mengabarkan kemerdekaan yang paling laknat. Kehidupan tumbuh di mana-mana, menyajikan riang wajah-wajah dan gemuruh suara-suara. Malam, waktu yang paling tepat merayakan sebuah kemenangan.

Sebuah kota di musim hujan. Orang-orang tak hendak menutup kisah di balik selimut dan kamar-kamar. Setiap jengkal malam menawarkan kisah paling indah, membawa tiap-tiap tubuh keluar rumah. Tak mesti menutup bagian tubuh, sebab dingin disapu kabut dan lampu-lampu. Malam menguapkan panas, sebuah bertanda tentu saja, besok hari barangkali hujan. Maka, nikmatilah ini malam sebelum waktu dikubur pagi yang menyilaukan. Siang, tak lebih dari sebuah penjara yang jauh dari hura-hura.

Dan, perempuan itu lahir dari geliat kota. Malam telah membuat orang lupa dengan sekitarnya. Lalu apa artinya seorang perempuan di antara sekian ratus atau ribuan(?) perempuan yang berkeliaran di sepanjang malam.

Perempuan itu menyapa malam, menyatu bersama hingar-bingar. Menyeruak di celah sempit yang tak memberi ruang, melewati trotoar, menyeberang jalan, taman, gang, dan lampu-lampu. Bulan mengikuti dari jauh, seperti sepasang mata yang mencurigakan.1

"Tak ada yang lebih menakutkan selain kota, lampu, dan nama-nama", bisik perempuan itu, bahasanya mengalir bersama angin. "Tak ada yang lebih kucinta selain gunung, laut, dan pulau-pulau," lanjutnya. Kini tubuh itu menyatu bersama bingar lampu, musik, tarian, dan lagu-lagu. Tubuhnya melekat di antara bahasa carut-marut, tawa, asap rokok, dan sengak alkohol murah. Meja menyajikan Anker, Bintang, Vodka, TKW, anggur merah-putih, Topi Miring, KTI, Ardath, Commodore, gelas-gelas kosong, dan kulit kacang. Duhai, lihatlah denyut hidup di malam hari, seakan besok pagi-pagi sekali mentari tak lahir lagi. Nikmatilah, nikmatilah, selagi malam masih panjang. Mari menari, perempuan.

"Saya si putri, si putri sinden panggung," mengalun di antara tubuh-tubuh ramping, belahan dada, pinggang, pantat, dan suit..suit. Dan, perempuan itu mengikuti alunan yang disajikan, seperti melafazkan doa-doa. Khusuk dan begitu ikhlas.

Malam bergulir, tepat di ubun-ubun. Dan, perempuan itu menggeliat di balik selimut apek di kamar sumpek.
* * *

Perempuan itu berdiri di jendela, mengintip langit yang gemetar menahan tangis. Ah, biarlah dan tetaplah telanjang.

Perempuan yang lahir dari malam, di antara sejuta geliat kenikmatan. Lihatlah matanya basah. Apakah yang terbersit di hati seorang perempuan yang telah membakar tangis dan mengubur mimpi?

"Jangan panggil aku pelacur," rintihnya sesekali lewat igauan dan sepenggal mimpi. Apa yang lebih menguntungkan saat ini, --di sini-- selain melelang diri? Seseorang pernah berkata kepadanya, entah di mana.

Tapi, tidak. Lihatlah dia tengah bersedih. Tangisnya mengalir bersama hujan. Menggenang ke lantai, mengalir ke tiap cela dan lubang-lubang. Terus mengalir. Adakah malam tengah menangisi nasibmu perempuan, ataukah kau tengah menangisi malam? Jangan menangis, karena hidup tak pernah meminta itu. Lihatlah tangismu telah merendam sebagian kota. Engkaukah yang selalu membanjiri kota dengan air mata tiap kali tahun baru tiba?

"Aku menjadi cengeng saat Desember menjelang."

Matanya yang serupa telaga yang mengalirkan apa saja. Seperti sungai di belakang rumah. Jauuuh!! Dulu sekali! Sungai di matanya, seumpama sungai yang mengalir ke muara. Anak-anak yang melompat riang dengan tubuh telanjang, perempuan yang mencuci di tepian, para bujang belajar mengintip gadis-gadis mandi. Sungai lebar di belakang rumah, tempatnya belajar mengeja usia, membiarkan betisnya dijilat-jilat lidah sungai, memperlihatkan tubuh rampingnya yang dililit kain basahan. Tertawa-tawa, sementara di hulu laki-laki menghanyutkan keperkasaan dan dicumbu ikan-ikan. Gadis-gadis mungil tidak saja membaca usia lewat sesuatu yang tumbuh pada dada atau yang mengalir dari selangkangnya. Mereka berlomba menghirup aroma laki-laki yang dihanyutkan jauh ke hilir. Maka, sesekali jika muncul pemuda iseng yang belajar mengintip lewat sepotong kail, jala atau sebuah sampan, mereka berlomba untuk sekadar memperlihatkan lekuk yang membesar pada bagian tubuh. Lekuk yang senantiasa menggelora dan terus membakar.

Sebuah sungai, kampung, dan gunung-gunung. Hidup yang terkungkung, membentuk mereka sebagai pencinta yang sembunyi. Di balik pohon bambu, kandang lembu, pinggir sawah atau belakang rumah. Terkikik-kikik di rerimbun, sesemak kecil, dan di bawah sepotong bulan. Sesekali tentu ada yang berani membuka jendela (di malam-malam buta, tentunya).

Awal tahun adalah musim kawin, tak seorang pun yang mampu mengusir sepi dan rasa dingin. Yang menggelora di kedalaman mereka yang paling entah, lebih menggairahkan ketimbang berita-berita menjemukan tentang kematian, orang-orang hanyut, rumah yang tersangkut di pinggir sungai, tanggul-tanggul jebol, sawah yang mendanau, tanah longsor, laut berwarna lumpur atau langit yang selalu kelam.

Tidak. Dia bukanlah gadis yang rakus, meski sering memimpikan satu-dua laki-laki bertelanjang dada. Hanya bertelanjang dada. Tidakkah begitu sering mereka saksikan di tepian? Bukan itu sesungguhnya yang menyiksanya benar. Adalah apa yang berada jauh di sebalik bebukitan dan hilir sungai. Setiap laki-laki yang pernah mengalir jauh ke muara selalu membawa kisah paling perkasa, tentang laut, pulau, jalan-jalan, oto, pasar, dan barisan toko-toko. Tidakkah selama ini milik para orang tua dan laki-laki saja? Betapa tidak adilnya! Seperti laknatnya impian gadis-gadis yang bercinta dengan beberapa lelaki sekaligus atau bercumbu dengan sejenisnya. Apakah segala pantang dan larangan hanya diperuntukkan bagi perempuan?

Angan hanya selembar arus sungai, mimpi hanya sebatas gunung, begitulah petuah para tetua. Ah, dia tak hendak membiarkan tubuhnya membatu di jendela. Keluar hanya ketika hari-hari tertentu saja, ke pakan misalnya dan selebihnya mengubur diri di dalam kamar. Perempuan, kampung dan pantangan, betapa membosankan.

Barangkali pesannya--yang satu dua--mengalir jauh ke muara dan dibaca para pelaut dan penghuni dermaga. Sehingga suatu kali, datanglah berbondong-bondong orang dari hilir, membawa cerita yang paling indah: tentang negeri di seberang laut yang langitnya lebih rendah, pekerjaan yang mengangkang dan keringat yang berubah uang. Maka, seperti pasukan demonstran orang-orang berebutan menuju hilir. Bersampan dan berakit atau melewati jalan kecil yang berbatu. Meninggalkan hamparan ladang cengkih yang meranggas, kopi menguning, sawah mengering, anak istri, cangkul dan bajak, Lumpur, dan kain samping. Rantau mengabarkan mimpi paling sempurna. Sejak itulah ia didera kegelisahan asing. Bapak yang tua, Mak yang renta, adik yang butuh uang sekolah (ah, alasan paling buruk dari semua alasan yang tersedia). Tidak. Bukankah, dari dulu ia begitu mendamba pelayaran? Itu saja. Maka, lewat seorang laki-laki yang dikenal di tepian, dia mengalir bersama malam. Diam-diam.

Ditinggalkannya kampung, ladang, gunung, petak sawah, tepian, ranum jagung, dan berisik air di tanggul. Dia tak sempat menengok lagi ke belakang. Apa yang bisa dipastikan pada kegelapan?

Di luar hujan terus mengalir makin deras, halilintar terus menyambar dan ia tengah merindukan hujan yang lain pada malam yang lain. Malam yang telah lama hilang sejak keberangkatan. "Bukankah aku meninggalkan segalanya ketika kemarau bertandang, tetapi kenapa justru hujan membuatku kehilangan?" bisiknya diam-diam.

Seorang laki-laki terbangun, menghampiri si perempuan.

"Tidurlah, sayang. Di luar masih hujan."

Perempuan itu bergeming.

"Seperti anak kecil saja. Sini! Tidakkah hujan mengairahkan? Buatlah tubuhku terasa gerah ketika dingin itu memagut, sayang."

Laki-laki itu mendekat. "Kau menangis?" tanyanya dalam sisa kantuk yang tertahan.

"Tidak! Aku justru sedang tertawa.".

Malam terus membakar. Sementara hujan terus mengalir di kedua matanya, bagai tanggul yang pecah dan mengalirkan apa saja. Tumpah di lantai, meggenang di selokan, merambat ke jalan-jalan.

Malam mencair di kota yang gigil.

Rumahlebah, 2004-2005

1. Diambil dari judul cerpen Triyanto Triwikromo, "Sepasang Mata yang Mencurigakan", dalam kumpulan cerpen Malam Sepasang Lampion, penerbit Kompas.

pakan, pekan; hari ketika pasar ramai sekali, terjadi satu kali dalam seminggu dan biasanya hari Minggu. Sebagian masyarakat Minang menyebut hari Minggu dengan hari pakan.

Tidak ada komentar:

A Khoirul Anam A Qorib Hidayatullah A Rodhi Murtadho A. Yusrianto Elga A. Zakky Zulhazmi A.S. Laksana Aang Fatihul Islam Aba Mardjani Abd. Mun’im Abdul Aziz Rasjid Abdul Gaffar Ruskhan Abdul Hadi W. M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Malik Abdul Muis Abdul Wachid BS Abdullah Khusairi Abidah El Khalieqy Abimardha Kurniawan Abroorza A. Yusra Abu Salman Acep Iwan Saidi Achmad Farid Tuasikal Adek Alwi Adi Marsiela Adian Husaini Adib Muttaqin Asfar Adji Subela Afandi Sido Afriza Hanifa Afrizal Malna Ageng Wuri R. A. Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan M.N. Agus B. Harianto Agus Bing Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Sunyoto Agus Wibowo Agus Wirawan Agusri Junaidi AH J Khuzaini Ahda Imran Ahid Hidayat Ahm Soleh Ahmad Asyhar Ahmad Farid Yahya Ahmad Fuadi Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Musthofa Haroen Ahmad Rofiq Ahmad Suhendra Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Aini Aviena Violeta Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Al Azhar Riau Al-Fairish Alex R. Nainggolan Alexander G.B. Alfian Zainal Aliansyah Alimuddin Almania Rohmah Alunk Estohank Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anata Siregar Andi Sutisno Andy Riza Hidayat Anies Baswedan Anindita S Thayf Anis Ceha Anis Faridatur Rofiah Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Anton Kurnia Ari Hidayat Ari Kristianawati Arie MP Tamba Arief Junianto Aris Kurniawan Arti Bumi Intaran Arul Arista AS Sumbawi Asarpin Asep Sambodja Atiqurrahman Awalludin GD Mualif Ayu Purwaningsih Babe Derwan Bakdi Soemanto Balada Bale Aksara Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bayu Dwi Mardana Bellanissa Zoditama Beni Setia Benny Arnas Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Bokor Hutasuhut Brunel University London BSW Adjikoesoemo Budaya Budhi Setyawan Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiawan Dwi Santoso Bur Rasuanto Burhanuddin Bella Bustan Basir Maras Catatan Catullus CB. Ismulyadi Cerbung Cerita Rakyat Cerpen Chavchay Syaifullah Cikie Wahab Cunong Nunuk Suraja D Zawawi Imron Dad Murniah Dadang Ari Murtono Dahlia Rasyad Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darman Djamaluddin Darman Moenir Dasman Djamaluddin David Krisna Alka Dea Anugrah Dedy Tri Riyadi Denny JA Denny Mizhar Desi Sommalia Gustina Dewi Anggraeni Dharma Setyawan Dian Hartati Didi Arsandi Dina Oktaviani Dipo Handoko Djenar Maesa Ayu Djoko Pitono Doddi Ahmad Fauji Doddy Hidayatullah Dodi Chandra Dodiek Adyttya Dwiwanto Dody Kristianto Donny Anggoro Dony P. Herwanto Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Klik Santosa Dwi Pranoto Dwicipta Edy A Effendi Edy Firmansyah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Eko Darmoko Ellyzan Katan Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Endah Imawati Eni Suryanti Eny Rose Eriyandi Budiman Eriyanti Erwin Edhi Prasetya Erwin Setia Esai Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fadly Rahman Fahrudin Nasrulloh Faizah Sirajuddin Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fakhrunnas M.A. Jabbar Fanny Chotimah Fariz al-Nizar Fariz Alneizar Faruk HT Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fathurrahman Karyadi Fatimah Wahyu Sundari Fauzan Santa Fazabinal Alim Festival Sastra Gresik Fikri MS Fiksi Mini Fransisca Dewi Ria Utari Franz Kafka Fuad Anshori Furqon Abdi Fuska Sani Evani Gendhotwukir Gendut Riyanto Gerson Poyk Gita Pratama Goenawan Mohamad Gola Gong Grathia Pitaloka Gregorio Lopez y’ Fuentes Gugun El-Guyanie Gunawan Budi Susanto Gus Noy H.H. Tokoro Hadi Napster Hamberan Syahbana Hamdy Salad Hamsad Rangkuti Han Gagas Hang Kafrawi Hani Pudjiarti Hanna Fransisca Hardi Hamzah Hardjono WS Haris del Hakim Haris Priyatna Harris Maulana Hary B. Kori'un Hasan Al Banna Hasan Junus Hasbullah Said Hasnan Bachtiar HE. Benyamine Heidi Arbuckle Helmi Y Haska Helvy Tiana Rosa Hendra Junaedi Hendri Nova Herdoni Syafriansyah Heri Kurniawan Heri Latief Heri Ruslan Herman RN Hermawan Aksan Hermien Y. Kleden Herry Lamongan Holy Adib Humaidiy AS Husni Anshori I Nyoman Darma Putra I Nyoman Tingkat I Wayan Artika Ibnu Wahyudi Ida Farida Ignas Kleden Ilham Khoiri Imam Cahyono Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Tohari Indra Tranggono Indrian Koto Irwan Kelana Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Noe Isma Swastiningrum Ismi Wahid Iwan Gardono Sujatmiko Iwan Gunadi Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iwank J.S. Badudu Janoary M Wibowo Javed Paul Syatha JILFest 2008 JJ. Kusni Jodhi Yudono Joko Novianto Bp Joko Pinurbo Jones Gultom Jual Buku Paket Hemat Jusuf AN Kadek Suartaya Karya Lukisan: Andry Deblenk Kasnadi Kedung Darma Romansha Kenedi Nurhan Khaerudin Kurniawan Khaerul Anwar Ki Sugito Ha Es Kirana Kejora Komunitas Deo Gratias Korrie Layun Rampan Kritik Sastra Kunthi Hastorini Kuntowijoyo Kurie Suditomo Kurnia Effendi Kurniawan Kuswinarto La Ode Rabbani Lathifa Akmaliyah Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP3M) Universitas Jember Leon Agusta Lily Siti Multatuliana Lily Yulianti Farid Lina Kelana Liza Wahyuninto Lona Olavia Lugiena Dé M Fadjroel Rachman M Farid W Makkulau M Syakir M. Dawam Rahardjo M. Faizi M. Mustafied M. Raudah Jambak M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M.Th. Krishdiana Putri Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maklumat Sastra Profetik Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mangun Kuncoro Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria D. Andriana Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Maryati Marzuzak SY Mashuri Maulana Syamsuri Media: Crayon on Paper Mega Vristian MG. Sungatno Misbahus Surur Mofik el-abrar Moh. Amir Sutaarga Moh. Ghufron Cholid Mohammad Hatta Mohammad Kh. Azad Mohammad Takdir Ilahi Much. Khoiri Muhamad Taslim Dalma Muhammad Rain Muhammad Subhan Muhammad Yasir Muhammadun A.S Muhidin M Dahlan Mujtahid Mulyawan Karim Musa Ismail Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W Hasyim N Teguh Prasetyo N. Mursidi Nadhi Kiara Zifen Nana Riskhi Susanti Nanang Suryadi Naskah Teater Nasrulloh Habibi Neva Tuhella Nietzsche Nirwan Dewanto Nizar Qabbani Noor H. Dee Nova Christina Novelet Nunung Nurdiah Nur Wachid Nurani Soyomukti Nurel Javissyarqi Nurman Hartono Nuryana Asmaudi Nyoman Tusthi Eddy Obrolan Oky Sanjaya Oyos Saroso HN P Ari Subagyo Pagelaran Musim Tandur Pamusuk Eneste Panji Satrio PDS H.B. Jassin Penerbit dan Toko Buku PUstaka puJAngga Pipiet Senja Pramoedya Ananta Toer Pringadi AS Pringgo HR Prosa Puisi Puji Santosa Purnawan Andra PUstaka puJAngga Putu Fajar Arcana Putu Satria Kusuma Putu Wijaya R Masri Sareb Putra R. Adhi Kusumaputra R. Timur Budi Raja R.N. Bayu Aji Radhar Panca Dahana Ragdi F. Daye Rahmi Hattani Raja Ali Haji Raju Febrian Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Dira J Rama Prabu Ramadhan KH Ramon Magsaysay Ramses Ohee Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Remy Sylado Resensi Ressa Novita Ressa Sagitariana Putri Ria Ristiana Dewi Rialita Fithra Asmara Ribut Wijoto Rida K Liamsi Rifka Sibarani Rilda A. Oe. Taneko Rilda A.Oe. Taneko Rimbun Natamarga Rinto Andriono Risang Anom Pujayanto Rita Zahara Riyon Fidwar Robin Al Kautsar Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rohman Budijanto Rukardi S Yoga S. Jai S. Takdir Alisyahbana S.W. Teofani Sabrank Suparno Sahaya Santayana Sajak Sajak Sebatang Lisong Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salman S. Yoga Salyaputra Samson Rambah Pasir Samsudin Adlawi Sanie B. Kuncoro Santy Novaria Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra Nusantara Satmoko Budi Santoso Satriani Saut Poltak Tambunan Saut Situmorang Sekolah Literasi Gratis (SLG) Selasih Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shadiqin Sudirman Shiny.ane el’poesya Shourisha Arashi Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindu Putra Siska Afriani Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Slamet Samsoerizal Sobih Adnan Sofyan RH. Zaid Solihin Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sony Wibisono Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad Sri Wulan Rujiati Mulyadi Stevani Elisabeth Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudarmoko Sudirman HN Suhadi Mukhan Suharsono Sukar Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Supriyadi Suriani Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Iwan Soekri Munaf Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Syahruddin El-Fikri Syaripudin Zuhri Syifa Aulia Syu’bah Asa T.A. Sakti Tammalele Tan Lioe Ie Tasyriq Hifzhillah Taufik Abdullah Taufik Effendi Aria Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat TE. Priyono Teguh Winarsho AS Tenas Effendy Tengsoe Tjahjono Thayeb Loh Angen Theresia Purbandini Tia Setiadi Tias Tatanka Tito Sianipar Tjahjono EP Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari Topik Mulyana Tosa Poetra Tri Harun Syafii TS Pinang Tu-ngang Iskandar Udo Z. Karzi Uly Giznawati Umar Fauzi Ballah Umbu Landu Paranggi Umi Kulsum Uniawati Universitas Indonesia Usman Arrumy Usman D.Ganggang Utada Kamaru UU Hamidy Viddy AD Daery W.S. Rendra Wa Ode Wulan Ratna Wahib Muthalib Wahyudi Akmaliah Muhammad Wardjito Soeharso Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Sunarta Weli Meinindartato Wicaksono Widodo DS Wina Karnie Wisran Hadi Wong Wing King Yan Maniani Yanti Mulatsih Yanuar Arifin Yasser Arafat Yaumu Roikha Yetti A. KA Yohanes Padmo Adi Nugroho Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yudhi Ms Yudhistira ANM Massardi Yulianna Yurnaldi Yusi A. Pareanom Yusi Avianto Pareanom Yusri Fajar Yusrizal KW Yuyun Ifa Naliah Zaim Rofiqi Zainal Arifin Thoha Zakki Amali Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zelfeni Wimra Zuarman Ahmad Zulfikar Akbar